LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 65


__ADS_3

Raja Cee Hoan Kong manggut.


"Baiklah," kata Raja Cee..


Sampai di Kui-kiu, di sana semua raja muda sudah berkumpul, sedang Ciu Kong Khong juga sudah datang.


Waktu itu Raja Song Hoan Kong sudah wafat, Pangeran Chu Hu telah mengalah kepada kakak tirinya, Pangeran Bak I yang akan menjadi Raja Song. Namun Bak I tidak berani menerima kedudukan itu. Maka terpaksa Chu Hu yang menjadi raja dengan gelar Song Siang Kong.


Ketika Song Siang Kong mendapat undangan dari Raja Cee, sebab dia raja yang taat, sekalipun sedang berkabung dia menghadiri pertemuan.


Sesudah mengetahui hal-ikhwal Raja Song Siang Kong, dan dia juga melihat sikapnya. Dia membisiki Raja Cee.


"Raja Song sangat murah hati, dia bersedia mengalah kepada kakak tirinya untuk menjadi raja," kata Koan Tiong. Ini bisa dikatakan dia seorang raja yang budiman. Ditambah lagi, sekalipun sedang berkabung dia hadir dalam pertemuan ini. Jelas dia taat setulusnya pada kita. Soal ahli waris sebaiknya Tuanku titip saja kepadanya."


Raja Cee Hoan Kong manggut menyatakan setuju.


Koan Tiong menemui Raja Song. "Rajaku ingin membicarakan soal penting dengan Tuanku," kata Koan Tiong.


Dengan tidak ayal lagi Raja Song Siang Kong datang di kemah Raja Cee Hoan Kong.


Sesudah satu sama lain melaksanakan adat-istiadat Raja Cee memegang lengan Raja Song. Kemudian Raja Cee menceritakan niatnya. Di akhir pertemuan Raja Cee berpesan.


"Aku harap kau mau mendukung Pangeran Ciao di kemudian hari," kata Raja Cee. "Baik, hamba berjanji akan melaksanakan pesan Tuanku ini," kata Raja Song.


Tibalah saat pertemuan dimulai semua raja dan menteri telah hadir seluruhnya. Mereka tampak agung sekali. Semua Raja Muda menyilakan utusan Kaisar Ciu naik ke atas panggung yang disediakan.Sekalipun Kaisar Ciu tidak hadir, tetapi kursi untuknya telah di sediakan. Semua raja-raja menghadap ke arah sana.


Sesudah melaksanakan upacara adat, semua Raja-raja Muda mengambil tempat duduk mereka menurut kedudukannya masing-masing.


Ciu Kong Khong berdiri dan berkata.


"Kaisar telah bersujud pada almarhum Baginda Bun Ong. Sekarang Sri Baginda memerintahkan aku untuk menyerahkan hadiah pada para Raja Muda!" kata Ciu Kong Khong.


Raja Cee akan turun dari kursinya untuk menghaturkan terima kasihnya, tetapi dicegah oleh Ciu ong Khong. "Tuanku sudah berusia lanjut, Kaisar memberi izin Tuanku tidak perlu menjalankan upacara adat-istiadat," kata Ciu Kong Khong.


Raja Cee mengangguk akan menurut perintah Ciu Kong Khong, tetapi Koan Tiong segera maju dan berkata. "Sekalipun Kaisar sangat murah hati, tetapi sebagai bawahan Raja kami tidak boleh tidak hormat!" kata Koan Tiong.


Raja Cee mengerti apa maksud ucapan Koan Tiong. Dia segera maju.


"Hamba bawahan Kaisar Ciu, mana berani hamba berlaku tidak hormat dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang menteri!" kata Raja Cee.


Sesudah berkata begitu, Raja Cee Hoan Kong turun dari tangga, memberi hormat serta menghaturkan terima kasih. Kemudian baru naik lagi akan menerima barang sembahyang itu.


Sikap Raja Cee membuat kagum seluruh Raja-raja Muda yang lain.

__ADS_1


Sesudah itu Raja Cee Hoan Kong kembali mengingatkan semua raja muda supaya menjunjung tinggi "Dewan Kerajaan Ciu". Kemudian dikeluarkanlah lima pantangan: 1) Dilarang menahan air mata, 2). Dilarang menahan orang yang mau membeli beras, 3) Dilarang sembarangan mengangkat Putra Mahkota, 4). Dilarang mengangkat gundik atau Selir menjadi Permaisuri, 5). Dilarang kaum wanita ikut campur dalam urusan pemerintahan negara.


