
”Sayang kepada rakyat, bagaimana aturannya?”
”Satu kaum mengurus kaum keluarganya sendiri, satu keluarga mengurus kerabatnya. Sama-sama mengurus pekerjaannya masing-masing, dan sama-sama menerima hasilnya. Dengan demikian maka rakyat bisa saling mencintai. Bebaskan dosa-dosa lama para terhukum, perintahkan mereka merawat abu leluhurnya. Mereka dan Tuanku harus menolong orang yang miskin dan orang yang tidak punya turunan. Dengan demikian rakyat bisa bertambah banyak. Periksa hati-hati segala hukuman atau dendaan, peringan pembayaran pajak. Dengan demikian rakyat bisa menjadi kaya dan negara menjadi makmur. Hargai orang pandai atau seorang ter- pelajar, suruh mereka mengajar di dalam negeri sendiri. Dengan demikian rakyat bisa tahu adat-istiadat. Timbang dulu dengan benar segala perintah yang hendak dikeluarkan, supaya ketika sudah dikeluarkan tidak sampai diubah lagi. Dengan demikian maka rakyat bisa menjadi orang yang jujur dan patuh. Begitulah namanya sayang kepada rakyat.”
”Jika rasa sayang pada rakyat sudah berjalan baik, untuk mengenakan aturan pada rakyat harus bagaimana?” tanya Raja Cee lagi.
”Pelajar, petani, para tukang dan para pedagang, mereka harus digolongkan menjadi empat golomngan rakyat. Pelajar harus dibiasakan belajar di sekolah, anak petani harus dibiasakan belajar bertani, anak para tukang dan anak para pedagang, masing-masing harus terus menekuni bidang penghidupannya. Mereka tidak baik bertukar-tukar propesi dengan pekerjaan lain. Dengan demikian penghidupan rakyat bisa jadi enak dan tenteram.”
”Jika rakyat sudah enak dan aman hidupnya, tetapi alat perang tidak mencukupi. Bagaimana harus mengaturnya?”
”Kalau hendak mencukupi alat senjata, harus diadakan dendaan untuk menebus hukuman seseorang yang tertangkap dan kedapatan bersalah. Orang yang berdosa berat harus ditebus dengan seperangkat pakaian perang yang terbuat dari kulit badak. Orang yang bedosa ringan harus ditebus dengan sebuah tameng yang tersalut besi. Orang yang berdosa sangat kecil boleh didenda dengan barang logam. Orang yang dosanya tidak jelas, boleh diberi ampun. Yang perkaranya seri satu sama lain, boleh didenda dua belas anak panah. Nanti logam itu jika sudah terkumpul banyak, yang bagus dilebur dibuat pedang atau tombak. Sedangkan besi yang jelek dilebur dibuat cangkul atau parang untuk para petani.”
”Alat perang sudah cukup, tetapi pemakaian uang tidak cukup. Bagaimana baiknya?” kata raja.
”Buat parit di gunung dan jadikan itu tambang emas supaya jadi uang. Masak air laut supaya menjadi garam. Penghasilan ini bisa berlangsung terus-menerus di kolong langit selamanya. Terima segala barang-barang yang murah harganya, kumpulkan di suatu tempat atau gudang. Suatu saat barang-barang itu bisa dijual atau dilelang dengan mendapat keuntungan. Buatkan 300 barak untuk perempuan pelacur,*) yaitu untuk menyenangkan para saudagar yang berdagang keliling. Nanti jika mereka berdatangan dan bermalam di sana, pasti barang-barang mereka terkumpul banyak di tempat itu. Kemudian baru kenakan pada mereka bea atau pajak. Dengan demikian pasti cukup pemakaian uang kita.”
”Uang sudah cukup, tapi asrama atau markas tentara masih kurang banyak, pengaruh tentara belum besar. Bagaimana mengaturnya?”
”Tentara perlu dipilih yang pandai-pandai saja tidak perlu terlalu banyak. Kekuatan harus hatinya, bukan tenaganya. Sebaiknya Tuanku mengatur angkatan perang itu dengan rapih dan tentara harus merawat alat senjata mereka dengan benar-benar. Di dunia ini, hamba belum pernah mendengar ada panglima perang yang bisa menang perang, manakala tentaranya tidak teratur dengan rapih dan alat perangnya tidak terawat baik! Apabila Tuanku hendak memperkuat angkatan perang, paling utama harus memperbaiki dulu dengan benar tentaranya. Jika kiranya Tuanku percaya kepada hamba, hamba mohon Tuanku memperbaiki lebih dahulu pemerintahan di dalam negeri serta mengurus keadaan tentara kita.”
