
Emilia pun memenuji janjinya menyibukkan dirinya bersama nenek membuat onde onde ketawa. Ketiga sepupunya pun dengan senang hati menemaninya membuat es krim. Tepatnya menambah pekerjaan Emilia lebih banyak karena selain disibukkan dengan kudapan kesukaan sang nenek dan juga permintaan ketiga sepupunya.
"Akhirnya jadi es krim mangga dan durian," seru Maria senang. Begitu juga Zeta dan Arinka..
Begitu juga dengan onde onde ketawa kesukaan nenek juga sudah selesai di goreng. Nenek pun terlihat senang.
"Kita aja yang rapi rapi, nenek sayang," ucap Arinka ketika melihat neneknya akan merapikan kompor.
"Gitu, dong, nenek senang kalo kumpul kayak gini," balas nenek dengan wajah sumrimgah.
Maria dan Zeta yang baru saja menyimpan es krim di freezer saling pamdang dan tersenyum.
"Emil jangan dikirim ke luar negeri lagi, nek," protes Maria manja sambil memeluk pinggang sang nenek.
"Dia dikirim buat sekolah. Buat bantu bantu kalian di kantor," sahut nenek sambil mengacak acak rambut tebal Maria penuh sayang.
Emilia yang membawa dua buah piring penuh dengan onde onde ketawa hanya tersenyum tipis melihatnya.
Selain membuat onde onde ketawa, Emilia juga membuat cake pisang, kroket kentang sampai kolak pisang campur ubi jalar berawarna ungu dan oren. Sementara itu di dalam kulkas sudah dipenuhi dengan berbagai puding dan es krim.
"Waah, ada pesta apa ini?" ujar seorang laki laki tampan yang masuk sambil melonggarkan dasinya dengan suara renyahnya.
"Kalo ada putri Emilia, pasti banyak makanan rumahan," balas seorang laki laki tampan lainnya yang masuk belakangan.
"Mas Bima, Kak Andra," sambut Emilia dan Zeta senang.
Kedua laki laki tampan itu tertawa lebar menyambuti adik dan sepupu sepupunya yang sedang berkumpul dan sudah membuat banyak kudapan.
Emilia pun memeluk manja kakak laki lakinya, Bima, penuh rindu. Begitu juga Bima yang balas memeluk adik kesayangannya.
"Kak Andra," panggil Emilia manja yang masih dalam pelukan Bima.
Andra mengusap rambut Emilia penuh sayang.
"Happy setelah pulang?" tawa Andra.
"Iya, dong," sela Zeta sambil membawakan juice jeruk.
"Pesta ini?" tanya Bima sambil menghampiri sang nenek dan menyalaminya. Nenek pun tertawa ketika Bima dan Andra mencium mesra pipi tuanya.
"Dewa mana?" tanya nenek heran ngga melihat cucunya yang lain.
"Maaf, nenek sayang, telat," ucap Dewa sambil menghampiri sang nenek dan mencium lembut pipi neneknya yang tertawa senang.
"Halo adik aku yang paling pintar masak," sapa Dewa, laki laki juga yang ngga kalah tampan.dari Bima dan Andra.
"Halo Kak Dewa," balas Emilia sambil memeluk manja sepupunya.
"Masak apa aja?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Tuh, banyak banget yang di meja," tunjuk Emilia ke atas meja keluarga, yang sudah penuh dengan makanan dan minuman segar.
"Enaknya."
"Ayo, kita makan," ajak nenek sambil meraih Emilia dan menggandengnya penuh sayang.
"Di kulkas ada pudimg tapi belum.keras. Es krim rdurian dan es krim.mangga di freezer yang baru jadi," ucap Arinka sambil memotong cake pisang.
"Udah lama banget kita ngga kumpul komplit," tukas Andra sambil mengambil kroket kentang.
"Enak," pujinya membuat Emilia tertawa senang.
"Jadi pengen bikin outlet makanan tradisional di mall," respon Bima sambil mengambil onde onde ketawa.
"Mas ngga ingin buat resto outdoor?" tanya Zeta kepo, memancing reaksi ketiga laki laki di depannya.
"Ngga ah. Kita maen indoor aja," sahut Andra diplomatis.
