LIMA RAJA (The Five Kings)

LIMA RAJA (The Five Kings)
Bab 67


__ADS_3

Pada tahun berikutnya di musim Cun (Semi), Raja Cee Hoan Kong memerintahkan Tan Keng Tiong pergi ke Siu-ci untuk membangun istana persinggahan Putera Mahkota.


Tepat pada musim He bulan Go-gwe (bulan lima), Raja Cee, Song, Louw, Tan, We, The, Khouw dan Co, delapan raja muda semua sudah berkumpul di Siu-ci. Tidak lama Putera Mahkota The pun sampai.


Raja Cee Hoan Kong mengajak semua Raja Muda menyambut. Sementara Pangeran The bersikap sopan sekali. Dia bersikap sebagai tamu yang ingin menemui tuan rumah. Tetapi Raja Cee mencegahnya.


"Jangan, Tuanku tidak pantas bersikap demikian. Kami ini adalah bawahan Tuanku," kata Raja Cee.


Segera diadakan pesta besar Raja Cee bersama yang lain mengucapkan selamat kepada Pangeran The.


Mereka berdiam di sana cukup lama dan bergantian mengadakan pesta. Tetapi Pangeran The agak risih. Dia bilang dia sudah terlalu lama berada di luar istana Kaisar Ciu.


"Aku ingin pulang," kata Pangeran The pada suatu hari. "Di sini aku hanya menyusahkan semua Raja Muda."


"Jangan!" kata Raja Cee. "Tuanku tinggal beberapa bulan lagi, supaya Kaisar tahu bahwa anda disukai oleh para Raja Muda di sini!"


Raja Cee lalu menceritakan bahwa Kaisar Ciu berniat menurunkan Pangeran The dan akan mengangkat Pangeran Tai.


Sesudah mendengar penjelasan dari Raja Cee akhirnya Pangeran The pun menurut. Dia mengucapkan terima kasih pada semua raja, terutama kepada Raja Cee.


Karena sudah sekian lama Pangeran The tidak pulang-pulang, Kaisar Ciu Hui Ong sadar dan sudah bisa menduga-duga apa yang telah terjadi. Bahwa Raja Cee sangat menghormati Pangeran The yang hendak dia lucuti kedudukannya. Akhirnya Kaisar Ciu jadi mendongkol sekali.


Sedang permaisuri dan puteranya terus mendesak Kaisar Ciu dan mempengaruhinya, sehingga Kaisar bertambah benci kepada Pangeran The.


Pada suatu hari......

__ADS_1


Kaisar Ciu memanggil P.M. Ciu Kong Khong dan ia sampaikan kemendongolan hatinya.


"Cee Houw (Raja Cee) sekalipun katanya telah membuat Raja Couw tunduk, tetapi sebenarnya belum pernah mengalahkannya." kata Kaisar Ciu. "Kerajaan Couw sangat tangguh dan tentaranya gagah berani. Tetapi sekarang seolah mereka tunduk dan mau mengantarkan upeti pada kita. Dilihat tingkah-lakunya, Raja Couw agak lebih baik jika dibanding dengan Raja Cee yang curang."


P.M. Ciu Kong Khong mengangguk saja.


"Coba kau bayangkan," kata Kaisar Ciu lagi. "Raja Cee bersama komplotannya telah mengajak Pangeran The berdiam di suatu tempat.


"Coba kau bayangkan, dia minta Pangeran The menemui mereka dan komplotannnya," kata Kaisar Ciu. "Entah apa maksud dia berbuat begitu? Apa dia berniat buruk?"


"Apa yang Tuanku hendak lakukan?" kata Ciu Kong Khong.


"Aku berniat menyuruhmu mengirim sepucuk surat rahasia kepada Raja The Pek, agar dia kembali bergabung dengan Raja Couw. Sampaikan pesanku pada Raja Couw agar dia mendukung Kerajaan Ciu sepenuhnya. Bagaimana pendapatmu?" kata Kaisar Ciu.


Ciu Kong Khong terperanjat mendengar ucapan Kaisar Ciu itu.


"Apa kau berani jamin Cee Houw tidak punya niat lain?" kata Baginda Ciu Hui Ong dengan sengit. "Tidak, aku tidak setuju dengan ucapanmu! Pendeknya niatku sudah tetap, tidak bisa dicegah lagi!"


Melihat Kaisar Ciu marah Ciu Kong Khong tidak berani buka suara. Kaisar Ciu membuat surat itu yang dia serahkan pada Ciu Kong Khong untuk diserahkan pada Raja The. Seterima surat itu Ciu Kong Khong segera mengutus orang mengantarkan surat itu. Dia tidak tahu apa isinya. Dia juga tidak berani mencuri melihatnya.


