LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 32


__ADS_3

Dikisahkan di negeri Couw........


Putera Raja Couw yang bernama Him Pi dan Him Tan sekalipun sama-sama dilahirkan oleh Permaisuri Sit-kui yang cantik, tetapi Him Tan lebih pandai dari kandanya.


Permaisuri Bun sangat sayang kepadanya dan rakyat negeri Couw pun suka.


Tatkala Him Pi telah menggantikan kedudukan ayahnya menjadi raja, hati Him Pi tidak tenram. Dia selalu merasa khawatir pada sang adik yang cerdas itu. Dia juga tahu ibunya dan rakyat negeri Couw lebih suka kepada adiknya. Him Pi sangat cemas dan khawatir, karena suatu ketika nanti dia akan disingkirkan oleh adiknya itu. Tidak heran sehingga acapkali dia mencari kesalahan Him Tan dan hendak dibinasakannya. Tetapi karena banyak menteri yang menyukai Him Tan, usaha Him Pi membunuh adiknya selalu gagal.


Him Pi sangat suka berburu binatang di hutan, dia tidak mau mengurus urusan pemerintahan. Sekalipun dia sudah menjadi raja tiga tahun lamanya, tidak kelihatan hasil kerjanya untuk negara.


Him Tan mengetahui kakaknya itu dengki terhadapnya dan hendak membinasakan dia. Terpaksa senantiasa dia pun berikhtiar untuk membinasakan kakakanya itu. Dia akan mendahului kakaknya sebelum dia dibunuh oleh sang kakak.


Pada suatu hari.....


Ketika Him Pi sedang pergi berburu, Him Tan menggunakan kesempatan yang baik itu. Dia memerintahkan orangnya untuk membunuh Him Pi, sesudah Him Pi meninggal. Him Tan memberi tahu ibunya bahwa kakaknya, Him Pi telah meninggal karena sakit.


Sekalipun Sit-kui alias Permaisuri Bun merasa curiga, tetapi dia tidak mencari tahu lebih jauh tentang kematian putera sulungnya itu. Kemudian Sit-kui memerintahkan semua menterinya agar segera mengangkat Him Tan menjadi raja bergelar Couw Seng Ong.


Ong-cu Sian atau yang disebut juga Chu Goan, adalah adik dari Raja Couw Bun Ong, atau paman Him Tan. Chu Goan telah diangkat menjadi Leng-i (Perdana Menteri) di negeri Couw.


Chu Goan seorang yang keji dan berpikiran cupet. Sejak kandanya, Couw Bun Ong meninggal dunia, ketika itu Him Pi dan Him Tan masih sangat muda. Chu Goan yang berpangkat tinggi itu jadi angkluh. Dia melihat keelokan Sit-kui bekas isteri kandanya seperti setangkai bunga Bouw-tan (Bunga Mawar atau Ros) yang sedang mekar, atau seperti bulan purnama yang bercahaya gilang-gumilang. Maka timbul pikiran buruknya. Senantiasa dia ingin merampas tahta kerajaan dan mengambil Permaisuri Bun (Sit-kui) yang cantik menjadi isterinya.


Sekalipun Chu Goan sudah lama bermaksud buruk begitu, tetapi karena takut pada Tay-hu Pek Pi yang jujur dan pandai. Chu Goan terpaksa menahan keinginannya itu.


**


Pada tahun pemerintahan Ciu Hui Ong yang ke-sebelas........


Karena Touw Pek Pi terserang penysakit berbahaya, dan akhirnya dia meninggal dunia. Meninggalnya Touw Pek Pi sangat menggembirakan hati Chu Goan. Memang hal itu yang dia harap-harap setiap saat. Bahkan jika Giam Lo Ong atau Raja Akherat itu sahabatnya, sudah lama Chu Goan akan meminta bantuannya untuk membinasakan Pek Pi.


Sejak kematian Touw Pek Pi tidak seorang pun yang diindahkan lagi oleh Chu Goan. Kemudian dia membangun sebuah gedung besar di samping istana bekas isteri kakaknya. Sesudah jadi, ia tinggal di sana, dan setiap hari Chu Goan memerintahkan orang memainkan musik. Nyanyian yang dipersembahkan sangat merdu. Semua itu dimaksudkan Chu Goan untuk menarik perhatian Permaisuri Bun yang dia rindukan sejak dahulu.

__ADS_1


Ketika itu permaisuri Bun belum mengetahui bahwa Chu Goan membangun gedung dan tinggal di sebelah istananya. Setiap hari siang dan malam Permaisri Bun mendengar suara musik dan nyanyian yang merdu tidak hentinya. Dia heran lalu bertanya kepada budaknya.


"Hei, apa kau dengar suara musik yang merdu itu?" tanya Permaisuri Bun.


"Ya, Tuanku," sahut budak itu dengan hormat.


"Kau juga mendengar suara orang menyanyi?"


"Ya, mendengar, Tuanku."


"Siapa yang membuat pesta sepanjang hari?"


