
Sekalipun kedua orang ini membujuknya berulang-ulang, tetapi Sun Sit tetap kukuh. Pendiriannya keras sekali seperti besi.
Sadar bujukan mereka tidak akan berhasil, kedua orang itu pamit pada Sun Sit dan pergi.
”Sun Sit keras tidak mau mengubah pendiriannya, sekarang bagaimana?” tanya Li Kek.
”Ia bekerja untuk He Ce, kita untuk Pangeran Tiong Ji, masing-masing punya junjungan sendiri. Mau apa lagi?” kata Pi The Hu.
”Ya, itu betul,” sahut Li Kek.
Segera mereka perintahkan orang kepercayaannya, dengan menyamar. Mereka masuk ke istana pura-pura menjaga Pangeran He Ce.
Anak buah Li Kek dan Pi The Hu akhirnya berhasil membunuh pangeran He Ce, saat pangeran ini sembahyang.
Waktu itu Yu Si ada di samping Pangeran He Ce, melihat He Ce terbunuh dia segera mencabut pedangnya hendak menolong, tetapi tidak terduga dia sendiri pun terbunuh.
Saat itu di pertengahan keraton menjadi ribut sekali.
Sun Sit menangisi jenazah Cu-kong-nya dan waktu akan mundur dari tempat duka itu, tiba-tiba dia mendengar suara ribut, dengan sangat kaget dia lari masuk ke tengah. Di situ ia melihat dua mayat tergeletak. Ia merasakan semangatnya seperti terbang, dia peluk mayat He Ce, dan sambil menangis dia berkata, ”Aku terima pesan Cu-kong yang penghabisan untuk melindungi pangeran He Ce. Sekarang aku tidak bisa menjaga dengan baik, ini dosaku!”
Sehabis berkata begitu, Sun Sit mendekati tiang akan membenturkan kepalanya.
”Tahan: Sun Tay-hu jangan berpikir pendek!” kata Li Ki mencegah. ”Apa Tay-hu lupa jenazah Tuanku belum diurus beres? Sekalipun He Ce binasa, masih ada Tok Cu yang bisa menggantikannya!”
Mendengar nasihat itu, Sun Sit membatalkan niatnya, lalu dia bunuh beberapa puluh orang penjaga di tempat itu. Hari itu juga dia mengadakan pertemuan dengan semua pembesar. Dia membicarakan pengangkatan Tok Cu sebagai pengganti Pangeran He Ce yang terbunuh. Tok Cu ketika itu baru berumur sembilan tahun.
__ADS_1
Li Kek dan Pi The Hu berlagak kurang sehat dan tidak mau datang dalam pertemuan itu.
Liang Ngo mengusulkan supaya Li Kek dan Pi The Hu dihukum, karena menurut dugaannya kematian Pangeran He Ce pasti perbuatan mereka. Ini dibuktikan dengan tidak mau hadir dalam pertemuan para pembesar.
Tetapi Sun Sit tidak setuju pada saran Liang Ngo tersebut.
”Jangan sembarangan, kelompok mereka kuat dan banyak, tidak gampang menyingkirkan mereka. Lebih baik kita urus dulu soal perkabungan ini. Sesudah Tok Cu menjadi raja, dan kita sudah berserikat dengan negeri lain, baru kita bertindak!” kata Sun Sit.
Maka diambil putusan Tok Cu diangkat menjadi pengganti He Ce, dan ditetapkan harinya akan mengubur jenazah Chin Hian Kong.
Sesudah itu persidangan ditutup, Liang Ngo dan Toan Koan Ngo segera mengadakan pertemuan rahasia. Mereka menganggap Sun Sit kurang cekatan mengurus pekerjaan dan terlalu lamban. Maka diputuskan mereka akan melakukan pembalasan terhadap Li Kek dan Pi The Hu.
”Sekarang penguburan sudah dekat,” kata Liang Ngo, ”jika kita perintahkan orang bersembunyi di pintu kota sebelah timur, saat Li atau Pi mengantar jenazah Cu-kong, mereka serang si jahanam itu, pasti mereka tidak bisa lolos!”
”Bagus, aku setuju!” kata Tong Koan Ngo dengan girang. ”Aku punya seorang sahabat, namanya Touw Gan I, tenaganya kuat sekali, bila kita janjikan padanya pangkat, pasti dia bersedia melakukan pekerjaan ini.”
Touw Gan I bersahabat kekal dengan Tay-hu Tiauw Coan, diam-diam dia memberi tahu niat kedua Ngo pada Tiauw Coan, Touw Gan I minta pendapat sahabatnya ini.