”Bagaimana pemerintahan di dalam negeri harus aku urus?” tanya baginda.
”Negeri ini harus dibagi menjadi 21 bagian atau wilayah; enam bagian untuk orang pertukangan dan perniagaan. Lima belas bagian untuk anak sekolah atau orang terpelajar. Orang-orang pertukangan dan perniagaan maksudnya untuk mencukupi keuangan negara. Orang-orang terpelajar untuk mencukupi bala-tentara. Para petani untuk mencukupi bahan makanan kita semua.”
”Bagaimana caranya untuk mencukupi bala-tentara?”
”Lima buah rumah dijadikan satu Kui, di tempat itu harus diangkat seorang Kui-tiang. Dari sepuluh Kui harus dijadikan satu Li, di tempat itu harus diurus oleh seorang Yu-su. Empat Li dijadikan satu Lian, di tempat itu harus diangkat seorang Lian-tiang. Dari sepuluh Lian dijadikan satu Hiang, di tempat itu diatur oleh seorang Liang-jin. Ini namanya peraturan bala-tentara. Lima buah rumah menjadi satu Kui, ialah lima orang menjadi satu barisan. Kui-tiang yang memimpin mereka. Sepuluh Kui menjadi satu Li, jumlahnya 50 orang menjadi satu pasukan kecil. Li-yu-su yang memimpin mereka. Empat Li menjadi satu Lian, jumlahnya 200 orang dan menjadi satu pasukan. Lian-tiang yang memimpin mereka. Yang sepuluh Lian menjadi satu Hiang, jumlahnya 2000 orang dan menempati satu asrama. Hiang-liang-jin yang memimpin mereka. Di dalam lima Hiang harus diangkat seorang Su-tiang, dari jumlah 10.000 serdadu dijadikan satu pasukan dan dipimpin oleh lima Hiang. Dari 15 Hiang bisa terdapat 300 orang, lalu mereka dipecah menjadi tiga pasukan perang. Tuanku yang memimpin pasukan yang berada di tengah. Dua orang putera Kho He masing-masing mengepalai satu pasukan.
__ADS_1
Dalam empat musim pada saat senggang, iseng-iseng boleh pergi berburu. Sekalian untuk berlatih perang. Musim Cun disebut So, saat itu untuk mencari binatang yang tidak hamil. Binatang itu boleh diburu. Pada musim He disebut Biao, saat ini untuk menghindari bahaya merusak tanaman dan pepohonan. Pada musim Ciu disebut Sian, jalankan pembasmian pada segala binatang buas dan berbahaya. Pada musim yang disebut Siu, saat ini untuk melakukan pemeriksaan pasukan keamanan, juga sekaligus untuk memberi ganjaran kepada yang berpahala. Kemudian perintahkan rakyat belajar soal kemiliteran.**) Tentara diatur di asramanya, dan asrama tentara harus diatur di sebuah tegalan jauh dari kota. Juga jauh dari rumah penduduk. Apabila mereka sudah memahami pelajaran kemiliteran, jangan biarkan mereka berpindah-pindah. Mereka semua harus bersembahyang kepada Allah (beragama) dan mengangkat sumpah. Satu sama lain harus saling membela. Susah dan senang harus bersama-sama. Dalam perang di waktu malam bisa saling mengenali suara masing-masing. Ini penting sehingga tidak jadi salah bunuh. Jika berperang di siang hari mata mereka harus bisa saling mengenali. Dengan demikian mereka tidak kalut. Dengan demikian mereka akan selalu bergembira dan senang. Meskipun mereka mati di medan perang, mereka akan merasa puas. Tegasnya tinggal bersama-sama senang, mati bersama-sama sedih. Berjaga bersama-sama keras, perang bersama-sama gagah. Jika negeri Cee punya 30.000 prajurit saja, sudah cukup untuk negeri Cee menjagoi di kolong langit!”
”Jika tentara sudah kuat, bolehkah kita segera menaklukan Raja-raja Muda yang ada di sekitar kita?” tanya baginda.
”Jangan! Sebelum Kerajaan Ciu dijaga kuat dan tetangga negeri belum menaluk. Jika Tuanku hendak menaklukan seluruh Raja Muda, sebaiknya junjung tinggi Kerajaan Ciu dulu. Kita harus damai dan rukun dengan tetangga negeri.” kata Koan Tiong.
