
"Raja Cee sangat rukun pada tetangga negerinya, dia suka memberi hadiah, tetapi menerima bingkisan sedikit sekali. Dengan hanya sedikit barang bingkisan sudah cukup, tidak perlu sampai harus mengeluarkan seluruh isi gudang negara."
Raja Song sangat girang, dia mengirim utusan ikut dengan Leng Cek pergi ke perkemahan Raja Cee untuk minta berdamai.
Ketika itu wajah Tay Siok Pi menjadi merah sekali, dia merasa sangat malu karena akalnya tidak berjalan dengan baik.
Begitu utusan Song berjumpa dengan Raja Cee, dan menyerahkan sepuluh pasang batu giok dan seribu potong emas murni, serta memberi penjelasan bahwa Raja Song minta berdamai dan mohon berserikat. Raja Cee tersenyum puas.
"Menyerang negeri Song, adalah atas perintah Kaisar Ciu, bagaimana aku berani mengambil putusan sendiri," kata Raja Cee Hoan Kong pada utusan Song itu. "Masalah ini terpaksa aku harus minta bantuan panglima Ciu untuk menyampaikannya kepada Kaisar Ciu, baru masalahnya beres."
Raja Cee membawa emas dan batu giok itu yang dia serahkan kepada panglima Tan Biat, kepada panglima itu Raja Cee menerangkan bahwa Raja Song minta berdamai.
"Jika Kun-houw bersedia memaafkannya," kata Tan Biat, "aku bisa segera mengabarkannya kepada Baginda, aku rasa Baginda tidak akan keberatan."
"Baiklah," kata Raja Cee.
Raja Cee memerintahkan utusan Song itu pulang dulu untuk menunggu putusan dari Sri Baginda Ciu.
Ketika Baginda Ciu sudah memberi putusan dan permohonan Raja Song telah diterima baik, Raja Cee segera mengadakan pertemuan dengan Raja Song untuk menetapkan perdamaian.
Sesudah semua urusan selesai, Tan Biat pamit dan terus memimpin pasukan perang Ciu pulang ke negaranya. Sedang Raja Cee, Tan dan Co, masing-masing membawa pasukan perangnya pulang ke negerinya sendiri.
Setelah Raja Cee Hoan Kong kembali ke negaranya.......
Pada suatu hari Raja Cee Hoan Kong mengadakan persidangan, ketika itu Koan Tiong mengajukan usul agar Raja Cee menyerang ke negeri The.
"Sejak Kerajaan Ciu dipindahkan ke sebelah timur Tiongkok, di antara negeri-negeri kecil tidak ada yang sekuat negeri The," kata Koan Tiong. "Apalagi sejak negeri The mengalahkan negeri Tong Kek dan ibukotanya selesai dibangun. Sekarang kedudukan negeri The jadi semakin teguh. Ini disebabkan negara itu terlindung oleh gunung, bagian belakang terlindung oleh sungai. Di kiri dan kanan terapit oleh jurang yang dalam. Singkatnya negara The itu sama dengan sebuah goa macan, sangat berbahaya.
__ADS_1
Dulu Raja The hanya mengandalkan geografi negaranya yang strategis itu. Mereka melabrak negeri Song, menyerang negeri Khouw. Dia juga membangkang kepada Kaisar Ciu. Ditambah lagi sekarang negeri The menjadi famili negeri Couw. Sedangkan negeri Couw sangat besar tentaranya, kuat. Beberapa negara yang terletak di daerah Han-yang, berhasil mereka caplok. Karena itu negeri The jadi semakin angkuh dan besar kepala saja.
Jika Tuanku hendak membela Kerajaan Ciu dan menjadi jago di antara Raja-raja Muda, Tuanku harus membasmi negeri Couw dulu. Tetapi ingin membasmi negeri Couw; Tuanku harus merebut negeri The dulu."
"Betul, aku setuju," kata Raja Cee Hoan Kong. "Aku tahu negeri The seperti cahaya Tiongkok. Sudah lama aku berniat menaklukannya.Tetapi sayang sudah sekian lama belum mendapat kesempatan yang baik."
"Sekaranglah saat yang tepat untuk mendapatkan negeri The," kata Leng Cek. "Pangeran Tut yang bergelar The Le Kong ketika dua tahun menjadi raja, diusir oleh Tay Ciok. Dia mengangkat Pangeran Hut menjadi penggantinya. Tetapi Kho Ki Bi telah membunuh Pangeran Hut.
