Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Setengah Kejujuran Emilia


__ADS_3

"Akhirnya datamg lo," senyum Arinka sangat lebar menyambut kedatangan sepupunya yang terlihat jelas memendam kekesalan.


"Ayo, kita masuk ke dalam. Udah rame banget," kata Maria mgga sabar.


"Sebentar, gue nunggu Pak Umbul sama Pak Jono," tahan Emilia ketika Zeta menarik tangannya.


"Ngapain lo nunggu supir supir nenek?" tanya Maria heran


"Gue udah belanja buat snack box besok."


"Ya, ampun. Lupa," kaget Maria sambil menutup mulutnya. Dia benar benar lupa udah ber koar koar akan membantu Emilia di depan ketiga kakak sepupu laki lakinya.


"Beneran, gue juga. Maaf ya," kara Zeta juga merasa bersalah.


"Ngga pa pa," jawab Emilia santaii.


"Pak Jono nanti bawa mobil lo ke rumah nenek?" tanya Arinka mengerti.


"Ya. Soalnya bahan bahan ini ada yang harus secepatnya dimasukkan ke kulkas," jelas Emilia.


"Ya ya," kata Maria dan Zeta manggut manggut.


"Kemarin lo ngga tidur bareng, kan, sama laki laki itu?" tuduh Maria membuat Zeta langsung menyentil lumayan keras jidatnya


"Sakit, Zeta," kesal Maria sambil meringis.


"Ya ngga mungkinlah," tegas Zeta yakin. Setahunya sepupu ganjennya hanya suka menggoda saja, setelah itu ditinggal pergi.


"Nanti aja cerita lengkapnya di dalam. Itu mobil yang biasa dibawa Pak Umbul," sela Arinka ketika melihat sebuah mobil mewah yang mereka kenal mendekat.


"Iya, itu yang biasa Pak Umbul bawa," balas Emilia.


Ngga lama kemudian mobil itu berhenti di samping mereka.


Kedua laki laki berusia lima puluh tahunan itu keluar dari mobil dan menghampiri para nona mudanya.


":Nona Emilia, nona Arinka, nona Zeta, nona Maria," sapa Pak Umbul dan Pak Jono berbarengan. Seakan sudah mereka atur dalam urutan penyebutan nama.


"Pak, di jok belakang ada bahan kue yang harus segera masuk ke dalam kulkas. Yang ini," kata Emilia sambil membuka pintu mobilnya dan memberitahukan dus yang berisi bahan bahan kue yang harus segera masuk ke dalam kulkas.


"Baik nona muda," kata Pak Jono sambil mengambil kunci mobil yang diulurkan Emilia.


"Makasih ya, Pak."


"Sama sama nona. Kita pàmit nona muda," ucap Pak Umbul dan Pak Jono pada para nona mudanya.


"Hati hati, pak," kata mereka berbarengan.


Setelah dua buah mobil menjauh, keempatmya pun memasuki resto outdor yang mulai rame di jam makan siang.

__ADS_1


"Apa, sih, yang terjadi sama kamu dan laki laki pegawai Taksaka grup malam itu?" tanya Arinka penasaran begitu meletakkan bokongnya di lantai kayu gazebo.


Mereka sedang menunggu pesanan makanan mereka. Hanya saja kali ini ketiga sepupu Emilia ngga membahas suasana resto, tapi lebih penasaran tentang apa yang dialami sepupu mereka tadi malam.


Emilia yang mendengar sebutan pegawai Taksaka grup dari sepupunya, menghela nafas kasar dan tersenyum miring.


"Kamu kenapa?" tanya Zeta merasa aneh dengan ekspresi sepupunya.


"Iya, kamu ngga seperti biasa," Maria juga ikut berkomentar dengan bingung.


"Kamu ngga diperkosa, kan?" tuduh Zeta dengan mata penuh selidik.


"Nggak lah. Ngawur," bantah Emilia cepat.


Hampir, batinnya resah.


"Trus? Cerita, dong, Emil, kamu bisa buat hidup aku cuma lima menit lagi karena penasaran," sergah Arinka gusar.


"Malam itu, stafnya ngomong apa?" Emilia balik bertanya.


"Stafnya bilang, bosnya ada perlu sama lo. Nanti lo di antar pulang. Dia juga minta alamat apartemen Zeta," jelas Maria.


"Kalian percaya gitu aja?" Emilia menatap temannya kesal.


"Iya. Kita yakin lo juga setuju karena kita bawa misi, kan," seru Arinka ngga sabar.


Emilia menghela nafas panjang.


"Dia siapa?" tanya Ketiganya kompak saking ngga sabarnya. Emilia benar benar ngeaelin .


"Dia.... dia Arjuna Taksaka."


