LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 13


__ADS_3

Esok harinya.....


Tiang Ban pergi berkunjung ke rumah Pangeran Kiat. Ini sebagai balasan atas kunjungan pangeran itu untuk menghaturkan terima kasihnya.


Waktu itu Pangeran Kiat sudah mengatur siasat untuk menerima kedatangan Tiang Ban. Dia sengaja membuat pesta kehormatan untuk saudara angkatnya itu.


Sesudah makan minum sampai setengah mabuk, Pangeran Kiat menyuruh beberapa perempuan cantik keluar untuk membujuk dan merayu supaya Tiang Ban minum arak lebih banyak.


Tiang Ban dengan senang hati terus minum hingga mabuk keras. Tanpa terasa dia tertidur lelap di tempat duduknya. Begitu melihat Tiang Ban tertidur, dan ini suatu kesempatan yang baik. Pangeran Kiat tidak ayal lagi, segera memerintahkan beberapa orang gagah memborgol dan membungkus Lam-kiong Tiang Ban. Dia diikat dengan tali dari kulit kerbau. Ibu Tiang Ban yang sudah tua pun dimasukkan ke dalam kerangkeng. Kemudian dia perintahkan orang mengawal tawanan tersebut untuk dibawa ke negeri Song.


Hasil tipu-muslihat Raja Tan yang dijalankan oleh Pangeran Kiat telah berhasil menangkap Tiang Ban yang gagah perkasa. Seperti pepatah mengatakan: semut mati di gudang gula, orang mati karena tertipu!


Tatkala sampai di tengah perjalanan, Tiang Ban baru sadar dari pingsannya. Dia kaget sekali karena dirinya sudah terikat keras sekali. Tetapi perlahan-lahan dia segera mengerti. Apa yang telah terjadi. Bahwa dia sudah tertipu oleh Raja Tan. Sekarang pasti dia sedang dikirim ke negeri Song. Dia berusaha berontak mengerahkan tenaganya. Tetapi karena kulit kerbau itu sangat keras dan tubuhnya terlibat oleh tali kulit yang kuat, dia tidak bisa meloloskan diri. Akhirnya setelah hampir sampai di kota raja negeri Song, karena usaha keras dari Tiang Ban kulit kerbau itu bisa dia putuskan sebahagian. Sekarang tangan dan kakinya bisa lolos.


Melihat kaki dan tangan raksasa itu nongol, semua jadi ketakutan. Buru-buru mereka mengambil martil besar untuk dipakai memukul tangan Tiang Ban. Pukulan yang keras itu membuat tulang kaki dan tangannya patah. Dengan demikian dia tidak bisa berontak lagi.


Ketika Raja Cee Hoan Kong mendengar khabar bahwa Tiang Ban telah tertawan, bukan main senang hatinya. Dia perintahkan orangnya untuk mengikat Tiang Ban dan dijadikan satu dengan Beng Hek. Mereka dibawa ke tempat terbuka untuk dipertontonkan kepada orang banyak. Kemudian mereka berdua segera menjalankan hukuman cingcang hingga anggota tubuhnya hancur. Sedang ibu Tiang Ban yang sudah berusia 80 tahun lebih pun dihukuman mati.


Raja Song Hoan Kong ingat pada Hoa Tok yang meninggal lantaran membela raja. Raja Song mengangkat anak Hoa Tok menjadi Su-ma. Sejak saat itu keluarga Hoa Hoa menjadi menteri turun temurun di negeri Song.


**


Dikisahkan di negeri Cee....


Sejak kalah perang di Cang-ciak, Raja Cee Hoan Kong menyesal sekali. Dia begitu lancang mengerahkan angkatan perangnya. Dengan demikian dia mendapat kenyataan, bahwa Koan Tiong lebih pintar dari padanya. Maka dia serahkan semua urusan militer kepada Perdana Menterinya itu.


Sesudah tidak memikirkan urusan negara, Raja Cee Hoan Kong sekarang hidup tenang. Tiap hari dia bersenang-senang saja. Dia bermesraan dengan perempuan-perempuan cantik. Jika orang memperingatkan agar dia mau mengurus negara, ia selalu menjawab, ”Mengapa urusan itu tidak kau serahkan kepada Tiong-hu saja?”

__ADS_1


Salah seorang di antara budak Raja Cee Hoan Kong, Si Tiao namanya. Ia ingin bekerja di dalam istana, tetapi tidak bisa, karena ia seorang lelaki. Kemudian ia mengebiri dirinya sendiri. Sesudah itu ia memohon kepada Raja Cee supaya bisa bekerja di istana.


