LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 98


__ADS_3

Mendengar kejadian itu Raja Teng terkejut bukan main, segera dia minta pada orangnnya agar menyuap Raja Song, sehingga dia dibebaskan. Raja Co Kiang-kong kurang senang pada tindakan Raja Song Siang-kong yang kejam iti. Diam-diam dia kembali ke negerinya.


Raja Song Siang-kong menjadi murka, dia anggap Raja Co kurang ajar. Maka Raja Song memerintahkan menyerang negeri Co tersebut.


Pangeran Bak I coba mencegah niat ini.


”Dulu Raja Cee Hoan-kong tidak pernah bertindak kejam pada raja-raja muda. Harap Tuanku jangan menyerang negeri Co!” kata Pangeran Bak I.


Tetapi Raja Song Siang-kong tidak menuruti nasihat itu, dia perintahkan Pangeran Tong memimpin angkatan perang menyerang ke negeri Co.


Berangkatlah tentara Song ke negeri Co. Kedatangan mereka disambut oleh tentara Co, hingga terjadi pertempuran yang sengit. Tiga bulan lamanya tentara Song telah mengepung kota negeri Co, tetapi orang Co bisa bertahan dengan sempurna. Sulit bagi Song untuk merebut negeri Co.


Ketika itu Raja The yang kurang puas pada Raja Song mengajak Raja Louw, Cee, Tan dan Raja Coa, empat negara, untuk mengadakan perserikatan dengan Raja Couw, mereka berjanji akan berkumpul di daerah Cee.


Kabar ini membuat Raja Song Siang-kong jadi sangat gusar, karena dia juga khawatir Raja Cee atau Raja Louw yang akan menjadi pemimpin perserikatan. Selain itu dia juga cemas, karena Pangeran Tong yang menyerang Co belum berhasil merebut Co. Dengan demikian pamor negeri Song akan turun. Maka dia minta agar Pangeran Tong mundur dari negeri Co.


Raja Co juga takut tentara Song datang kembali, mereka mengirim utusan minta berdamai dengan Song. Dengan demikian mereka menjadi akur kembali. Semula Raja Song ingin menjadi jago. Sekarang malah banyak Raja-muda yang bergabung dengan Raja Couw menentangnnya. Hal ini membuat dia berduka sekali.


”Sekarang ini tak ada negara yang sekuat negeri Cee dan Couw,” kata Pangeran Tong. ”Hanya negeri Cee, sekalipun rajanya turunan jago, negaranya baru bangkit, itu pun atas bantuan kita. Jadi pengaruhnya belum besar, tetapi Raja Couw yang menggunakan gelar Kaisar sangat ditakuti. Kita harus menggunakan pengaruh Couw, maka Tuanku harus menyuap dan merendah padanya. Mohon pada Raja Couw agar Raja-muda yang berada di bawah pengaruhnya diserahkan kepada Tuanku. Sesudah mereka menjadi bawahan Tuanku, maka diam-diam kita ajak semua Raja-muda itu menghantam Raja Couw!”


”Itu tidak masuk akal, itu bukan cara yang benar!” kata Pangeran Bak I. ”Raja Couw sudah menalukkan semua Raja-muda, mana mungkin dia begitu goblok mau menyerahkannya kepada kita? Malah jika usaha tipu itu dilasannakan, malah kita akan berselisih dengan Couw.”

__ADS_1


Raja Song Siang-kong tidak sepakat dengan pendapat Bak I. Dia perintahkan Pangeran Tong membawa bingkisan menemui Raja Couw.


Kedatangan Pangeran Tong diterima baik oleh Raja Couw Seng-ong. Malah keinginan Raja Song pun dikabulkan dan ditetapkan pada musim Cun tahun depan boleh berhimpun di tanah Lok-siang (tanahnya Cee).


Pangeran Tong pulang dan mengabarkan hal itu pada Raja Song yang girang bukan main. Karena pertemuan di tanah Raja Cee, maka Raja Song memberi kabar pada Raja Cee, Pangeran Tong sambil membawa bingkisan menemui Raja Cee. Sesudah menerima bingkisan Raja Cee setuju dengan pertemuan itu.


Ketika sudah tiba musim Cun, Raja Song Siang-kong sudah tiba di Lok-siang, di sana dia mendirikan panggung untuk tempat berkumpul dan menunggu kedatangan Raja Cee dan Raja Couw. Tidak lama Raja Cee datang disusul oleh Raja Couw. Mereka menjalankan kehormatan sebagai mana layaknya para raja.


Baru bertemu saja Raja Song yang bernafsu ingin menjadi jago, sudah mengatur tempat duduk. Dia menempatkan Raja Couw di bawah pengaruhnya. Tentu saja hal ini membuat Raja Couw jadi kurang senang.