Jangan kasih orang perempuan campur tangan dalam urusan pemerintah negeri.


Sesudah itu pertemuan ditutup, semua raja muda dan utusan Kaisar mengucapkan selamat berpisah. Mereka lalu kembali ke negaranya masing-masing.


Sekembalinya Raja Cee Hoan Kong ke negaranya, dia menganggap dirinya berjasa besar.Seolah sudah tak ada yang bisa menandinginya lagi, menyatakan dia telah membangun sebuah istana yang megah.


Bahkan saat naik kereta sedang jalan-jalan, dia mengenakan pakaian kebesaran mirip pakaian Kaisar.


Rakyat banyak yang mencela kelakuan Raja Cee ini. Mereka menganggap Raja Cee Hoan Kong sangat keterlaluan.


Sedang Koan Tiong pun membuat loteng tiga tingkat, sangat indah.


Perbuatan Koan Tiong tersebut membuat Pao Siok Gee kurang senang, dia berkunjung ke gedung sahabatnya itu. "Tiong-hu, aku tidak mengerti pada sikapmu?" kata Pao Siok Gee. "Raja kita hidup mewah, kau juga kut-ikutan. Raja kita melanggar aturan kau juga ikut! Apa pantas begitu?" "O, sahabatku, jelas kau tidak mengerti maksudku," sahut Koan Tiong. "Jika aku berbuat begitu, sebenarnya aku hendak menyindir Cu-kong kita."


Pao Siok Gee sekalipun mengangguk, tetapi dia tetap tidak puas dan tidak yakin pada alasan yang disampaikan oleh Koan Tiong tersebut.


***


Dikisahkan perjalanan pulang Ciu Kong Khong. Di tengah perjalanan dia berpapasan dengan Raja Chin Hian Kong yang berniat datang ke pertemuan Raja Cee.


Tatkala Ciu Kong Khong memberi tahu pertemuan sudah selesai, Raja Chin sangat menyesal, dengan membanting kakinya dia berkata, "Sayang sekali negeriku terlalu jauh, sehingga terlambat datang! Ah, mengapa nasibku jelek sekali!"


"Harap Tuanku tidak kecewa," kata Ciu Kong Khong. "Sekarang Raja Cee karena merasa jasanya besar, kelakuannya mulai sombong! Seumpama rembulan sesudah bulat, akan bersinar separuh kembali. Begitu juga air, jika sudah terlalu penuh akan meluap. Tunggu saja meluap dan somplaknya Raja Cee tak akan lama lagi. Jadi jangan Tuanku menyesal."


Kala Kut Goan sampai di perkemahan Cee, dia menemui penjaga.


"Tolong sampaikan pada Rajamu, aku Kut Goan ingin bertemu untuk membicarakan masalah penting," kata Kut Goan.


Penjaga masuk dan melapor.


Mendengar laporan itu Koan Tiong berkata pada Raja Cee Hoan Kong.


"Kedatangan utusan Couw kembali, pasti hendak membicarakan soal perdamaian, harap Tuanku suka berlaku hormat kepadanya." kata Koan Tiong.


Cee Hoan Kong manggut.


"Baik! Izinkan dia masuk!" kata Raja Cee.


Kedatangan Kut Goan disambut dengan hormat oleh Cee Hoan Kong, sesudah itu utusan Couw itu dipersilakan duduk. Baru Raja Cee bertanya.


"Apa maksud kedatangan Sian-seng kemari?" kata Raja Cee.

__ADS_1


"Karena Rajaku tidak mengantar upeti, sehingga Tuanku sudah datang memeranginya. Karena itu Rajaku mengaku salah," kata Kut Goan.


"Jika tidak keberatan, harap Tuanku menarik mundur pasukan perang Tuanku dulu. Pasti Rajaku akan datang untuk minta berdamai."


"Jika Tay-hu bisa membujuk Rajamu melaksanakan aturan dan mau mengantar upeti, itu sudah cukup apa yang diinginkan oleh Kaisae Ciu," kata Raja Cee. "Maka aku pun tidak perlu cari ribut lagi."


"Hamba berjanji akan mengaturnya," kata Kut Goan.