Tatkala Raja The Bun Kong menerima surat dari Kaisar Ciu tersebut, dia buka dan baca:


"Ternyata Pangeran The telah melanggar perintah Kaisar Ciu dan telah mengadakan pertemuan dengan para Raja Muda, maka aku anggap dia tidak pantas menjadi Putera Mahkota. Maka aku berniat mengangkat putera ke-dua Tai menggantikannya.


Aku minta pada anda agar memisahkan diri dari Raja Cee dan bergabung kembali dengan Raja Couw. Kemudian kalian berdua mendukung Kerajaan Ciu. Dan dukung Pangeran Tai, maka aku akan memberi izin kalian bekerja di Kerajaan Ciu."

__ADS_1


Begitu kira-kira isi surat Kaisar Ciu pada Raja The Bun Kong. Sesudah itu Raja The lalu mengumpulkan semua menterinya untuk diajak berunding.


"Dulu ketika almarhum Raja Bu Kong dan Cong Kong menjadi pejabat di Kerajaan Ciu, mereka mendapat kehormatan besar di kalangan Raja-raja Muda. Tetapi sayang jabatan itu berakhir, hingga negeri The menjadi terpuruk. Beruntung Raja The Le Kong berhasil mengangkat kembali Kaisar Ciu, tetapi sayang beliau tidak dipanggil bekerja di istana Kerajaan Ciu sampai wafatnya. Sekarang Kaisar Ciu minta bantuanku. Aku yakin semua Pangeran Ciu harus menghormatiku." Kata Raja The.


"Tetapi jika diingat-ingat Raja Cee karena ingin menolong kita, dia kerahkan angkatan perangnya ke negeri Couw!" kata Khong Siok, "sekarang kalau kita berpisah dengan kerajan Cee dan takluk kepada Couw, ini sama juga kita tidak ingat budi orang. Apalagi mendukung Pangeran The adalah kewajiban kita. Harap Tuanku pikirkan dulu masalah ini."


"Pendapatmu keliru," kata Raja The. "Daripada menurut pada raja jagoan lebih baik menurut pada Kaisar Ciu. Apalagi Kaisar sendiri tidak sayang pada Pangeran The, mengapa aku harus menyayanginya?"


"Menurut aturan Kerajaan Ciu, yang boleh menjadi Putera Mahkota adalah anak dari Permaisuri pertama. Dan putera sulung." kata Khong Siok. "Baginda Yu Ong menyukai Pangeran Pek Hok, Baginda Hoan Ong mencintai Cu Kek, dan Baginda Cong Ong mencintai Chu Tui, semua itu sudah Tuanku ketahui semua. Mengapa Tuanku tidak mau ikut aturan malah mau mengambil cara yang salah. Apa Tuanku tidak khawatir di kemudian hari akan menyesal?"


"Menurut pendapatku, sebaiknya kita mengambil jalan tengah," kata Menteri Sin Houw. "Tetapi jangan sekali-kali membantah perintah Kaisar Ciu. Maka itu kita tidak boleh ikut dalam pertemuan yang akan diadakan oleh Raja Cee. Di luar Pangeran The punya pengikut, begitu juga Pangeran Tai di dalam istana. Kita juga belum tahu siapa yang akan jadi pemenang di antara mereka berdua? Sebaiknya kita bersabar menunggu dan menyaksikan gerak-gerik mereka."


Raja The Bun Kong setuju pada pendapat Sin Houw, dia berpura-pura mengatakan pada Raja Cee ada masalah di dalam negaranya, lalu pulang.


Ketika Raja Cee Hoan Kong mengetahui masalah yang sebenarnya, mengapa Raja The pulang. Dia hendak mengajak Pangeran The untuk melabrak Raja The.


"Tidak perlu! Biarkan saja dia pergi," kata Koan Tiong.


Dia cegah Raja Cee bergerak. Kemudian Koan Tiong menganalisa minggatnya Raja The.


"Negeri The dan Ciu letaknya berdampingan," kata Koan Tiong. "Dalam hal ini pasti Kaisar Ciu telah mengeluarkan perintah hingga hatinya tergerak. Jika kita hanya berkurang seorang raja, itu tidak bisa mengacaukan niat kita yang besar. Sedang waktu pertemuan hampir tiba. Sesudah itu baru kita adakan perhitungan dengan negeri The!"


Raja Cee Hoan Kong apa boleh buat menahan sabar, sekalipun dia geram sekali.


Ketika saat pertemuan telah tiba, semua raja-raja berhimpun kecuali Raja Couw dan The. Dalam pertemuan ditetapkan semua Raja Muda akan mendukung Pangeran The menjadi Kaisar. Mereka pun mengucapkan sumpah.

__ADS_1


Pangeran The terharu dia mengucapkan terima kasih pada semua raja-raja.


__ADS_2