
Setelah pesta selesai, Raja Couw dengan diatar oleh Raja Sit pergi ke gedung tamu yang memang sudah dirapikan buat tempat dia bermalam.
Malam itu Raja Couw Bun Ong tidak bisa tidur pulas. Paras Nyonya Sit-kui yang botoh dan manis terbayang terus di matanya. Dia putar otaknya mencari akal untuk bisa mendapatkan si wanita manis itu. AKhirnya dia mengambil pusan hendak merebut dengan paksa saja dari tangan Raja Sit.
Begitulah esok harinya Raja Couw mengatur meja perjamuan di gedong tamu dengan alasan untuk membalas penghormatan Raja Sit kepadanya. Dia undang Raja Sit, tetapi dengan diam-diam dia mengatur tentara yang disembunyikannya di suatu tempat.
Mendapat undangan itu Raja Sit dengan tergopo-gopo pergi mengunjungai ruang pesta . Dengan senang Raja Cow mengajak Raja Sit mengadakan pesta makan minum, tetapi sesudah minum sampai setengah mabuk, Raja Couw berpura-pura mabuk dan berkata kepada Raja Sit.
"Aku telah berjasa besar kepada isteri Kunhouw, sekarang tiga pasukan tentaraku ada di sini. Apakah isteri anda bisa menolong menyuguhi mereka arak?"kata Raja Couw.
"Isteriku seorang perempuan yang lemah," kata Raja Sit, "aku rasa dia tidak akan mampu untuk melayani mereka yang demikian banyak. Hamba harap baginda mau berkasihan kepadanya,"
"Hei, apa kau bilang? Kau berani melupakan kewajibanmu dan berani membantah kehendakkyu!" kata Raja Couw dengan gusar sambil menggebrak mejda. "Ayo, mana orang-orangku, mengapa kalian tidak segera menangkap raja durhaka ini!"
Ketika Raja Sit hendak bicara untuk membela diri, tentara Couw yang bersembunyi sudah keburu keluar. Wan Ciang dan Touw Tan, dua panglima Couw yang gagah perkasa itu, sudah menangkap dan mengikat Raja Sit.
Kemudian Raja Couw memimpin tentaranya masuk ke dalam keraton Raja Sit untuk mencari Sit-kui. Ketika Sit-kui mendapat khabar telah terjadi kerusuhan di kediaman tamu negara, dengan menghela napas dia berkata. "Suamiku telah memimpin seekor macan buas masuk ke dalam rumahnya, sekarang kita yang jadi korbannya!" kata Nyonya Sit-kui.
Sehabis berkata begitu buru-buru Nyonya Sit-kui lari ke dalam kebun di belakang istana dia hendak menceburkan diri ke dalam sumur.
__ADS_1
Waktu itu Touw Tan keburu sampai di tempat itu. Melihat Sit-kui akan berbuat nekat, dengan cepat dia kejar. Dia pegang baju Sit-kui dan berkata, "Hu-jin apakah kau tidak mau menolong Sit-houw? Mengapa kalian suami isteri mau mati semuanya?"
Sit-kui tertegun sejenak tidak bisa berkata apa-apa.
Touw Tan segera membawa kembang dunia itu menghadap pada Raja Couw.
Dengan perkataan lemah-lembut Raja Couw Bun Ong menghibur nyonya manis itu. Dia berjanji tidak akan membunuh Raja Sit dan tidak akan merusak rumah abu leluhur Raja Sit. Di saat itu juga dia angkat Sit-kui menjadi permaisurinya. Sit-kui dinaikin ke kereta dan terus dibawa pulang ke negeri Couw.
Karena paras Sit-kui seperti kembang To, maka orang memberinya gelar To Hoa Hu-jin (Nyonya Bunga To).
Kemudian Raja Couw menempatkan Raja Sit di tanah Ji-sui. Dia diberi sepuluh buah rumah dan tanah perusahaan untuk penghidupannya juga untuk merawati rumah abu leluhurnya. Tapi karena Raja Sit telah kehilangan mustika berjiwanya, dia senantiasa menanggung kesal dan mendongkol serta terus berduka. Selang tidak berapa lama dia terserang penyakit hebat dan meninggal dunia. Ya, sungguh kasihan!
”Nasihat Tiong-hu sudah aku jalankan dengan baik. Aku sudah menjalankan pemerintahan di negeri Cee dengan baik. Juga sudah sesuai dengan ajaran dari Tiong-hu. Sekarang angkatan perang di negeri Cee sudah baik. Prajuritnya terlatih semuanya; ransum untuk angkatan perang sudah tersedia cukup. Rakyat negeri Cee pun semuanya sudah mengerti adat-istiadat dan mereka tahu kewajibannya. Aku pikir ada baiknya aku mengadakan perserikatan dengan Raja-raja Muda untuk menetapkan sebagai jago di daratan Tiongkok. Apakah Tiong-hu rasa ini sudah saatnya atau belum?” kata Raja Cee Hoan Ong.