Dalam pertemuan itu Raja Song minta dukungan Raja Cee dan Raja Couw. Jika disetujui maka pada musim Ciu akan mengadakan pertemuan besar dengan para Raja-muda. Keinginan Raja Song ini membuat Raja Couw kurang senang. Raja Couw menganggap dirinya dipandang rendah. Dia sangat kesal dan geram sekali.


Ketika Raja Song menyerahkan rencana undangan utuk musim Ciu, Raja Couw Seng-ong menyambutnya dan memeriksa surat itu, di sana ada dijelaskan mengenai maksud Raja Song hendak menggabung seluruh Raja-muda seperti dulu Raja Cee melakukannya. Diminta agar semua raja datang dengan pakaian biasa, tanpa membawa senjata. Surat itu ditandatangani oleh Raja Song.


”Jika Anda sendiri bisa memanggil semua Raja-muda, mengapa harus memakai namaku juga?” kata Raja Couw.


”Raja The dan Raja Khouw sudah lama berada di bawah perintah Tuanku,” sahut Siang-kong dengan paras muka merah, karena dia mengerti dirinya dia disindir, ”sedang Raja Coa dan Raja Tan belum lama ikut berserikat dengan Raja Cee, manakala tidak nama kalian tidak disertakan, aku khawatir Raja-raja muda itu tidak mau mengindahkannya.”


”O, kalau begitu sebaiknya Cee-kun (Raja Cee) lebih dahulu yang membubuhkan tanda tangannya, sesudah itu baru aku!” kata Couw Seng-ong sambil tertawa.


”Bagi Raja-raja muda yang bersahabat denganku pasti mereka akan datang, sebab mereka tahu Raja Cec di bawah pengaruh Kerajaan Song,” kata Cee Hauw-kong perasaan kurang senang. ”Melainkan raja-raja muda yang di bawah pengaruh Raja Couw yang belum tentu mau menurut, maka tidak boleh tidak harus Raja Couw yang membubuhkan tanda tangan lebih dulu.”

__ADS_1


Sekali lagi Raja Couw tertawa, dan segera dia membubuhkan tanda tangannya, kemudian ipit itu dia serahkan kepada Raja Cee.


”Sudah ada Couw tidak perlu ada tanda tangan dari Raja Cee,” kata Cee Hauw-kong menolak membubuhkan tanda tangannya. ”Aku cuma seorang rendah, negriku tidak sampai hancur lebur pun sudah merasa sangat bersyukur, masa aku berani sembarangan tanda tangan, hanya akan mengotori surat yang mulia itu?”


Sudah berulang-ulang Raja Cee dipaksa, tetapi Raja Cee Hauw-kong tetep menolak.


Padahal Raja Song Siang-kong begitu baik, bahkan pernah membantu Raja Cee, sedikit pun tidak menyangka Raja Cee akan berbuat begitu kepadanya. Maka dia ambil surat itu yang dia simpan dengan rapih.


Sesudah itu Raja Song pun pulang ke negaranya.


Tatkala Raja Couw Seng-ong sudah pulang, dia ceritakan kejadian itu pada Leng-i Chu Bun.


”Permintaan Raja Song sangat keterlaluan dan gila,” kata Chu Bun, ”mengapa Tuanku terima saja untuk tanda tangan?”


”Lantaran kegilaannya itu, maka aku hendak mengambil keuntungan dari kegilaannya itu,” jawab Raja Couw sambil tertawa. ”Aku sudah lama berniat menjadi pemimpin perserikatan raja-raja muda di Tiongkok, tetapi niat itu belum terkabul. Sekarang Raja Song ingin menghimpun Raja-muda dengan berpakaian biasa. Inilah kesempatan yang baik.”


”Betul,” kata menteri Seng Tek Sin. ”Raja Song menganggap dirinya hebat, tetapi tidak punya akal. Dengan mudah bisa kita akali dia!”


”Ya, maksudku juga begitu!” sahut Raja Couw girang.


”Aku kurang sepakat,” kata Chu Bun. ”Mengapa Tuanku setuju tanda-tangan, kalau kita akan merampas haknya. Apa ini tidak akan menjadi tertawaan orang?”

__ADS_1


”Karena Raja Song menganggap dirinya bakal jadi pemimpin perserikatan, pasti dia bersikap angkuh pada semua raja muda,” sahut Seng Tek Sin, ”hal ini pasti akan membuat semua raja-muda itu marah. Lalu kita rebut posisi pemimpin perserikatan dari Raja Song. Ini untuk menunjukan pada semua raja bahwa kita mampu. Kemudian kita serahkan lagi pada Raja Song. Ini untuk menunjukkan bahwa kita bijaksana. Manakala semua raja muda telah menyaksikan Raja Song tidak mempunyai kepandaian, jika tidak bukan tunduk pada Couw, pada siapakah mereka akan tunduk? Maka menurut pendapatku, ini adalah tipu-muslihat yang paling bagus!”


”Kau hebat, aku kagum padamu,” memuji Chu Bun merasa malu.


__ADS_2