LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 99


__ADS_3

Raja Couw Seng-ong memerintahkan Seng Tek Sin dan Touw Put memilih seribu tentara yang gagah berani, untuk bersedia merebut kekuasaan pemimpin perserikatan.


Sesudah Raja Song pulang dia merasa sangat girang, parasnya riang. Dia berkata pada Pangeran Bak I: ”Raja Couw sudah meluluskan permintaanku akan menyerahkan semua raja muda di bawah kekuasaanku.”


”Orang Couw mirip bangsa Ban-ie, hatinya sulit diduga,” kata Pangeran Bak I., ”Jika Tuanku percaya saja ucapannya, dan tidak curigai, hamba khawatir Tuanku akan dihina oleh mereka.”


”Ah, kau terlalu curiga,” kata Raja Song Siang-kong. ”Aku berpegang pada kejujuran dan kepercayaan pada orang lain, mustahil orang begitu tega hendak menghina padaku?”


Kembali dia tidak memperhatikan nasihat Pangeran Bak I, dia mengeluarkan surat selebaran untuk mengundang semua Raja-raja muda, dia perintahkan orangnya mendirikan panggung tempat tamu, pembuatan panggung diatur rapi dan indah, serta lebih jauh dia suruh orangnya menyediakan rumput di gudang, juga bahan makanan untuk para tamu.


Ketika musim Ciu telah tiba, saat Raja Song Siang-kong hendak berangkat, Pangeran Bak I memberi saran.


”Couw sangat kuat, jangan percaya mereka memegang janji!” kata Pangeran Bak I. ”Bawa kereta perang untuk menjaga keselamatan Tuanku.”


”Jangan, tidak boleg begitu!” cegah Raja Song Siang-kong. ”Aku sudah berjanji pada semua raja muda untuk berhimpun dengan berpakaian biasa, jika aku melanggar dan membawa kereta perang, itu berarti aku melanggar janjiku sendiri!”


”Kalau begitu, Tuanku naik kereta memakai pakaian biasa, untuk menunjukan bahwa Tuanku memegang janji. Sedang aku akan menyembunyikan angkatan perangku, aku akan siap-siaga kalau-kalau dibutuhkan!” kata Pangeran Bak I. ”O! Jangan, jangan lakukan! Kau yang berpakaian perang dan membawa tentara, lalu itu tak bedanya dengan aku sendiri yang membawanya!” kata Raja Song.


Bak I jadi tak berdaya, karena Raja Song tak setuju pada gagasannnya. Dia juga sangat menyayangkan atas kebodohan junjungannya itu.


Ketika saatnya telah tiba akan berangkat, karena takut Pangeran Bak I membawa pasukannnya, Raja Song sengaja mengajak Bak I ikut bersamanya.


Pangeran Bak I memang mau ikut, sebab dia merasa tidak enak hati, jika dia tak mendampingi junjungannya itu.


Di tempat pertemuan semua raja sudah hadir, di antaranya Raja Couw, Tan, Coa, Khouw, Co, enam raja negeri sudah hadir. Hanya Cee Hauw-kong karena sakit hati, dan Raja Louw Hi-kong tidak tunduk pada Raja Couw, kedua raja itu tidak hadir.


Raja Song Siang-kong memerintahkan orangnya menyambut para raja muda itu dengan manis sekali. Raja Song pun mendapat laporan bahwa semua raja berpakaian biasa.


”Aku pun yakin, Raja Couw tidak akan menghinaku...” kata Raja Song girang.


Dalam persidangan Raja Tan Bok-kong, Coa Cong-kong, The Bun-kong, Khouw Hi-kong dan Co Kiong-kong, lima raja muda, sudah datang. Lama mereka menunggu, sampai sudah siang baru Raja Couw datang. Mereka saling memberi hormat, tetapi pada umumnya mereka sangat menghargai Raja Couw Seng-ong.


Tak lama upacara dilangsungkan, seperti minum arak bercampur darah, dan berbagai acara lain. Mereka lalu mencatat nama mereka pada sebuah buku, sebagai ikrar bahwa mereka akan tunduk pada semua aturan yang berlaku.

__ADS_1


Sesudah upacara selesai Raja Song Siang-kong mengawasi Raja Couw Seng-ong untuk meminta agar Raja Couw mengangkat dia jadi Pemimpin Perserikatan. Tetapi Couw diam saja, dia pura-pura lupa. Raja muda yang lain pun jadi saling pandang saja.


Raja Song Siang-kong tidak sabar lagi, dia berkata.


”Hari ini aku ingin melanjutkan tradisi Raja Cee yaitu mendukung Kerajaan Ciu, dan memakmurkan negara, agar rakyat hidup bahagia. Terutama mengamankan keadaan.Bagaimana pendapat Tuan-tuan sekalian?” kata Raja Song.


Tiba-tiba Raja Couw bangkit dari kursinya dengan marah sekali.


”Usul itu baik sekali, hanya aku tidak tahu siapa yang pantas jadi pemimpin kita semua?” kata Raja Couw.


