LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 8


__ADS_3

Ketika Raja Louw mendengar khabar negeri Cee telah mengangkat Koan Tiong menjadi Perdana Menteri, dengan sangat gusar ia berkata, ”Ah, sugguh aku menyesal! Mengapa aku dulu tidak mendengar usul Si Pek, sekarang aku kembali terhina oleh seorang anak kecil!”


Semakin dia berpikir hatinya jadi semakin panas. Dia siapkan angkatan perangnya hendak menyerang ke negeri Cee. Dia berniat membalas sakit hati ketika dia dikalahkan pada saat berperang di Kian-si.


Ketika mendengar khabar negeri Louw akan menyerang ke negerinya, Raja Cee mendongkol sekali.“Aku tidak suka orang menyerang ke negeri Cee, maka aku akan mendahului mereka. Apa kau stuju?” kata Raja Cee pada Koan Tiong.


”Disiplin tentara kita belum sempurna betul. Saat ini belum boleh dipakai untuk berperang dulu,” sahut Koan Tiong.


Koan Tiong mencoba mencegah niat Cee Hoan Kong yang sangat berambisi itu. Tetapi karena geram sekalipun dinasihati oleh Koan Tiong, Cee Hoan Kong tidak mau meladeninya. Segera dia mengangkat Pao Siok Gee menjadi jenderal. Dia diperintahkan memimpin angkatan perangnya. Dia diperintah langsung menyerang tanah Tiang-ciak.


Ketika Raja Louw Cong Kong sudah mendapat laporan bahwa angkatan perang negeri Cee sudah datang menyerang lebih dahulu sebelum diserang. Louw Cong Kong kaget, dia memanggil Si Pek untuk membicarakan masalah itu.


”Negeri Cee sangat angkuh dan keterlaluan menghina kita. Aku ingin tahu bagaimana pendapat dan akalmu untuk melabrak angkatan perang mereka?” kata Louw Cong Kong.


”Hamba punya usul ada seseorang yang bisa melawan mereka,” sahut Si Pek.


”Siapa itu?” tanya Louw Cong Kong.


”Namanya Co We,” kata Si Pek. ”Sekarang sedang hidup menyepi di kampung Tong-peng. Terus terang sejak dulu dia belum pernah menjadi pejabat. Hamba tahu betul, dia pandai dan pantas menjadi seorang Perdana Menteri atau panglima perang.”


Mendengar penjelasan itu Raja Louw Cong Kong girang sekali. Dia minta Si Pek pergi mengundang Co We untuk dijadikan panglima perang.


Sesudah pamit pada rajanya, Si Pek langsung pergi. Ketika sudah bertemu dengan Co We, Si Pek langsung menyampaikan undangan Raja Louw kepada Co We.


”Ha, ha, ha, kalau begitu orang yang makan daging tidak punya tipu-muslihat. Dia mencari akal pada orang yang cuma makan sayuran!” kata Co We sambil tertawa.

__ADS_1


”Kau benar,.“ kata Si Pek, ”sebab orang yang makan sayuran banyak akalnya.Dia lebih baik dari orang yang makan daging.”


Kedua sahabat itu berbincang-bincang cukup lama.Semula Co We menolak undangan itu. Tetapi Si Pek memaksa terus. Akhirnya Co We mau ikut menemui Lauw Cong Kong. Ketika mereka sampai, Louw Cong Kong menyilakan Co We duduk. Dia menanyakan berbagai masalah. Akhirnya bicara soal yang dihadapi oleh Louw Cong Kong.


”Jika kita berperang melawan tanpa menggunakan siasat, mana bisa kita mengalahkan mereka.”kata Raja Louw .


”Dalam masalah militer kita harus melihat situasi di medan perang, karena itu tidak bisa dikatakan harus bagaimana,” sahut Co We dengan sabar. ”Jika Tuanku percaya, hamba bersedia memimpin pasukan. Soal taktik perangnya, nanti saja di lapangan.”


Mendengar ucapan Co We, Raja Louw senang sekali. Dia ajak Co We naik kereta perang bersamanya. Mereka memimpin pasukan besar berangkat menuju ke daerah Ciang-ciak.


**


Di pihak angkatan perang Cee....