"Boleh juga. Nenek setuju. Cuma nanti Emilia yang harus kontrol.rasanya," tambah nenek sambil menepuk lembut bahu cucunya yang pintar masak.
"Betul, nanti kita bantu bantu bagian kontrol rasa juga," kata Maria manja yang disambut tawa yang lain.
"Itu memang yang kamu suka, maria mercedes," ledek Zeta sambil menoyor sepupunya Maria membuat Maria terkekeh.
"Nanti mas pikirkan konsepnya ya," akhirnya Bima pun mengurai tawa mereka dengan idenya.
"Beres, nek. Tujuh puluh persen udah di tangan kita," sahut Andra membuat nenek tersenyum senang.
"Bagus, nenek senang dengarnya," pungkas nenek senang.
Mereka pun menikmati kudapan kudapan di meja dengan hati senang.
"Kolaknya enak," respon Andra.
"Aku kak yang buat," seru Zeta menunjukkan dirinya.
"Masa? Biiasanya kamu sayang sama kuku kamu?" sindir Andra dengan senyum lebarnya.
"Yang motong motong, bibik, Zeta cuma ngaduk aja," ucap Zeta polos yang kembali membuat ruang keluarga dipenuhi tawa.
"Adik kakak memang paling pintar," kekeh Andra sambil mengusap rambut Zeta gemas.
"Lusa kantor ada meeting. Gimana kalo kita order kolak lezat ini, Bim," kata Andta memberi usul.
"Setuju," yang menjawab malah Dewa dengan mulut yang masih penuh dengan isian kolak.
"Telan dulu," tegur nenek membuat Andra susah payah menelan isi kolak sambil menahan tawanya.
Bima hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kamu bisa, Emil?"
"Kalo bisa jangan hanya kolak, mas. Sama kue kue juga ya. Yang serba Indonesia," ucap Emilia.
"Setuju," bagai koor Zeta dan Maria mendukung seratus persen.
"Nanti kita bantu Mil," kata Zeta lagi.
"Asyeek," sorak Maria.
"Banyak, kak Andra yang meering?" tanya Arinka.
"Sekitar 20 staf," jawab Andra.
"Kita bawa lebih aja, buat karyawan sekalian," usul Emilia.
"Boleh juga," balas Bima setuju.
"Ngga capek?" lanjut Bima agak ngga tega.
"Engga lah, mas Bima. Kan ada aku, Zeta sama Maria yang bantu," jawab Arinka cepat.
"Iya mas, beres," sambung Maria meyakinkan.
"Idem," balas Zeta cool.
Emilia tersenyum.miring. Dia harus cepat memikirkan ide kudapan yang ngga akan merusak kuku kuku ketiga sepupunya.
"Oke oke, imbalannya ikut temder hotel ke Bali," putus Bima yang langsung disambut heboh adik dan ketiga sepupu perempuannya.
Nenek dan dua tiga cucu laki lakinya ikut tersenyum senang melihatnya.
Setelah selesai menikmati hidangan, Zeta mendekati kakaknya.
"Aku udah kirim video salah satu resto grup Taksaka, kak," ucapnya ketika mereka hanya bertiga bersama Andrq..Sedamgkan Bima masih menemani yang lain bersama nenek.
"Kalian ngga perlu melakukan itu. Orang orang kakak sudah melakukannya. Tapi makasih ya, sayang," kata Andra sambil mengusap lembut kepala adikmya.
"Sama sama, kak. Tapi mereka parah ya, makanannya pun bisa sama persis rasanya," kata Zeta sambil menggelengkan kepala.
"Ya, mereka, kan, mengusung konsep rumah makan sunda, sama seperti kita," tambah Andra.
"Oke, deh, kak. Besok kita mau maen ke reatonya yang dekat perusahaan Taksaka," kata Zeta memberitau rencana mereka.
"Berlakulah seperti biasa, ya. Nikmati aja selama di sana. Jangan lakukan hal hal yang membuat curiga. Kalian tenang saja. Kita cuma rugi sedikit, tapi di bidang lain masih untung besar," nasihat Andra sambil memgacak rambut adiknya.
"Siap bos," seru Zeta cepat sebelum terkikik.
Andra dan Dewa tersenyum lebar.
__ADS_1