LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 6


__ADS_3

Karena dia mendapat tugas untuk menjaga keselamatan Koan Tiong. Kemudian dia memberi alasan begini: ”Karena itu Rajaku ingin membunuh dia dengan tangannya sendiri. Alasan beliau untuk memuaskan rasa penasaran hatinya. Jika hanya diantarkan jenazahnya, ini sama juga dia belum Koan Tiong.”


Mendengar keterangan tersebut Raja Louw Cong Kong percaya saja pada ucapan Sek Peng. Dia mengurungkan niatnya membunuh Koan Tiong. Kemudian memerintahkan agar Koan Tiong dimasukan kembali ke dalam kerangkengnya. Kemudian Raja Louw menyerahkan sepucuk surat balasan bersama kepala Pangeran Kiu dan Siao Hut kepada Sek Peng. Sesudah mengucapkan terima kasih dan mengucapkan selamat berpisah, Sek Peng pulang ke negeri Cee.


Koan Tiong sadar ketika mendapat perlakuan begitu, ini pasti tipu-muslihat dari Pao Siok Gee yang hendak menolong dia. Tapi Koan Tiong tetap khawatir pada Si Pek. Dia tahu siapa Si Pek ini. Dia seorang ahli pikir yang pandai di negeri Louw. Meskipun dia melepaskan dirinya, siapa tahu dia berbalik pikir. Karena menyesal, kemudian Si Pek mengirim orang mengejarnya. Maka celakalah dia.


Setelah berpikir seketika lamanya, Koan Tiong mendapat satu ide yang bagus. Dia menciptakan sebuah pantun atau syair Burung Hong-gok. Kemnudian dia minta orang-orang yang menarik kerangkengnya menyanyikan syair yang diciptakannya tersebut. Bunyi syair itu begini:


”Hong-gok, Hong-gok, sayap dan kakimu diikat;


Tidak bisa terbang tidak bisa berbunyi dikurungan tinggal merungkut;


Langit begitu tinggi bumi begitu tebal, mengapa bertindak cupet?


Di bulan sembilan cukuplah tiga ratus enam puluh hari yang tercatat;


Cenderongkan lehermu berteriak menangis perkara dulu jadi teringat.”


”Hong-gok, Hong-gok, Allah menciptakan sayap maka bisa terbang;


Allah menciptakan kakimu maka kau bisa gampang berlari;


Bertemu jala pikatan siapakah yang membawa pulang?


Satu pagi rusakkan kurungan turun di darat tidak sembarangan,


Ha, sungguh kasihan pemanah berpikir bimbang.”


Orang-orang yang menarik kerangkeng ketika mendapat nyanyian itu jadi girang. Sambil menarik kerangkeng mereka bernyanyi. Mereka sabil berlari-lari seperti tidak mengenal lelah karena senang.


Dengan demikian kendaraan mereka dilarikan dengan kencang. Biasanya perjalanan memakan dua hari, tapi hanya dijalani dalam sehari saja. Tak terasa mereka sudah keluar dari wilayah negeri Louw.


Tatkala rombongan yang membawa Koan Tiong sudah berjalan jauh, benar saja Si Pek menyesali Raja Louw Cong Kong.


”Kita telah melakukan kesalahan besar membebaskan Koan Tiong dalam keadaan masih hidup. Kelak dia akan menjadi penghalang kita!” kata Si Pek.


Raja Louw Cong Kong kaget. Dia sadar pada kesalahnya. Segera dia perintahkan Pangeran Yan untuk segera mengejar rombongan dari negeri Cee itu. Jika sudah tersusul Koan Tiong harus dibunuh! Tetapi mereka sudah terlambat. Koan Tiong bersama rombongan negeri Cee sudah tidak terkejar lagi. Terpaksa Pangeran Yan dari negeri Couw pulang dengan tangan kosong.


Setelah rombongan yang memmbawa Koan Tiong sampai di Tiong-hu, di tempat itu mereka disambut oleh Pao Siok Gee. Kedatang Koan Tiong diumpamakan sebagai kedatangan sebuah barang berharga. Dengan girang Pao Siok Gee berkata, ”Selamat datang sahabatku Koan Tiong! Syukurlah kau tidak sampai kenapa-napa!”