"Dia mengangkat Pangeran Bi. Raja Cee Siang Kong almarhum, membunuh Pangeran Bi. Tay Ciok segera mengangkat Pangeran Gi. Sebagai menteri Tay Ciok telah mengusir rajanya. Pangeran Gi, adik raja yang diusir merampas tahta kandanya. Jelas mereka sudah sangat keterlaluan! Mereka melanggar aturan. Alasan ini sangat bagus buat kita melabrak mereka. Sekarang Pangeran Tut ada di tanah Lek. Setiap hari dia berusaha ingin merebut kembali tahtanya. Sekarang Tay Ciok sudah meninggal. Di negeri The tidak punya orang pandai. Jika Tuanku mengirim panglima ke tanah Lek untuk membantu Pangeran Tut, maka dia bisa menjadi raja kembali. Karena ingat kebaikan Tuanku, niscahya dia mau tunduk dan berserikat dengan negeri Cee."
Raja Cee Hoan Kong setuju pada saran Leng Cek. Dia memerintahkan Pin Si Bu membawa 200 kereta perang pergi ke negeri The.
Pin Si Bu memimpin tentaranya berangkat ke negeri The.
Tatkala Pin Si Bu sampai di tanah Lek, dia membangun kemah 20 li di luar kota Lek-shia. Kemudian memberi khabar kepada The Le Kong tentang maksud kedatangannya.
Saat The Le Kong dan Pin Si Bu sedang asyik bicara, juru kabar yang pergi ke kota raja The telah kembali. Orang itu memberi kabar.
"Benar Tay Ciok telah meninggal dunia. Sekarang Siok Ciam yang menjadi Siang Tay-hu (Perdana Mentri) di sana." kata si pelapor.
"Siapa Siok Ciam itu?" tanya Pin Si Bu.
"Dia seorang yang baik dan hanya pandai mengurus negara, tetapi bukan seorang panglima perang yang pandai," sahut The Le Kong sambil tertawa girang.
Pin Si Bu mengucapkan selamat kepada The Le Kong.
"Kalau begitu teguhlah kedudukan Kun-houw!" kata Pin Si Bu.
__ADS_1
"Jika bisa jadi raja lagi," kata The Le Kong, "seumur hidup aku tidak akan melupakan budi negeri Cee!"
Pin Si Bu dan The Le Kong mengatur siasat yang akan mereka jalankan.
Malamnya The Le Kong memimpin tentaranya menyerang kota Tay-leng.
Penjaga kota Tay-leng bernama Pok He, dia kerahkan pasukannya untuk menghadapi serangan tentara The Le Kong. Tidak lama terjadilah peperangan sangat hebat. Saat kedua belah pihak sedang asyik bertempur, tidak diduga pasukan Pin Si Bu membokong dari belakang. Maka jatuhlah kota Tay-leng ke tangan pasukan Cee, sehingga kota jatuh ke tangan Pin Si Bu.
Mengetahui kota yang dijaganya telah direbut musuh, Jenderal Pok He insyaf tidak akan mampu melawan lagi. Dia turun dari kereta perangnya dan menyerah. Tetapi The Le Kong yang sakit hati kepadanya, tidak mau terima. Karena selama 17 tahun Pok He selalu berhasil mengalahkan The Le Kong. The Le Kong menyuruh menangkap dan menghukum mati Pok He.
"Mengapa Tuanku hendak membunuhku?" teriak Pok He. "Apakah Tuanku tidak ingin merebut Ibukota The?"
"Orang durhaka! Untuk apa kau dibiarkan hidup?" sentak Le Kong.
"Jika Tuanku mengampuni hamba, maka hamba akan memenggal kepala Pangeran Gi," kata Pok He sambil meratap.
"Kau punya kepandaian apa bisa membunuh Cu Gi!" bentak The Le Kong. "Aku tahu kau hendak membohongiku, kau mau kabur bukan?"
"Sekarang urusan negara ada di tangan Siok Ciam, hamba sahabat baikmya. Jika Tuanku mengampuni hamba, akan hamba temui Siok Ciam supaya bergabung. Hamba jamin Pangeran Gi bisa hamba bawa kemari!"
"O, maling tua, dorna pendusta! Bagus benar akalmu. Kau mau menipuku! Jika aku bebaskan kau, maka kau bersama Siok Ciam akan menentangku!" kata The Le Kong.
"Aku bisa mencegah Pok He menipu Tuanku," kata Pin Si Bu. "Aku dengar sanak famili Pok He ada di kota Tay-leng, Anda tahan mereka di kota Lek-shia sebagai jaminan."
"Ya, Anda benar," kata Pok He, "jika hamba ingkar janji, Tuanku boleh membunuh sanak famili hamba."
"Nah, kalau begitu baiklah! Aku setuju begitu," sahut The Le Kong. "Jika ingkar sanak familimu akan kuhabisi!"
__ADS_1