”Tuan-tuan sudah tahu, siapa yang berjasa besar, tidak perlu bertanya lagi!” kata Raja Song.


”Sudah lama aku memakai gelar Ong!” kata Couw Seng-ong. ”Sekalipun Raja Song bergelar Kong yang mulia, tetapi mana bisa dibanding dengan gelar Ong! Ini sudah diakui oleh Kaisar Ciu!”


Sikap Raja Couw angkuh sekali. Melihat situasi kurang baik, Pangeran Bak I menarik tangan junjungannya. Dia minta agar Raja Song bersabar.


Tetapi Raja Song Siang-kong yang yakin bisa jadi pemimpin, tidak menghiraukan nasihat Bak I. Seperti kalap dia malah menantang. Dia tak sadar bahaya mengancam dirinya.


”Gelar Kong yang kusandang telah mendapat pengesahan dari Kaisar Ciu! Maka bagaimana gelar Ong Anda bisa mengalhaklan gelarku?” kata Raja Song.


”Kau datang ke sini, sesuai dengan perundingan kita di Lok-siang,” kata Raja Song.


”Sudah, jangan ribut, lebih baik begini saja!” kata Seng Tek Sin ikut bicara. ”Sekarang coba tanya pada semua raja muda, apakah kedatangan mereka karena Raja Couw atau Raja Song?”


Raja Tan, Coa dan yang lain-lain memang takut pada pengaruh Raja Couw, setelah mendengar pertanyaan itu, semua menyahut mereka datang karena taat pada Raja Couw.


Raja Couw Seng-ong tertawa terbahak-bahak.


”Sekarang Anda mau bilang apa lagi?” kata Raja Couw.


Saat itu Raja Song Siang-kong murka bukan main. Dia mau mengadu bicara, tetapi tidak ada yang meladeninya. Dia mau memakai kekarasan, tetapi tidak ada tentara yang ikut bersamanya. Dia jadi serba salah.


Saat Raja Song sedang kebingungan, justru dia melihat Seng Tek Sin dan Touw Put membuka baju luarnya, sehingga kelihatan pakaian perangnya. Hal ini membuat Raja Song jadi sangat ketakutan.

__ADS_1


Kedua panglima Couw itu segera memberi tanda, dan semua pengikutnya segera mengepung panggung.


Semua raja muda jadi sangat kaget dan ketakutan.


Seng Tek Sin menangkap Raja Song Siang-kong yang dia ikat kencang. Kemudian bersama Touw Put ia ajak tentaranya merampas semua perabotan yang terbuat dari batu giok, kain sutera dan lain-lainnya milik Raja Song.


Orang-orang negeri Song yang mengurus tempat itu, mereka ketakutan lalu kabur.


Waktu itu Raja Song Siang-kong melihat Pangeran Bak I telah bergeser ke sampingnya, dan berbisik.


”Aku menyesal aku tidak mau mendengar nasihatmu, sehingga hari ini aku celaka. Lekas kau pulang untuk menjaga negeri, dan jangan pikirankan tentang diriku.”


Pangeran Bak I berpikir memang tidak ada gunanya jika dia tetap di samping Raja Song. Maka dengan menggunakan saat sedang kacau, dia kabur pulang ke negeri Song.


Raja Couw mengajak Seng Tek Sin, Touw Put dan Kui Lu Sin dan Touw Poan (anak Chu Bun) membawa pasukan besar.


Sesudah Raja Song ditangkap, Raja Tan, Coa, The, Khouw dan Co, sangat ketakutan tidak ada yang berani berbuat apa-apa.


Raja Couw Seng-ong mengajak semua Raja-muda pergi ke gedung tamu, di sini dia mengejek dan menyindir Raja Song Siang-kong.


”Aku akan menyerang kota Ci-yang, untuk menghancurkan Ibukota Song.” kata Raja Couw.


Sesudah pesta sampai sepuluh hari sepuluh malam lamanya, baru semua raja-raja diizinkan pulang ke negrinya.


Semua Raja-muda tidak ada yang berani membantah. Raja Song Siang-kong diam saja sambil berdiri seperti patung. Dari matanya meleleh air mata, tanda dia sangat menyesal dan pilu hatinya.


Tidak lama angkatan perang negeri Couw yang berjumlah 500 kereta perang sudah siap.


Raja Couw membagi-bagikan hadiah pada tentaranya, mereka maju menyerang ke kota Ci-yang.


Dikisahkan Pangeran Bak I yang sudah lolos sudah sampai di negeri Song.


Dia segera menghadap Kong-sun Kouw, lalu menceritakan bahwa Raja Song Siang-kong telah ditawan oleh Raja Couw.

__ADS_1


”Tidak lama lagi tentara Couw pasti akan datang menyerang ke negeri Song. Kita harus segera menyiapkan tentara dan mengatur penjagaan,” kata Bak I.


”Karena di dalam negeri harus ada yang memimpin,” kata Kong-sun Kouw. ”sebaiknya untuk sementara kau menggantikan Song Siang-kong, supaya negeri ada pemimpinnya.”


__ADS_2