
”Kalau Sek Peng, bagaimana?”
”Hampir boleh. Ia tidak malu untuk bertanya pada bawahan, meskipun sedang di rumah dia tidak melupakan pekerjaan negeri.”
Sehabis berkata begitu, Koan Tiong menghela napas, lalu berkata pula.
”Cuma sayang Allah menghidupkan Sek Peng, cuma untuk menjadi lidahnya I Gouw. Jika badannya sudah mati, di manalah lidahnya bisa tinggal tetap, maka aku khawatir jika Tuanku memakai Sek Peng tidak bisa lama.”
”Kalau begitu, apakah Ek Ge boleh dipakai?”
”Tuanku meski tidak bertanya pun, hamba hendak mengatakan begini. Ek Ge, Si Tiauw dan Kay Hong, tiga orang itu, harus Tuanku jauhi mereka.”
”Ek Ge memasak daging anaknya untuk disuguhkan kepadaku, jelas dia mencintaiku terlebih dari kepada anaknya, apakah orang ini masih harus dicurigai?”
”Sifat orang biasanya lebih menyayangi anaknya, jika anaknya saja tega dia korbankan, bagaimana dengan Tuanku?” kata Koan Tiong.
”Si Tiauw rela menyerahkan gedungnya dan merawat aku dengan telaten, jelas dia mencintaku lebih dari kepada dirinya, apakah dia juga masih harus dicurigai?” tanya Cee Hoan-kong.
”Semangat orang lebih diperlukan untuk dirinya sendiri, manakala dirinya sendiri tak dihiraukannnya, bagaimanakah sikapnya terhadap Tuanku nanti?” kata Koan Tiong.
”We Kong-cu Kay Hong telah meninggalkan gelar Si-cu (Putera Mahkota) dan berhamba kepadaku, sehingga ayah dan ibunya meninggal dunia, dia tidak pergi menjenguknya. Ini jelas sekali dia mencintaiku terlebih dari kepada ayah dan ibunya, apakah ia juga harus dicurigai?”
__ADS_1
Raja Cin Bok-kong setuju pada saran itu, segera dia keluarkan perintah untuk memberi izin menjual beras pada orang Chin.
Beberapa laksa karung beras segera diangkut di sungai Wi-sui dan dibawa masuk ke negeri Chin.
Atas izin Raja Cin Bok-kong yang murah hati, rakyat negeri Chin tidak ada yang tidak bersyukur dan berterima kasih.
Pada lain tahun di musim Tang, di negri Cin dilanda musim paceklik, tetapi di negeri Chin, tanaman gandumnya sangat subur.
Raja Cin Bok-kong segera memerintahkan Leng Ci untuk minta membeli gandum pada Chin.
Semula Raja Chin Hui-kong hendak memerintahkan mengeluarkan gandum yang ada di Hoa-say untuk dijual pada negeri Cin, tetapi niat itu segera dicegah oleh Kiok Peng.
”Tuanku menjual makanan pada Raja Cin, apakah Tuanku juga hendak menyerahkan tanah kepadanya?” kata Kiok Peng yang dengki ini.
”Apa sebabnya Tuanku menjual makanan pada mereka?” kata Kiok Peng.
”Untuk membalas kebaikan Raja Cin.”
”Tuanku menjual makanan dengan anggapan Cin sudah berbuat kebaikan pada Tuanku, sedang dulu dia mengantarkan Tuanku masuk ke negeri Chin, itu juga kebaikannya malah sangat besar, lalu apa gunanya Tuanku melupakan yang lebih besar dan membalas yang kecil?”
”Tetapi kita harus ingat tahun lalu, ketika negeri kita ditimpa paceklik, dan Tuan memerintahkan hamba membeli beras pada Cin,” kata Keng The, ”Raja Cin segera setuju dan tidak menolak menjual makanannya pada kita. Tindakan mereka sangat bijaksana sekali. Sekarang jika kita tidak mengizinkan mereka membeli makanan dari kita, niscaya orang Cin akan sakit hati kepada kita.”
__ADS_1
”Ketika Cin menjual makanannya pada kita, bukan maksud baik. Tetapi mereka mengharap kita menyerahkan lima kota yang kita janjikan pada mereka!” kata Lu I Seng. ”Jika dulu mereka tidak mengizinkan kita membeli beras, Chin akan sakit hati pada Cin. Memberi makanan dan tidak menyerahan tanah, maka tetap Cin akan membenci pada kita! Maka apa gunannya kita jual makanan pada mereka?”
