
"Ya, begitu baik!" sahut Eng No dengan angkuh.
Mereka segera memerintahkan tentaranya mundur. Kemudian Kui Yu dan Eng No berkelahi satu lawan satu. Mereka saling serang-menyerang. Mereka masing-masing mengeluarkan kemampuannya. Tetapi sesudah 50 jurus lebih belum ketahuan muncul pemenangnya.
Putera Kui Yu, yang bernama Hang Hu, usianya baru 8 tahun, dia sangat disayang oleh Kui Yu. Saat itu dia ikut dalam barisan dan menyaksikan ayahnya bertarung. Melihat ayahnya belum memenangkan pertarungan, anak ini tiba-tiba berteriak-teriak.
"Beng-lo ada di mana! . . . . Beng-lo ada di mana!" teriaknya.
Teriakan putera Kui Yu itu membuat Kui Yu sadar. Dia pura-pura terdesak dan mundur supaya Eng No maju mengejarnya. Saat Eng No mengejar, Kui Yu mengelak. Dengan cepat dia cabut pedang Beng-lo dari sarungnya. Begitu Eng No sudah dekat Kui Yu menebas tubuhnya. Maka sekali tebas Eng No pun binasa. Tetapi pada pedang itu tidak terlihat ada tanda darah sedikit pun.
Tentara Ki yang melihat tuannya telah binasa semua berlarian simpang-siur seperti daun kering tertiup angin. Kui Yu segera memimpin tentaranya pulang sambil bernyanyi.
Kedatangan Kui Yu disambut oleh Raja Louw Hi Kong sendiri di sebuah lapangan. Sesudah kembali ke istana Raja Louw mengangkat Kui Yu menjadi Perdana Menterinya.
"Tuanku tidak perlu memberi kemuliaan terlalu besar pada hamba,," kata Kui Yu. "Hamba dengan Keng Hu dan Siok Gee sama-sama turunan raja almarhum. Karena hendak membela tanah Louw, hamba telah meracun Siok Gee dan menggantung Keng Hu. Karena demi negara, terpaksa hamba membinasakan mereka! Sekarang kedua pangeran sudah lenyap, jika hamba terima hadiah dari Tuanku maka hamba sangat malu."
"Tapi mereka berdua jahat! Apa tidak boleh aku memberi karunia pada Paman?" kata Louw Hi Kong.
"Tidak, memang tidak ada salahnya," sahut Kui Yu. "Meski pun mereka berniat jahat, tetapi perbuatannya belum terbukti! Maka hamba usul agar Tuanku membebaskan keluarganya dan mengangkat kembali keluarga mereka. Dengan demikian hubungan persaudaran kita tetap kekal!" kata Kui Yu.
__ADS_1
"Ya, baiklah," sahut Hi Kong, yang segera mengizinkan Kong-sun Go dan Kong-sun Chu, masing-masing putra Keng Hu dan Siok Gee meneruskan jabatan ayah mereka. Yang satu dihadiahi tanah di Seng, yang lain mendapat tanah di Houw. Sementara Kui Yu tetap menjadi perdana menteri.
***
Pada tahun pemerintahan Kaisar Ciu Hui Ong yang ke-17.....
Bangsa Tek menyerang ke negeri Heng, dari situ mereka berpindah menyerang ke negeri We.
Raja We karena tidak tahan, mengirim utusan minta bantuan kepada Raja Cee. Tetapi Raja Cee yang sudah berjanji hendak membantunya, tidak segera mengerahkan tentaranya, karena masih menunggu sampai musim Cun. Pada musim Cun itulah baru Raja Cee akan mengerahkan tentaranya. Dia akan bergabung dengan tentara Raja Muda yang lain. Karena saat diminta bantuan tentara Cee masih kelelahan sehabis melabrak bangsa Jiong.
Di musim Tang, menteri dari negeri We yang bernama Leng Sok, datang ke negeri Cee. Dia memberitahu pada Cee Hoan Kong.
