Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Maaf


__ADS_3

"Brengsek Lo," maki Andra ketika menemukan Dewa di tempat bagasi. Tanpa sungkan Andra pun menonjok keras pipi sepupu menyebalkannya.


Para penumpang yang menunggu bagasi menjerit histeris melihat Dewa yang kena tonjok di pipinya sampai terdorong mundur beberapa langkah.


Dewa ngga melawan, bibirnya malah tersenyum miring sambil menyeka darah di sudut bibirnya.


"Kita seri," jawabnya asal sambil menarik kopernya. Tapi hatinya puas, sakit hatinya diabaikan sejak tadi terbayar tuntas.


Andra mendengus kasar. Kemudian meraih kopernya yang di ulurkan seorang pengawalnya. Sekilas matanya melihat keberadaan gadis yang ditubruknya hingga mereka jatuh bertindihan. Menyebabkan adik kecilnya menegang.


Gadis itu melengos ketka ketahuan pemuda itu sedang menatapnya. Andra tersenyum miring.


"Sudah puas hah!" marah Bima ketika bertemu keduanya di ruang pengambilan bagasi. Pikirannya lag ruwet malah ditambah dengan pertengkaran keduanya.


"Sorry," sahut Andra merasa bersalah.


"Iya. Sorry," kata Dewa merasa ngga enak. Dia baru sadar wajah Bima yang keruh bukan karena marah, tapi sepertinya lagi banyak pikiran dan kalut.


"Ayo, cepat," sergah Bima sambil melangkah ke luar bandara diikuti adik dan para sepupunya.


"Kita mau kemana?" tanya Dewa pada Emilia yang terlihat pucat.


"Kamu sakit?" tanyanya lagi khawatir.


Putus cinta sampe begini, batin Andra kasian dalam hati.


"Om Revi masuk ICU," kali ini Zeta yang menjawab sambil memgeluarksn kertas tisue basahnya.


"Apa? Kok, bisa?" Dewa menatap Zeta heran dan ngga percaya.


"Makanya kita buru buru mau ke rumah sakit."


"Bibir kakak berdarah," katanya lagi dan langsung mengusap bibir Dewa yang berdarah dengan tisue basah.


" Laki laki biasa begini," katanya sambil menyorot lekat adik sepupunya.


"Kakak kenapa suka mancing kemarahan Kak Andra, sih," omel Zeta sambil menggelengkan kepalanya.


Dewa malah tertawa.


"Ayo, kak, nanti kita ditinggal," kata Zeta sambil membuang tisuenya yang bernoda darah ke tempat sampah.


Kasian, batin Zeta saat melihat sudur bibir Dewa yang robek akibat ditonjok kakaknya. Wajah tampannya jadi rusak.


Kakak sepupunya yang player, fansmu akan marah kalo lihat wajahmu, canda Zeta membatin. Tanpa sadar bibirnya tersenyum.


"Kenapa senyum senyum?" tanya Dewa sambil mentowel pipi Zeta membuat senyumnya tambah lebar.


"Pasti fans kakak akan marah marah lihat kakak terluka gini," ucapnya ringan.


Dewa mengacak gemas rambut Zeta.

__ADS_1


"Biar aja. Biar tambah disayang," balas Dewa membuat keduanya terkekeh pelan.


"Wooiiii, ayo cepat. Mau ditinggal," seru Andra mangkel melihat adik dan sepupunya malah masih sempat sempatnya bercanda di situasi galau begini.


Bima, Emilia dan Arinka sudah pergi duluan. Sekarang yang tersisa hanya dia, adiknya, Maria dan si brengsek Dewa.


"Tuh, kakak kamu udah kayak singa lapar. Makin lama kita ke sana, makin cepat dia nerkam kita," tawa pelan Dewa sambil menarik tangan Zeta yang juga melebarkan senyumnya.


*


*


*


Om Revo yang penasaran mengapa Kakak tertuanya sampai pingsan setelah kedatangan Arga Taksaka, langsung memeriksa cctv ruangan kakaknya.


Amplop apa itu? batinnya heran ketika melihat Arga Taksaka menyerahkan sebuah amplop dan ngga lama kemudian kakaknya membukanya dan nampak teekejut.


Ngga lama setelah Arga Taksaka pergi, kakaknya menyimpan amplop itu ke dalam tas kerjanya. Kemudian menelpon dan ngga lama kemudian pingsan.


Revo makin penasaran. Setelah dari ruangan cctv, beliau pun masuk ke ruangan kakaknya. Matanya tertuju pada tas kakaknya yang masih ada di atas meja kerjanya.


Tangannya bergerak meraih tas itu, tapi hatinya ragu ketika akan membukanya.


