
Lu I Seng dan Pi The Hu mengundang Ho Tut untuk memimpin upacara penyambutan di perbatasan negeri Chin.
Begitulah Kong-cu I Gouw telah masuk ke kota Kang-touw dan menjadi raja yang bergelar Chin Hui Kong. Waktu itu adalah tahun Ciu Siang Ong ke-2.
Chin Hui Kong mengangkat putranya, Kongcu Gi menjadi Si Cu (putra mahkota), Ho Tut dan Kek Shia menjadi Siang Tay-hu, yang lain-lain semua tetap dalam jabatannya yang lama. Juga dia perintah Nio Yu Bi ikut Ong-cu Tong pergi ke negeri Ciu, Han Kan ikut Sek Peng pergi ke negeri Cee, untuk menghaturkan terima kasih atas budi mereka yang sudah mengantarkan dia pulang ke negerinya.
Angkatan perang negeri lain sudah pulang, hanya tinggal Kong-sun Ci yang hendak mengambil lima kota sesuai janji I Gouw pada mereka. Maka itu mereka masih tinggal menunggu di negeri Chin.
Rupanya Chin Hui Kong merasa sayang untuk melepaskan lima kota, segera dia mengumpulkan semua menterinya untuk berunding. ”Ketika tuanku mau menyerahkan lima kota kepada raja Cin,” kata Lu I Seng, ”ketika itu tuanku belum menjadi raja, jadi negeri ini bukan milik tuanku. Tetapi sekarang negeri ini sudah menjadi milik tuanku. Sekarang tuanku sudah menjadi raja Chin! Menurut pendapatku, meskipun kita tidak menyerahkan kota-kota itu, pasti Cin tidak bisa berbuat apa-apa.”
”Aku rasa tidak baik jika Tuanku berbuat begitu,” kata Li Kek membantah, ”karena tuanku baru menjadi raja, lalu tuanku ingkar dan menghilangkan kepercayaan orang kepada tuanku! Ditambah negeri Cin sangat kuat dan mereka tetangga kita pula. Lebih baik tuanku serahkan saja!”
”Kehilangan lima kota, sama dengan kehilangan separuh dari negeri Chin,” kata Kiok Peng yang tidak setuju pada saran Li Kek. ”Meskipun negeri Cin menghabiskan tentaranya, tidak gampang mereka bisa mengambil lima kota kita dengan begitu mudah! Ingat raja kita almarhum, begitu sulitnya mendapatkan negeri ini. Masa dengan gampang kita serahkan lima buah kota pada mereka?”
”Sudah tahu ini milik almarhum raja kita, mengapa kau janjikan akan diserahkan kepadanya? Sudah janji tetapi tidak ditepati, apa itu tidak akan membuat raja Cin gusar?” kata Li Kek dengan keras. ”Ingat waktu raja kita almarhum mendirikan negeri Kiok-ah, tanahnya sangat kecil, lantaran beliau bisa mengurus beres pemerintahan, sehingga bisa merampas negeri-negeri kecil untuk memperbesar daerahnya! Manakala tuanku bisa mengatur betul pemerintahan dan rukun pada tetangga negeri, buat apa merasa khawatir dengan lenyapnya lima kota itu?”
”Kata-kata Li Kek hanya untuk kepentingan negeri Cin!” teriak Kiok Peng dengan sangat marah. ”Karena dia khawatir tuanku tidak jadi memberinya seribu petak sawah di Hun-yang yang telah dijanjikan kepadanya, maka dia hendak bersandar pada raja Cin!”
Melihat gelagat kurang baik, Pi The Hu dengan sikutnya dia senggol Li Kek.
Akhirnya Chin Hui Kong mengeluarkan putusan menurut saran Lu I Seng dan Kiok Peng. Dia perintahkan Lu I Seng menulis surat untuk dikirim pada raja Cin. Surat itu berbunyi demikian: ”Bukan aku mungkir janji, karena sebagian besar pembesar Chin tidak setuju menyerahkan lima kota itu, maka aku Chin Hui Kong minta waktu dulu untuk penyerahan lima kota itu, sebab aku mau berunding lebih jauh.”
Kemudian Chin Hui Kong bertanya siapa yang bersedia membawa surat ke negeri Cin.
Pi The Hu menyatakan bersedia pergi, dan diizinkan oleh Chin Hui Kong.
Pi The Hu pergi ikut bersama Kong-sun Ci ke negeri Cin.