Alangkah kagetnya Raja Cee Hoan Kong ketika mendengar khabar buruk itu. Sedikit pun dia tidak menyangka negeri We begitu cepat runtuhnya.
(Kisah ini mundur sedikit ke belakang.)
Ketika tahun pemerintahan Kaisar Ciu Hui Ong ke-9. Raja We I Kong ketika itu baru bertahta di negeri We. Setelah menjadi raja sembilan tahun lamanya, sifatnya berubah menjadi buruk. Dia selalu bersenang-senang dan malas. Dia juga sombong sekali. Tegasnya dia tidak mau menghiraukan urusan negara.
Kegemaran We I Kong adalah memelihara burung bangau. Setiap hari dan setiap dia keluar berjalan-jalan selalu membawa sekawanan burung bangaunya. Dia samakan burung bangau itu seperti pengikutnya. Orang-orang yang merawat burung bangaunya digaji bagus. Raja We juga membiarkan anak buahnya memeras rakyat. Hasil pajaknya oleh dia dipakai berfoya-foya. Raja We tidak memperdulikan rakyatnya menderita kelaparan, asalkan bangau-bangaunya gemuk-gemuk.
__ADS_1
Pangeran Hui adalah paman dari Raja We I Kong. Sudah berkali-kali Pangeran Hui menasihati Raja We. Tetapi Raja We I Kong tidak mau mendengarkan nasihatnya.
Buru-buru Pangeran Hui pindah ke negeri Cee. Raja Cee Hoan Kong malah menikahkan dia dengan anak perempuan famili Raja Cee. Pangeran Hui pun jadi betah tinggal di negeri Cee.
Raja bangsa Tek, So Mhoa namanya. Dia mempunyai beberapa ribuan tentara. Setiap saat dia berniat mengacau di daratan Tiongkok. Tatkala Raja So Mhoa mendengar khabar Raja Cee pergi menyerang kaum Jiong, dia gusar sekali,
"Jika Raja Cee berani menyerang ke negeri yang jauh, pasti dia juga suatu ketika bisa menyerang negaraku," kata Raja So Mhoa. "Sebelum mereka menyerang ke negaraku, lebih baik aku dahului mereka!"
Kemudian raja bangsa Tek ini mengerahkan 20.000 tentaranya menyerang ke negeri Heng. Mereka berhasil menaklukkan Raja negeri Heng. Kemudian serangan mereka dipindahkan ke negeri We.
Ketika bangsa Tek mulai menyerang negeri We, waktu itu We I Kong hendak memuat bangau-bangaunya ke dalam kereta, karena dia akan pergi jalan-jalan. Dia kaget sekali ketika tiba-tiba diberi tahu, bahwa orang Tek datang menyerang negaranya. Dia batalkan niatnya berjalan-jalan. Lalu menyiapkan angkatan perang untuk menghadapi musuh.
Raja We I Kong memberi hadiah sebuah gelang batu giok kepada Cio Ki Cu; dan hadiah anak panah pada Leng Sok. Dia minta mereka berjaga mengamankan negaranya.
"Sekarang urusan di dalam negeri semua aku serahkan kepada kalian berdua," kata We I Kong. "Di dalam peperangan ini, jika aku tidak bisa mengalahkan bangsa Tek, pasti aku tidak akan pulang kembali."
Dua Tay-hu tersebut merasa terharu mendengar ucapan junjungannya itu. Dengan air mata berlinang-linang mereka berjanji akan memperhatikan pesan tersebut.
Sesudah meninggalkan pesan itu, We I Kong mengumpulkan kereta perang dan tentaranya. Dia memerintahkan Ki Khong menjadi Tay-ciang (Jenderal Besar), I Pek menjadi pembantunya, Ui I menjadi Sian-hong (Pemimpin Pasukan Pelopor), Khong Eng Ce memimpin pasukan bala-bantuan di bagian belakang. Raja We keluar akan membangun perkemahannya.
__ADS_1