
Pok He pamit langsung ke Ibu kota raja The. Malamnya dia pergi menemui Siok Ciam.
Melihat Pok He datang, Siok Ciam terkejut.
"Kau sedang menjaga kota Tay-leng, mengapa kau ada di sini?" tanya Siok Ciam.
"Raja Cee hendak menaklukkan negeri The," kata Pok He dengan suara perlahan, "dia memerintahkan Tay-ciang (Panglima Besar) Pin Si Bu membawa pasukan besar hendak mengantarkan Pangeran Tut kembali ke negeri The. Sekarang kota Tay-leng sudah jatuh ke tangan mereka. Malam ini aku datang untuk menyelamatkan diri. Tidak lama lagi tentara Cec sampai kemari. Jika kau bisa membunuh Pangeran Gi dan membuka pintu kota menyambut mereka, bukan saja kita bisa selamat, juga kekayaan dan kemuliaanmu ada pada kita.Tetapi jika tidak bisa, kita celaka!"
Siok Ciam diam berpikir.
"Dulu aku yang menyarankan The Le Kong jadi Raja, tetapi ditentang oleh Tay Ciok. Sekarang Tay Ciok sudah meninggal, ini takdir Allah. The Le Kong harus jadi Raja. Tetapi bagaimana kita harus mengatur masalah ini?" kata Siok Ciam.
"Pertama beri kabar pada The Le Kong di kota Lek-shia, minta pada mereka agar menyerang ibukota The," kata Pok He dengan girang. "Nanti kau keluar untuk pura-pura menangkis serangan musuh. Waktu itu pasti Pangeran Gi akan datang ke pintu kota untuk melihat peperangan. Sesudah kuberi isyarat kau habisi Pangeran Gi dan persilakan The Le Kong masuk kota. Dengan demikian beres sudah urusan besar itu!"
Siok Ciam setuju pada rencana tersebut. Diam-diam dia perintahkan utusan menyampaikan suratnya kepada The Le Kong. Dia menulis bahwa dia dan Pok He akan me-ngadakan pemberontakan terhadap Pangeran Gi.
**
Pada esok harinya......
Jenderal Pok He pergi menemui Pangeran Gi. Dia memberitahu bahwa tentara Cee datang akan membantu Pangeran Tut.
"Bahkan mereka sudah menduduki kota Tay-leng." kata Pok He.
__ADS_1
Mendengar kabar itu Pangeran Gi kaget,wajahnya pucat.
"Kalau begitu kita harus menyuap pada raja negeri Couw untuk minta bantuannya. Jika pasukan Couw sudah datang, kita labrak pasukan Cee dari luar dan dalam!" kata Pangeran Gi.
Pangeran Gi memerintahkan Siok Ciam untuk mengatur masalah itu. Tetapi sengaja Perdana Menteri Siok Ciam memperlambat mengurusnya. Sudah lewat dua hari Siok Ciam belum mengutus orang ke negeri Couw.
Waktu itu juru kabar datang memberi laporan.
"Angkatan perang dari tanah Lek telah sampai di depan Ibukota," kata juru kabar itu.
Pangeran Gi terkejut. Tapi Siok Ciam malah menghiburnya.
"Tuanku jangan khawatir, hamba akan mengusir mereka! Tuanku dan Jenderal Pok He silakan naik ke atas kota untuk mengatur penjagaan dengan ketat." Siok Ciam.
Raja The (Pangeran Gi) percaya saja. Dia mengira Siok Ciam masih setia kepadanya.
Jenderal Pok He di atas kota berteriak.
"Wah, celaka, pasukan The mendapat kerusakan berat!" kata Pok He.
Pangeran Gi yang memang penakut, mendengar Jenderal Pok He berkata begitu. Dia gugup sekali dan akan turun dari atas kota hendak kabur.
Saat yang baik itu tidak disia-siakan oleh Jenderal Pok He, dia langsung menikam pnggung Pangeran Gi hingga tewas.
__ADS_1
Melihat Pok He sudah memberi tanda, Siok Ciam minta dibukakan pintu kota.
Begitu pintu kota terbuka, Siok Ciam mengundang The Le Kong dan Pin Si Bu masuk ke dalam kota.
Jenderal Pok He masuk ke istana Ceng-kiong, di sana dia bunuh dua putera Pangeran Gi. Kemudian The Le Kong dinobatkan menjadi Raja di negeri The.
Rakyat negeri The merasa bersyukur karena raja yang mereka cintai telah kembali.
Pin Si Bu yang sangat berjasa diberi hadiah juga anak buahnya. The Le Kong juga berjanji akan berkunjung menemui Raja Cee. Pin Si Bu mengucapkan terima kasih. Kemudian Pin Si Bu mengucapkan selamat tinggal dan memimpin tentaranya pulang ke negeri Cee.
Baru beberapa hari The Le Kong duduk bertahta, rakyat negeri The hidup tentram seperti biasa.
Pada suatu hari.....
Ketika Raja The Le Kong mengadakan pertemuan semua menterinya, dia menegur Jenderal Pok He.
"Semakin kuingat perbuatanmu, hatiku semakin panas!" kata The Le Kong dengan keras. "Dalam 17 tahun kau menjaga kota Tay-leng, setiap kali aku maju kau selalu mengusir kami. Jelas kau sangat setia kepada Pangeran Gi. Sekarang karena kau takut mati dan serakah, kau berkhianat dan memihak kepadaku. Jelas kau tidak setia dan tidak bisa dipercaya! Malah kau bunuh Pangeran Gi dan keluarganya tanpa belas kasihan lagi. Padahal Pangeran Gi adalah adikku Sekarang aku akan membalas dendam adikku."
Sehabis berkata begitu, dengan tidak memberi kesempatan sampai Pok He menyahut lagi, The Le Kong sudah memerintahkan algojo menyeret Pok He. Dia dibawa ke tengah pasar dan ditebas kepalanya. Tetapi anak dan isterinya diberi ampun.
Sedang Goan Hoan, salah seorang menteri negeri The, dulu pernah mengusulkan supaya Pangeran Gi diangkat menjadi raja. Dia jadi khawatir The Le Kong akan menghukum dia. Dengan alasan sakit dia minta berhenti. Tetapi The Le Kong sudah mengerti ke mana maksud dan tujuan permohonan Goan Hong tersebut. The Le Kong memerintahkan orang menegur Goan Hoan. Saking kaget dan takut, Goan Hong menjerat lehernya sendiri hingga mati.
The Le Kong menghukum mereka yang dulu membantu mengusir dia. Pangeran Bun dibunuh. Kiang Thi minta perlindungan di rumah Siok Ciam; karena Siok Ciam dia hanya dipotong kakinya. Pangeran Teng Siok karena ketakutan melarikan diri ke negeri We. Karena Tay Ciok sudah meninggal dia bebas dari hukuman.
__ADS_1
Siok Ciam menjadi Perdana Menteri, Touw Siok dan Su Siok diangkat jadi Tay-hu. Siok Ciam, Touw Siok dan Su Siok bekerja di bawah perintah The Le Kong, hingga mereka terkenal disebut "Sam Liang" (Tiga Orang Budiman).
**