LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 14


__ADS_3

Pada suatu hari......


Si Tiao dan Ek Ge menghasut dan memburuk-burukan Koan Tiong kepada Raja Cee Hoan Kong. Mereka bilang. ”Menurut hamba seorang raja memberi perintah. Sedang hambanya yang menjalankan perintah itu. Tetapi sekarang keadaannya terbalik, tuanku. Tuanku terlalu mempercayai Koan Tiong!” kata Si Tiao.


”Ini semua artinya sama saja bahwa negeri Cee sudah tidak punya Raja lagi!” kata Ek Ge.


”Ha, ha, ha!” Raja Cee Hoan Kong tertawa. ”Kalau begitu kalian belum tahu, bagaimana hubunganku dengan Tiong-hu Koan Tiong!”


Raja Cee Hoan Kong mengerti kedua orang itu hendak menghasut Koan Tiong.


”Jika kalian ingin tahu, aku dengan Tiong-hu seperti tubuh dengan anggota tubuh. Ada paha baru bisa disebut tubuh. Ada Tiong-hu baru aku bisa menjadi Raja. Kalian berdua dari golongan rendah, kalian dilarang ikut campur urusan Tiong-hu!” kata Raja Cee.


Mendengar penjelasan dari Raja Cee, Raja Cee pun tahu apa maksud ucapan mereka. Kedua orang itu diam bagai orang terkesima. Mereka tidak bisa berkata-kata lagi.


Sesudah Cee Hoan Kong mengandalkan Koan Tiong mengurus pemerintahan di negeri Cee kira-kira tiga tahun lamanya, negeri tersebut telah menjadi sangat aman dan makmur.


Pada masa itu keadaan di negeri Couw sedang jayanya. Mereka telah mengalahkan negeri Teng, membasmi negeri Koan, menaklukan negeri Sui. Sesudah mengalahkan negeri In, kemudian berserikat dengan negeri Sit. Dengan demikian seluruh negeri-negeri kecil yang terletak di sebelah timur sungai Han-sui, tidak ada yang tidak takluk di bawah perintah negeri Couw. Raja-raja kecil itu terpaksa harus mengantar upeti ke negeri Couw.


Dari semua negara, kecuali negeri Coa yang sangat mengandalkan kehebatan negeri Cee. Sebab Raja Coa berbesan dengan Raja Cee. Raja Coa pun berserikat dengan Raja-raja Muda di Tiongkok. Itu sebabnya mereka belum mau mengalah kepada negeri Couw.


Sampai pada masa Raja Hin Cu yang menjadi raja di negeri Couw dengan gelar Bun Ong, Raja Coa belum mau mengaalah juga.

__ADS_1


Kehebatan Raja Couw Bun Ong ini, lantaran dia dibantu oleh beberapa orang pandai yang bekerja padanya, seperti Touw Ki, Kut Tiong, Touw Pek Pi, Wan Ciang, Touw Liam dan Yo Koan. Dengan demikian keadaan negeri Couw menjadi semakin jaya saja. Kekuatannya itu telah membuat Raja Couw Bun Ong punya niat hendak menyerang ke daerah Tiong-goan (Tiongkok).


Ketika itu raja di negeri Coa dengan raja di negeri Sit bagai bersaudara. Mereka sama-sama mengawini puteri negeri Tan. Tetapi raja dari negeri Coa telah kawin lebih dahulu. Sedang raja dari negeri Sit kawin belakangan.


Permaisuri Sit yang disebut Kui-si atau Sit-kui, parasnya sangat cantik luar biasa.


Pada suatu saat karena hendak menjenguk ayah-bundanya, Sit-kui pulang ke negeri Tan. Kebetulan mereka harus melwati jalan di negeri Coa.


Sementara itu Coa Ai-houw yang mendapat khabar Ie-nya (ipar perempuannya), bakal lewat di negerinya, ia merasa kurang pantas jika tidak menyilakan Ie-nya itu singgah dulu di negerinya. Dia memerintahkan orangnya pergi menyambut Sit-kui dan diajak datang di istananya.


Karena Sit-kui pikir ia masih famili dengan Coa Ai-houw, karena Ta-ci (saudara perempuan yang tertua) menjadi permaisuri raja negeri Coa, maka dia menerima baik undangan itu.


Dengan sikap hormat Raja Coa menerima kedatangan Sit-kui. Hari itu diadakan perjamuan di dalam istana. Ketika sudah duduk bersantap, karena melihat paras Sit-kui yang elok sekali, timbul birahi di hati Raja Coa. Kemudian dia bertingkah ceriwis dan mengucapkan kata-kata cabul di hadapamn Ie-nya ini. Dia mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh dan sedikit pun tidak menghormati tamunya.


