
Setelah membaca surat iti, Raja Louw Cong Kong kurang senang.
Berbareng dengan itu, Raja Cee pun mengirim surat kepada Louw Hu-jin Bun-kiang.
Sesudah Bun-kiang membaca surat Raja Cee, dia langsung memanggil Raja Louw Cong Kong yang segera datang menghadap.
"Cee dan Louw turun temurun menjadi famili," begitu kata Louw Hu-jin mengingatkan anaknya, "kendati dia benci kepada kita, toh kita harus baik kepadanya. Apalagi jika dia mau mengamankan dunia, tentu saja kita harus membantunya."
"Ya, baik, aku menurut pesan Ibu," kata Raja Louw Cong Kong dengan hormat.
Raja Louw memerintahkan Si Pek menulis surat balasan buat Raja Cee.
Si Pek lantas menulis surat yang bunyinya kira-kira demikian:
"Oleh karena kebetulan aku kurang sehat badan, sehingga aku belum bisa ikut titahnya Baginda. Sekarang Kun-houw mengirim surat menegur hamba, aku menerima salah. Tetapi jika aku harus berdamai di bawah kota Louw, sesungguhnya aku jadi sangat malu, apabila Kun-houw suka mengundurkan tentaramu sampai ke daetah Kun Houw sendiri, sudah pasti dengan membawa batu mustika giok dan kain sutera aku akan datang ke sana untuk minta ampun."
Begitu Raja Cee menerima surat dari Raja Louw, dia jadi girang sekali.Kemudian menarik mundur tentaranya sampai le tanah Ko (tanah milik negeri Cee).
Ketika Raja Louw hendak pergi menemui Raja Cee, dia bertanya pada semua menterinya.
"Siapa di antara kalian yang bersedia ikut denganku?" kata Raja Louw.
"Hamba bersedia ikut dengan Tuanku," kata Co Moay.
"Hau, kau sudah tiga kali kalah berperang dengan tentara Cee, apakah kau tidak khawatir orang negeri Cee menertawkanmu?" kata Raja Louw Cong Kong sambil tersenyum.
"Justru lantaran mendapat malu, sekarang hamba ingin pergi. Hamba yakin hamba bisa membalas kekalahan hamba pada mereka!" kata Co Moay.
"Bagaimana caranya kau hendak membalas pada mereka?" tanya Raja Couw.
"Tuanku boleh berurusan dengan Raja Cee, sedang hamba akan berhitungan dengan menterinya." jawab Co Moay.
"Aku pergi ke perbatasan negeri untuk minta berdamai, seumpama aku telah kalah perang, apabila kau bisa membalas membuat malu mereka, aku senang sekali mengajakmu." kata Raja Couw.
__ADS_1
Sesudah berdandan untuk persiapan di perjalanan, Raja Louw Cong Kong mengajak Co Moay berangkat menuju ke tanah Ko.
Raja Cee memang sudah lebih dulu membuat panggung untuk menunggu kedatangan Raja Louw.
Ketika Raja Louw hampir sampai ke tanah Ko, Raja Louw memerintahkan orangnya memberi khabar kepada Raja Cee tentang kedatangannya. Sementara Raja Cee pun membalas mengirim orangnya untuk menentukan saat perundingan akan diadakan.
Begitu sampai pada waktu yang sudah ditentukan, dengan menuruti ajaran Koan Tiong, Raja Cee memerintahkan tentaranya berbaris di bawah panggung.
Tentara Cee diatur menjadi empat barisan, mereka membawa bendera hijau, merah, hitam dan putih. Mereka berbaris di bagian timur, selatan, barat dan utara. Masing-masing dikepalai oleh seorang panglima perang. Panglima tertingginya adalah Tiong Sun Ciu.
Tangga panggung dibuat tujuh tingkat, setiap tingkat dijaga oleh tentara yang gagah memegang bendera kuning. Pada bendera itu terlukis dua huruf "Hong Pek". Di samping bendera diletakan sebuah genderang besar; untuk menjaga genderang ditugaskan Ong-cu Seng Hu.
Di tengah panggung diatur meja sembahyang, di sana ditaruh piring merah dan mangkuk batu giok. Mangkuk itu untuk tempat darah. Pengurus di bagian ini dipegang oleh Sek Peng. Di kedua tepi panggung ditempatkan tempat duduk. Pengurus di sini dipercayakan kepada Si Tiao.
Di panggung sebelah barat ada dua buah tiang batu. Di sana terikat seekor kerbau hitam dan kuda putih, sedang algojonya bersiap akan memotong binatang itu. Pengawasan tempat ini diserahkan kepada tukang masak Ek Ge.
Tong Kok Ge menjadi petunjuk jalan, berdiri di bawah tangga untuk menyambut tamu.
Koan Tiong yang jadi Perdana Menteri, berdandan rapi sekali.
Co Moay berpakian sipil dan mengenakan pakaian perang di balik pakaian sipilnya. Pada tangan kanan Co Moay memegang sebilah pedang yang tajam. Sekali pun hanya sekejap dia tidak mau berjauhan dengan Raja Louw Cong Kong.
