
"Jika di depan kita ada sungai yang menghadang," kata Koan Tiong, "sebaiknya kita tahan tentara kita di sini! Kita atur penjagaan dengan baik. Pertama-tama kita kirim orang untuk menyelidiki keadaan sungai itu. Harus kita ketahui berapa dalam dan ceteknya air sungai itu. Kemudian baru tentara kita dimajukan."
Cee Hoan Kong setuju pada pendapat Koan Tiong. Kemudian dia perintahkan seorang mata-mata pergi mencari tahu keadaan sungai dan posisi musuh mereka saat itu.
Tidak berapa lama mata-mata yang dikirim tersebut sudah kembali lagi melapor kepada Cee Hoan Kong.
"Turun dari gunung sekitar lima li jauhnya, di situ menghadang sebuah sungai bernama Pi-ji. Sungai itu luas dan dalam sekali. Sekalipun di musim Tang (dingin/salju) air sungai itu tidak bisa beku. Tadinya di tempat itu disediakan rakit-rakit untuk orang menyeberangi sungai tersebut, tetapi sekarang rakit-rakit itu sudah diangkut oleh raja Kho-tiok ke seberang sana! Maksudnya supaya tentara Cee tidak bisa menyeberangi sungai tersebut. Semakin kita ke sebelah kanan, air sungai itu semakin dalam. Tetapi jika terus berjalan ke sebelah kiri kira-kira tiga li jauhnya, sekalipun sungainya lebih luas, tapi airnya sangat dangkal. Jika orang turun dan berjalan kaki di air tersebut, dalamnya hanya sebatas lutut saja."
"Hai, kalau begitu terbukti alamat malaikat Ji-ji itu benar!" kata Cee Hoan Kong girang.
"Syukur, sungguh syukur sekali!" kata Yan Cong Kong. "Sepengetahuanku, orang belum pernah mengetahui ada bagian sungai Pi-ji yang bisa diseberangi dengan cara dituruni atau ngerobok?"
"Dari sini ke Kota-raja Kho-tiok masih berapa jauh?" tanya Cee Hoan Kong.
__ADS_1
"Lewat sungai Pi-ji kita berjalan lagi menuju ke arah timur," sahut Raja Yan, "pertama kita akan bertemu gunung Toan-cu-san, ke-dua gunung Ma-pian-san, ke-tiga gunung Song-cu-san. Kita terus berjalan melewati tiga gunung tersebut, sesudah 30 li jauhnya, kita akan menemukan tiga buah kuburan raja Kho-tiok di zaman Kerajaan Siang. Sesudah berjalan lagi 20 li maka sampailah kita di kota Bu-te-shia, yaitu ibukota negeri Kho-tiok."
Dengan tidak menunggu sampai Raja Cee Hoan Kong bicara, Houw Ji Pan minta izin akan bergerak bersama angkatan perangnya lebih dahulu.
"Tunggu dulu, sekarang pasukan perang kita harus diatur lagi," kata Koan Tiong. "Jika tentaramu saja yang maju sendiri, bagaimana jika dihadang oleh musuh. Kau akan terkepung sendiri. Maka pasukan harus dipecah dan bergerak dari dua jurusan!"
Raja Cee Hoan Kong dan panglima yang lain pun sepakat pada pendapat Koan Tiong tersebut.
Koan Tiong segera memerintahkan tentaranya menebang bambu untuk dibuat rakit atau getek. Karena pekerjaan itu dikerjakan oleh orang banyak, ditambah lagi Cee Hoan Kong sangat baik pada semua tentaranya. Maka dengan gembira mereka mengerjakan rakit itu dengan cepat sekali. Dalam waktu singkat sudah ratusan rakit selesai.
Koan Tiong dan Lian Ci ikut bersama Yan Cong Kong memimpin barisan belakang. Sesudah ada di seberang pasukan itu berkumpul di gunung Toan-cu-san.
Raja negeri Kho-tiok, Tap Li Oh tinggal di kota Bu-te-shia. Karena sudah lama tidak mendapat kabar tentang pasukan Cee yang ada di seberang sungai, dia memerintahkan mata-matanya untuk menyelidik di sungai Pi-ji. Ketika mata-matanya itu sampai di tepi sungai, saat itu mata-mata itu melihat seluruh sungai sudah penuh oleh rakit-rakit bambu tentara Cee. Di atas rakit terdapat kereta perang, kuda-kuda dan tentara Cee yang siap menyeberangi sungai Pi-ji. Melihat hal itu buru-buru mata-mata itu pulang dan melapor pada Tap Li Oh.
__ADS_1
Mendengar laporan dari mata-matanya, bukan main kagetnya Tap Li Oh. Segera dia perintahkan Jenderal Hong Hoa mengepalai 5000 tentara untuk menghadang majunya tentara musuh.
Raja Bit Louw kaget dan merasa ngeri, tetapi karena malu, dia diam dan mencoba menabahkan hatinya.
"Biar aku dan Sok Moai yang akan memimpin pasukan depan!" kata Bit Louw.
"Tidak usah!" kata Jenderal Hong Hoa. "Orang yang sudah menjadi pecundang tidak ada gunanya diajak maju lagi ke medan perang!"
Raja Bit Louw dan Jenderal Sok Moai mendongkol sekali, tetapi tidak bisa bicara apa-apa.
Dengan sombong Jenderal Hong Hoa naik kuda berangkat ke medan perang.
Melihat jenderalnya yang gagah berani itu, Tap Li Oh senang sekali. Dia yakin panglima perangnya itu akan mampu mengusir musuh mundur dari negerinya.
__ADS_1
Tetapi dia merasa kasihan kepada Bit Louw yang duduk bengong saja seperti patung. Lalu dia hibur Bit Louw dengan manis.
"Gunung Toan-cu-san yang letaknya di bagian barat-daya, merupakan jalan yang sangat penting. Aku harap kau bersama Sok Moai mau menjaga tempat itu. Aku akan menyusul belakangan!" kata Tap Li Oh.