
Segera Raja Song Siang-kong mengeluarkan surat selebaran, mengajak para Raja-muda di lain tahun pergi mengantarkan Pangeran Ciauw ke negeri Cee.
Waktu berjalan dengani cepat sekali, selang tidak berapa lama sudah sampai saat mereka bergabung.
Song Siang-kong segera menggabungkan pasukan perangnya pada pasukan perang negri We, Co dan Cu, mengiringkan Kong-cu Ciauw pergi menyerang ke negri Cee.
Waktu itu Yong Bu alias Ek Gee sudah naik pangkat menjadi Su-ma dan memegang kekuasaan dalam masalah ketentaraan.
Pangeran Bu Kui begitu mendapat kabar angkatan perang Song hendak datang menyerang, segera dia perintahkan Yong Bu memimpin tentara untuk menangkis serangan dari Raja Song itu. Si Tiauw tetap tinggal di dalam kota untuk mengurus segala keperluan, sedang Kho dan Kok, dua menteri besar itu diperintahkan untuk menjaga kota.
Sebenarnya Menteri Kho Houw dan Menteri Kok I Tiong sangat benci kepada Ek Gee alias Tong Bu dan Si Tiauw ini. Mereka ingin sekali mengangkat Pangeran Ciauw menjadi raja. Diam-diam mereka mengadakan perserikatan rahasia.
Ketika Ek Gee sedang mengatur tentaranya untuk menangkis serangan musuh, Kho Houw cs di dalam kota mengadakan pemberontakan. Pertama-tama Si Tiauw dibujuk kemudian dibunuh. Sesudah itu Pangeran Bu Kui pun dibinasakan juga. Baru sesudah itu mereka keluar kota untuk mengepung dan membunuh Ek Gee.
Tetapi sayang Ek Gee mengetahui rencana ini, dia ajak beberapa orangnya yang paling dipercaya, melarikan diri ke negeri Louw.
Kho Houw dan pembesar lain pergi menyambut Pangeran Ciauw. Kemudian berserikat dengan negeri Song, We, Co dan Cu, empat negara.
Sesudah keadaan aman ke empat negara itu segera mengundurkan tentaranya, sedang Menteri Kho Houw lalu mengiringkan Pangeran Ciauw masuk ke dalam kota.
Tetapi tidak diduga pintu kota telah ditutup rapat dan tidak mau dibuka. Pangeran Siang Jin, Pangeran Goan dan Pangeran Poan, tidak bersedia menerima Pangeran Ciauw diangkat menjadi raja, malah mereka hendak mengadakan pembalasan kematian Pangeran Bu Kui.
__ADS_1
Karena Kho Houw merasa tidak mampu menyerang kota, maka dia ajak Pangeran Ciauw kembali ke negeri Song.
Ketika itu Raja Song Siang-kong baru mundur dan tentaranya sudah dekat negrinya. Melihat Pangeran Ciauw dengan tergopoh-gopoh datang menyusul, dia jadi terkejut.
”Ada apa kau menyusulku?” kata Raja Song.
Kho Hoauw menceritakan apa yang terjadi.
”Ini salahku karena aku menarik tentaraku terlalu cepat,” kata Raja Song. ”Sudah jangan cemas selama masih ada aku!”
Kemudian Raja Song memerintahkan panglima Kong-cu Tong menjadi Sian-hong, Hoa Gi Su jadi pengiring di belakang, sedang Raja Song sendiri memimpin pasukan tengah, kembali ke negeri Cee bersama Pangeran Ciauw.
Di depan pasukan itu ada Houw maju, ketika mereka sampai di negeri Cee, panglima Cee yang menjaga perbatasan menyambutnya. Dengan demikian pasukan Song bisa maju sampai ke kota Lan-cu.
Semua pembesar negeri Cee menyilahkan Pangeran Ciauw masuk istana. Kemudian dia diangkat menjadi Raja Cee dengan gelar Cee Hauw-kong. Sesudah menjadi Raja Cee, Pangeran Ciauw membagi-bagi hadiah pada menterinya yang setia.
Selama lima hari lamanya Raja Song Siang-kong tinggal di negeri Cee. Sesudah menganggap tidak ada bahaya lagi, dia kembali ke negerinya.
Pangeran Poan dan Siang Jin mengaku yang bersalah adalah Pangeran Goan. Tetapi Kho Houw dan Kok I Tiong tahu dua pangeran ini pun ikut bersalah. Dua menteri senior ini ingin mengakhiri perselisihan di antara mereka, maka kesalahan ditimpakan pada Ek Gee dan Si Tiauw saja. Maka sanak keluarga Ek Gee dan Si Tiauw akhirnya dihukum mati semuanya.