__ADS_1


Pao Siok Gee memerintahkan orangnya agar merusakkan kerangkeng dan mengeluarkan Koan Tiong dari dalam kerangkeng tersebut.


”Sebelum ada izin dari Raja kau tak boleh membuka kerangkengku, sahabatku!” kata Koan Tiong.


Dia mencoba mencegah tindakan Pao Siok Gee.


”Oh, itu tidak apa-apa!” kata Pao Siok Gee sambil tertawa. ”Aku akan usulkan agar kau dijadikan pembantunya!”


”Akh itu tidak mungkin,” kata Koan Tiong. ”Aku bersama Siao Hut membantu Pangeran Kiu, tetapi gagal. Tetapi aku tidak ikut mati bersama junjunganku. Aku malu sekali. Mana aku punya muka menakluk, padahal Siao Hut rela mati untuk junjungan kami.”


”Pendapatmu salah, sahabatku!” kata Pao Siok Gee dengan sabar. ”Orang yang bercita-cita tinggi, tidak perlu menghiraukan perasaan malu. Aku yakin kau mampu bekerja hebat. Rajaku membutuhkan orang sepertimu. Mengapa hanya karena ingin menjaga moral, kau sia-siakan hidupmu? Sudahlah jangan kau pikirkan itu!”


Koan Tiong tetap bengong saja tidak berkata suatu apa.


Pao Siok Gee membebaskan Koan Tiong dari ikatannya. Dia minta Koan Tiong tinggal dulu di Tiong-hu untuk sementara waktu. Kemudian dia pergi ke kota Lim-cu menemui Raja Cee Hoan Kong. Ketika bertemu pertama-tama Pao Siok Gee menyatakan duka cita atas wafatnya Pangeran Kiu. Sesudah itu baru dia mengucapkan selamat kepada Raja Cee Hoan Kong.


”O, mengapa kau harus mengucapkan berduka cita?” tanya Raja Cee Hoan Kong heran.


”Bagaimanapun Pangeran Kiu adalah Kanda Tuanku. Karena masalah negara Tuanku terpaksa membinasakan saudara sendiri. Bagaimana hamba tidak menyatakan ikut berduka cita?” kata Pao Siok Gee dengan sangat berduka.


”Tetapi mengapa kau mengucapkan selamat kepadaku?” tanya Cee Hoan Kong pula.


”Koan Tiong orang yang luar biasa pada masa ini, jika dia dibandingkan dengan Siao Hut, Koan Tiong bukan bandingan Siao Hut,” kata Pao Siok Gee. ”Sekarang hamba sudah membawa dia sampai kemari dalam keadaan hidup. Dengan demikian Tuanku mendapatkan seorang perdana menteri yang pandai. Mana mungkin hamba tidak mengucapkan selamat?”


”Hamba harap Tuanku tidak salah mengerti,” kata Pao Siok Gee, ”orang yang menjadi hamba seseorang, mereka harus membela majikannya. Ketika Koan Tiong memanah Tuanku ketika itu dia hamba Pangeran Kiu almarhum. Jika Tuanku pakai dia, hamba yakin dia akan setia kepada Tuanku. Apalagi Tuanku pun selamat, itu urusan kecil!”


Mulanya Raja Cee tetap menolak. Tetapi sesudah terus dibujuk akhirnya dia menurut juga.


”Baiklah, aku setuju!” kata Raja Cee. ”Bebaskan dia!”


Pao Siok Gee girang. Dia pamit pada Raja Cee Hoan Kong dan menemui Koan Tiong. Diajaknya Koan Tiong tinggal di rumahnya. Sejak saat itu siang dan malam mereka bercerita panjang lebar berdua saja.


Ketika Raja Cee Hoan Kong memberi ganjaran pada orang yang berjasa. Kho He diangkat menjadi Su-keng ditambah dihadiahi tanah untuk perusahaan. Pao Siok Gee akan diangkat menjadi Siang-keng dengan tugas mengurus pemerintahan. Tetapi Pao Siok Gee menampik pangkat itu.


