LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 95


__ADS_3

Selang tiga hari, penyakit Hoan-kong semakin berat, hingga tidak ada harapan bisa hidup lama lagi.


Dua dorna itu merasa sudah hampir sampai waktu yang baik, mereka lalu usir semua budak lelaki atau perempuan yang jaga Hoan-kong dan tutup rapat pintu keraton. Sedang kamar tidur Hoan-kong dan sekitarnya didirikan tembok kira-kira tiga tumbak tinginya, memutus perhubungan di dalam dan di luar. Cuma di bawah tembok ada dibikin satu lubang anjing, perlunya setiap pagi dan sore dorna itu memerintah budak kecil menerobos ke dalam untuk memeriksa apa Hoan-kong sudah mati atau belum. Juga dorna mengatur balatentara keraton, menjaga apabila Kong-cu menggerakkan pemberontakan.


Demikian keadaan di istana Raja Cee yang semula menjadi Raja Jagoan. sekarang nasibnya demikian buruknya.


***


Sesudah demikian lama Raja Cee Hoan-kong rebah saja di atas pembaringannya,


pada suatu hari karena perutnya merasa lapar dia hendak bangun, tetapi tidak kuat, lalu ia berteriak memanggil pelayan, tetapi tidak ada yang datang.


Saat Raja Cee membuka matanya dia jadi keheranan, tiba-tiba dia mendengar ada orang yang jatuh dari atas, ketika dia perhatikan, orang itu adalah An Ngo Ji, perempuan yang kurang disukainnya.


”Aku lapar, aku ingin makan bubur, coba kau pergi ambilkan,” kata Raja Cee Hoan-kong pada gundiknya itu.


”Tuanku tidak akan memperoleh bubur, ” sahut Ngo Ji.


”Kalau tidak ada bubur, ambilkan saja aku air hangat.”


”Air hangat juga tidak ada.”


”Eh, mengapa begitu?” tanya Raja Cee Hoan-kong dengan heran.

__ADS_1


”Ek Ge dan Si Tiauw telah membuat huru-hara, mereka telah menjaga keras pintu keraton, dan mendirikan tembok yang tingginya tiga tombak untuk memutuskan bagian dalam dan luar istana. Maka dari manakah kita bisa mendapatkan makanan?”


”Tetapi mengapa kau bisa datang ke sini?” tanya Raja Cee dengan lebih heran.


”Aku tahu Cu-kong tidak begitu cinta kepadaku,” kata gundik yang baik hati itu dengan melelehkan air matanya, ”Meskipun cuma sekali saja Cu-kong membuat aku beruntung, tetapi aku tidak bisa melupakan Cu-kong. Maka dengan tidak menghiraukan bahaya dan keselamatan jiwaku, aku telah naik ke tembok dan datang ke sini, karena aku ingin menunggui Cu-kong hingga sampai ajal.”


”Pangeran Ciauw ada di mana?”


”Karena penjagaan oleh dua dorna itu sangat ketat, dia tidak bisa masuk istana!” kata gundiknya.


Raja Cee Hoan-kong menghela napas dan berkata, ”Ya Allah, ternyata omongan Tiong-hu benar-benar omongan seorang Nabi. Apa yang dikatakan, tidak meleset sedikit pun! Lantaran aku bodoh, patut hari ini aku harus menerima nasib seperti ini.”


Sesudah itu dari mata Raja Cee mengucur air matanya deras sekali, dan sesaat kemudian dia berteriak pula.


”Oh Allah! Apakah memang ini sudah takdir Siauw Pek hari ini harus menemui ajalnya!” kata Raja Cee yang dulu bernama Siauw Pek ini.


Gundik yang baik hati itu lalu memeluk Raja Cee Hoan-kong dan mengusap-ngusap punggung Raja Cee, sedang air matanya berlinang-linang, karena dia merasa terharu sekali atas nasib raja jago ini.


