LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 33


__ADS_3

Ketika pasukan Couw yang dipimpin oleh Touw Gi Kiang dan Touw Gouw sudah sampai, mereka melihat di kota raja The tenang-tenang saja. Melihat hal itu mereka jadi curiga.


"Ah barangkali musuh sudah mengatur bai-hok (Pasukan sembunyi untuk menjebak mereka), kita harus hati-hati!" kata Touw Gi Kiang.


Karena itu mereka tidak berani menerjang ke dalam kota. Tetapi mereka segera mundur lima li jauhnya dari kota raja The. Di sana mereka mendirikan perkemahan tentaranya.


Tidak berapa lama pasukan besar yang dipimpin oleh Cu Goan telah sampai di tempat itu. Pasukan induk ini disambut oleh Touw Gi Kiang dan Touw Gouw. Mereka segera memberi tahu keadaan kota Raja The pada Chu Goan.


Chu Goan memang orang berpikiran pendek dan cupet. Setelah mendengar keterangan itu dia jadi panik. Dengan jantung berdebar-debar dia naik ke tempat yang tinggi akan melakukan pemantauan ke kota raja The. Dia lihat bendera-bendera di dalam kota teratur rapih dan tentara The berbaris siap untuk berperang.


Sesudah melihat hal itu Chu Goan bengong sampai seketika lamanya. Dia menarik napas seperti orang yang sangat berduka.


"Ya, memang aku sudah tahu. Di negeri The ada tiga orang menteri yang pandai dan budiman," kata Chu Goan. "Mereka sangat mahir mengatur siasat perang. Sekarang jika aku serang dan pasukanku rusak berat, mana aku punya muka untuk menemui Permaisuri Bun?" pikir Chu Goan.


Sambil menggelengkan kepalanya Chu Goan lalu berkata.


"Akan kukirim mata-mata untuk menyelidiki keadaan. Jika ini cuma sekedar sebuah tipuan, baru kita serang mereka!" kata Chu Goan pada anak buahnya.


Semua panglimanya membenarkan pendapat Cu Goan tersebut. Maka dengan hati sedikit lega Chu Goan berjalan perlahan-lahan. Dia turun dari tempat yang tinggi itu akan kembali ke kemahnya, tetapi dia tidak segera menyebarkan mata-matanya untuk menyelidiki keadaan musuh. Hati Chu Goan tetap sangsi dan ragu-ragu.


**


Esok harinya......

__ADS_1


Ong Sun Yu yang memimpin pasukan bagian belakang telah melaporkan pada Cu Goan.


"Raja Cee dan Raja Song juga Raja Louw telah datang dengan pasukan besar membantu negeri The!" demikan kata utusan dari Ong Sun Yu pada Chu Goan.


Mendengar laporan itu Chu Goan terkejut, dengan sangat gugup dan khawatir dia berkata pada anak buahnya.


"Oh, ini tidak boleh dianggap enteng," kata Chu Goan. "Jika Raja-raja Muda menghadang jalan pulang kita, artinya kita diserang dari depan dan dari belakang. Sudah pasti angkatan perang kita akan rusak berat! Kita sudah bisa merampas kota Kui-ci, itu sudah bisa dikatakan cukup bagus!" Lebih baik sekarang kita pulang saja." kata Chu Goan.


Melihat pemimpin mereka begitu pengecut, para panglima pun ikut jerih. Mereka setuju pada rencana Chu Goan untuk pulang ke negaranya.


Malam itu juga Chu Goan memerintahkan tentaranya membenahi semua barang-barang mereka. Sesudah selesai dibereskan dengan diam-diam mereka berangkat kembali ke negaranya. Chu Goan khawatir jika tentara The mengetahui mereka pulang, tentara The akan mengejar mereka. Sengaja mereka tidak membongkar perkemahan mereka. Begitu pun bendera besar mereka, dia tinggalkan tetap berkibar di tempatnya.


Setelah pasukan perangnya sudah keluar dari perbatasan negeri The, Chu Goan memerintahkan tentaranya membunyikan tambur dan gembreng. Mereka juga diperintahkan supaya bernyanyi menyanyikan lagu kemenangan. Dengan demikian dia berharap Permaisuri Bun memuji keperkasaannya dan kagum kepadanya.