Waktu itu Raja Louw sambil berjalan tubuhnya gemetar karena ngeri; tetapi Co Moay sedikit pun tidak kelihatan jerih.
Setelah mereka berjalan hampir sampai di tangga ke-dua, Tong Kok Ge maju ke hadapan Raja Louw dan dia berkata, "Hari ini dua orang Raja hendak mengadakan pertemuan. Begitu juga menterinya. Sudah tentu semua harus memegang adat-istiadat dengan baik. Mana boleh membawa senjata tajam? Untuk kebaikan kedua pihak, pedang itu harus ditaruh dahulu!"
Co Moay tidak menyahut, tetapi dengan mata mendelik dia awasi Tong Kok Gee. Biji mata Co Moay seolah mau melompat keluar.
Melihat demikian Tong Kok Ge jadi mengkirik, dia mundur beberapa langkah.
Raja Louw Cong Kong dan Co Moay berjalan terus. Mereka naik ke atas panggung. Setelah dua orang raja itu bertemu muka, masing-masing menyatakan kegembirannya. Sesudah itu genderang dibunyikan sebanyak tiga kali. Mereka menghadapi meja sembahyang dan menjalankan upacara adat.
Sek Peng menuang darah hewan ke dalam mangkuk batu giok, sambil berlutut dia suguhkan darah itu supaya dua orang raja itu segera meminumnya. Suatu tanda mereka sedang membuat perserikatan yang kekal.
__ADS_1
Sebelum dua Raja Muda itu minum darah tersebut, Co Moay dengan wajah gusar bergerak. Tangan kiri Co Moay menjambak lengan baju Raja Cee Hoan Kong. Sedang tangan kanannya memegang pedang tajam dan mengancam.
Koan Tiong segera melindungi Raja Cee Hoan Kong dengan tubuhnya. Dengan sikap hormat.
"Apa yang hendak Tay-hu lakukan?" tanya Koan Tiong.
"Secara beruntun Raja Louw beberapa kali didatangi bala-tentara negeri Cee, sehingga negerinya hampir musnah!" kata Co Moay dengan keras. "Sedang Kun-houw mengabaikan pertemuan dengan maksud hendak menolong yang lemah dan mengangkat yang sedang jatuh. Apakah Tuan tidak ingat pada negeriku yang bernasib jelek?"
"Kalau begitu, apa yang Tay-hu hendak minta?" tanya Koan Tiong dengan sabar.
"Negeri Cee terlalu mengandalkan kekuatan dan telah menghina negeri yang lebih lemah. Negeri Cee telah merebut sawah-sawah milik negeri Louw di Bun-yang," kata Co Moay dengan sengit. "Maka hari ini aku mohon apa yang telah dirampas supaya dikembalikan kepada Rajaku! Kalau sudah begitu baru boleh minum darah itu!"
Koan Tiong berpaling ke arah Raja Cee Hoan Kong.
"Apa Tuanku suka meluluskan permohonannya?" kata Koan Tiong.
"Baik, Tay-hu, aku luluskan permohonanmu itu," kata Cee Hoan Kong pada Co Moay.
Mendengar Raja Cee bersedia mengembalikan milik negeri Couw, Co Moay baru melepaskan cengkeramannya. Kemudian dia menggantikan Sek Peng memegang mangkuk batu giok berisi darah. Menyuguhkannya pada ke-dua raja tersebut.
Sesudah kedua raja minum darah, Co Moay berkata, "Tiong-hu memegang pemerintahan di negeri Cee, hamba suka minum bersama-sama Tiong-hu!"
"Mengapa harus Tiong-hu? Aku siap bersumpah di hadapanmu!" kata Raja Cee.
Raja Cee menghadap ke langit menunjuk ke arah matahari seraya berkata, "Allah Yang Maha Kuasa! Jika aku ingkar, dan tidak mengembalikan sawah-sawah di Bun-yang pada negeri Louw, biarlah aku binasa seperti tenggelamnya matahari!"
Co Moay menjadi sangat girang, dia minum darah tersebut. Dengan sikap hormat dia mengucapkan terima kasih.
Setelah urusan itu selesai dan Raja Louw Cong Kong sudah pergi ke gedung tempat bermalamnya. Ong-cu Seng Hu dan lain panglima merasa sangat penasaran. Mereka minta izin pada Raja Cee Hoan Kong hendak membunuh Raja Louw Cong Kong. Ini untuk membalas penghinaan Co Moay kepada raja mereka.
"Jangan, tidak boleh begitu! Aku sudah meluluskan permohonan Co Moat!" kata Hoan Kong. "Ingat! Meski pun yang bersumpah itu cuma orang biasa, dia tidak boleh mengabaikan kepercayaan dan janji! Apalagi janji aku seorang Raja!"
Karena Raja Cee melarang, semua panglima diam tidak berani membantah.
__ADS_1
**