Pada musim Ciu bulan delapan jenazah Raja Cee baru dikubur di atas gunung Gu-siu-kong, dan di sampingnya dikuburkan jenazah An Ngo Ji.
__ADS_1
Dikisahkan, sesudah Raja Song mengangkat Pangeran Ciauw menjadi Raja Cee, dia merasa bangga dan menganggap sudah pantas menjadi jago di antara para Raja-muda seperti Raja Cee dulu. Maka itu, ia berniat mengangkat dirinya menjadi Beng-cu (Pemimpin) di antara Raja-muda. Tetapi karena masih khawatir raja-raja yang negerinya besar dan kuat tidak setuju, maka dia segera mengadakan perserikatan dengan raja-raja dari negeri Teng, Kwee, Co, Chu.
Raja negeri Teng, bernama Teng Eng Cee, datang ke pertemuan paling terlambat dari semua raja muda. Raja Song marah, lalu menahan Raja Teng ini di sebuah rumah. Karena takut Raja Kwee yang negerinya lebih kecil dari negeri Song, dia juga datang terlambat dua hari.
Raja Song Siang-kong menganggap Raja Kwe berani menentang padanya.
”Negeri Kwee yang kecil saja berani menantangku, jika tidak dihukum bagaimana aku bisa berwibawa?” kata Raja Song.
”Ketika Raja Cee menjadi jago, beliau telah mengalahkan bangsa Tong-i di sebelah Utara. Jika Tuanku ingin mengalahkan mereka, kita perlu menggunakan Raja Kwee.” kata Kong-sun Tong.
”Bagaimana caranya aku memakai dia?” kata Raja Song.
”Bangsa Tong-i sangat menghormati malaikat di sungai Ci-sui, sehingga mereka mendirikan rumah pemujaan di sana. Mereka menyembahyanginya setiap musim. Jika Tuanku membunuh Raja Kwee dan gunakan kepalanya untuk bersembahyang, pasti bangsa Tong-i akan ketakutan, sebab mereka pikir dengan gampang Tuanku membunuh Raja Kwee. Aku yakin bangsa Tong-i akan tunduk kepada Tuanku. Dengan demikian Tuanku bisa minta bantuan pada mereka untuk menaklukkan semua raja muda yang membangkang pada Tuanku.”
”Oh jangan, kita tidak boleh berbuat begitu,” kata Pangeran Bak I coba mencegah. ”Jika Tuanku juga ikut sembahyang pada siluman sungai Ci-sui, berarti Tuanku ikut tradisi bangsa Tong-i. Jadi bagaimana mereka akan takut kepada Tuanku? Sedangkan Raja Cee Hoan-kong memimpin perserikatan empat puluh tahun lamanya, dan selama itu beliau melakukan kebijaksanaan, sehingga semua raja-muda takluk dan hormat kepadanya. Sebaliknya Tuanku, baru mau menghimpun raja-muda, sudah berlaku kejam main bunuh, bukan mereka takut malah berbalik mereka akan menyerang kita!”
”Pendapat Anda salah,” kata Pangeran Tong. ”Sekarang Cu-kong akan menjagoi dan caranya tentu saja berbeda dengan Raja Cee Hoan-kong. Raja Cee baru termasyur sesudah membangunnnya selama 20 tahun lebih, baru menjadi jago. Apa kita juga harus menunggu selama itu?
Dengan berbuat bijaksana, hasilnya lambat, sebaliknya jika mau cepat harus dengan kekerasan. Hal ini harus dipikirkan baik-baik. Jika kita bunuh Raja Kwee dan mana mungkin bangsa Tong-i tidak takluk karena takut.
Zaman dulu Bu Ong membunuh Kaisar Tiu Ong, kepalanya dia pancang di ujung tiang bendera. Akhirnya Bu Ong berkuasa. Lalu apa manfaatnya membiarkan Raja Kwee yang membangkang itu?”
__ADS_1
Raja Song Siang-kong yang memang ingin segera menjadi raja jagoan, dia menyetujui saran Pangeran Tong. Maka segera dikeluarkan perintah agar Cu Bun-kong menangkap Raja Kwee, dan segera dibunuh, dagingnnya dimasak dipakai menyembahyangi siluman sungai Ci-sui.
Karena bangsa Tong-i tidak pernah berhubungan, maka mereka tidak ada yang datang melihat sembahyang besar itu.