
Sementara itu Tio Swi yang berjalan belakangan baru sampai di tempat itu.
Semua bertanya mengapa Tio Swi berjalan demikian lambat.
”Aku terlambat sampai, karena kakiku tertusuk duri, aku tidak bisa berjalan cepat,” sahut Tio Swi.
Kemudian dia keluarkan bekalnya dari dalam bungbung bambu, dia suguhkan kepada Pangeran Tiong Ji.
”Apakah kau tidak merasa kepayahan karena lapar? Mengapa kau tidak mau makan sendiri bekal itu?” tanya Tiong Ji dengan terharu. ”Meskipun hamba sangat lapar, mana hamba berani melupakan Tuanku yang juga pasti lapar seperti hamba,” sahut Tio Swi.
Ho Mo sengaja bergurau pada Gui Cun.
”Coba jika bekal ini ada di tangan Gui Cun, barangkali sudah jadi hancur di dalam perutnya.” kata Ho Mo sambil tertawa.
Gui Cun jadi malu segera dia membuang muka.
Pangeran Tiong Ji membagi bubur encer itu pada Tio Swi, tetapi Tio Swi tidak tega memakannya sendiri, segera dia tambahi air dan dimasak lagi, kemudian dia bagi rata dengan semua orang.
Melihat hal itu, Tiong Ji jadi menghela napas dan merasa kagum pada Tio Swi yang demikian baik hati itu.
Sesudah masing-masing selesai makan, barulah mereka meneruskan perjalanan.
Di sepanjang jalan mereka mencari makanan, begitulah dengan menanggung lapar dan kelelahan akhirnya mereka sampai di negeri Cee.
Raja Cee Hoan-kong memang sudah mendengar Kong-cu Tiong Ji adalah seorang bangsawan yang budiman, setelah mengetahui Tiong Ji telah sampai di perbatasan negaranya, Raja Cee segera mengirim utusan pergi keluar kota, untuk menyambut tamu itu untuk diajak masuk ke dalam kota dan diberi sebuah gedung tempat tamu-tamu itu istirahat.
Kemudian Raja Cee Hoan-kong segera mengatur pesta untuk menghormati Pangeran Tiong Ji dan menteri-menterinya itu.
__ADS_1
Di tengah pesta sedang berlangsung, sesudah membicarakan berbagai masalah, akhirnya Raja Hoan-kong bertanya pada Tiong Ji:
”Apakah Kong-cu membawa famili dan keluargamu?” tanya Raja Cee.
”Untuk membawa diri sendiri saja rasanya susah bukan main, bagaimana hamba bisa membawa keluarga hamba?” sahut Tiong Ji.
”Jika aku tidur sendiri saja dalam satu malam, rasanya sama lamanya seperti setahun,” kata Cee Hoan-kong sambil tersenyum, ”Kong-cu dalam pengembaraan, dan tidak ada orang mengurus, sungguh kasihan sekali.”
Segera Cee Hoan-kong memilih di antara kaum keluarga perempuannya yang berparas cantik, lalu dia serahkan kepada Pangeran Tiong Ji, serta dia hadiahkan kuda dua puluh pasang.
Tiong Ji menghaturkan terima kasih untuk kebaikan Raja Cee ini.
Sejak saat itu, jika Tiong Ji berpergian keluar, semua pengikutnya naik kuda.
Kebaikan Raja Cee Hoan-kong kepada Pangewran Tiong Ji luar biasa, dia selalu mengirim makanan dan kebutuhannnya setiap saat.
Pada tahun Ciu Siang-ong ke-8, saat itu Raja Cee Hoan-kong sudah bertahta yang ke-42-nya.
Setelah Koan Tiong dan Sek Peng meninggal dunia, Raja Cee Hoan-kong menyerahkan urusan pemerintahan kepada Pauw Siok Gee. Tetapi Raja Cee selalu ingat pada pesanan Koan Tiong almarhum. Sejak dia mengangkat Pauw Siok Gee menjadi Perdana Menteri, dia usir Si Tiauw, Ek Ge dan Kong-cu Kay Hong. Akan tetapi sejak saat itu, ketiga orang Raja Cee selalu bimbang dan berduka. Segalanya seolah jadi serba salah dan dia jarang tertawa atau gembira.
Tiang-we-ke, salah satu di antara permaisuri Raja Cee Hoan-kong, karena melihat sikap suaminya begitu, lalu menyarankan agar Raja Cee memanggil kembali ketiga orang itu.
Diberi saran oleh isterinya, Raja Cee Hoan-kong senang. Karena dia selalu memikirkan ketiga orang yang dia sayang itu. Lalu mereka diberi pekerjaan kembali seperti dulu.
Setelah Pauw Siok Gee mengetahui hal ini, segera dia temui Raja Cee Hoan-kong. Dia coba mencegah agar ketiga orang itu jangan dipakai lagi. Tetapi Raja Cee tidak menghiraukannya. Dengan kesal dan penasaran Pauw Siok Gee pulang.
