
Pada tahun itu, Ong-cu Tay, yaitu saudara tiri Baginda Siang-ong, telah memberi suap pada bangsa Jiong, yang disuruh menyerang ke Kota-raja, karena ia berniat hendak merebut tahta kerajaan. Tetapi Baginda Siang-ong segera minta bantuan pada semua Raja muda.
Cin Bok-kong, Chin Hui-kong dan Raja-muda yang lain datang menolong, sedang Cee Hoa-kong juga memerintahkan pada Koan Tiong supaya mengerahkan pasukan perang untuk melabrak bangsa Jiong.
Raja Jiong takut pada tentara Cee yang sangat kuat, juga terhadap para Raja-muda yang datang membantu, lalu mereka mundur dan minta ampun pada Baginda Siang-ong. Raja bangsa Jiong pun menjelaskan kedatangannnya atas anjuran dari Ong-cu Tay.
Baginda mengampuni Raja bangsa Jiong, tetapi Ong-cu Tay segera diusir keluar dari daerah Ciu.
Baginda ingat pada Koan Tiong yang berpahala dan telah menetapkan kedudukannya dan sekarang kembali berjasa sudah menalukkan bangsa Jiong, maka segera diadakan pesta besar untuk menghormati Koan Tiong.
Tetapi Koan Tiong tidak berani menerima kehormatan itu, Koan Tiong memberi alasan, dia tidak mau melebihi pangkat dua pejabat negara.
Sesudah Baginda memaksa sampai berulang-ulang, apa boleh buat Koan Tiong cuma terima saja aturan He-keng yang dijalankan untuk menghormatinya.
Sehabis pesta dirayakan, Koan Tiong segera pamit pada Baginda dan terus pulang ke negri Cee.
Pada musim Tang pada tahun juga, Koan Tiong sakit.
Waktu itu Leng Cek dan Pin Si Bu semua sudah meninggal dunia.
Cee Hoan-kong merasa sangat berduka, dia sendiri pergi menengok Koan Tiong yang sedang sakit, dia lihat perdana mentri itu kurus sekali.
”Tiong-hu, mengapa sakitmu sampai begini hebat?” ratap Cee Hoan-kong sambil memegang tangan Koan Tiong, ”seandainya kau sampai tiada, harus diserahkan pada siapa pemerintahan di negeri Cee?”
”Pada Leng Cek,” sahut Koan Tiong sambil menghela napas.
”Selain Leng Cek, siapa lagi yang boleh dipakai? aku pikir hendak memakai Pauw Siok Gee, apa kau pikir boleh?”
”Pauw Siok Gee memang seorang yang budiman, cuma sayang dia jangan diberi kedudukan di pemerintahan. Dia seorang yang terlalu menilai kebaikan dan kejahatan terlalu tegas. Jika suka pada kebaikan memang bagus, tetapi jika membenci kejahatan keterlaluan, siapakah yang akan taat kepadanya? Tegasnya, sekali saja dia melihat kejahatan orang, seumur hidupnya dia tidak lupakan. Ini keburukan tabiatnya.” kata Koan Tiong.
”Kalau Sek Peng, bagaimana?”
__ADS_1
”Hampir boleh. Ia tidak malu untuk bertanya pada bawahan, meskipun sedang di rumah dia tidak melupakan pekerjaan negeri.”
Sehabis berkata begitu, Koan Tiong menghela napas, lalu berkata pula.
”Cuma sayang Allah menghidupkan Sek Peng, cuma untuk menjadi lidahnya I Gouw. Jika badannya sudah mati, di manalah lidahnya bisa tinggal tetap, maka aku khawatir jika Tuanku memakai Sek Peng tidak bisa lama.”
”Kalau begitu, apakah Ek Ge boleh dipakai?”
”Tuanku meski tidak bertanya pun, hamba hendak mengatakan begini. Ek Ge, Si Tiauw dan Kay Hong, tiga orang itu, harus Tuanku jauhi mereka.”
”Ek Ge memasak daging anaknya untuk disuguhkan kepadaku, jelas dia mencintaiku terlebih dari kepada anaknya, apakah orang ini masih harus dicurigai?”
”Sifat orang biasanya lebih menyayangi anaknya, jika anaknya saja tega dia korbankan, bagaimana dengan Tuanku?” kata Koan Tiong.
”Si Tiauw rela menyerahkan gedungnya dan merawat aku dengan telaten, jelas dia mencintaku lebih dari kepada dirinya, apakah dia juga masih harus dicurigai?” tanya Cee Hoan-kong.
”Semangat orang lebih diperlukan untuk dirinya sendiri, manakala dirinya sendiri tak dihiraukannnya, bagaimanakah sikapnya terhadap Tuanku nanti?” kata Koan Tiong.
Chin Hui-Kong segera memanggil algojo untuk mengggiring delapan orang itu dibawa keluar istana untuk ditebas batang lehernya.