Ketika Sit-kui atau Ratu Sit sudah kembali dari negeri Tan dan akan kembali lagi ke negeri Sit. Nyonya Kui yang cantik manis in,i tidak mau singgah lagi di istana Raja Coa. Dia khawatir diganggu lagi oleh raja yang ceriwis itu.


Suatu hari ketika Raja Sit mengetahui Raja Coa telah kurang ajar pada istrinya, dia sangat gusar. Sebisanya dia mencari akal hendak melakukan pembalasan pada Raja Coa.


Beberapa hari lamanya Raja Sit memutar otak mencari akal. Akhirnya dia mendapat suatu ide yang bagus.


Sesudah itu dia mengirim utusan pergi mengantar barang upeti ke negeri Couw. Kepada utusan itu Raja Coa mengirim surat. Bunyinya demikian:

__ADS_1


Karena negeri Coa sangat bersandar kepada Tiongkok, ia angkuh dan tidak mau takluk kepada tuanku. Dengan ini kami sarankan agar tuanku serang saja negeri Coa tersebut. Gunakan siasat, seolah-olah Couw akan menyerang negeri kami. Nanti kami pura-pura minta bantuan. Jika Raja Coa datang membantu. Saat itu ia harus diserang. Saat itu Raja Coa akan tertangkap, dan terpaksa dia akan takluk kepada tuanku.


Tertanda Raja Sit.


Ketika utusan dari negeri Sit sampai. Dia sampaikan surat dari Raja Sit kepada Raja Couw Bun Ong. Membaca saran itu Raja Couw sepakat akan menggunakan siasat itu. Bahkan dia sangat girang atas saran itu. Saran dari Raja Sit tersebut suatu keuntungan baginya. Raja Couw segera mengerahkan angkatan perangnya. Sesuai rencana Raja Couw berpura-pura hendak menyerang ke negeri Sit. Ketika angkatan perang negeri Couw sudah dekat ke perbatasan negeri Sit, sesuai rencana Raja Sit buru-buru mengirim utusan untuk minta pertolongan kepada negeri Coa.


Mendengar negara saudara iparnya mendapat bahaya, Raja Coa Ai-houw tanpa ragu memimpin pasukan perang. Mereka datang akan menolong. Tetapi pada saat pasukan negeri Coa sedang membangun asrama tentaranya dan sebelum perkemahannya rampung, tiba-tiba tentara Couw datang menyerang mereka.


Tentara Coa tidak sanggup menahan serangan yang hebat dari pasukan Couw. Raja Coa buru-buru kabur ke kota negeri Sit. Tetapi Raja Sit yang sangat kesal oleh ulah Raja Coa yang pernah menggoda isterinya, sengaja menutup pintu kota dan tidak mau menyambut kedatangan Raja Coa tersebut. Maka tentara Coa akhirnya mendapat kerusakan besar. Coa Ai-houw sendiri melarikan kudanya untuk menyelamatkan diri.


Tentara Couw mengejar mereka. Setelah sampai di Sin-ya (tanah kerajaan Coa). Tentara Couw berhasil menangkap Coa Ai-houw hidup-hidup. Dia dibawa menghadap pada Raja Couw Bun Ong.


Raja Sit mengadakan pesta besar untuk mengucapkan selamat atas kemenangan tentara Couw itu. Sesudah perjamuan selesai, Raja Sit mengantarkan Couw Bun Ong keluar dari negerinya.


Waktu itu Raja Coa baru sadar, dia telah ditipu oleh Raja Sit. Tentu saja dia amat sakit hati.


Setelah Raja Couw pulang ke negerinya. Raja Couw mengeluarkan perintah untuk membunuh Raja Coa. Dagingnya akan dimasak untuk menyembahyangi klenteng leluhur Raja Couw.


”Jangan! Harap baginda jangan bunuh dia,” kata Yo Koan.


Dia cegah kehendak Couw Bun Ong.

__ADS_1


”Bukankah baginda saat ini menginginkan Tiongkok. Jika tuanku bunuh Raja Coa, maka Raja Muda yang lain jadi ketakutan. Dengan demikian mereka tidak mau takluk. Lebih baik kembalikan dia ke negerinya. Biarkan dia takluk di bawah perintah tuanku.”


”O, tidak! Tidak bisa begitu!” kata Raja Couw. ”Kau sendiri tahu, karena Raja Coa berlindung kepada Tiongkok, dia begitu bersikap kepala batu, maka sekarang harus dibinasakan!”


__ADS_2