Tidak berapa lama Raja Louw Cong Kong bersama angkatan perangnya tiba di Ciang-ciak. Dia segera mengatur angkatan perangnya untuk bisa langsung bertempur dengan musuh.


Ketika berperang di Kian-si angkatan perang Cee yang dipimpin oleh Pao Siok Gee pernah mengalahkan tentara Louw. Sekarang Pao Siok Gee jadi kurang waspada terhadap lawannya. Dia anggap ringan kekuatan musuh. Dengan tidak banyak bicara lagi Pao Siok Gee memerintahkan maju perang. Angkatan perangnya segera bertempur. Pao Siok Gee berjanji jika menang anak buahnya akan diberi hadiah.


Mendengar suara genderang perang dibunyikan.bagaikan suara guntur. Raja Louw Cong Kong memerintahkan anak buahnya menyambut kedatangan musuh. Tapi Co We mencegahnya.


”Angkatan perang negeri Cee sedang bersemangat. Kita harus sabar dan harus menunggu saat yang tepat melawan mereka.” kata Co We.


Setelah berkata begitu Co We mengeluarkan ancaman pada anak buahnya.


”Jika kalian berani membuat gaduh, maka kalian akan segera dibunuh.” kata Co We.

__ADS_1


Ketika tentara negeri Cee datang menerjang. Angkatan perang Louw sangat kokoh bagaikan tahang besi. Sulit digempur! Karena tentara Cee tidak bisa mengalahkannya, terpaksa mereka harus mundur.


Tidak lama kemudian dari pasukan Cee terdengar bunyi genderang perang. Tiba-tiba datang pasukan Cee menerjang. Tetapi kembali mereka harus mundur lagi, karena tentara negeri Louw masih tetap diam bertahan seperti semula.


”Tentara Louw takut berperang. Bunyikan lagi genderang perang! Pasti mereka akan segera mundur!” seru Pao Siok Gee dengan girang.


Pao Siok Gee memerintahkan tentaranya maju perang mereka menyerang lebih hebat lagi.


Mendengar suara genderang perang dibunyikan oleh pihak Cee, barulah Co We berkata.


”Nah, sekarang saatnya untuk mengalahkan tentara Cee! Tuanku perintahkan tentara kita menyerang!” kata Co We.


Tiba-tiba dari pihak Louw terdengar bunyi genderang perang. Dengan serempak tentara Louw melabrak pasukan Cee.


Genderang perang pihak Cee sudah berbunyi dua kali. Tentara Louw tidak keluar menyambut. Pao Siok Gee jadi penasaran. Dia mengira tentara Louw benar-benar takut berperang. Tetapi di luar dugaannya, begitu genderang perang Louw dibunyikan, tiba-tiba majulah tentara Louw menyerbu. Tentara yang membawa tombak, golok, kapak dan anak panah meluncur bagaikan air bah saja. Kedatangnya begitu mendadak dan hebat sekali. Begitu cepatnya seumpama orang mendengar suara guntur. Dan orang tidak sempat menutup telinganya. Dalam waktu singkat tentara Cee mendapat kerusakan besar. Terpaksa mereka kabur lipat kuping dengan tidak mau mendengar komando yang diberikan oleh Pao Siok Gee.


Melihat tentara Cee sedang kalut dan kabur. Raja Louw hendak memberi tanda agar tentaranya mengejar musuh. Tapi Co We mencegahnya.


”Jangan! Akan hamba periksa dulu keadaan musuh.” kata Co We.


Sambil berkata begitu Co We turun dari atas kereta perangnya, dia mengawasi ke arah tentara Cee. Sesudah itu, dia naik lagi ke atas kereta perangnya. Dia memandang ke jurusan lain seketika lamanya. Baru sesudah itu dia berkata, ”Nah, sekarang boleh kejar mereka!”


Raja Louw Cong Kong memberi komando pada tentaranya untuk mengejar tentara Cee. Mereka mengejar sampai 30 li lebih jauhnya. Sesudah berhasil merampas senjata cukup banyak dan tawanan tentara Cee, angkatan perang Louw kemudian ditarik mundu pulang ke negerinya.


***

__ADS_1


__ADS_2