LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 18


__ADS_3

Sesudah surat perjanjian itu dibaca habis, semua Raja Muda mengangkat tangan memberi hormat. Kemudian mereka menerima surat perjanjian itu sebagai pegangan mereka.


Tiba-tiba sesudah semua Raja Muda menjalankan upacara itu, Koan Tiong naik ke atas panggung,


"Louw, We, The, dan Co telah membantah titah Baginda Kaisar tidak mau datang ke pertemuan ini; hal ini tidak boleh dibiarkan. Mereka harus diajar adat." Kata Koan Tiong.


"Aku menyesal di tempatku kereta perang sangat sedikit, " kata Raja Cee Hoan Kong. "Aku berharap para raja mau bekerja sama denganku."


Raja dari negeri Tan, Coa dan Ti berjanji akan membantu. Hanya Raja Song yang tercengang dan diam saja tidak menyahut.


Waktu sudah sore, persidangan pun segera ditutup. Masing-masing Raja Muda pulang ke gedung tempat mereka bermalam.


Raja Song Hoan Kong tidak setuju pada niat Raja Cee Hoan Kong. Pada malam itu dia mengadakan pertemuan rahasia dengan Tay-hu Tay Siok Pi.


"Raja Cee mengangkat dirinya menjadi yang dipertuan," kata Raja Song Hoan Kong, "baru saja dia diangkat, dia sudah minta kita mengerahkan angkatan perang kita untuk membantu dia! Jika begini caranyta aku takut tentara negeri kita akan kelelahan untuk menjalankan perintahnya."


"Raja-raja Muda yang berserikat dibanding dengan yang menetang, sama banyaknya. Aku berpendapat Kerajaan Cee belum kuat!" kata Tay Siok Pi. "Tetapi jika bisa mengalahkan Raja Louw dan The sampai takluk, ia akan berhasillah menjadi jago di dunia. Jika negeri Cee menjadi jagoan, itu bencana bagi negeri Song. Di antara ke-empat negeri yang datang berserikat, hanya negeri Song yang paling besar. Jika Song tidak ikut mengirim tentara, tiga negeri yang lain pun ikut ambruk. Apalagi kedatangan kita ini, cuma hendak mendapat izin Kaisar. Sekarang aku sudah punya hak berdiri dalam Dewan Kerajaan Ciu. Apa yang mau ditunggu lagi? Paling baik malam ini juga diam-diam kita pulang saja."


Raja Song setuju pada saran Tay Siok Pi tersebut. Malam itu juga mereka naik kereta perang berangkat pulang.


**


Esok harinya......

__ADS_1


Setelah Raja Cee Hoan Kong mendapat khabar Raja Song sudah meninggalkan persidangan pulang ke negaranya. Raja Cee gusar sekali. Ketika itu juga mau menyuruh Tiong Sun Ciu mengejar Raja Song.


"Sudah, biarkan saja dia pulang," kata Koan Tiong.


Koan Tiong mencegah kehendak Raja Cee.


"Mereka tidak perlu dikejar, itu bukan kewajiban kita. Kita harus minta tentara dulu kepada Kaisar Ciu untuk menghajar mereka! Dengan demikian baru benar aturannya. Sebaiknya masalah ini kita tunda dulu, karena ada urusan yang lebih penting!" kata Koan Tiong.


"Urusan apa itu? Sehingga Tiong-hu katakan lebih penting dari masalah ini?" tanya Raja Cee Hoan Kong heran.


"Negeri Song letaknya cukup jauh dibanding dengan negeri Louw. Ditambah lagi negeri Louw masih keluarga Kerajaan Ciu," kata Koan Tiong. "Lebih baik kutaklukan dulu negeri Louw. Mengapa harus negeri Song dulu?"


"Jika akan menyerang ke negeri Louw kita harus mengambil jalan mana?" tanya Raja Cee.


