LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 43


__ADS_3

Raja Tap Li Oh kaget dan kebingungan. Wajahnya berubah pucat pasi. Melihat hal itu perdana menterinya yang bernama Gut Lut Kouw menghiburnya.


"Tuanku jangan cemas," kata Gut Lut Kouw. "Aku masih bisa berdaya mengusir musuh!"


"Bagaiaman caranya?" tanya Tap Li Oh.


"Di sebelah utara negeri kita ada sebuah padang pasir yang disebut See-cek. Tempat itu sangat gersang. Rumput dan tumbuh-tumbuhan di sana tidak jadi karena tidak ada air setetespun." kata Gut Lut Kouw. "Sejak dahulu kala tempat itu dijadikan tempat membuang mayat orang yang meninggal di negeri ini. Tidak heran jika di tempat itu bergeletakan tulang-belulang manusia. Celakannya, kata orang di tempat itu ada angin jahat sering bertiup. Jika ada orang yang terserang angin itu bisa celaka."


"Hm! Sungguh berbahaya!" kata Tap Li Oh.


"Benar, tuanku. Selain gersang tempat itu jalannya sulit dikenali. Jika ada orang salah jalan sulit bisa keluar dari situ. Kita harus mengirim orang yang berpura-pura tunduk pada tentara Cee. Orang ini harus memancing musuh supaya terjebak masuk ke daerah itu. Dengan tidak usah berperang musuh akan rusak berat. Jika mereka sudah tidak bersemangat lagi, kita labrak mereka habis-habisan!" kata Gut Lut Kouw.


"Apa tentara Cee bisa kita pancing ke sana?" kata Tap Lie Oh masih sangsi.


"Sudah pasti mereka akan datang," sahut Gut Lut Kouw. "Caranya memancing mereka begini: Tuanku bersama keluarga harus bersembunyi di Yang-san. Rakyat harus meninggalkan kota dan bersembunyi juga. Dengan demikian kota jadi sunyi-senyap. Perintahkan seorang panglima tuanku untuk pura-pura menyerah. Jika ditanya katakan pada Raja Cee, bahwa tuanku sudah kabur ke See-cek untuk meminjam tentara. Jika mereka mendengar penjelasan ini, pasti Raja Cee akan mengejar kita ke See-cek. Jelas mereka akan masuk ke dalam jebakan kita, bukan?" kata Gut Lut Kouw.


Raja Tap Lie Oh sangat girang dia tertawa terbahak-bahak.


"Aku setuju," kata Tap Li Oh.

__ADS_1


"Tuanku izinkan hamba menjalankan tipu pura-pura menyerah pada mereka!" kata Jenderal Hong Hoa.


"Ya, baik, aku izinkan!" kata Tap Lie Oh.


Raja memerintahkan 1000 tentaranya kepada Hong Hoa dengan pesan harus berhati-hati.


Hong Hoa berjanji akan memperhatikan pesan itu, lalu ia pamit pergi akan melaksanakan tipu-muslihatnya.


Raja Tap Li Oh mengeluarkan perintah pula agar rakyat negeri pergi bersembunyi di sela-sela gunung, sedang dia dan seluruh menterinya bersama keluarganya pergi bersembunyi juga. Dengan demikian keadaan kota Bu-te-shia menjadi kosong dan sepi sekali.


Ketika Hong Hoa baru sampai di tengah jalan mencari akal. Dia berpikir bagaimana caranya supaya Raja Cee mau percaya bahwa dia takluk sungguh-sungguh. Sesudah dipikir-pikir, akhirnya dia mendapat ide bagus.


"Sebaiknya aku bunuh Raja Bit Louw dengan membawa kepala raja San-jiong itu, pasti Raja Cee akan percaya sekali aku takluk kepadanya. Dengan demikian aku juga bisa membalas sakit hatiku." pikir Hong Hoa. "Rajaku pun, aku rasa tidak akan marah aku membunuh dia. Karena ini demi berhasilnya tipu-muslihat Gut Lut Kouw!"


Waktu itu Raja Bit Louw masih belum bertempur dengan pasukan Cee, karena masing-masing tidak berani sembarangan maju perang. Ketika Raja Bit Louw mendapat kabar Jenderal Hong Hoa datang dengan membawa bala-bantuan, dengan sangat girang dia keluar dari bentengnya dan menyambut kedatangannya.