”Merasa beruntung atas kecelakaan orang lain, bukan suatu kebajikan, sehingga budi kebaikan mereka dulu jadi sia-sia saja,” kata Keng The. ”Jika kita tidak punya kebajikan dan keadilan, apa dasar kita mengatur negara ini?”
”Ucapan Keng The benar!” kata Han Kan. ”Seandainya tahun lalu Cin tidak izinkan kita membeli beras, apa jadinya kita, Tuanku?”
”Tahun lalu Allah menjatuhkan bahaya kelaparan pada negeri Chin, untuk memberi kesempatan yang baik pada negeri Cin,” kata Kek Shia dengan suara nyaring, ”tetapi Cin sudah tidak menggunakannya. Sebaliknya mereka malah mengizinkan kita membeli beras mereka. Jelas mereka goblok! Sekarang Allah menurunkan bahaya kelaparan kepada negeri Cin untuk memberikan kesempatan baik pada negeri Chin. Mengapa bolehnya negeri Chin melanggar kehendak Allah, dan tidak mau bergerak? Maka menurut pendapat hamba, lebih baik kita membuat perjanjian dengan Raja Liang. Dengan menggunakan kesempatan yang baik ini kita serang negeri Cin, kemudian kita bagi daerahnya dengan Raja Liang, ini hamba rasa jalan yang paling menguntungkan bagi kita.”
Akhirnya Raja Chin Hui-kong mengambil keputusan menuruti usul Kek Shia, dia menolak menjual bahan makanan pada negeri Cin, dia katakan pada Leng Ci, utusan Cin dengan alasan beras dan makanan hanya cukup untuk dipakai di negeri Chin, maka dia tidak bisa menjual kepada Cin.
Dengan sangat mendongkol Leng Ci pulang ke negeri Cin, dia laporkan pada rajanya, bukan saja Chin tidak mau menjual makanan mereka, bahkan Chin malah akan berserikat dengan negeri Liang, hendak mengerahkan angkatan perang menyerang ke negeri Cin.
”O, mengapa orang sampai begitu tidak tahu aturan!” kata Raja Cin Bok-kong dengan sangat marah. ”Aku harus melabrak lebih dahulu negeri Liang, kemudian baru membasmi negeri Chin!”
Pek Li He memberi saran sebelum pasukan Chin datang menyerang, lebih baik didahului diserang.
”Apa alasan Tuan?” tanya Ci Bok-kong.
”Karena negeri Chin sebuah negeri besar sedangkan negeri Liang negeri kecil, apabila yang besar sudah dikalahkan, pasti yang kecil dengan gampang bisa dijatuhkan.” kata Pek Li He.
Raja Cin Bok-kong setuju pada saran Pek Li He, lalu dia tinggalkan Kian Siok dan Yu I untuk membantu Pangeran Eng menjaga negeri Cin. Dia memerintahkan Beng Beng Si memimpin tentara maju meronda di perbatasan negeri, untuk menjaga apabila ada kaum Jiong yang datang menyerang, sedang Raja Cin Bok-kong sendiri dengan mengajak Pek Li He memimpin pasukan induk, dan didampingi oleh Se Kip Sut dan Pek It Peng. Kong-sun Ci memimpin pasukan kanan, Kong-cu Ci memimpin pasukan kiri, dengan membawa empat ratus kereta perang menyerang ke negeri Chin.
__ADS_1
Pembesar negeri Chin yang menjaga tempat di sebelah Barat, segera mengirim laporan kepada Raja Chin Hui-kong tentang adanya serangan dari negeri Cin ini.
Raja Chin Hui-kong segera mengerahkan enam ratus kereta perang, dan memerintahkan Kiok Pouw Yang, Ke Pok Touw, Keng The dan Ngo Sek memimpin pasukan kiri dan kanan, sedang Raja Chin Hui-kong sendiri bersama Kek Shia memimpin pasukan induk, Touw Gan I menjadi Sian-hong (Pemimpin Pasukan Pelopor), berangkat dari kota Kang-ciu menuju ke jurusan Barat.