Ketika Cin Bok Kong sudah menerima surat dan sudah membaca surat itu, dia jadi marah sekali, karena dia yakin raja Chin hendak membohonginya, dia segera mau membunuh Pi The Hu. ”Menteri-menteri negeri Chin tidak ada yang tidak ingat pada budi tuanku, semua suka menyerahkan tanah tersebut,” kata Pi The Hu memberi keterangan. ”Tetapi lantaran Lu I Seng dan Kiok Peng, dua orang itu, mencegah dengan keras, ditambah rajaku yang baru pun rupanya berniat begitu, maka lima kota itu tidak diserahkan kepada Cin. Sekarang sebaiknya tuanku dengan baik-baik panggil dua orang itu, sesampai di sini segera bunuh mereka, kemudian tuanku antarkan Kong-cu Tiong Ji, aku dan Li Kek akan mengusir I Gouw dan menyambut kedatangan tuanku dari dalam, pasti Kong-cu Tiong Ji bisa naik menjadi raja Chin. Jika ini perkara sudah beres, pasti Tiong Ji suka menurut kepada tuanku, apakah ini bukan akan lebih baik?”
Cin Bok Kong memang suka pada Kong-cu Tiong Ji, dia jadi girang sekali setelah mendengar ucapan Pi The Hu, maka segera dia perintahkan Tay-hu Leng Ci ikut Pi The Hu pergi membawa bingkisan ke negeri Chin, dengan maksud hendak memikat Lu I Seng dan Kiok Peng.
Ketika Pi The Hu diutus ke negri Cin, Kiok Peng memberi saran pada Raja Chin Hui Kong, supaya Raja Chin membunuh Li Kek, karena dia mendapat laporan Li Kek berniat mengangkat Tiong Ji menjadi Raja.
”Jika benar dan Tiong Ji menyerang dari luar sedang Li Kek menyambut dari dalam, pasti berbahaya sekali bagi kedudukan Tuanku!” kata Kiok Peng menghasut.
__ADS_1
Tanpa pikir lagi Chin Hui-Kong menyatakan setuju akan membunuh Li Kek, dan dia menyuruh Kiok Peng melakukan pembunuhan itu.
Kiok Peng segera mengunjungi Li Kek. Kepada Li Kek, Kiok Peng bilang,”karena kau membinasakan He Ce, Tok Cu dan Sun Sit, maka sekarang Chin Hui-Kong hendak menghukumanmu!” kata Kiok Peng. ”Aku singkirkan ketiga orang itu untuk kepentingan Cu-kong! Sekarang Cu-kong sudah menjadi Raja, mengapa bukan diberi hadiah malah mau dihukum?” kata Li Kek membela diri.
”Cu-kong juga bilang, jika bukan kau yang membantu pasti dia tidak akan menjadi Raja. Maka itu beliau juga tidak melupakan jasamu itu,” sahut Kiok Peng. ”Tetapi . . . tetapi kau dengan Cu-kong itu urusan pribadimu! Sekarang kau boleh pilih mau mati dengan cara apa, agar jangan sampai algojo yang melaksanakannya!”
Li Kek sadar sekalipun mau adu bicara bagaimana pun, pasti tidak akan berhasil, maka dia segera cabut pedang di pinggangnya terus bunuh diri.
Meninggalnya Li Kek telah membuat semua pembesar tidak senang, terlebih Ki Ki, Kiong Hoa, Ke Hoa, Tiauw Coan dan yang lain. Mereka mencaci dan menista Raja Chin kejam dan biadab..
Ketika Chin Hui- Kong tahu, dia berniat membinasakan mereka. Tetapi Kiok Peng mencegahnya,
”Lebih baik cari dulu kesalahannya.” kata Kiok Peng.
Sementara itu Pi The Hu telah pulang, dia menghadap Chin Hui- Kong untuk melaporkan hasil pekerjaannya. Kemudian baru dia ajak Leng Ci menghadap, untuk menyerahkan surat balasan dan barang bingkisan dari Raja Cin.
Chin Hui-Kong membuka dan melihat surat itu, isinya menggembirakan hatinya. Karena Raja Cin dengan sangat manis tidak membicarakan panjang masalah lima kota itu. Hanya dalam surat itu Raja Cin minta agar Kiok Peng dan Lu I Seng datang ke negeri Cin untuk diajak berunding.
Bukan main girangnnya Chin Hui- Kong, segera dia perintahkan Lu I Seng dan Kiok Peng pergi ke negeri Cin untuk berunding dengan Raja Cin.
”Ya, aku duga Cin baik pada Chin tidak akan sampai begini,” sahut Lu I Seng sambil manggut. ”Ah, ini pasti ulah Pi The Hu yang sudah mendengar kematian Li Kek, maka dia khawatir dirinya juga tidak akan luput dari kematian, maka dia mengatur siasat ini dengan Raja Cin, supaya Raja Cin membunuh kita, kemudian dia mengadakan huru-hara.”
