LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 45


__ADS_3

Akh, dasar dia memang sedang sial!" sahut Hong Hoa.


Dia pura-pura berduka.


"Kenapa dia?" tanya Tap Li Oh.


"Ketika ada di gunung Ma-pian-san sedang melawan musuh, dia kalah tentaranya menderita rusak berat, dia dan panglimanya meninggal di medan perang." kata Tap Li Oh.


"O, kasihan!" kata Tap Li Oh.


"Tetapi, tuanku jangan berduka. Dengan pura-pura menyarah aku sudah berhasil menjebak tentara Cee bersama rajanya ke padang pasir! Hamba juga berhasil menawan panglima mereka bernama Kho Hek." kata Hong Hoa.


Mendengar laporan itu Tap Li Oh girang juga. Dia perintahkan tawanan itu dibawa menghadap kepadanya.


Tidak berapa lama dengan dikawal oleh beberapa prajurit Kho Hek dibawa menghadap. Kho Hek berdiri dengan gagah tidak mau berlutut di hadapan raja Kho-riong tersebut. Melihat sikap Kho Hek yang gagah, Tap Li Oh suka padanya.


"Jenderal, jika kau suka aku mau memakaimu!" kata Tap Li Oh.


Kho Hek tertawa terbahak-bahak.


"Hm! Kau jangan mimpi, aku tidak suka mengabdi padamu!" kata Kho Hek dengan gagah.


Tap Li Oh kaget. Dia awasi jenderal itu.

__ADS_1


"Kau jahanam terkutuk!" kata Kho Hek sambil menunjuk ke arah Hong Hoa. "Kau curang menipu Rajaku dan aku dan kau bawa aku kemari. Tetapi ingat tidak lama lagi pasukan Rajaku akan tiba. Kalian akan dibinasakan semua!"


Jenderal Hong Hoa gusar sekali, dia melompat dan menghunus pedangnya. Dia tebas batang leher Kho Hek hingga tewas.


Sesudah itu Tap Li Oh menghimpun angkatan perangnya akan menyerang ke kota Bu-te-shia. Ketika Yan Cong Kong mendengar laporan dan melihat sendiri tentara bangsa Kho-tiok datang dan mengepung kota, dia terkejut. Dia juga tidak mengetahui ke mana Raja Cee Hoan Kong pergi. Dia heran bagaimana tentara musuh bisa datang begitu mendadak. Ditambah lagi tentara yang ada di bawah perintahnya sangat sedikit. Dia yakin tidak akan sanggup melawan musuh. Serangan musuh malah sudah dimulai. Terpaksa dia memerintahkan tentaranya menyalakan api. Kemudian menerjang keluar kota. Mereka langsung kabur ke gunung Toan-cu-san.


Kejadian tersebut terjadi pada saat pasukan Raja Cee Hoan Kong baru saja keluar dari padang pasir See-cek. Sesudah pasukannya segar kembali Raja Cee Hoan Kong memerintahkan tentaranya segera kembali ke Bu-te-shia.


Di sepanjang jalan kelihatan rakyat yang panik meninggalkan kota Bu-te-shia.


Melihat keadaan demikian Koan Tiong jadi curiga, dia perintahkan anak buahnya bertanya pada rakyat yang panik itu.


Beberapa di antaranya memberi keterangan.


"Kami dengar tentara Kho-tiok sudah berhasil mengusir tentara negeri Yan. Kami adalah rakyat kota Bu-te-shia yang bersembunyi atas perintah Raja Sekarang kami.akan kembali ke kota Bu-te-shia!" kata orang itu.


"Jangan khawatir, Tuanku," kata Koan Tiong pada Cee Hoan Kong, "aku sudah menyiapkan sebuah tipu-muslihat untuk menghancurkan musuh."


"Lakukanlah," kata Cee Hoan Kong.


Koan Tiong memerintahkan Houw Ji Pan membawa tentaranya. Mereka diperintahkan supaya menyamar menjadi rakyat negeri Kho-tiok. Kemudian mereka membaur bercampur dengan rakyat Kho-tiok dan masuk ke dalam kota. Mereka mendapat perintah khusus dari Koan Tiong pada tengah malam mereka harus menebitkan kebakaran besar untuk mengacaukan musuh.


Sesudah Houw Ji Pan berangkat, Koan Tiong memerintahkan pada Si Tiao menyerang pintu kota selatan, Lian Ci melabrak pintu kota barat, Pangeran Kai Hong menyerang pintu kota timur. Hanya pintu kota utara yang tidak diganggu, karena memang sengaja agar musuh kabur dari sana.

__ADS_1


Tetapi Koan Tiong telah memerintahkan Ong-cu Seng Hu dan Sek Peng untuk menyembunyikan tentara mereka di luar pintu kota tersebut. Mereka harus menunggu sampai Tap Li Oh keluar kota, baru mereka mencegat dan menangkapnya.


Begitu Koan Tiong selesai mengatur anak buahnya, dia dan Raja Cee Hoan Kong menarik mundur tentaranya dan mendirikan perkemahan jauhnya dari Bu-te-shia sekitar 10 li.


Pada saat pihak Cee sedang mengatur siasat, waktu itu Tap Li Oh baru memadamkan kebakaran di dalam kota. Sesudah itu dia memerintahkan anak buahnya memanggil rakyat negerinya supaya kembali ke kota Bu-te-shia. Dia perintahkan Hong Hoa mengumpulkan angkatan perang, bersiap untuk bertempur melawan musuh.


Sorenya tiba-tiba dari empat penjuru kota terdengar suara letusan meriam. Segera dari juru kabar datang memberi laporan pada raja Kho-tiok.


"Tentara Cee sudah sampai dengan berbareng mereka telah mengepung pintu kota." kata pelapor tersebut.


Mendengar laporan itu bukan main kagetnya Hong Hoa.


"Sungguh aneh pasukan Cee bisa datang begitu cepat!" kata Hong Hoa.


Buru-buru dia pimpin tentara dan rakyat negeri naik ke atas kota untuk menjaga dengan ketat benteng kota.


Pada tengah malam, mendadak di beberapa tempat yang letaknya di dalam kota terbit kebakaran.


Jenderal Hong Hoa menjadi semakin repot, dia perintahkan anak buahnya mencari keterangan siapa yang sudah membakar kota.


Waktu itu Houw Ji Pan bersama sepuluh orang pengikutnya sudah sampai di depan pintu kota selatan. Mereka merusak pintu kota. Begitu melihat pintu kota terbuka, Si Tiao memberi tanda pada tentaranya untuk menerjang masuk ke dalam kota.


Melihat pintu kota telah rusak Jenderal Hong Hoa merasa tidak punya harapan untuk bisa mempertahankan kota lagi.

__ADS_1


Buru-buru dia angkat Tap Li Oh dan dinaikkan ke atas kudanya, dengan tergesa-gesa mencari jalan untuk menyingkirkan diri. Dia mendapat kabar di pintu kota utara tidak dijaga oleh tentara musuh, mereka lari ke pintu utara, membuka pintu kota dan mengaburkan kuda sekencang-kencangnya.


Tetapi sebelum bisa kabur jauh, tiba-tiba di depan mereka kelihatan banyak sekali obor. Kemudian disusul oleh suara genderang dan sorak-sorai tentara musuh. Mereka kaget setengah mati seolah nayawanya melayang.


__ADS_2