”Kalau begitu, bagaimana seharusnya mengaturnya?”
”Periksa dulu tanah-tanah yang menjadi wilayah kita,” kata Koan Tiong. ”Kembalikan tanah-tanah milik rakyat yang terampas. Lakukan kunjungan ke daerah dan kirim utusan ke berbagai negara dan bawa bingkisan berharga. Tetapi kita jangan menerima barang antaran orang kepada kita. Dengan demikian maka di seluruh penjuru negeri, suka kepada. Pasti mereka bersedia mendekati negeri kita. Perintahkan 80 orang terpelajar dengan naik kereta, naik kuda, dan membekal pakaian dan uang. Mereka harus pergi mengembara ke empat penjuru negeri. Tugas mereka adalah untuk mengundang orang-orang pandai di seluruh dunia supaya datang ke negara kita. Perintahkan orang kita membawa barang berharga dan suruh mereka berjualan di empat penjuru negeri. Tujuannya adalah untuk menyelidiki keadaan orang-orang dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Jika kita menemukan tanah yang sangat bagus, maka negara itu harus kita duduki. Kita boleh memperluas tanah jajahan. Manakala ada yang berbuat keji, maupun kekacauan serta mengusir atau membunuh raja mereka. Binasakan dia. Tuanku boleh membangun kekuasaan dan pengaruh. Dengan demikian bisa diharapkan semua Raja Muda yang ada di berbagai negeri akan berdatangan untuk megabdi kepada Tuanku. Kemudian Tuanku ajak mereka menghormati Kerajaan Ciu, dan perintahkan agar mereka melanjutkan mengantar upeti ke negeri kita. Dengan demikian Kerajaan Ciu bisa dimuliakan kembali. Jika semuanya sudah bisa terjadi, sekalipun Tuanku hendak menolak gelar Hong-pek, pasti akan Tuanku miliki juga.”
Begitulah dengan beruntun sampai selama tiga hari Raja Cee Hoan Kong dan Koan Tiong telah membicarakan masalah mengurus negara. Karena mereka mendapat kecocokan, maka mereka tampak tak pernah merasa bosan.
Raja Cee Hoan Kong yakin Koan Tiong memiliki kepandaian yang luar biasa. Tentu saja Cee Hoan Kong girang sekali. Dia pantang tidak makan barang bernyawa selama tiga hari. Kemudian dia mengadakan sembahyang di kelenteng Raja Cee Siang Kong almarhum. Dia bilang dia akan mengangkat Koan Tiong menjadi Perdana Mentrinya.
Mula-mula Koan Tiong menampik jabatan yang diberikan oleh Cee Hoan Kong. Tetapi Cee Hoan Kong dengan manis budi berkata, ”Aku terima baik segala saran dan nasihatmu untuk menjalankan pemerintahan di negeri Cee. Aku ingin cita-citaku tercapai seperti yang aku harapkan. Karena itu aku hendak mengangkatmu menjadi Perdana Menteriku, tetapi mengapa kau menolaknya?”
”O, bukan hamba menolak!” kata Koan Tiong. ”Hamba mendengar ada pepatah kuno mengatakan: Adanya sebuah hutan rimba, bukan hanya karena sebatang pohon. Begitu pun terjadinya samudera yang luas. Juga bukan cuma karena sebuah sungai. Maka jika Tuanku hendak melaksanakan usaha besar dan mulia itu, sudah seharusnya Tuanku memakai lima orang budiman yang lainnya.”
”Pandai mengimbangi keadaan. Mengerti harus bicara tegas atau lunak. Dalam hal ini hamba tidak bisa menyamai Sek Peng. Hamba mohon angkatlah dia menjadi Tay-su-heng. Membuka tanah untuk meluaskan pertanian, dan mengumpulkan ransum sebanyak-banyaknya. Atau memperbaiki penghasilan dari tanah. Dalam hal ini hamba tidak bisa seperti Leng Wat, hamba mohon Tuanku mengangkatnya menjadi Tay-su-tian. Di lapangan yang luas, kereta perang atau tentara tidak berani bergerak, tetapi sekali ia bunyikan genderang perang,. tiga pasukan tentara tidak menghiraukan bahaya maut dan mereka akan maju terus. Dalam hal ini hamba tidak bisa dibandingkan dengan Ong-cu Seng Hu, maka hamba mohon angkatlah dia menjadi Tay-su-ma. Memutuskan perkara dengan adil, tidak membunuh yang tidak bersalah, dan tidak menghukum orang yang tidak berdosa. Dalam hal ini hamba tidak bisa menandingi Pin Si Bu, maka hamba mohon Tuanku mengangkat dia menjadi Tay-su-li. Tidak peduli dia Raja atau siapa saja, dengan setia diberinya nasihat.