DAMM


Ketiganya terdiam karena terkejut. Bahkan Maria sampai memegang dadanya yang terasa sakit.


Hening


"Dia ngga tau siapa lo, kan?" cetus Arinka yang mulai paham kenapa sepupunya meminta menghentikan saja misi ini. Pantas aura laki laki itu begitu mengintimidasi.


Arinka tiba tiba menepuk jidatnya.


Bodoh!


Kilasan ingatan berseliweran di dalam memori otaknya. Ya, dia pernah melihat laki laki itu di galeri foto pada ponsel kak Andra.


"*Siapa dia, Kak? CEO mana?" tanya Arinka waktu itu. Mereka berdua sedang menunggu klien.


"CEO baru Taksaka Grup."

__ADS_1


"Apa? Semuda ini jadi CEO?" cetusnya kaget. Karena di grup mereka, papa Emilia masih jadi CEO, sedangkan mas Bima, Kak Andra dan Kak Dewa hanya menjadi direktur pelaksana.


"Iya. Pak Arga Taksaka sedang berobat ke luar negeri. Sakit Jantung*."


Off


"Pantasan gue ngerasa pernah lihat laki laki itu," kata Arinka lagi setelah fase ingatannya berakhir.


"Maksudnya lo lupa tentang siapa dia?" Maria menggelengkan kepalanya. Rupanya reaksi aneh sepupunya bukan rasa tertarik, tapi tentang ingatan yang terlupa.


"Iya."


Kembali hening sampai akhirnya pesanan mereka datang. Mereka pun makan tanoa mengatakan apa pun. Makanan yang lezat itu lewat begitu saja di kerongkongan karema pikiran mereka melayang jauh.


"Jadi apa yang terjadi padamu malam itu?" tanya Arinka mulai curiga. Dia sudah menghabiskan separuh nasi dan ikan nila gorengnya.


"Malam itu dia menolongku dari orang mabok yang memcoba mengganggu. Dia meminta balas jasa agar aku mengaku sebagai pacarnya. Hanya pacar pura pura," tutur Emilia panjang lebar.


"Kamu mau?" Zeta bertanya setelah meneguk air mineralnya.


"Ya. Karena kupikir akan sangat menarik akhirnya bisa menggoda tuan muda Taksaka grup," kata Emilia jujur. Sampai di sini dia bingung, apakah akan jujur atau berbohong. Karena endingnya terlalu vulgar.


"Terus?" Seperti tadi, kali ini pun ketiganya kompak bertanya.


"Mereka meeting. Temannya yang kalian rebutin juga ada..Ada tiga laki laki lain dan tiga perempuan. Sebelum meeting mereka selesai, aku memaksa pulang sendiri. Karena ngga mungkin, kan, aku memberitahu alamat apartemenku."


"Kenapa kamu ngga ke apartemen Zeta? Dia sudah tau alamatnya," tukas Arinka heran, ada kejanggalan dalam penjelasan sepupunya. Seperti ada yang ditutupi.


"Mana aku tau kaliam sudah memberikan alamat Zeta. Lagian di situ ada satu perempuan yang membuatku ngga nyaman."


"Iya, sih," kata Zeta berbarengan dengan Maria. Tapi Arinka hanya diam. Emillia tau, Zeta dan Maria gampamg dikibuli, tapi emgga dengan Arinka.


"Sekarang mau kamu bagaimana?" tanya Arinka sambil menatap tajam Emilia.


"Aku mau berhenti. Terus terang aku ngga berhasil menggodanya," aku Emilia jujur.


"Kamu tergoda,ya?" Senyum kecil terbit di wajah Arinka.


"Dia memang tampan," kekeh Maria.


"Memang," sambung Zeta juga dengan kekehannya.


"Pokoknya aku ngga mau lagi. Misi kita close," putus Emilia ngga mau dibantah. Dia pun melanjutkan makannya diikuti ketiga sepupunya.


"Menurutku akan sulit untuk berhenti, Mil. Apalagi mereka tau kamu pacarnya," ucap Arinka pelan sebelum menyuapi nasinya.


"Betul," lanjut Zeta kini menatap Emilia dengan tatapan ngga terbaca.


"Jangan suka sama dia. Laki laki itu terlarang untuk kita," tambahnya lagi.

__ADS_1


"Sayang, ya, padahal dia sangat tampan. Kenapa harus dari Taksaka," cetus Maria dengan nada sedih. Masih terbayang ketika neneknya koma karena kabar meninggalnya kakek mereka di dalam sel penjara.


Waktu itu terjadi mereka sudah duduk di bangku SMP. Setelah itu mereka pun dikirimkan sekolah ke luar negeri agar pendidikan dan mental mereka ngga terganggu. Karena pemberitaannya sangat booming dan terus menerus dan amat menyudutkan keluarga mereka.


__ADS_2