”Tuanku baik kepada hamba, hamba pun hidup bahagia. Semua sudah cukup bagi hamba. Tetapi menjadi Siang-keng, hamba tidak bersedia.”


”Mengapa begitu? Aku sudah tahu kepandaianmu,” kata Cee Hoan Kong.


”Terus terang hamba harus mengaku, sesungguhnya hamba tidak punya kepandaian seperti dugaan Tuanku.” kata Pao Siok Gee bersungguh-sungguh. ”Hamba cuma punya sifat selalu berhati-hati dan tertib dalam pekerjaan. Hamba selalu menjaga adat istiadat menurut aturan. Kepandaian hamba itu cuma cukup untuk kewajiban seorang yang menjadi hamba. Jelas belum bisa dikatakan punya kepandaian untuk mengurus pemerintahan sebuah negara. Misalnya ke dalam dia harus bisa mengamankan rakyat; ke luar dia harus bisa menalukkan bangsa Ie di empat penjuru. Pahalanya tercatat oleh Dewan Kerajaan, kebajikannya tersiar pada semua Raja-raja Muda.

__ADS_1


Negeri jadi sentausa, Raja banyak rejekinya, pahalanya terukir di batu pualam, namanya termasyur beratus-ratus tahun. Ini barulah pembantu Raja atau pelaksana pekerjaan Raja. Lalu bagaimana hamba bisa memangku jabatan yang Tuanku tawarkan itu, jika hamba sendiri mengaku tidak mampu?”


Paras Raja Cee Hoan Kong berubah dia girang. Raja Cee menjatuhkan diri berlutut di hadapan Pao Siok Gee.


”Menurut apa katamu barusan, apakah sekarang kau pikir sudah ada orang yang kau katakan itu? Aku harap kau suka menolong menunjukannya kepadaku!” kata Raja Cee.


Pao Siok Gee dengan sikap kikuk segera mengangkat untuk membangunkan Raja Cee Hoan Kong. Kemudian dengan suara tegas ia berkata, ”Jika Tuanku tidak mau mencari orang lain, ya sudah! Tetapi jika mau tahu orang itu siapa adanya, orang itu Koan Tiong!”


Raja Cee Hoan Kong terkejut sekali mendengar Pao Siok Gee menyebut nama itu.


”Tuanku jangan kaget!“ kata Pao Siok Gee. ”Ada lima perkara yang menyatakan bahwa hamba tidak bisa disamakan dengan Koan Tiong. Pertama, dalam soal kesabaran untuk menyebarkan kebajikan kepada rakyat. Yang ke-dua untuk memegang teguh kendali pemerintahan, yang ke-tiga untuk memimpin rakyat supaya setia dan punya kepercayaan, yang ke-empat untuk menyebarkan peraturan yang baik di seluruh negeri, dan yang ke-lima untuk memegang pimpinan angkatan bersenjata. Agar rakyat punya keberanian di medan perang. Semua pengetahuan itu tidak hamba miliki seperti yang dimiliki oleh Koan Tiong.”


”Kalau begitu, silakan kau panggil dia kemari, aku hendak menguji kepandaiannya,” kata Cee Hoan Kong.


”Harap Tuanku jangan terlalu menggampangkan saja,” kata Pao Siok Gee sambil tersenyum. ”Karena orang yang rendah tidak bisa mendekati para bangsawan, yang miskin tidak bisa bergaul dengan orang kaya dan yang berjauhan tidak bisa mencintai benar-benar. Tuanku hendak memakai Koan Tiong. Jika Tuanku tidak memberi kedudukan sebagai Perdana Menetri, dan memberi dia gaji yang besar. Tuanku tidak menghormatinya seperti Tuanku menghormati Ayah atau Kanda sendiri. Itu tidak bisa terjadi. Perdana Menteri, adalah menteri yang terutama. Jika Tuanku akan memanggil dia dan Tuanku tidak memberi jabatan Perdana Mentri, berarti Tuanku tidak menghargainya. Apabila seorang Perdana Menteri tidak dihargai, maka Raja pun pasti tidak akan orang indahkan. Seorang yang luar biasa, harus dihormati dengan aturan luar biasa juga. Sebaiknya Tuanku memilih hari yang baik, kemudian baru pergi menyambut dia. Dengan bersikap begitu, rakyat seluruh dunia akan mengetahui, bahwa Tuanku telah menghargai orang pandai dan menghormati orang terpelajar. Apalagi jika Tuanku tidak dendam sekalipun orang itu bekas musuh Tuanku. Lalu siapakah orang yang tidak ingin datang bekerja dan mengabdi kepada Kerajaan Cee nanti?”