"Leng-i Chu Goan, Tuanku." sahut sang budak.


"Di mana?"


"Di gedung Leng-i yang baru."


Mereka datang mengantar upeti tidak berhentinya. Angkatan perang Couw sudah 10 tahun tidak pergi ke daerah Tiongkok. Chu Goan bukan berusaha untuk membangun kembali pamor negeri Couw, malah terus bersenang-senang di dekat istanaku. Sungguh kurangajar sekali dia!"


Melihat Permaisuri Bun tidak senang pada Chu Goan, budak itu menyampaikan ucapan Permaisuri Bun tersebut kepada Chu Goan.


Mendengar laporan budak itu Chu Goan marah dan berkata, "O, kalau begitu Permaisuri belum melupakan Tiongkok? Aku pun tidak akan melupakannya! Baiklah, akan kulabrak negeri The. Jika aku tidak bisa menalukkannya, aku bukan seorang laki-laki!"


Begitu Chu Goan sesumbar di depan budak itu.


Budak Permaisuri Bun meyampaikan omongan Chu Goan kepada Permaisuri Bun. Mendengar laporan budaknya itu Permaisuri Bun sangat girang. Dia mengira Chu Goan memiliki kepandaian dan keberanian untuk itu.


Chu Goan yang ingin dipuji oleh Permaisuri Bun dan dianggap gagah, dia menyiapkan angkatan perang dan memerintahkan Touw Gi Kiang dan Touw Gouw memimpin pasukan depan. Ong Sun Yu dan Ong Sun Ke memimpin pasukan belakang. Dia sendiri memimpin pasukan induk. Angkatan perang ini berangkat menuju ke negeri The.


Ketika pasukan Couw sudah hampir sampai di negeri The, juru kabar dari negeri The melaporkan kedatangan tentara Couw pada rajanya.

__ADS_1


Mendengar laporan itu The Bun Kong kaget. Dia kumpulkan semua menterinya untuk diajak berunding.


"Tentara negeri Couw sangat kuat dan jumlah mereka pun besar sekali," kata Touw Siok, "hamba rasa pasukan perang kita tidak akan sanggup melawan mereka. Lebih baik kita minta berdamai saja."


"Belum lama telah mengadakan perserikatan dengan negeri Cee. Aku yakin jika Raja Cee mendengar kita diserang musuh, mereka akan datang menolong kita! Lebih baik kita jaga saja kota kita dengan kuat. Kita tunggu datangnya bala-bantuan dari negeri Cee." kata Su Siok.


"Tidak, aku tidak setuju!" kata Si Cu putera Raja The Bun Kong. "Jika Ayah memberi izin, aku bersedia memimpin pasukan perang."


Pendapat tiga orang itu sangat berlainan itu membuat The Bun Kong kesal dan bingung. Dia tidak tahu harus mengambil putusan yang mana yang lebih baik. Melihat raja mereka bingung, Siok Ciam menyampailan pendapatnya.


"Di antara tiga usul yang disampaikan tadi, hamba setuju pada usul Su Siok. Menurut dugaan hamba jika kota kita jaga keras, tidak lama tentara Couw itu akan mundur sendiri." kata Siok Ciam.


"Ach, masa bisa jadi begitu!" kata The Bun Kong dengan alis mengkerut. "Angkatan perang itu dipimpin oleh Cu Goan sendiri. Bagaimana bisa semudah itu mundur?"


"Dugaan hamba sangat berdasar dan ada alasannya," kata Siok Ciam..


"Bagaimana menurut dugaanmu dan alasannya itu?" kata Raja The.


"Hamba mendengar khabar Chu Goan sedang tergila-gila kepada Permaisuri Bun. Dia menyerang ke sini hanya mau mencari muka saja. Dia ingin memamerkan keberaniannya pada Permaisuri Bun. Hamba punya resep untuk membuat dia mundur teratur." kata Siok Ciam.


Raja The Bun Kong diam saja seperti orang yang sedang berpikir.


Saat usul sedang dipertimbangkan bagaimana akan diambil putusan, tiba-tiba seorang juru kabar datang memberi laporan.


"Tentara dari negeri Couw sudah berhasil merebut kota Kit-kwan dan kini sudah masuk dan berada di luar ibukota. Sekarang mereka sedang berusaha masuk ke pintu Sun-bun (nama pintu bagian luar halaman istana) dan hampir sampai di Kui-ci (jalan raja di dalam pekarangan istana raja)." kata si pelapor.


"Wah, celaka, tentara Couw sudah datang mendesak kita!" seru Touw Siok dengan cemas.


"Oh, jangan takut, aku akan melaksanakan tipuku ini!" kata Siok Ciam dengan mantap.


Sehabis berkata begitu Siok Ciam mengeluarkan perintah pada semua tentara The supaya mereka bersembunyi di dalam kota. Semua pintu kota harus dibuka lebar seperti biasa. Begitu juga rakyat negeri yang berjalan pulang-pergi dinasihati agar tidak boleh kelihatan gentar atau ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2