LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 89


__ADS_3

Sementara itu pasukan Cin telah menyebrangi sungai dan menyerang dari arah Timur, tiga kali mereka berperang tiga kali juga mereka menang, semua panglima Chin telah kabur karena tidak sanggup mempertahankan tempat yang mereka jaga, sehingga tentara Cin maju terus sampai ke Han-goan dan mendirikan pesinggahan di sana.


Ketika Raja Chin Hui-kong mendapat kabar pasukan Cin sudah maju begitu jauh, dia jadi kaget dan khawatir, sekira sepuluh li lagi ke Hangoan, dia perintahkan pasukannnya mendirikan peristirahatan dan menyuruh Han Kan pergi mencari keterangan berapa besar pasukan Cin itu.


Selang tidak berapa lama Han Kan sudah kembali, dia memberi tahu. ”Meskipun pasukan Cin cuma terdiri dari tiga ratus kereta perang, tetapi pasukan itu sangat tangguh dan angker kelihatannya.: kata Han Kan.


Raja Chin Hui-kong segera memerintahkan Han Kan maju ke depan barisan Cin untuk menantang perang, dengan kekuatan 600 kereta perangnnya, pasukan Chin menyerbu.


Menurut perkiraan jika pasukan Cin tidak segera mundur, mereka akan menderita kerusakan berat.


Ancaman ini sedikit pun tidak membuat Raja Cin Bok-kong jadi takut, malah dia tertawa terbahak-bahak. Dia perintah Kong-sun Ci segera menghadapi tantangn musuh itu.


”Apa yang kau inginkan, ketika minta diantar untuk menjadi raja, kami turuti. Ketika paceklik mau membeli beras kami ladeni. Sekarang kalian ingin berperang, masakan tak kami lawan!” kata Kong-sun Ci.


Ucapan Kong-sun Ci membuat Han Kan malu bukan main, segera dia mundur dan melapor pada Raja Chin Hui-kong.


Mendengar laporan itu Chin Hui-kong menjadi marah, dia majukan pasukan perangnya untuk menghadapi pasukan Cin.


Waktu Pek Li He sedang ada di tempat yang tinggi, dari sana dia mendapat kenyataan sesungguhnya jumlah tentara Chin sangat banyak.


Pek Li He memberi saran.


”Lebih baik jangan dilawan perang dulu.” kata Pek Li He.

__ADS_1


Tetapi Cin Bok-kong tidak setuju, dia atur barisannya di kaki gunung Liong-bun-san untuk menunggu kedatangan pasukan Chin.


Tidak lama pasukan Chin sudah datang dan juga segera mengatur barisannya.


Kedua barisan sudah langsung berhadapan, dari masing-masing pasukan bagian tengah segera membunyikan tambur perang dan memajukan balatentaranya.


Touw Gan I mengeluarkan kegagahannya, dengan di tangan memegang tombak yang beratnya beberapa ratus kati, dia menerjang masuk ke dalam barisan Cin, setiap bertemu orang Cin dia langsung tusuk dan dibinasakann.


Serangan Touw Gan I begitu hebat, sehingga tentara Cin tidak tahan dan lari simpang-siur. Tetapi sesaat kemudian justru Touw Gan I yang berpapasan dengan Pek It Peng, yang dengan sengit menangkis serangan Gan I, sekarang Gan I baru ketemu tandingannya yang setimpal.


Kedua pihak sudah berperang lima puluh jurus lebih belum ada yang merasa lelah, malah masing-masing jadi geram, lalu melompat turun dari kereta perang dan bertempur dengan hebat.


Akhirnya Touw Gan I segera menahan senjata Pek It Peng dan berkata, ”Aku hendak bertarung denganmu sampai salah satu ada yang mati! Siapa yang minta bantuan bukan seorang gagah!” ”Baik!” sahut Pek It Peng dengan gagah. ”Memang aku hendak menangkapmu dengan tangan kosong, dengan begitu baru boleh disebut orang gagah.”


Waktu itu Raja Chin Hui-kong melihat Touw Gan I sudah masuk ke dalam barisan musuh, segera dia perintah Han Kan dan Nio Yu Bi maju memimpin sebagian pasukan perangnya untuk menerjang ke barisan musuh yang di sebelah kiri, sedang dia sendiri dengan mengajak Ke Pok Touw dan yang lain-lain menerjang barisan musuh yang di sebelah kanan, dan berjanji nanti berkumpul di tengah pasukan musuh.


