LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 44


__ADS_3

Raja Cee Hoan Kong terkejut, buru-buru dia mengeluarkan perintah supaya tentaranya segera mundur. Karena keadaan sudah mulai gelap, tentara Cee sudah menyalakan obor untuk menerangi jalan yang akan mereka lewati.


Tetapi tiba-tiba obor-obor itu padam disambar angin yang sangat kencang. Kejadian ini membuat tentara yang berjalan saling bertabrakan karena gelap. Sekalipun berkali-kali mereka pasang kembali obor mereka, tetapi selalu padam lagi tertiup angin.


Koan Tiong mengikuti Raja Cee Hoan Kong melarikan kudanya dengan kencang. Tetapi sebelumnya dia sudah memberi tahu anak buahnya yang berjalan di depan supaya membunyikan gembreng. Dengan demikian Koan Tiong berharap anak buahnya bisa mengikuti mereka dari belakang dengan bantuan suara gembreng.


Langit telah gelap-gulita, hawa pun dingin sekali, arah timur, barat, utara dan selatan, empat penjuru tidak kelihatan. Semua serba gelap. Dengan membabi-buta tentara Cee berlomba lari sekuat-kuatnya. Mereka tidak tahu sudah berapa jauhnya dan sampai di mana? Mereka lari ketakutan bagaikan dikejar hantu saja.


Sesudah berlari sampai setengah mati, mereka baru merasakan agak nyaman. Angin yang tidak nyaman itu sekarang telah tidak terasa lagi. Mereka beramai-ramai duduk untuk melepaskan lelah. Di langit sekarang mereka bisa menyaksikan cahaya rembulan yang baru muncul.


Raja Cee Hoan Kong mengeluarkan perintah agar tentaranya mendirikan tenda sambil menunggu datangnya fajar.


Tatkala cahaya merah mulai bersinar di ufuk timur, suara burung yang berkicau mulai terdengar riuh sekali, suatu tanda hari sudah pagi. Segera Raja Cee Hoan Kong memeriksa tentara dan panglimanya. Ternyata semua panglima dan tentaranya selamat, kecuali Kho Hek seorang yang tidak kelihatan. Tetapi tentara dan kuda-kuda mereka sebagian telah binasa.


Melihat markas tentaranya berada di tepi jurang gunung yang berbahaya dan keadaannya sangat sunyi, Koan Tiong khawatir musuh datang menyerang, hal itu sungguh berbahaya sekali. Maka itu Koan Tiong memerintahkan tentaranya mencari jalan untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Perintah itu segera dilaksanakan. Sesudah tenda-tenda tentara dirobohkan, pasukan Cee berangkat meninggalkan tempat itu. Tetapi sungguh aneh, mereka berjalan menuju ke timur buntu, berbalik menuju ke barat tertutup, dan berjalan memutar pun sama saja. Mereka sudah berjalan lama sekali dan sudah banyak yang kelelahan, tetapi belum juga mereka menemukan jalan untuk keluar dari situ.


Waktu itu wajah Cee Hoan Kong jadi pucat, karena pikirannya sangat kusut.


Koan Tiong yang cerdas dan tidak mudah putus asa itu berkata kepada Cee Hoan Kong.


"Hamba pernah mendengar cerita orang, katanya kuda-kuda tua di daerah ini bisa mengenali jalan-jalan.di negeri Bu Ciong dan San-jiong. Kuda-kuda itu khabarnya kebanyakan berasal dari daerah utara. Coba perintahkan saja pada Houw Ji Pan supaya memilih beberapa ekor kuda tua. Kemudian kuda-kuda itu kita lepaskan. Kita tinggal mengikuti ke mana kuda-kuda itu berjalan. Maka kita akan bisa keluar dan menemukan jalan yang benar." kata Koan Tiong.


Raja Cee Hoan Kong menuruti saran itu, dia perintahkan Houw Ji Pan melaksanakan siasat tersebut.


"O, sungguh kasihan tentara Cee yang menanggung sengsara. Ke manakah Jenderal Hong Hoa yang menyesatkan pasukan Cee itu?" begitu pikir Koan Tiong. "Pantas Hong Hoa melarikan kudanya demikian cepat. Ke mana Jenderal Kho Hek dia bawa?"


**


Dikisahkan perjalanan Hong Hoa bersama Kho Hek.

__ADS_1


Sesudah berjalan sekian lamanya, Kho Hek menoleh ke belakang. Dia kaget karena dia tidak melihat pasukan Raja Cee yang jumlahnya banyak ada di belakang mereka. Dia minta agar Hong Hoa mau menunggu sebentar agar bisa bersama-sama.


Jenderal Hong Hoa tidak meladeni permintaan Kho Hek, malah dia perintahkan tentaranya berjalan lebih cepat lagi.


Akhirnya Jenderal Kho Hek jadi curiga. Dia tahan kudanya tidak mau mengikuti kehendak Hong Hoa. Tapi Hong Hoa segera menarik dan mendesak Kho Hek agar mengikuti kehendaknya. Saat itu Kho Hek sadar bahwa Hong Hoa berniat jahat. Kho Hek melakukan perlawanan tetapi terlambat Hong Hoa sudah memerintahkan anak buahnya menangkap Kho Hek yang segera mereka ikat kaki dan tangannya. Kemudian mereka meneruskan perjalanan dan Kho Hek mereka jadikan tawanan.


Ketika Hong Hoa sampai di gunung Yan-san, dia langsung menemui Tap Li Oh. Raja Kho-tiong ini tampak senang melihat Hong Hoa datang dengan wajah berseri-seri.


"Bagaimana, apa kau sudah berhasil memancing mereka?" tanya Raja Tap Li Oh.


"Tentu, tuanku!!" kata Hong Hoa sambil tertawa.


"Syukurlah!" kata Tap Li Oh girang.


"Tetapi, mana Raja Bit Louw?" kata Tap Li Oh terkejut. "Mengapa Raja Bit Louw tidak ikut kemari? Apa dia terkepung musuh?"

__ADS_1


__ADS_2