Tapi rasa penasarannya yang besar membuang keraguan dalam hatinya. Dengan dada berdebar ngga menentu, beliau membuka tas dan meraih amplop coklat itu.


Tangannya bergetar saat akan membukanya. Dia yakin ada sesuatu di amplop ini sehingga kakaknya langsung menyimpannya dengan cepat.


Kapan mereka berkenalan? Bukannya Emilia baru saja pulang? batin Om Revo ngga percaya dengan apa yang dilihatnya.


Dia pun memegang dadanya yang terasa sakit. Setelah melepaskan simpul dasinya, Om Revo langsung duduk di kursi kakaknya sambil menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Beliau melakukannya berulang ulang kali sampai rasa sakit di dadanya berkurang dan menghilang.


Pantas saja kakaknya sampai mengalami serangan jantung hebat. Beliau sendiri pun hampir saja seperti kakaknya. Kenyataan yang terpampang di depan mata sangat di luar dugaannya. Di luar ekspetasinya.


Jelas sekali Arga Taksaka membenci hubungan ini.


Mereka ngga tau atau gimana? gusar Revo dalam hati. Beliau pun memutuskan untuk membawa tas kerja kakaknya saat meninggalkan ruangan.


*


*


*


Akhirnya Bima dan rombongannya.sampai di ruang ICU tempat keluarga mereka sedang berkumpulan. Mereka langsung merasa sesak, melihat kesedihan di depan mata mereka. Apalagi melihat banyak dokter dan perawat yang keluar dari ruangan itu.


DEG


DEG


DEG

__ADS_1


"Ma," seru Emilia sambil berlari mendekat dan memeluk mamanya. Air matanya tumpah begitu saja. Sedangkan Om Ravi, adik bungsu papanya memeluk Bima erat.


"Papamu sudah tenang, dia ngga ngerasa sakit lagi."


DEGGG


"Ngga mungkin!" sangkal Bima sambil melepas pelukan Omnya. Omnya menatap nanar kepergian Bima yang berlari masuk ke dalam ruang ICU dan mendapati neneknya sedang memegang tangan papanya yang sudah terbebas dari alat alat medis.


"Revi, mama tau, kamu akan menjaga papa. Menemani papa. Mama ikhlas, nak."


Tubuh Bima bergetar mendengar ucapan ucapan penuh kesakitan neneknya.


Dia pun jatuh berlutut sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Airnya matanya mengalir deras.


Dia terlambat.


*Maaf, pa. Maaf. Ngga sempat nemuin papa.


Maaf, pa. Maaf. Ngga bisa jaga Emil dengan baik


Maaf, pa. Maaf. Maaf*.


Berulang ulang Bima membatin mengucapkan permintaan maaf pada papanya yang sudah tiada.


Andra dan Dewa yang ikut masuk merasakan gemetaran pada tubuhnya melihat tubuh omnya yang sudah terbujur kaku dengan nenek yang duduk di samping beliau.


Mata mereka langsung menganak sungai melihat punggung Bima yang berguncang guncang menahan tangisnya.


Ini terlalu cepat, batin Andra masih bingung dengan kenyataan di depannya.


Dewa membiarkan air matanya tumpah dan matanya buram melihat sosok kaku omnya.


Sejam kemudian, jasad Revi Sagara di bawa ke ruangannya. Om, Tante dan sepupunya sedang mengurus kepulangan Om Revi ke rumah nenek sebelum ke tempat peristirahatannya yang terakhir.


Mamanya masih pingsan, dan yang mengagumkan, neneknya tegar melihat prosesi terakhir putra tertuanya.


Emilia menatap dengan mata merah dan bertambah bengkak pada wajah papanya yang terlihat tersenyum damai. Bengkak akibat menangis karena Arjuna dan bengkak karena ditinggal papanya yang sangat mendadak dan ngga disangka sangka.


"Pa, Emil masih kangen. Emil baru aja pulang ,tapi papa sudah pergi," katanya tersendat. Dia membiarkan air matanya yang kembali mengalir.


Emilia meraih tangan papanya yang sudah mulai dingin. Mengelusnya lembut.


"Padahal Emil mau ngaku dan minta maaf ke papa. Emil sudah buat kesalahan besar."


Kali ini dia mulai terisak.


"Papa belum memaafkan Emil, tapi papa malah sudah pergi," lanjutnya lagi.


"Maaf, pa. Emil minta maaf."


Emil mencium tangan dingin papanya dengan berurai air mata.

__ADS_1


Arinka, Maria dan Zeta yang berdiri di luar kamar bergeming. Mereka sama menangis melihat betapa terpukulnya Emilia.


__ADS_2