LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 31


__ADS_3

Mendengar keterangan dari Yu Si mereka sangat girang, sesudah membenahi barang hadiah dari Hong-houw, mereka langsung ikut dengan Yu Si. Mereka bersama-sama pergi ke rumah Tong Koan Ngo.


Begitu mereka sampai di rumah Tong Koan Ngo, tuan rumah menyambut kedatangan mereka dengan senang hati. Sesudah mereka dipersilakan duduk, tuan rumah bertanya.


"Apa maksud kedatangan kalian semua?" tanya Tong Koan Ngo.


Pertama-tama Yu Si menyerahkan barang bingkisan dari Permaisuri Li Ki kepada tuan rumah, baru kemudian dia menceritakan bagaimana rencana Permaisuri Li Ki yang sebenarnya. Dua orang menteri korup itu membantu menjelaskan keterangan Yu Si pada Tong Koan Ngo.


Seperti kedua menteri korup itu Tong Koan Ngo memang orangnya tamak atau serakah. Melihat barang bingkisan yang berharga mahal itu, matanya jadi berkunang-kunang dan silau. Dia pikir jika usaha mereka bisa berhasil, mereka bakal bisa lebih berpengaruh. Dengan gembira dia lalu berjanji siap melaksanakan tugas tersebut.


Sesudah mengatur siasat yang akan dijalankan, dua menteri pengkhianat dan Yu Si pulang.


Esok harinya......


Ketika Raja Chin Hian Kong sedang mengadakan sidang dengan para pembesar di istananya, dua orang menteri yang diberi gelar Ji Ngo (Dua Ngo) bangkit dari tempat duduknya dan mulai bicara.


"Kota Kiok-ah, sebuah kota yang telah ditinggalkan oleh Raja kita almarhum. " kata menteri korup itu.

__ADS_1


"Di tempat itu telah dibangun kelenteng Raja almarhum. Sedang tanah Po dan Kut ada di dekat tempat tinggal bangsa Jiong dan Tek. Di tempat itu batas negara kita. Kedudukan tiga tempat itu sangat penting, maka harus ditempatkan orang yang paling bisa dipercaya mengawasinya. Jika di Kiok-ah tidak ditempatkan seorang pembesar, maka rakyat di sana merasa tidak tenteram. Jangan lupa bangsa Jiong dan Tek sewaktu-waktu akan datang mengganggu penduduk."


"Siapa orangnya yang paling pantas untuk bertugas di sana?" tanya Raja Chin Hian Kong.


"Menurut hamba Tuanku bisa memerintahkan Putera Mahkota Sin Seng menjadi pejabat di Kiok-ah, sedang Pangeran Tiong Ji dan Pangeran Ie Gouw menjadi pembesar di Po dan Kut. Dengan demikian negeri Chin akan tetap aman sentausa." jawab menteri korup itu.


"Ucapanmu benar sekali," kata Raja Chin Hian Kong. "Tetapi ingat Sin Seng, Putera Mahkota. Apa pantas dia tinggal jauh dari Ibuota negara?"


"Putera Mahkota terhitung Wakil Raja. Sedang Kiok-ah terhitung kota besar yang ke dua setelah Ibukota Kerajaan. Jika bukan Putera Mahkota Sin Seng yang tinggal di sana, jelas tidak pantas," kata Tong Koan Ngo ikut mempengaruhi raja.


"Baiklah, tempatkan Putera Mahkota Sin Seng di Kiok-ah agar diurus olehnya. Tetapi Po dan Kut tanahnya gersang. Bagaimana aku bisa memerintahkan Tiong Ji dan Ie Gouw pergi ke sana menjaganya?" kata Chin Hian Kong.


"Bagus," kata dua rekan Tong Koan Ngo. "Karena ini negeri Chin akan mempunyai dua kota yang baru. Dengan tempat-temapt itu dijaga oleh orang terpercaya, maka negara Chin akan bertambah kuat dan kokoh."


Raja Chin Hian Kong bisa diakali oleh dua menteri dorna tersebut, karena mereka pun dibanu oleh Tong Koan Ngo. Raja malah girang sekali, sehingga rencana busuk menteri-menterinya dia anggap suatu keberuntungan untuk masa depan kerajaannya.


Raja Chin Hian Kong memerintahkan Tio Siok untuk segera meninggikan kota Kiok-ah dan juga memperluas daerahnya; kota tersebut kemudian diberi nama kota Sin-shia (Kota Baru). Sedang Su Kui diperintahkan membangun kota di tanah Po dan Kut.

__ADS_1


Di antara orang-orang yang menerima perintah itu, Su Kui tahu benar apa yang sedang terjadi. Dia tahu keinginan Permaisuri Li Ki yang hendak merebut posisi Sin Seng untuk puteranya. Maka dengan sengaja dia membuat kota itu sembarangan saja.


Ketika ada orang yang bertanya kepadanya dia acuh tak acuh.


"Mengapa dua kota tersebut tidak dibangun dengan kuat dan bagus?" tanya orang.


Sambil tertawa Su Kiu menjawab.


"Beberapa tahun lagi pun kedua tempat ini akan menjadi daerah musuh, untuk apa dibangun terlalu kuat?" kata Su Kui.


Sesudah Sin Seng, Tiong Ji dan Ie Gouw tinggal di tempat yang jauh, di istana hanya tinggal Pangeran He Ce dan Tok Cu. Sejak saat itu kelakuan Li Ki jadi semakin angkuh.


Waktu itu keadaan negeri Chin sedang kokoh-kokohnya, negeri ini memiliki menteri yang pandai dan tentaranya sangat kuat dan gagah.


Pada suatu hari......


Raja Chin Hian Kong yang serakah telah mengajak Putera Mahkota Sin Seng, Tat-hu Tio Siok dan Pit Ban, mereka mengerahkan pasukan menyerang ke negeri Keng, negeri Hok dan negeri Gwi. Dalam peperangan itu Chin Hian Kong beruntung bisa mengalahkan ketiga negara tersebut.

__ADS_1


Dalam peperangan tersebut Sin Seng berpahala besar, sehingga Permaisuri Li Ki jadi semakin khawatir kepadanya. Maka itu dia jadi semakin giat mencari akal untuk mencelakakan Sin Seng.


**


__ADS_2