Raja Cin Bok-kong ketika itu melihat tentara Chin di pecah dua, ia pun segera membagi tentaranya menjadi dua untuk menyambut kedatangan musuh tersebut.


Ketika kereta perang Raja Chin Hui-kong masuk ke dalam barisan Cin, justru ketemu dengan Kong-sun Ci, dan Chin Hui-kong segera memberi perintah pada Ke Pok Touw melawan berperang.


Tetapi Ke Pok Touw bukan tandingan Kong-sun Ci, baru bertempur belum berapa lama, Ke Pok Touw sudah sangat kepayahan. Raja Chin Hui-kong yang melihat keadaan kurang baik, lalu memerintahkan Kiok Pouw Yang agar berhati-hati memegang kendali kereta perangnya, karena ia sendiri hendak pergi membantu berperang.


Sedikit pun Kong-sun Ci tidak merasa keder, malah dengan suara keras dia berteriak, ”Ayo! Siapa yang pandai berperang boleh maju semuanya!”

__ADS_1


Teriakan Kong-sun Ci yang keras bagaikan guntur membuat Kek Shia semangatnya seolah terbang, dia tengkurap di dalam kereta perang tidak berani menyembulkan kepalanya. Sedang kuda yang menarik kereta perang Chin Hui-kong pun jadi kaget, dengan tidak mempedulikan kendali kusir lagi langsung kabur sekencang-kencangnya dan akhirnya kejeblos ke dalam lumpur.


Meski Kiok Pouw Yang mencambuk kudanya dengan sengit, kuda itu tetap tidak bisa bergerak di lumpur, tidak bisa angkat kakinya.


Saat Chin Hui-kong sedang terancam bahaya, justru dia melihat kereta perang Keng The mendatangi, dia teriaki. ”Keng The, lekas tolong aku!” teriak Chin Hui-kong. ”Kek Shia di mana, mengapa kau memanggil hamba?” tanya Keng The menyindir.


”Lekas kemarikan keretamu itu!” teriak Chin Hui-kong dengan tubuh gemetar.


Keng The tidak meladeninnya, lalu membelokkan keretanya dan pergi ke lain jurusan.


Kiok Pouw Yang hendak pergi mencari kendaraan lain, tetapi karena tentara Cin sudah mengepung sangat rapat, sehingga dia tidak bisa keluar. Di sini Raja Chin Hui-kong sedang terancam bahaya, sedang di pasukan perang Chin yang lain, Han Kan yang memimpin pasukan perang menerjang masuk di dalam barisan Cin. Han Kan bertemu dengan Raja Cin Bok-kong yang dikawal oleh Se Kip Sut, yang segera serang-menyerang.


Setelah bertarung tiga puluh jurus lebih dan belum ketahuan siapa menang dan kalah, sekonyong-konyong datang Ngo Sek yang memimpin pasukan perang, dan segera mengeroyok Se Kip Sut.


Se Kip Sut tidak sanggup menangkis serangan dua panglima itu, sehingga dia tertusuk oleh Han Kan dan lantas roboh ke bawah kereta perangnya Melihat hal itu Nio Yu Bi segera berseru, ”Panglima yang roboh sudah tidak berguna! Mari kita orang tangkap Raja Cin itu!”


Han Kan tidak memperdulikan Se Kip Sut lagi, dia mengeluarkan perintah pada tentaranya untuk mengepung Raja Cin Bok-kong.


Ketika Raja Cin Bok-kong sedang terancam bahaya, dari jurusan Barat segera kelihatan mendatangi satu barisan orang gagah yang jumlahnya kira-kira tiga ratus orang lebih, dengan suara keras mereka berseru-seru.


”Jangan ganggu Raja kami!”


Orang-orang itu rambutnya riap-riapan, badannya telanjang, kakinya memakai kasut rumput, tetapi jalannya begitu cepat sehingga seperti terbang, di tangan mereka semua memegang golok besar, di pinggang mereka tergantung busur dan anak panah, sehingga mirip seperti tentara iblis. Begitu mereka sampai, mereka menyerang membuat kalang-kabut tentara Chin.

__ADS_1


__ADS_2