Dia tidak takut kepada hukuman mati, juga tidak serakah pada kekayaan atau kebesaran. Dalam hal ini hamba tidak bisa disamakan dengan Tong Kok Gee, maka hamba mohon Tuanku mengangkat dia menjadi Tay-kan. Jika Tuanku hendak mengatur negeri dan memperkuat angkatan perang. Maka dari ke-lima pembesar yang hamba sebutkan tadi, hamba kira mau tidak mau harus Tuanku pakai mereka. Dengan dibantu oleh mereka, jika Tuanku hendak menjadi jago dari Raja-raja Muda di kolong langit ini, meskipun hamba ini tidak pandai. Apa boleh buat hamba bersedia memangku jabatan Perdana Menteri yang Tuanku tawarkan kepada hamba.”
Mendengar saran-saran dari Koan Tiong serta mendengar kesediaannya untuk menjadi Perdana Menteri asal dibantu oleh ke-lima orang yang pandai itu, Raja Cee Hoan Kong senang sekali. Segera dia mengangkat Koan Tiong menjadi Perdana Mentri. Sedang Sek Peng kawan-kawannya, mereka berjumlah lima orang, semua diberi jabatan menurut saran Koan Tiong.
Sesudah itu Raja Cee Hoan Kong memerintahkan membuat undang-undang. Sesudah selesai lalu digantungkan di depan pintu kota. Raja Cee Hoan Kong ingin melaksanakan gagasan Koan Tiong.
Koan Tiong memegang pemerintahan negeri Cee sebagai P.M. Dia dibantu oleh lima orang budiman. Dengan giat dan rajin mereka mengurus pekerjaannya.
__ADS_1
**
Pada suatu hari.....
Raja Cee Hoan Kong berpikir.
”Ada beberapa sifatku yang kurang baik. Aku sangsi minta pendapat pada Tiong-hu!” pikir Raja Cee.
Karena ingin maju terpaksa dia bicara juga.
”Perangiku buruk,” kata Raja Cee. ”Aku terlalu suka bersenang-senang. Aku senang berburu, juga paras elok. Apa sifatku itu berbahaya bagi keutuhan negeri ini?” kata Raja Cee.
”Tidak, itu tidak jadi soal,” sahut Koan Tiong.
”Kalau begitu apa yang menjadi hambatan dalam memerintah sebuah negara?” kata baginda lagi.
”Dalam pemerintahan seorang Raja tidak memakai orang-orang yang pandai dan bijaksana. Itu adalah hambatan yang pertama. Sudah tahu mereka pandai tetapi kita tidak memakainya, itu yang menjadi hambatan yang ke-dua. Memakai orang pandai tetapi tidak diandalkan, merupakan hambatan yang ke-tiga. Mengandalkan mereka tetapi dicampur dengan orang yang derajatnya rendah, itu merupakan hambatan yang ke-empat.” kata Koan Tiong.
”Baiklah, aku akan memperhatikan masalah itu,” kata Cee Hoan Kong dengan perasaan senang.
**
Sejak saat itu Raja Cee Hoan Kong memercayakan benar semua masalah kepada Koan Tiong. Akhirnya Cee Hoan Kong menghotrmati Koan Tiong yang diberi gelar ”Tiong Hu”. Koan Tiong mendapat kehormatan lebih dari pada Kho He.
Raja Cee Hoan Kong mengumumkan pada semua pembesar.
”Jika di dalam negeri ada masalah besar. Pertama-tama harus dilaporkan dahulu kepada Tiong-hu, Koan Tiong. Baru kemudian disampaikan kepadaku. Berbagai perkara yang akan dijalankan, semua harus sepengetahuan dari Tiong Hu, Koan Tiong.” kata Raja Cee.
__ADS_1
Para pejabat dan siapa pun di negeri Cee dilarang memanggil Koan Tiong dengan nama panggilan Ie Gouw atau namanya lagi. Mereka diharuskan memanggilnya dengan sebutan ”Tiong” saja. Tidak perduli orang itu berpangkat tinggi atau rendah.
**