
Kut Goan tersenyum, dia berkata: "Kehebatan Tuanku hingga bisa menjadi pemimpin Perserikatan Raja Muda di Tiongkok, semua karena Tuanku bernaung di bawah Kaisar Ciu! Memang Tuanku sendiri bijaksana, sehingga raja mana yang berani membantah? Tetapi sebaliknya, jika Tuanku hanya mengandalkan tentara Tuanku dan kegagahan sendiri.....Ambil contoh negeri Couw kami. Sekalipun terhitung negara kecil, dia punya Hong-shia yang tinggi, dan sungai Han-sui yang airnya dalam. Sekalipun Tuanku serang habis-habisan belum tentu bisa direbut!"
Mendengar sindiran itu Raja Cee Hoan Kong merasa malu, sehingga mukanya berubah merah, dia berkata sambil tertawa.
"Ha, ha, ha! Ternyata Tay-hu seorang menteri Couw yang berbudi luhur!Aku ingin mengikat tali persahabatan dengan negaramu. Bagaimana pendapat Tay-hu?" kata Raja Cee.
"Atas budi Tuanku ingin membagi rejeki pada negeri kami maka sepatutnya Raja kami berserikat dengan Tuanku!" kata Kut Goan. "Mana berani Raja kami mengasingkan diri, tentu dia akan senang sekali berserikat dengan Tuanku!"
Raja Cee Hoan Kong merasa girang sekali, malam itu dia minta Kut Goan bermalam di perkemahannya. Kemudian diadakan pesta besar.
Esok harinya.....
Di Siao-leng telah didirikan sebuah panggung, di atas panggung telah berkumpul semua raja-raja dan menteri-menteri besar. Di situ segera diadakan perjanjian, mulai dari saat itu sampai di kemudian hari semua negeri-negeri tidak boleh bertikai satu sama lain.
Sesudah selesai melaksanakan upacara, Kut Goan menghaturkan terima kasih kepada semua raja-raja.
Sementara itu Koan Tiong mengadakan pembicaraan dengan Kut Goan, dia minta panglima negeri The, bernama Tam Pek, supaya dikembalikan, sedang Kut Goan juga mengajukan permintaan supaya Raja Coa dihapus dosanya. Begitulah kedua pihak sepakat, masing-masing menerima baik perjanjian tersebut.
Kut Goan pamit pulang ke kotanya, akan memberi tahu pada Raja Couw Seng Ong bagaimana kesudahan misinya itu.
Koan Tiong mengeluarkan perintah akan menarik seluruh angkatan perang gabungan akan kembali ke negaranya masing-masing.
__ADS_1
Ketika Raja Couw sudah mengetahui angkatan perang semua Raja-raja Muda sudah ditarik mundur, pikiranya berubah. Dia mau membatalkan pengiriman rumput Mao ke Kerajaan Ciu. Kut Goan kaget lalu membujuk Raja Couw agar tidak ingkar janji.
Sesudah dibujuk oleh Kut Goan dan Chu Bun baru Raja Couw menurut. Dia perintahkan Kut Goan mengantarkan upeti itu ke Kerajaan Ciu.
Baginda Ciu Hui Ong sangat girang ketika menerima upeti rumput Mao, sekalipun harga barang itu tidak seberapa, tetapi dia senang. Terutama selama ini Raja Couw telah membangkang, sekarng dia taat mengirim rumput Mao.
Kaisar Ciu memuji Kut Goan dengan kata-kata manis. Dia juga berpesan pada Kut Goan supaya menyampaikan pesannnya, agar Raja Couw mengamankan daerah Selatan dan jangan mengganaggu daerah Tiong-goan.
"Hamba akan memperhatikan pesan ini, hamba berjanji!" kata Kut Goan.
Sesudah itu Kut Goan pamit dan pulang ke negaranya.
Baru saja Kut Goan mengundurkan diri, datang Sek Peng dari negeri Cee. Dia mengabarkan bahwa Raja Cee sudah berhasil menaklukan negeri Couw di Selatan.
