
Ketika waktu yang ditetapkan telah tiba. Lian Ceng dan Kwan Ci Hu datang ke rumah Kho He. Mereka disambut dengan gembira oleh menteri tua tersebut. Kemudian mereka dipersilakan masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah telah diatur sebuah meja makan yang penuh dengan santapan yang lezat-lezat.
Sesudah Kho He mempersilakan kedua pengkhianat itu duduk dan mereka sudah duduk dan langsung bersantap. Kho He memegang cawan arak sambil tersenyum manis. Kemudian Kho He berkata, ”Raja Cee Siang Kong almarhum telah berbuat banyak hal yang tidak patut, sehingga siang dan malam aku khawatir negeri Cee akan musnah. Ternyata sekarang! Semua benar-benar terjadi.
Beruntung Ji-wi Tay-hu (Anda berdua Menteri) sudah bisa menjatuhkan Raja Cee Siang Kong. Bahkan sudah bisa mengangkat Raja yang baru. Dengan demikian maka aku pun bisa menjaga dan memlihara tempat abu leluhur sendiri dengan tenteram.
Tempo hari lantaran aku sedang tidak enak badan, sehingga aku tidak bisa turut menghadap ke istana. Sungguh aku merasa sangat menyesal. Sekarang untung badanku sudah mulai sehat, maka aku suguhkan arak ini untuk membalas budi kalian berdua yang besar
Lebih jauh aku ingin menitipkan anak cucuku pada kalian berdua.”
Lian Ceng dan Kwan Ci Hu bersikap sangat hormat dan merendah, tetapi mereka senang sekali dipuji begitu.
”Hamba berdua tidak berani menerima pujian yang begitu besar dari Tuan.” kata mereka.
Tengah makan minum Kho He memerintahkan pada anak buahnya agar mereka menutup rapat pintu rumahnya.
”Hari ini aku mau minum arak sepuas-puasnya.” kata Kho He.
Tetapi dengan diam-diam dia berpesan pada si pengawal pintu,
”Kau jangan melaporkan segala khabar yang datang dari luar, tetapi harus menunggu jika di dalam kota sudah dinyalahkan api, baru kau boleh datang melapor kepadaku.” kata Kho He lagi sambil berbisik.
**
Di tempat lain pada waktu yang sama, Yong Lim dengan membekal sebilah pisau kecil yang tajam luar biasa, datang ke istana. Dia langsung menemui Kong-sun Bu Ti. Sesudah bertemu dengan Kong-sun Bu Ti, Yong Lim langsung melapor.
”Celaka Tuanku!” kata Yong Lim.
__ADS_1
”Hai ada apa? Kau tiba-tiba datang begitu gugup dan ketakutan?” kata Kong-sun Bu Ti.
”Celaka Tuanku. Pangeran Kiu telah mengerahkan tentara dari negeri Louw! Dia akan menyerang ke negeri Cee. Tidak lama lagi mereka akan segera sampai di sini. Apa akal kita? Kita harus segera mengatur penjagaan yang kuat supaya negeri ini selamat!” kata Yong Lim.
Mendengar khabar itu Kong-sun Bu Ti yang memang bodoh dan penakut sangat terkejut. Dengan jantung berdebar-debar dia berkata, ”Kok Kiu Lian Ceng ada di mana?”
”Kok Kiu dan Kwan Tay-hu sedang berpesta di luar kota belum bisa pulang. Tetapi semua pembesar sudah berkumpul di istana. Mereka sedang menunggu Cu-kong (Tuanku) tiba untuk merundingkan masalah ini.” kata Yong Lim pura-pura gugup dan panik.
Kong-sun Bu Ti percaya saja pada omongan Yong Lim. Buru-buru dia bergegas akan ke istana. Tetapi baru saja sampai, sebelum sempat duduk dengan sempurna, semua menteri serempak maju. Tiba-tiba Yong Lim yang ada di belakang Kong-sun Bu Ti, menikam punggung Bu Ti dengan pisau kecil di tangannya. Saat itu juga dia binasa.
Kong-sun Bu Ti naik tahta menjadi raja cuma sebulan lamanya.
Nyonya Lian, yaitu bekas isteri muda Raja Cee Siang Kong almarhum yang direbut oleh Kong-sun Bu Ti, mendengar khabar telah terjadi huru-hara di istana, dia langsung menjerat lehernya sendiri dan meninggal dengan sangat mengenaskan di dalam istana.
Yong Lim memerintahkan orangnya agar menyalakan api di luar istana. Begitu api menyala asapnya segera mengepul tinggi ke angkasa.
”Di luar api sudah dinyalakan!”
Mendengar tanda rahasia ini, Kho He bangun dan lari masuk ke dalam kamarnya.