Melihat Raja Bit Louw datang menyambut, dengan menggunakan saat yang baik itu, Hong Hoa mengayunkan goloknya menabas leher Raja Bit Louw hingga terjatuh ke tanah dan tewas.


Melihat rajanya dibunuh, Jenderal Sok Moai sangat marah, segera dia mengambil golok dan naik kuda, langsung menyerang Hong Hoa. Tetapi Hong Hoa tidak tinggal diam, dia melakukan perlawan yang hebat. Maka terjadilah peperangan yang kacau antara pasukan Bit Louw dengan pasukan Hong Hoa.

__ADS_1


Berperang belum beberapa jurus, Sok Moai merasa tidak sanggup melawan Hong Hoa, dia melarikan kudanya ke benteng Houw Ji Pan untuk menyerahkan diri. Tetapi Houw Ji Pan tidak menerima begitu saja, dia perintahkan tentaranya menangkap Sok Moai, dan segera dipenggal batang lehernya. Setelah Hong Hoa mengalahkan tentara Raja Bit Louw, dia pimpin pasukannya ke markas tentara Cee dengan maksud menyarah. Sesampai di benteng tentara Cee, Hong Hoa minta bertemu dengan Raja Cee. Di hadapan Raja Cee dia serahkan kepala Raja Bit Louw.


"Di mana rajamu sekarang?" tanya Cee Hoan Kong.


"Raja kami sudah kabur ke daerah See-cek, dia akan minta bantuan. Hamba sudah menasihatinya supaya menyarah, tetapi Raja hamba menolak. Hamba sendiri segera datang untuk minta ampun kepada tuanku," kata Hong Hoa.


"Jika tuanku mau hmba bersedia menjadi penunjuk jalan mengejar mereka!"


Mendengar keterangan Jenderal Hong Hoa yang rapih, ditambah dia membawa bukti kepala Raja Bit Louw, Raja Cee Hoan Kong jadi percaya sekali pada keterangannya. Raja Cee langsung setuju dan minta Hong Hoa menjadi penunjuk jalan bagi mereka. Maka berangkatlah tentara gabungan pimpinan Cee Hoan Kong menuju ke See-cek dan akan dituntun jalannya oleh Jenderal Hong Hoa yang baru menyerah.


Karena khawatir Tap Lie Oh keburu kabur jauh, Raja Cee Hoan Kong meninggalkan rekannya Raja Yan Cong Kong dan tentaranya untuk menjaga kota yang baru direbutnya. Raja Cee membawa seluruh angkatan perangnya. Sekalipun masih lelah Cee Hoan Kong bernafsu mengejar musuh.


Jenderal Hong Hoa girang sekali hatinya. Kebetulan Raja Cee Hoan Kong pun setuju dia berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Dia hanya didampingi oleh Jenderal Kho Hek dari tentara Cee.


Berangkatlah Raja Cee Hoan Kong dengan cepat menuju ke See-cek. Dengan bersemangat tentara Cee seperti berlomba maju terus.


Sekalipun tentara Raja Cee Hoan Kong telah berjalan cepat, tetapi mereka masih saja ketinggalan jauh oleh Hong Hoa. Mereka semua jadi sangat heran. Anehnya tidak lama Jenderal Hong Hoa pun sudah tidak kelihatan lagi bayang-bayangannya. Lenyap seperti ditelan hantu.


Sementara langit pun mulai gelap tandanya hari telah sore. Sejauh mata memandang yang tampak hanya hamparan padang pasir saja. Yang tampak hanya padang pasir yang rata dan remang-remang putih. Kabut bergulung-gulung membuat cahaya langit menjadi semangkin gelap. Angin yang dingin meniup tidak hentinya. Lama-lama tentara yang tadinya merasa nyaman tertiup angin itu, sekarang mulai merasakan tidak enak. Tubuhnya sakit dan kepala mereka mulai pening. Memang ternyata tempat itu sangat berbahaya. Bukan tidak mungkin tentara dan kuda akan binasa karenanya.

__ADS_1


Waktu itu Raja Cee Hoan Kong dan Koan Tiong sedang berdampingan di atas kuda mereka.Melihat dan merasakan keadaan yang kurang nyaman itu Koan Tiong berbisik pada Raja Cee Hoan Kong.


"Hamba pernah mendengar di daerah utara ada padang pasir yang sangat berbahaya! Barangkali ini tempatnya. Lebih baik jangan kita teruskan pengejaran ini," bisik Koan Tiong.


__ADS_2