Ketika Sek Peng memohon pada Baginda ingin bertemu dengan Putera Mahkota The, tampak Kaisar Ciu kurang senang. Tetapi Kaisar Ciu segera memerintahkan Pangeran Tai bersama Putera Mahkota The keluar menemui Sek Peng.
Melihat sikap Kaisar Ciu, Sek Peng menduga ada apa-apa di dalam keluarga kaisar ini. Diam-diam dia mencoba menyelidikinya.
Sepulang Sek Peng ke negeri Cee dia melapor pada Raja Cee. Tetapi di akhir laporannya dia menyampaikan sesuatu pada Raja Cee.
"Hamba lihat di dalam istana Kaisar Ciu telah terjadi sesuatu. Pasti akan timbul huru-hara," kata Sek Peng.
__ADS_1
"O, kau bilang bakal terjadi huru-hara?!" kata Raja Cee Hoan Kong terperanjat, "bagaimana bisa begitu?"
"Putera sulung Baginda Ciu Hui Ong bernama The, dilahirkan oleh almarhum Permaisuri Kiang Si. Sudah diangkat menjadi Putera Mahkota," kata Sek Peng. "Tetapi sejak Kiang Si meninggal, Permaisuri ke-dua Tan Kui menjadi sangat dicintai oleh Baginda, sehingga dia diangkat menjadi Hong-houw (Permaisuri Utama). Beliau juga berputera, namanya Tai, lantaran sang ibu dicintai oleh Kaisar Ciu, anaknya pun jadi lebih disayang. Malah Baginda punya niat hendak menurunkan Putera Mahkota The dan mengangkat Pangeran Tai menjadi Putera Mahkota. Sekarang Tuanku menjadi pemimpin perserikatan Raja-raja Muda, jika di Kerajaan Ciu terjadi huru-hara, pasti Tuanku akan jadi pusing. Maka Tuanku harus buru-buru berupaya untuk mencegah kekacauan itu!"
Raja Cee Hoan Kong memanggil Koan Tiong untuk diajak berunding.
Ketika Koan Tiong sudah mendengar cerita keadaan di Kerajaan Ciu, ia mulai bicara.
"Hamba punya siasat untuk menentramkan Kerajaan Ciu," kata Koan Tiong.
"Siasat bagaimana, Tiong-hu?" tanya Cee Hoan Kong dengan girang.
"Jika Tay-cu (Putera Mahkota) sampai terancam bahaya, pasti karena familinya terlalu sedikit." kata Koan Tiong. "Sekarang Tuanku buat surat untuk Kaisar, mohon agar Putera Mahkota diizinkan menemui semua Raja-raja Muda. Dengan demikian Putera Mahkota jadi diakui sah sebagai calon Kaisar.
Jika Kaisar Ciu hendak menurunkan dan menggantinya dengan putera ke-dua, pasti semua Raja Muda akan menolak. Dengan demikian rencana Kaisar akan gagal total."
Raja Cee Hoan Kong setuju benar pada saran Koan Tiong tersebut. Segera Raja Cee mengutus Sek Peng menyampaikan permohonan pada Kaisar Ciu, agar Putera Mahkota di musim Hee datang ke Siu-ci (tanah negeri We). Karena Raja Muda ingin bertemu dengan Putera Mahkota.
Kepada semua Raja Muda, Raja Cee juga berpesan agar nanti datang ke pertemuan tersebut.
Saat Sek Peng datang bertemu Kaisar Ciu dan menyampaikan keinginan para Raja Muda untuk bertemu dengan Putera Mahkota The. Hal itu disampaikan oleh Raja Cee Hoan Kong. Kaisar Ciu Hui Ong sebenarnya tidak setuju. Dia tidak mau mengizinkan Putera Mahkota menemui Raja-raja Muda. Tetapi karena Kaisar Ciu takut menghadapi Perserikatan Raja Muda yang dipimpin Raja Cee, terpaksa mengabulkannya.
__ADS_1
***