”Aku ada punya enam Ji-hu-jin (nyonya kedua) yang aku cintai dan enam Kong-cu (Pangeran) yang aku paling sayang,” kata Raja Cee sambil menangis. ”Tetapi sekarang tidak seorang pun yang ada di depan mataku,


melainkan kau . . .ya kau seorang saja yang mengantar kematianku! Ya, nona, sesungguhnya aku merasa menyesal sekali, dulu aku tidak memperhatikanmu!”


”Sudah! Harap Cu-kong jaga baik-baik dirimui,” ratap An Ngo Ji. ”Seandainya sampai tidak beruntung, aku pun ikhlas untuk ikut mati bersama-sama denganmu.”

__ADS_1


Raja Cee Hoan-kong menggelengkan kepala, kemudian dia tutup mukanya dengan tangan bajunya, sesudah itu dia menghela napas beberapa kali, akhirnya meninggal. Ketika meninggal usia Raja Cee sudah 73 tahun.


Melihat junjungannya sudah meninggal, An Ngo Ji menangis sedih sekali. Dia hendak berteriak memanggil orang, tetapi dia ingat, tembok begitu tinggi dan kuat, teriakannya tidak akan terdengar. Ketika dia ingin memanjat akan keluar, tidak ada tangga maupun alat untuk dipakai memanjat. Tiba-tiba dia ingat ucapannya tadi, bahwa dia ingin mati bersama junjungannya. Sesudah menutupi tubuh Raja Cee dengan bajunya, dia menghampiri tiang, lalu membenturkan kepalanya hingga binasa.


Malam harinya....


Budak kecil yang ditugaskan masuk lewat lubang untuk melihat keadaan Raja Cee, kaget saat mengetahui Raja Cee telah meninggal dan otaknya sudah berhamburan. Buru-buru dia menerobos dan melapor pada Ek Ge dan Si Tiauw tentang kejadian itu.


Mendengar kabar itu mereka yakin saja, lalu menyuruh orang-orangnnya membobol tembok. Kedua dorna pun masuk untuk melihat sendiri. Mereka kaget karena di sana ada dua mayat yang kepalanya hancur, sedang Raja Cee tetap menggeletak di atas pembaringan meninggal dunia.


Dua dorna itu keheranan, tetapi budak istana ada yang mengenali mayat perempuan itu. Dia memberitahu dua dorna yang mengangguk dan terheran-heran.


Sesudah melakukan pemeriksaan, kedua dorna jadi sangat girang, lalu mereka berunding mengenai pengangkatan raja pengganti.


Mereka kemudian mengambil putusan sebelum mengurus jenazah Cee Hoan-kong, lebih dulu mereka akan membinasakan Kong-cu Ciauw, supaya Pangeran Bu Kui dengan mudah bisa naik tahta. Mereka segera memimpin pasukan pergi menyerang Tang-kiong (Istana Tengah) kediaman Pangeran Ciauw.


Untung di antara budak istana ada yang merasa kasihan pada Kong-cu itu, sebelum Ek Ge alias Yong Bu dan Si Tiauw mengerahkan tentaranya, budak itu buru-buru memberi tahu kabar jelek itu kepada Pangeran Ciauw.


Pangeran Ciauw kaget mendapat kabar itu, malam itu juga dia pergi ke rumah Kho Houw untuk minta nasihat bagaimana sebaiknya dia bertindak.


Perdana Mentri itu memberi saran.


”Lebih baik Cu-kong menyingkirkan diri ke negeri Song, sebab dulu Raja Cee Hoan-kong sudah pernah berpesan pada Raja Song Siang-kong untuk membantu Tuanku, jika ada bahaya.” kata KHo Kho Houw.

__ADS_1


Dengan menyamar Pangeran Ciauw pergi lewat pintu kota Timur, di situ, Cui Yauw yang menjaga, famili dari KHo Houw. Maka dengan mudah Pangeran Ciauw bisa keluar, malah Cui Yauw juga ikut dengan Pangeran Ciauw melarikan diri ke negeri Song.


Ketika Yong Bu dan Si Tiauw datang, mereka langsung mengepung gedung Pangeran Ciauw, tetapi gedung itu sudah kosong. Mereka mencarinya dan tidak ada hasilnya.


__ADS_2