Sementara itu Kiong Hoa yang ada di rumahnya. setelah mendengar Pi The Hu dan yang lain-lain sudah dihukum mati, dia segera datang ke istana untuk menerima hukuman mati, sehingga tanpa ditangkap lagi dia menyerahkan diri.
Chin Hui-Kong yang memang kejam segera mengeluarkan perintah untuk menghukum mati Kiong Hoa.
Anak Pi The Hu, Pi Pa namanya, ketika mendengar ayahnya sudah dibunuh, dengan tidak ayal lagi dia segera pergi ke negeri Cin.
Rupanya Chin Hui-Kong masih penasaran, segera hendak membasmi kaum Li, Pi dan lain-lain kaum keluarganya. Tetapi untung kekejaman Chin Hui-Kong bisa dicegah oleh Kiok Peng, sehingga Chin Hui-Kong membatalkan niatnya. Ia mengangkat Touw Gan I menjadi Tiong-tay-hu serta diberi hadiah sawah di Hui-kui tiga ratus petak.
Pi Pa yang lari ke negeri Cin lalu menghadap pada Raja Cin Bok-kong, dia ceritakan apa yang sudah terjadi, dan dia minta supaya Raja Cin Bok-kong mengerahkan pasukan perang menyerang ke negeri Chin. Tetapi Kian Siok dan Pek Li He menyatakan tidak setuju.
”Jangan Tuanku, jika Tuanku memerangi Chin, sama juga Tuanku membantu menteri memerangi rajanya. Ini jadi kurang baik di mata para raja. Kita tunggu saja sampai di negeri Chin timbul kekacauan. Saat itu baru kita serang mereka!” kata Kian Siok.
__ADS_1
Raja Cin Bok- Kong menurut dia tidak setuju pada usul Pi Pa, tetapi Pi Pa dipakai dan bekerja menjadi menteri di negeri Cin.
***
Pada tahun itu, Ong-cu Tay, yaitu saudara tiri Baginda Siang-ong, telah memberi suap pada bangsa Jiong, yang disuruh menyerang ke Kota-raja, karena ia berniat hendak merebut tahta kerajaan. Tetapi Baginda Siang-ong segera minta bantuan pada semua Raja muda.
Cin Bok-kong, Chin Hui-kong dan Raja-muda yang lain datang menolong, sedang Cee Hoa-kong juga memerintahkan pada Koan Tiong supaya mengerahkan pasukan perang untuk melabrak bangsa Jiong.
Raja Jiong takut pada tentara Cee yang sangat kuat, juga terhadap para Raja-muda yang datang membantu, lalu mereka mundur dan minta ampun pada Baginda Siang-ong. Raja bangsa Jiong pun menjelaskan kedatangannnya atas anjuran dari Ong-cu Tay.
Baginda mengampuni Raja bangsa Jiong, tetapi Ong-cu Tay segera diusir keluar dari daerah Ciu.
Baginda ingat pada Koan Tiong yang berpahala dan telah menetapkan kedudukannya dan sekarang kembali berjasa sudah menalukkan bangsa Jiong, maka segera diadakan pesta besar untuk menghormati Koan Tiong.
Tetapi Koan Tiong tidak berani menerima kehormatan itu, Koan Tiong memberi alasan, dia tidak mau melebihi pangkat dua pejabat negara.
Sesudah Baginda memaksa sampai berulang-ulang, apa boleh buat Koan Tiong cuma terima saja aturan He-keng yang dijalankan untuk menghormatinya.
Sehabis pesta dirayakan, Koan Tiong segera pamit pada Baginda dan terus pulang ke negri Cee.
Pada musim Tang pada tahun juga, Koan Tiong sakit.
Waktu itu Leng Cek dan Pin Si Bu semua sudah meninggal dunia.
Cee Hoan-kong merasa sangat berduka, dia sendiri pergi menengok Koan Tiong yang sedang sakit, dia lihat perdana mentri itu kurus sekali.
”Tiong-hu, mengapa sakitmu sampai begini hebat?” ratap Cee Hoan-kong sambil memegang tangan Koan Tiong, ”seandainya kau sampai tiada, harus diserahkan pada siapa pemerintahan di negeri Cee?”
”Pada Leng Cek,” sahut Koan Tiong sambil menghela napas.
”Selain Leng Cek, siapa lagi yang boleh dipakai? aku pikir hendak memakai Pauw Siok Gee, apa kau pikir boleh?”
__ADS_1
”Pauw Siok Gee memang seorang yang budiman, cuma sayang dia jangan diberi kedudukan di pemerintahan. Dia seorang yang terlalu menilai kebaikan dan kejahatan terlalu tegas. Jika suka pada kebaikan memang bagus, tetapi jika membenci kejahatan keterlaluan, siapakah yang akan taat kepadanya? Tegasnya, sekali saja dia melihat kejahatan orang, seumur hidupnya dia tidak lupakan. Ini keburukan tabiatnya.” kata Koan Tiong.