Mendengar laporan itu Permaisuri Bun tersenyum. Dia berkata kepada pesuruh Chu Goan.


"Oh, syukurlah! Jika betul begitu dan dia bisa menaklukan musuh, sungguh baik. Ini harus diumumkan ke seluruh negeri Couw untuk membuat terang pamor Kerajaan Couw!" kata Permaisuri Bun. Kemudian adakan sembahyang di kelenteng almarhum Raja Couw agar rohnya ikut senang! Untuk apa memberitahu aku, aku ini hanya seorang janda!"


Pesuruh itu segera menyampaikan keterangan Permaisuri Bun kepada Chu Goan. Sindiran yang begitu pedas ini telah membuat Chu Goan jadi malu sekali.


Tatkala Raja Couw Seng Ong mengetahui Chu Goan karena takut tanpa berperang telah mundur, Raja Couw jadi kurang senang kepada sang paman. Mulai saat itu dia benci sekali pada pamannya itu.


**

__ADS_1


Malam itu pada saat tentara Couw sibuk membereskan berkemas-kemas, Siok Ciam di atas kota The rajin meronda. Dia mengajak beberapa anak buahnya pergi memeriksa di sekeliling kota.Semalam-malaman dia tidak tidur barang sekejap pun.


Setelah terang tanah (siang hari), dia awasi perkemahan tentara Couw seketika lamanya. Tiba-tiba Siok Ciam tertawa terbahak-bahak. Jari tangannya menunjuk ke arah benteng musuh.


"Ha, ha, ha, lihatlah ke arah perkemahan itu! Kemah-kemah itu sudah kosong, tentara Couw sudah kabur semua!" kata Siok Ciam.


Anak buah Siok Ciam tidak percaya ucapan atasannya. Mereka minta agar Siok Ciam menjelaskan mengapa atasannya itu mengatakan perkemahan musuh telah kosong.


"Perkemahan tentara merupakan tempat tentara dan panglima berada. Dari sana angkatan perang diatur rapi. Yang pasti di tempat itu akan terdengar suara tentara yang riuh sekali," kata Siok Ciam. "Tetapi sekarang, benteng itu lengang! Aku melihat sekawanan burung hinggap di atas tenda-tenda itu. Burung-burung itu berkicau sangat gembira. Jelas di kemah itu sudah tidak ada orangnya! Aku rasa pasukan negeri Cee dengan sekutunya telah datang akan membantu kita! Karena tahu tentara Cee datang, Chu Goan buru-buru kabur!"


Tidak berapa lama sehabis Siok Ciam mengucapkan kata-katanya, benar saja segera datang juru kabar membawa warta.


"Raja Cee bersama sekutunya datang. Tetapi mereka baru sampai di perbatasan negeri The, tentara negeri Couw sudah ditarik mundur." kata utusan itu.


Mendengar keterangan utusan itu semua panglima negeri The kagum dan memuji kepandaian Siok Ciam.


Raja The segera mengirim utusan untuk mengucapkan terima kasihnya kepada Raja Cee.


Dikisahkan di negeri Couw .....


Sepulang dari negeri The dan Chu Goan tidak berhasil mengalahkan negeri tersebut. Dia kesal dan mendongkol sekali. Apalagi Chu Goan mengetahui Raja Couw Seng Ong kurang senang kepadanya. Ditambah lagi siang dan malam dia terkenang saja pada kecantikan Permaisuri Bun. Terkadang Chu Goan mendapat impian yang tidak karuan. Hal itu membuat dia tidak enak makan dan tidak enak tidur. Niatnya akan merampas tahta kerajaan jadi semakin keras.


Tetapi niat itu belum juga bisa dilaksanakan. Pikiran Chu Goan maju-mundur. Dia masih takut jika hal itu dia lakukan Permaisuri Bun akan marah. Dengan demikian dia akan kehilangan "jantung hatinya". Maka dia putuskan akan mendapatkan si cantik dulu, baru merebut tahta.

__ADS_1


**


__ADS_2