Raja Cee merasa kasihan kepadanya. Permintaannya diluluskan. Si Tiao pandai sekali bermuka-muka. Raja Cee Hoan Kong semakin sayang kepadanya. Karena dipercaya Si Tiao selalu berada di samping baginda.


Ada lagi seorang budak yang berasal dari Yong-ip. Namanya Bu alias Ek Ge. Dia sering dipanggil dengan sebutan Yong Bu. Ek Ge. Orang ini banyak akalnya, ia pandai bekerja. Dia juga pandai memanah dan berkendaraan. Dia juga paham sekali prihal masak-masak.


Pada suatu hari.....


Permaisuri We-ki sakit keras. Buru-buru Ek Ge membuatkan makanan dan menyuguhkannya kepada Permaisuri We-ki. Setelah We-ki makan masakan itu, ajaib sekali, penyakit langsung baik. Karena itu Permaisuri We-ki sangat sayang kepada Ek Ge


Ek Ge sering menyediakan makanan enak untuk Si Tiao. Ek Gi tahu benar Si Tiao sangat disayang oleh Raja Cee. Jika Si Tiao mau bicara pada raja, maka di kemudian hari ia bakal hidup beruntung.


Apa yang diharapkan oleh Ek Ge menjadi kenyataan.


Pada suatu hari......


Raja Cee Hoan Kong memerintahkan agar Ek Ge segera dipanggil menghadap.


”Apa betul kau pandai masak?” tanya Raja Cee.


”Ya, hamba mengerti juga,” sahut Ek Ge.


”Bermacam-macam daging binatang buruan, semua sudah aku coba makan. Cuma daging manusia yang belum pernah aku coba. Apa kau bisa mendapatkan masakan daging itu?” kata Hoan-kong sambil tersenyum.


Raja Cee sengaja berkata begitu karena hendak mengganggu tukang masak yang dikatakan pandai masak itu.


”Ya, baiklah! Nanti hamba buatkan makanan serupa, supaya Tuanku bisa mencicipinya,” kata Ek Ge.

__ADS_1


Kemudian dia pamit dan berlalu dari hadapan Raja Cee.


Raja Cee Hoan Kong kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Dia anggap tukang masak itu barangkali otaknya sudah miring. Mustahil dia begitu gila berani masak daging manusia.


Pada waktu Raja Cee Hoan Kong makan tengah hari, Ek Ge mengantarkan sepiring daging matang yang begitu empuk seperti susu kambing. Sedang rasanya begitu enak dan manis sekali.


Sehabis makan makanan yang lezat, Raja Cee bertanya kepada Ek Ge.


”Hei, daging apa yang kau masak, enak sekali?” tanya Raja Cee.


Ek Ge berlutut dan berkata.


”Itulah daging manusia, tuanku.” jawab Ek Ge.


Raja Cee Hoan Kong terkejut. Sambil menggebrak meja dia berkata, ”Ach, kau gila barangkali! Dari mana kau dapat daging itu? Apa kau sudah membunuh orang?”


”Tidak tuanku, mana hamba berani sembarangan membunuh orang di istana tuanku,” sahut Ek Ge dengan sabar. ”Anak sulung hamba baru berusia tiga tahun. Hamba pikir jika seorang hamba yang setia pada rajanya, ia tidak memperdulikan rumah tangganya. Asalkan bisa memenuhi keinginan dan perintah rajanya. Karena tuanku belum pernah makan daging manusia, maka hamba bunuh anak sulung hamba itu Kemudian dagingnya hamba masak untuk disuguhkan kepada tuanku.”


”O, kalau begitu benar-benar kau sangat mencintaku!” kata Raja Cee Hoan Kong dengan terharu. ”Nah mulai sekarang kau boleh bekerja bersama-sama Si Tiao menjadi pengikutku.”


Dengan girang Ek Ge menghaturkan terima kasih.


Karena Raja Cee mengira Ek Ge sangat cinta kepadanya, ditambah lagi Permaisuri We-ki pun senantiasa memuji kepandaiannya. Akhirnya Ek Ge dipercaya dan disayang oleh Raja Cee.


Sejak saat itu Si Tiao dan Ek Ge mendapat kekuasaan besar untuk mengurus pekerjaan di istana. Sifat manusia pada umumnya tidak mengenal puas. Mereka sekarang merasa iri kepada Koan Tiong.


***

__ADS_1


__ADS_2