”Keadaan Raja-raja Muda pada masa ini, yang negaranya paling kuat dari negeri Cee masih banyak,” kata Koan Tiong.“Di selatan masih ada negeri Couw, di barat ada negeri Cin dan Chin. Mereka semua semata-mata hanya mengandalkan kegagahan mereka belaka. Mereka tidak mau tunduk kepada Kaisar Ciu. Maka sulit untuk menjadi jagoan di antara mereka. Kerajaan Ciu, sekalipun sekarang sudah mulai lemah, tetapi sebenarnya Kerajaan Ciu menjadi pemimpin di benua ini. Hanya karena mereka telah salah memindahkan Ibukota mereka ke sebelah timur, (menjadi Tong Ciu), sehingga Raja-raja Muda tidak mau datang menyatakan kepatuhan mereka. Banyak yang tidak mau mengantar upeti lagi. Terutama sejak Raja The berhasil memanah bahu Kaisar Ciu Hoan Ong, Raja-raja Muda semakin tidak mengindahkan kekuasaan Kerajaan Ciu. Bahkan Raja Couw mengangkat dirinya menjadi Kaisar. Menteri dari negeri Song dan The telah membunuh raja mereka. Jelasnya telah banyak terjadi perkara yang tidak patut, tetapi tidak ada kerajaan yang berani memerangi mereka. Sekarang Kaisar Ciu Cong Ong baru saja wafat dan Kaisar yang baru telah menggantikannya. Baru-baru ini di negeri Song telah terjadi kekacauan. Panglima Lam-kiong Tiang Ban telah membuat huru-hara. Sekalipun panglima yang berkhianat itu sudah terbunuh, tetapi kedudukan Raja Song masih belum mantap. Sekarang sebaiknya Tuanku mengirim utusan menghadap ke istana Ciu. Tuanku boleh memohon kepada Kaisar Ciu supaya beliau mengeluarkan firman memberi izin kepada kita untuk membuat perhimpunan besar. Kita kumpulkan seluruh Raja-raja Muda serta menetapkan kedudukan Raja Song. Jika kedudukan Raja Song telah disahkan, kemudian baru kita muliakan Kaisar Ciu. Minta semua Raja-raja Muda menaruh hormat kembali kepada Dewan Kerajaan Ciu. Jika di antara negeri-negeri ada yang lemah, kita harus membantunya. Negara yang kuat kita ajak berserikat. Bagi raja yang membuat huru-hara dan tidak menuruti perintah kita, maka kita ajak semua Raja Muda untuk memeranginya. Apabila seluruh negeri sudah mengetahui masalah ini, maka masing-masing Raja Muda akan mengajak teman-temannya datang menghadap ke istana Cee. Dengan demikian, kita tidak usah sering mengeluarkan kereta perang kita, tetapi usaha untuk menjadi jago segera akan terbukti.”
Alangkah girangnya Raja Cee Hoan Kong mendengar ucapan Koan Tiong tersebut. Dia setuju pada saran yang dikatakan Perdana Menterinya itu. Raja Cee segera memerintahkan seorang utusan pergi ke kota Lok untuk mengucapkan selamat kepada Baginda Ciu Li Ong. Sekaligus memohon supaya dia diberi izin untuk menghimpun Raja-raja Muda dan menetapkan kedudukan Raja Song.
Utusan itu pamit pergi ke kota Kaisar Ciu. Sesampai di Lok-yang dia menyampaikan pesan Raja Cee Hoan Kong kepada Kaisar Ciu. Utusan itu menceritakan keinginan Raja Cee Hian Kong..
__ADS_1
”Siao Pek ternyata tidak lupa kepada Dewan Kerajaan Ciu, ini keberuntungan kami,” kata Kaisar Ciu Li Ong. ”Kami tahu Raja-raja Muda yang tinggal di sebelah hulu sungai Su-sui, bisa dikatakan Siao Pek menjadi kepalanya. Bagaimana kami tidak meluluskan permohonannya?” kata Kaisar Ciu.
Kaisar Ciu Li Ong segera mengeluarkan firman seperti yang diminta oleh Raja Cee. Firman itu dia serahkan kepada utusan itu.
Utusan negeri Cee mengucapkan terima kasih, dia pamit pulang. Setelah sampai di negeri Cee, dia sampaikan hasil kerjanya kepada Raja Cee.
Raja Cee Hoan Kong girang. Dia memerintahkan orangnya menberi khabar ke negeri Song, Louw, Tan, Coa, We, The, Co dan Ti. Dia menyatakan atas perintah Kaisar Ciu, dia hendak membuat perhimpunan Raja-raja Muda dan akan diadakan pada awal bulan Sha-gwe (bulan tiga Imlek) di tanah Pak-heng (tanah negeri Cee).
Tatkala hampir sampai waktu yang ditentukan, Raja Cee Hoan Kong bertanya kepada Koan Tiong.
”Untuk pergi ke tempat persidangan, kita harus membawa kereta perang dan tentara berapa banyak?” kata Raja Cee Hoan Kong.
”Tuanku tidak perlu membawa tentara,” sahut Koan Tiong. ”Karena Tuanku menerima titah Kaisar Ciu untuk menemui semua Raja-raja Muda. Mana pantas membawa kereta perang dan tentara? Karena perhimpunan ini diadakan dalam keadaan aman.”
Raja Cee Hoan Kong membenarkan ucapan Koan Tiong. Dia perintahkan tentaranya mendirikan panggung tiga tingkat. Panggung itu tingginya tiga tombak, di kiri digantungkan lonceng, di sebelah kanan diletakan genderang, di atas panggung diatur tempat duduk kaisar. Tetapi kursi ini dikosongkan. Sedang di tepi panggung disediakan tempat duduk untuk Raja-raja Muda. Batu giok, kain sutera dan lain-lain perhiasan diatur rapih sekali. Di tempat itu disediakan beberapa rumah untuk istirahat para tamu.
Ketika tiba saatnya, Raja Song Hoan Kong datang lebih dulu. Dia menemui Raja Cee Hoan Kong. Raja Song mengucapkan terima kasih kepada Cee Hoan Kong, karena ditolong menetapkan kedudukannya sebagai Raja Muda.
Dengan manis budi Raja Cee melayani Raja Song bicara.
__ADS_1