”Baiklah, kuturuti nasihatmu itu,” kata Raja Cee Hoan Kong sambil menganggukan kepalanya.


Kemudian Raja Cee memerintahkan seorang berpangkat Tay-su memilih hari baik untuk menyambut Koan Tiong.


Pao Siok Gee sangat girang. Sesudah pamit kepada Raja Cee Hoan Kong dia menemui Koan Tiong. Dia antarkan sahabatnya ini pergi ke sebuah gedung tamu dan tinggal di situ buat sementara waktu.


**


Ketika sampai waktu yang telah ditetapkan, Pao Siok Gee memerintahkan Koan Tiong agar keramas sampai bersih. Dia diberi pakaian dan kopiah seperti pakaian orang berpangkat Siang Tay-hu.2)


Sementara itu Raja Cee Hoan Kong keluar dari istananya. Dia pergi ke gedung tamu untuk menemui Koan Tiong. Dia ajak Koan Tiong naik kereta dan bersama-sama pergi ke istana. Seluruh rakyat negeri Cee yang melihat kejadian itu tidak ada yang tidak tercengang-cengang.


Setelah Koan Tiong masuk ke dalam istana, dia berlutut di hadapan Cee Hoan Kong untuk merima dosa dan memberi hormat kepada sang junjungan.


”Hamba seorang tawanan, sudah dibebaskan dari hukuman mati pun sudah sangat beruntung. Bagaimana hamba berani menerima penghormatan lebih dari seharusnya ini?” kata Koan Tiong dengan sikap hormat.


”Aku sangat percaya kepadamu, silakan kau duduk dulu, kemudian baru aku mau bertanya,” kata Raja Cee dengan manis.


Koan Tiong sekali lagi memberi hormat baru kemudian duduk.


”Negeri Cee mempunyai seribu pasukan kereta perang,” kata Raja Cee Hoan Kong sambil tersenyum. ”Ketika Raja Hi Kong almarhum memegang kendali pemerintahan, dengan keangkerannya beliau telah menaklukan Raja-raja Muda lain, sehingga mendapat pujian dan bergelar Siao Pa Ong. Tetapi, sejak Raja Cee Siang Kong almarhum memerintah, karena beliau tidak mengurus dengan benar pemerintahan negeri Cee, sehingga negeri Cee menjadi kacau sekali. Sekarang aku yang mengepalai pemerintahan negeri Cee ini dan mengeluarkan berbagai undang-undang dan kebijakan. Menurut Anda sebaiknya aku harus mengatur negara ini bagaimana?”


”Tahu adat-istiadat, tahu kewajiban, tahu kesucian dan tahu malu! Itulah empat dasar yang harus dimiliki oleh sebuah negara,” kata Koan Tiong. ”Jika ke-empat dasar itu tidak teguh, pasti negeri bisa musnah. Sekarang Tuanku hendak membuat undang-undang negara, maka Tuanku harus meneguhkan dulu empat dasar itu agar rakyat mengerti dengan jelas. Dengan demikian maka undang-indang bisa ditegakkan dan pamor negara bisa berjalan.”

__ADS_1


”Bagaimana caranya membuat rakyat mengerti dan rakyat mau menurut?” kata Cee Hoan Kong.


”Jika ingin membuat rakyat menurut, lebih dahulu Raja harus sayang kepada mereka. Kemudian baru kita punya jalan buat menetapkan peraturan bagi rakyat.”


__ADS_2