Sesudah memberi kepastian Kut Goan pamit akan kembali ke negaranya.


Begitu sampai Kut Goan melaporkan apa yang dia bicarakan dengan Raja Cee kepada Raja Couw.


"Hamba sudah berunding dengan Raja Cee. Dia bersedia mundur beberapa li dari Keng-san. Sedang hamba berjanji akan mengatur pengiriman upeti ke negeri Ciu. Hamba harap Tuanku tidak melanggar perjanjian hingga membuat malu seluruh bangsa Couw!" kata Kut Goan.


Selang sesaat kemudian sesudah Kut Goan melapor, juru kabar datang memberi kabar.


"Sekarang tentara Cee bersama pasukan raja yang lain sedang membongkar kemah mereka. Tidak lama lagi mereka akan meninggalkan Keng-san!" kata si pelapor.


Raja Couw masih belum percaya, dia kirim mata-matanya untuk mencari keterangan lebih jauh. Ketika itu juru kabar sudah kembali lagi.


"Benar, pasukan gabungan itu sudah mundur 30 li jauhnya dari tempat semula. Sekarang mereka membangun perkemahan di Siao-leng. Mereka bilang mereka agak jerih pada tentara Couw!" kata mata-mata itu.


Mendengar laporan itu dengan sangat menyesal Raja Couw berkata. "Jika mundurnya Raja Cee karena jerih kepada kita, sungguh sayang sekali kita sudah berjanji hendak mengirim upeti!"


"Apa Tuanku punya niat hendak ingkar janji?" kata Chu Bun. "Apa yang Raja-raja itu telah lakukan itu untuk menunjukan bahwa mereka memegang kepercayaan, jika sampai kita ingkar janji, sungguh sangat tidak baik."


Raja Couw tercengang, dia berpikir ucapan Chu Bun sangat pantas, sehingga mau tidak mau dia terpaksa mengawal delapan gerobak terisi emas, kain sutera dan barang lain. Mereka pergi ke Siao-leng untuk memberi hadiah kepada delapan Raja Muda dan sebuah gerobak berisi rumput mao untuk diantar ke negeri Ciu.


Waktu itu Raja Khouw Hi Kong telah memerintahkan Pek To memimpin pasukan perang untuk berkumpul di Siao-leng, karena dia merasa berhutang budi pada Raja Cee Hoan Kong, sebab jenazah ayahnya, Khouw Bok Kong, telah diantarkan ke negerinya dan diizinkan dikubur dengan upacara agung.


Kedatangan Pek To membuat Raja Cee Hoan Kong girang, dia puji sikap Raja Khouw Hi Kong setia pada perserikatan.


Ketika Raja Cee Hoan Kong menerima khabar Kut Goan datang lagi, Raja Cee segera waspada. Dia perintahkan pasukan semua Raja Muda siaga. Siapa tahu kedatangan pasukan Cee akan menyerang mereka.


Sesampai Kut Goan di perkemahan tentara gabungan, dia langsung menemui Raja Cee. Kut Goan menyerahkan kiriman barang dari rajanya. Tentu saja Raja Cee dan kawan-kawannya girang. Barang itu dibagi-bagikan di antara raja dan anak buahnya. Sesudah memeriksa antaran rumput mao, Raja Cee berpesan.


"Sebaiknya anda yang mengantarkan ke Kerajaan Ciu!" kata Raja Cee pada Kut Goan.


"Apakah Tay-hu sudah pernah melihat angkatan perang Tiongkok?" tanya Cee Hoan Kong.


"Karena hamba tinggal di Selatan, belum pernah melihatnya. Hamba sangat bersyukur jika Tuanku mau menunjukannya kepada hamba." Kata Kut Goan.


Cee Hoan Kong mengajak Kut Goan naik kereta bersamanya, mereka menjalankan kereta itu untuk melakukan pemeriksaan barisan tentara Raja-raja Muda. Karena banyaknya perjalanan mereka cukup makan waktu.

__ADS_1


Tidak lama dari pasukan Cee terdengar suara genderang. Kemudian suara genderang disambut oleh pasukan lainnya, sehingga suaranya gemuruh sekali.


"Coba Tay-hu perhatikan," kata Cee Hoan Kong dengan angkuh, "aku memiliki angkatan perang demikian besar. Apa jika kami berperang tidak akan menang?"


__ADS_2