"Di bagian Timur-laut sungai Cee ada negeri Sui. Tanah itu jajahan negeri Louw. Negrinya kecil serta lemah. Rajanya baru berkuasa empat turunan. Jika dengan pasukan besar kita menyerang ke negeri Sui, dalam sekejap negeri itu pasti musnah. Jika negeri Sui telah jatuh ke tangan kita, negeri Louw akan jadi keder. Kemudian baru kita kirim utusan untuk menegor Raja Louw. Tanyakan mengapa dia tidak mau datang ke pertemuan yang kita adakan ini. Perintahkan orang kita memberi khabar kepada Louw Hu-jin. Karena Louw Hu-jin adalah puteri Raja Cee almarhum. Pasti dia menginginkan puteranya tetap hidup kekal bersama keponakan luarnya. Aku yakin Louw Hujin akan membujuk Raja Louw supaya tidak berperang melawan negeri Cee. Dengan demikian dari dalam Raja Louw akan dipaksa oleh pemintaan ibunya, dan dari luar terancam oleh serangan tentara musuh. Boleh dipastikan dia terpaksa akan minta berdamai. Jika Raja Louw sudah minta berdamai, kita luluskan permohonannya. Sesudah membereskan negeri Louw, baru kita pindahkan tentara kita menyerang ke negeri Song. Minta pada Sri Baginda Ciu supaya mengirim panglimanya untuk membantu kita. Dengan demikian untuk menjatuhkan negeri Song tidak ubahnya seperti membelah bambu gampangnya."


Raja Cee segera mengerahkan tentaranya berangkat ke kota Sui-shia.


Benar saja dengan sekali gebrak Raja Cee Hoan Kong sudah berhasil mendapatkan kota Sui-shia. Dia tempatkan tentaranya di pinggir sungai Cee-sui.


Mendengar khabar kota Sui-shai telah jatuh ke tangan Raja Cee, benar saja Raja Louw jadi jerih. Dia kumpulkan sekalian menterinya untuk diajak berunding menghadapi serangan musuh.


"Tentara Cee sudah dua kali datang ke negeri kita," kata Pangeran Keng Hu. "Tetapi mereka selalu bisa kita pukul mundur. Kali ini mereka berani datang lagi, biar hamba yang memimpin pasukan perang untuk melabraknya!"

__ADS_1


"O, tidak boleh! . . . tidak boleh!" seru seorang di antara kumpulan para menteri.


Raja Louw Cong Kong segera mengawasi orang yang berseru itu. Dia adalah Si Pek.


"Menteriku, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?" tanya Raja Louw.


"Ada tiga hal yang menjadi penghalang, Tuanku," sahut Si Pek. "Seperti dulu hamba sudah bilang, Koan Tiong kepandaiannya luar biasa. Sekarang dia memegang pemerintahan di negeri Cee. Maka jelas angkatan perang Cee kuat sekali. Jauh sekali bedanya dengan pasukan Cee yang dulu. Ini penghalang pertama.


Ketika mengadakan pertemuan di Pak-heng, dia menggunakan alasan telah menerima perintah Kaisar Ciu; dengan tujuan untuk memuliakan "Dewan Kerajaan Ciu", karena kita tidak ikut hadir dalam pertemuan itu, sekarang dia mengatakan kita telah melanggar titah Baginda. Segala kejelekan dijatuhkan kepada kita. Ini penghalang yang ke-dua. Tatkala kita membunuh Pangeran Kiu, Tuanku telah berjasa kepadanya, ketika dia menikahi Puteri Ong-hi, Tuanku juga berjasa kepada Raja Cee. Sekarang dia melupakan semua jasa Tuanku itu! Dia sengaja ingin bermusuhan dengan kita. Ini penghalang yang ke-tiga! Tegasnya sekarang demi kebaikan kita, sebaiknya Tuanku minta berdamai saja dengannya. Dengan demikian kita tidak perlu berperang dan tentara Cee pasti akan segera ditarik mundur."


"Itu benar, hamba pun berpendapat begitu," kata Co We.


Co We sependapat dengan Si Pek.


Pada saat sedang berunding, tiba-tiba datang pelapor.


"Tuanku Raja Cee mengirim surat untuk Tuanku," kata si pelapor..


Raja Louw menyambut surat itu dan membuka sampulnya. Bunyi surat itu kira-kira begini:


"Dengan hormat,


Aku persembahkan surat ini ke hadapan Louw Cong-kong yang mulia.

__ADS_1


Sudah lama kita berdua bersama-sama menjungjung Dewan Kerajaan Ciu dengan taat, kita seperti saudara yang saling mencintai, apalagi memang Cee dan Louw berbesan. Tetapi sungguh alu kecewa sekali, ketika diadakan pertemuan di Pak-heng, Kun-houw tidak datang, maka dengan menyesal aku mengambil keberanian mohon bertanya, apa sebabnya? Seandainya Kun-houw punya hati bercabang, terpaksa aku harus menjunjung titah Baginda Kaisar."


Tertanda, Cee Hoan Kong.


__ADS_2