Karena kesal Pauw Siok Gee sakit, tidak berapa lama meninggal dunia.
__ADS_1
Sejak Pauw Siok Gee meninggal dunia, Si Tiauw, Ek Gee dan Kong-cu Kay Hong jadi berpengaruh sangat besar, sekarang tidak seorang pun yang mereka takutkan lagi.
Waktu itu Raja Cee Hoan-kong sudah tua dan mulai malas mengurus pemerintahan, sehingga ketiga dorna itu bisa mengatur semua urusan di dalam dan luar negeri sesuka mereka. Siapa yang mau menurut kemauan mereka, maka hidupnya akan sejahtera. Jika bukan berpangkat tinggi pasti dia menjadi seorang hartawan.Orang yang menentang kalau tidak dihukum mati, dia diusir atau dipenjarakan.
Raja Cee Hoan-kong mempunya tiga orang nyonya, yaitu yang disebut Ong-ki, Ci-ki dan Coa-ki, tetapi semuanya tidak punya anak. Sedang Ong-ki dan Ci-ki sudah meninggal dunia. Sekarang tinggal Coa-ki, tetapi karena kurangajar dia dikembalikan ke negeri Coa. Di samping itu Raja Cee punya enam orang selir yang sangat disayang. Mereka diperlakukan tak beda dengan permaisuri saja.
Dari keenam selirnya itu masing-masing melahirkan seorang putra. Pertama Tiang-we-ki melahirkan Pangeran Bu Kui, yang ke dua, Siauw-we-ki melahirkan Pangeran Goan, yang ke tiga, The-ki melahirkan Pangeran Ciauw, yang ke empat, Kat-eng melahirkan Pangeran Poan, yang ke lima, Bit-ki melahirkan Pangeran Siang Jin, dan yang ke enam, Song-hoa-cu melahirkan Pangeran Yong.
Di antara ke-enam selirnya, hanya Tiang-we-ki yang paling lama mengurus Raja Cee Hoan-kong. Di antara ke-enam pangeran, juga cuma Bu Kui yang usianya paling tua.
Pembesar paling di sayang oleh Raja Cee Hoan-kong, yaitu Si Tiauw dan Ek Ge, semuanya baik pada Tiang-we-ki.
Karena Raja Cee Hoan-kong selalu mendengarkan kedua dorna ini, maka dia menyatakan setuju hendak mengangkat Pangeran Bu Kui menjadi ahli warisnya. Tetapi kemudian karena merasa sayang oleh kepandaian Pangeran Ciauw, ditambah lagi Raja Cee pun sudah pernah minta saran dari Koan Tiong almarhum. Bahkan Koan Tiong setuju Pangeran Ciauw yang akan menjadi ahli warisnya. Hal itu pun sudah disampaikan pada Raja Xong Siang-kong, kakek Pangeran Ciauw.
Pangeran Kay Hong sangat baik pada Kong-cu Poan, maka dia hendak berikhtiar supaya Poan yang menjadi pengganti Raja Cee.
Sedangkan Pangeran Siang Jin senang mempelajari ilmu perang dan menarik perhatian rakyat, karena sikapnya yang ramah. Sedang ibunya disayang oleh Raja Cee. Maka tidak heran dia juga ingin menggantikan ayahnya.
Hanya Pangeran Yong yang pasrah dan tidak terlalu berharap, dia sadar ibunya hanya seorang anak menteri negeri Song, sebaliknya ibu lima saudaranya semua anak raja.
Ketika ibu mereka mengajukan usul pada Raja Cee agar putra mereka menjadi ahli waris kerajaan, Raja Cee yang tidak mau pusing mengiakan semua permintaan keenam selirnya itu.
Ketika Cee Hoan-kong jatuh sakit dan sakitnya parah, Si Tiauw dan Ek Ge segera mengatur siasat. Mereka memasang papan larangan, siapapun dilarang masuk menemui Raja Cee yang sedang sakit.
Hanya Pangeran Bu Kui dan ibunya, Tiang-we-ki yang boleh ada di istana. Siapa pun dilarang menemui Raja Cee. Ketika penyakit Raja Cee semakin parah dan sudah tidak ada harapan akan sembuh, maka Si Tiauw dan Ek Ge menganggap sudah tiba saatnya yang baik. Segera Si Tiauw dan Ek Ge mengusuir semua pelayan istana, dan pintu istana ditutup rapat. Bahkan Ek Ge dan Si Tiauw memerintahkan membuat tembok, agar orang tidak bisa masuk. Di tembok itu dibuat sebuah lubang untuk anak kecil masuk ke dalam melihat keadaan Raja Cee, yang lainnya tak boleh masuk.
Penjagaan di sekitar istana pun diperketat. Juga mereka mengerahkan pasukan untuk memantau, siapa tahu ada pangeran yang menggerakan pasukannnya untuk membuat ulah. Mereka akan dihajar habis-habisan.
__ADS_1