”O, jangan kau lakukan, itu keliru sekali jika kau bunuh Li atau Pi!” kata Tiauw Coan mencegah. ”Kematian He Ce memang mengenaskan. Tetapi semua itu gara-gara Li Ki, ibunya sendiri yang serakah. Saat ini Li dan Pi berniat menyingkirkan Li Ki dan konco-konconya. Aku tahu mereka akan mengangkat pangeran Tiong Ji yang sah! Ini aku pikir usaha yang mulia. Bila kau membantu yang jahat dan memusuhi yang setia, kau berbuat keji hingga kau akan dijauhi sahabat-sahabatmu sendiri!”
Touw Gan I membenarkan ucapan Tiauw Coan.
”Baik, akan kutolak ajakan jahat itu!” kata Touw Gan I.
”Kalau kau tolak pasti mereka akan menyuruh orang lain,” kata Tiauw Coan. ”lebih baik kau pura-pura menerima perintah itu, tetapi kau segera balikkan senjata itu untuk menghantam kaum durhaka itu. Nanti kalau raja yang budiman sudah duduk di istana, aku nanti pujikan kau punya pahala, pasti kau bakal dapat ganjaran yang besar.”
__ADS_1
”Terima kasih Tay-hu atas petunjukmu, akan aku laksanakan saranmu itu!” kata Touw Gan I.
Tiauw Coan pura-pura tidak percaya, sehingga Touw Gan I segera bersumpah.
Sesudah itu Touw Gan I pulang, Tiauw Coan segera mengabari Pi The Hu, dan Pi The Hu pun memberi tahu Li Kek. Maka mereka segera mengatur anak buahnya masing-masing, mereka sepakat saat mengantar mengubur jenazah Chin Hian-kong mereka akan bergerak secara berbareng.
Begitu sampai waktu mengubur jenazah Raja Chin, Li Kek memberi kabar, karena sakit tidak bisa ikut mengantar mengubur jenazah Raja Chin.
Touw Gan I segera meminta Tong Koan Ngo mengerahkan tiga ratus tentara akan mengepung rumah Li Kek, permintaan itu segera dikabulkan.
Ketika rumahnya dikepung, Li Kek sengaja memerintahkan orang pergi ke pekuburan untuk memberi tahu telah timbul huru-hara.
Mendengar kabar itu, Sun Sit terkejut, dia minta keterangan.
”Kabarnya Li Kek hendak menggunakan kesempatan penguburan yang baik akan membuat huru-hara,” kata Tong Koan Ngo, sebelum orang Li Kek memberi keterangan. ”Sebab aku curiga pada Li Kek, maka aku sudah perintahkan Touw Gan I menyiapkan tentara untuk menjaga rumahnya, boleh jadi telah terjadi pertarungan antara Touw Gan I dengan anak buahnya. Jika urusan ini bisa beres, itu keuntungan buat Tay-hu, bila tidak beres, Tay-hu pun tidak kerembet-rembet.”
Hat Sun Sit merasa sangat tidak enak, segera dia menyelesaikan upacara penguburan. Kemudian dia perintahkan kedua Ngo memimpin tentaranya untuk membantu melabrak Li Kek, sedang dia sendiri mengantarkan Tok Cu pulang ke istana untuk menunggu kabar baik.
Tong Koan Ngo dan tentaranya sampai di tengah pasar sebelah timur, justru saat itu dia berpapasan dengan Touw Gan I. Gesit luar biasa Touw Gan I mencekal leher Tong Koan Ngo yang terus dia patahkan hingga binasa, sedang tentaranya jadi kalang- kabut.
”Pangeran Tiong Ji bersama tentara Cin dan Ek sudah ada di luar kota!” teriak Touw Gan I pada semua tentara Chin. ”Aku terima perintah Li Tay-hu untuk membalas penasaran hati almarhum Pangeran Sin Seng! Basmi seluruh konco orang-orang jahat, sambut Kong-cu Tiong Ji untuk menjadi raja! Kalian jika mau membantu, ikut bersamaku! Jika tidak silakan pergi!”
Mendengar Pangeran Tiong Ji bakal jadi raja, semua gembira dan akan ikut membantu.
Liang Ngo yang mendapat kabar itu mengajak Sun Sit membawa lari Pangeran Tok Cu.
__ADS_1
Tetapi begitu melihat dorna itu lari, Touw Gan I segera mengejarnya. Sementara Li Kek, Pi The Hu dan Tiauw Coan, masing-masing sudah membawa orangnya datang ke tempat itu.