
Sesudah itu Kut Goan pamit dan pulang ke negaranya.
Baru saja Kut Goan mengundurkan diri, datang Sek Peng dari negeri Cee. Dia mengabarkan bahwa Raja Cee sudah berhasil menaklukan negeri Couw di Selatan.
Kaisar baru tahu kalau Raja Couw mengirim upeti rumput Mao karena Raja Cee telah menaklukannya. Kaisar mengucapkan terima kasih pada Raja Cee.
Ketika Sek Peng memohon pada Baginda ingin bertemu dengan Putera Mahkota The, tampak Kaisar Ciu kurang senang. Tetapi Kaisar Ciu segera memerintahkan Pangeran Tai bersama Putera Mahkota The keluar menemui Sek Peng.
Melihat sikap Kaisar Ciu, Sek Peng menduga ada apa-apa di dalam keluarga kaisar ini. Diam-diam dia mencoba menyelidikinya.
Sepulang Sek Peng ke negeri Cee dia melapor pada Raja Cee. Tetapi di akhir laporannya dia menyampaikan sesuatu pada Raja Cee. "Hamba lihat di dalam istana Kaisar Ciu telah terjadi sesuatu. Pasti akan timbul huru-hara," kata Sek Peng.
"O, kau bilang bakal terjadi huru-hara?!" kata Raja Cee Hoan Kong terperanjat, "bagaimana bisa begitu?"
"Putera sulung Baginda Ciu Hui Ong bernama The, dilahirkan oleh almarhum Permaisuri Kiang Si. Sudah diangkat menjadi Putera Mahkota," kata Sek Peng. "Tetapi sejak Kiang Si meninggal, Permaisuri ke-dua Tan Kui menjadi sangat dicintai oleh Baginda, sehingga dia diangkat menjadi Hong-houw (Permaisuri Utama). Beliau juga berputera, namanya Tai, lantaran sang ibu dicintai oleh Kaisar Ciu, anaknya pun jadi lebih disayang. Malah Baginda punya niat hendak menurunkan Putera Mahkota The dan mengangkat Pangeran Tai menjadi Putera Mahkota. Sekarang Tuanku menjadi pemimpin perserikatan Raja-raja Muda, jika di Kerajaan Ciu terjadi huru-hara, pasti Tuanku akan jadi pusing. Maka Tuanku harus buru-buru berupaya untuk mencegah kekacauan itu!" Raja Cee Hoan Kong memanggil Koan Tiong untuk diajak berunding.
Ketika Koan Tiong sudah mendengar cerita keadaan di Kerajaan Ciu, ia mulai bicara.
"Hamba punya siasat untuk menentramkan Kerajaan Ciu," kata Koan Tiong.
"Siasat bagaimana, Tiong-hu?" tanya Cee Hoan Kong dengan girang.
__ADS_1
"Jika Tay-cu (Putera Mahkota) sampai terancam bahaya, pasti karena familinya terlalu sedikit." kata Koan Tiong. "Sekarang Tuanku buat surat untuk Kaisar, mohon agar Putera Mahkota diizinkan menemui semua Raja-raja Muda. Dengan demikian Putera Mahkota jadi diakui sah sebagai calon Kaisar. Jika Kaisar Ciu hendak menurunkan dan menggantinya dengan putera ke-dua, pasti semua Raja Muda akan menolak. Dengan demikian rencana Kaisar akan gagal total."
Raja Cee Hoan Kong setuju benar pada saran Koan Tiong tersebut. Segera Raja Cee mengutus Sek Peng menyampaikan permohonan pada Kaisar Ciu, agar Putera Mahkota di musim Hee datang ke Siu-ci (tanah negeri We). Karena Raja Muda ingin bertemu dengan Putera Mahkota.
Kepada semua Raja Muda, Raja Cee juga berpesan agar nanti datang ke pertemuan tersebut.
Saat Sek Peng datang bertemu Kaisar Ciu dan menyampaikan keinginan para Raja Muda untuk bertemu dengan Putera Mahkota The. Hal itu disampaikan oleh Raja Cee Hoan Kong. Kaisar Ciu Hui Ong sebenarnya tidak setuju. Dia tidak mau mengizinkan Putera Mahkota menemui Raja-raja Muda.
Tetapi karena Kaisar Ciu takut menghadapi Perserikatan Raja Muda yang dipimpin Raja Cee, terpaksa mengabulkannya.
***
Tepat pada musim He bulan Go-gwe (bulan lima), Raja Cee, Song, Louw, Tan, We, The, Khouw dan Co, delapan raja muda semua sudah berkumpul di Siu-ci. Tidak lama Putera Mahkota The pun sampai.
Raja Cee Hoan Kong mengajak semua Raja Muda menyambut. Sementara Pangeran The bersikap sopan sekali. Dia bersikap sebagai tamu yang ingin menemui tuan rumah. Tetapi Raja Cee mencegahnya.
"Jangan, Tuanku tidak pantas bersikap demikian. Kami ini adalah bawahan Tuanku," kata Raja Cee.
Segera diadakan pesta besar Raja Cee bersama yang lain mengucapkan selamat kepada Pangeran The.
Mereka berdiam di sana cukup lama dan bergantian mengadakan pesta. Tetapi Pangeran The agak risih. Dia bilang dia sudah terlalu lama berada di luar istana Kaisar Ciu.
__ADS_1
"Aku ingin pulang," kata Pangeran The pada suatu hari. "Di sini aku hanya menyusahkan semua Raja Muda."
"Jangan!" kata Raja Cee. "Tuanku tinggal beberapa bulan lagi, supaya Kaisar tahu bahwa anda disukai oleh para Raja Muda di sini!"
Raja Cee lalu menceritakan bahwa Kaisar Ciu berniat menurunkan Pangeran The dan akan mengangkat Pangeran Tai.
Sesudah mendengar penjelasan dari Raja Cee akhirnya Pangeran The pun menurut. Dia mengucapkan terima kasih pada semua raja, terutama kepada Raja Cee.
Karena sudah sekian lama Pangeran The tidak pulang-pulang, Kaisar Ciu Hui Ong sadar dan sudah bisa menduga-duga apa yang telah terjadi. Bahwa Raja Cee sangat menghormati Pangeran The yang hendak dia lucuti kedudukannya. Akhirnya Kaisar Ciu jadi mendongkol sekali.
Sedang permaisuri dan puteranya terus mendesak Kaisar Ciu dan mempengaruhinya, sehingga Kaisar bertambah benci kepada Pangeran The.
Pada suatu hari......
Kaisar Ciu memanggil P.M. Ciu Kong Khong dan ia sampaikan kemendongolan hatinya.
"Cee Houw (Raja Cee) sekalipun katanya telah membuat Raja Couw tunduk, tetapi sebenarnya belum pernah mengalahkannya." kata Kaisar Ciu. "Kerajaan Couw sangat tangguh dan tentaranya gagah berani. Tetapi sekarang seolah mereka tunduk dan mau mengantarkan upeti pada kita. Dilihat tingkah-lakunya, Raja Couw agak lebih baik jika dibanding dengan Raja Cee yang curang."
P.M. Ciu Kong Khong mengangguk saja.
"Coba kau bayangkan," kata Kaisar Ciu lagi. "Raja Cee bersama komplotannya telah mengajak Pangeran The berdiam di suatu tempat.
__ADS_1