Lian Ceng dan Kwan Ci Hu tidak mengerti apa maksud tuan rumah berlari ke dalam kamarnya. Baru saja mereka hendak ikut mengejar,dan ingin bertanya pada Kho He. Orang-orang Kho He yang gagah dan tadi bersembunyi di suatu tempat. Secara bersamaan mereka keluar. Mereka langsung melabrak dan mencincang kedua pengkhianat itu. Tubuh mereka berdua menjadi beberapa potong. Para pengikut dua pengkhianat itu karena tidak membawa senjata, saat itu semua dihabisi jiwanya.
Tidak berapa lama Yong Lim dan menteri-menteri lainnya telah datang ke gedung keluarga Kho. Mereka segera mengadakan pertemuan.
Dalam pertemuan itu telah diambil keputusan, bahwa kedua pengkhianat itu harus dibedah perutnya dan dikeluarkan hatinya untuk menyembahyangi arwah almarhum Raja Cee Siang Kong. Lalu diperintahkan agar orang pergi ke istana Kouw-hun, yaitu tempat Raja Cee Siang Kong dibinasakan, yaitu ketika beliau sedang pergi berburu. Orang-orang itu diperintahkan untuk mengambil jenazah Raja Cee Siang Kong yang akan dikuburkan kembali dengan upacara raja-raja. Kemudian dikirim utusan pergi ke negeri Louw untuk menyambut kedatangan Pangeran Kiu yang akan diajak pulang ke negeri Cee.
Ketika utusan dari negeri Cee sampai ke negeri Louw dan mereka memberitahukan kepada Raja Louw Cong Kong, tentang maksud kedatangan mereka, Raja Louw Cong Kong sangat girang. Beliau berjanji akan mengerahkan angkatan perangnya untuk mengantarkan Pangeran Kiu.
__ADS_1
Tetapi sebelum niat itu dilaksanakan salah seorang menteri negeri Louw, yang bernama Si Pek, segera mencegah niat Raja Louw Cong Kong itu.
”Negeri Cee dan negeri Louw masing-masing ingin berebut kekuasaan dan kedudukan. Sekarang negeri Cee tidak punya raja, ini hamba rasa suatu kesempatan baik bagi negeri Louw.”, kata Si Pek.
”Apa maksudmu, lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Raja Louw.
”Sebaiknya Tuanku buat supaya keadaan di negeri Cee menjadi bertambah kacau.” jawab Si Pek.
Mendengar nasihat ini Louw Cong Kong termenung sejenak. Tiba-tiba Louw Cong Kong jadi sangsi. Dia tidak tahu bagaimana harus mengambil keputusan.
Ketika itu Ibusuri Bun Kiang, ibu Louw Cong Kong atau adik perempuan Cee Siang Kong, ketika mendapat khabar Raja Cee Siang Kong sudah terbunuh, dari Ciok-kiu dia segera pulang ke negeri Louw.
Siang dan malam dia bujuk anaknya supaya mengerahkan angkatan perang untuk menyerang ke negeri Cee. Dia minta puteranya membinasakan Kong-sun Bu Ti. Maksud Bun Kiang untuk membalas dendam pada musuh kakaknya. Tetapi setelah mendapat khabar Kong-sun Bu Ti sudah mati. Bahkan utusan dari negeri Cee datang untuk menyambut Pangeran Kiu supaya pulang. Alangkah senangnya Ibusuri Bun Kiang. Kemudian dia desak agar Raja Louw Cong Kong segera mengantarkan Pangeran Kiu. Anak kakaknya atau keponakannya ke negeri Cee.
Oleh karena ibu Raja Louw sangat memaksa, Raja Louw Louw Cong Kong jadi bimbang. Maka nasihat Si Pek tidak dihiraukannya. Dia pimpin 300 kereta perangnya dan beribu-ribu tentara Louw. Dia angkat Co Moay menjadi kepala perangnya. Cin Cu dan Liang Cu menjadi pembantu di bagian kiri dan di kanan pasukannya. Iringkan Pangeran Kiu ini berangkat menuju ke negeri Cee.
Di tengah perjalanan Koan Tiong yang ikit pulang berkata kepada Raja Louw.
”Pangeran Siao Pek ada di negeri Ki, dari negeri Ki ke negeri Cee jaraknya lebih dekat daripada dari negeri Louw ke negeri Cee. Jika Siao Pek sudah masuk lebih dahulu ke ibukota, niscaya Cu-kong-ku akan kehilangan haknya. Karena itu aku mohon supaya aku diberi kuda yang baik agar aku bisa berjalan lebih dahulu untuk mencegah Siao Pek bisa merebut kedudukan Cu-kong-ku.” kata Koan Tiong.
”Ya, pendapatmu benar, kalian mau memakai tentara berapa banyak?” kata Louw Cong Kong.
”Tiga puluh kereta perang saja sudah cukup,” sahut Koan Tiong.
Setelah Koan Tiong menerima apa yang dia minta, segera dia berangkat dengan cepat.
**
__ADS_1