”Betul, dugaan sangat tepat!” kata Kiok Peng. ”Pi The Hu dan Li Kek satu kelompok, jika Kek dibunuh, bagaimana The Hu tidak ketakutan? Tetapi sekarang semua pembesar sebagian besar konco-konco Li dan Pi, maka kita harus menyelidik dengan hati-hati gerakkan mereka. Sekarang kita minta utusan Cin itu pulang lebih dulu, bilang saja kita akan menyusul belakangan, yaitu begitu kita sudah beres dengan urusan pemerintahan.”
Lu I Seng setuju dengan pendapat rekannnya. Begitulah mereka berdua diam-diam menemui Raja Chin untuk berunding.
Sesudah mendengar laporan Lu dan Kiok, Raja Chin Hui-kong langsung setuju, lalu mempersilakan Leng Ci pulang duluan ke negeri Cin,untuk memberi kabar pada Raja Cin. Dengan lasan urusan di negeri Chin belum beres, dia minta tempo sedikit . Baru Raja Chin akan mengutus Lu dan Kiok datang ke negeri Cin.
Leng Ci tidak bisa memaksa, apa boleh buat dia pamit dan kembali ke negeri Cin.
Dengan diam-diam Lu dan Kiok memerintahkan orangnya yang dapat dipercaya, supaya setiap malam bersembunyi di dekat gedung Pi The Hu untuk mengintai gerak-geriknya.
Sekian lama Pi The Hu melihat Lu dan Kiok masih belum juga mau pergi ke negeri Cin, dengan diam-diam dia undang Ki Ki, Kiong Hoa, Ke Hoa, Tiauw Coan. Mereka berkumpul dan entah apa yang dibicarakan, sampai pukul 5 pagi orang-orang itu baru pulang.
Mata-mata Kiok Peng segera melaporkan hal itu pada tuannya, seperti yang telah dilihatnya.
__ADS_1
Kiok Peng menduga pembicaraan mereka pasti mengenai pengkhianatan, maka tidak ayal lagi dia pergi dan berunding dengan Lu I Seng.
Sesudah berunding seketika lamanya, mereka mengambil putusan segera mengeluarkan perintah untuk mengundang Touw Gan I.
Tidak berapa lama Touw Gan I sudah datang menghadap.
”Bahaya sedang mengancammu, bagaimana kau tenang-tenang saja?” kata Kiok Peng.
Touw Gan I terkejut, dengan wajah pucat dia bertanya:, ”Bahaya apa,Tay-hu?”
”Dulu kau telah membantu Li Kek membinasakan dua raja yang masih kecil, sekarang Li Kek sudah dihukum mati, kau juga pasti akan mendapat giliran. Tetapi lkarena kami ingat kau berjasa, kami tidak tega melihat kau mendapat bencana, maka kami segera memberitahumu.”
Touw Gan I jadi ketakutan. Dia minta tolong supaya bisa luput dari hukuman.
”Kemarahan Cu-Kong sulit dicegah, kami tidak yakin bisa memintakan ampun untukmu,” kata Kiok Peng. ”Cuma satu cara, mungkin kau bisa bebas....”
Touw Gan I segera berlutut dan bertanya.
”Bagaimana caranya?” tanya Gan I.
Kiok Peng dengan suara perlahan berkata, ”Kau harus menyingkirkan konco Li Kek, yaitu Pi The Hu. Kami dengar dia berniat hendak membuat huru-hara. Dia mau menyingkirkan Cu- Kong dan mengangkat Tiong Ji menjadi raja. Kau pura-pura ketakutan, dan minta diajak bersekongkol dalam gerakan mereka. Jika kau sudah memperoleh rahasia mereka, kau siarkan tentang kejahatannnya. Bukan saja dosamu akan diampuni kau juga akan dinaikan pangkat dan diberi hadiah!”
Hasutan Kiok Peng menarik hati Touw Gan I, yang tadi begitu ketakutan, sekarang girang sekali, ”Karena pertolongan Tay-hu, aku selamat, aku siap melaksanakan tugas itu. Tetapi aku tak pandai bicara....” kata Touw Gan I.
”Jangan khawatir, akan aku ajari,” kata Lu I Seng.
Kemudian Lu I Seng mengajari apa yang harus dikerjakan oleh Tuw I Gan,
Malam itu juga Touw Gan I pergi menemui Pi The Hu dan mengatakan dia akan menyampaikan pesan rahasia.
Pi The Hu menyuruh orangnya memberi tahu Touw, karena sedang mabuk arak dan sudah tidur, Pi tak mau menemuinya.
Touw Gan I tidak percaya, dengan pura-pura sedang punya urusan penting, dia masuk ke dalam. Terpaksa Pi The Hu menerimanya.
Touw Gan I berlutut di depan Pi The Hu, dan berkata seperti orang yang ketakutan, ”Tay-hu tolong selamatkan selembar jiwaku ini.”
__ADS_1