
Malam tadi bersama ketiga sepupunya mereka menginap.di apartemen Zeta. Mereka belum siap bertemu ketiga kakak laki lakinya.
"Lo ngga mau ikut ke perusahaan?" tanya Arinka heran melihat Emilia yang masih berkutat dengan catatan bahan kue di ponselnya.
"Ngga. Harus nge chek dulu, semoga ngga ada yang kelupaan," tolak.Emilia tetap fokus.
"Iya iyaa," tukas Zeta meledek.
"Kalo kakak menyidang kita gimana?" tanya Maria cemas lagi.
"Jawab aja seperlunya," cetus Zeta berusaha menenangkan Maria.
"Oke," jawab Maria kemudian mengambil nafas panjang dan menghembuskannya pelan pelan. Maria sangat gugup.
"Kapan lo pergi belanja? Berani sendirian? tanya Arinka beruntun
"Jam sepuluhan. Abis itu aku akan ke ruangan mas Bima," sahut Emilia berusaha menenangkan Maria.
"Mas Bima ngga akan marah," sambungnya membujuk.
"Iya, Maria Mercedes," goda Zeta membuat wajah Maria semakin kesal walau sudah sedikit lega sekaramg.
"Ngga ada yang perlu ditakutkan," tegas Arinka sambil.memdelik pada Zeta yang terkikik
"Oke. Hati hati ya,nanti kalo belanja bahan kue. Kita pamit dulu," ucap Arinka sambil beranjak pergi.
Pekerjaan mereka sedang banyak banyaknya sebelum ikut ke Bali.
"Tenang aja," sahut Emilia santai.
"Ya," sahut Maria sudah mulai ceria lagi.
"Daaah...." lambai Maria dan Zeta sambil berlalu.
Emilia pun balas melambai sambil melihat kepergian ketiga aepupunya.
*
*
*
Emilia mendadak merasakan aura intimidasi mengukungnya. Tangannya yang hendak mengambil tepung terigu langsung diturunkan karena kaget ada satu tangan kokoh yang meraihnya lebih dulu dan menaruhmya ke dalam keranjang belanjaannya dengan tenang.
Bola matanya membesar ketika bersitatap dengan mata elang yang sangat tajam menyorotnya.
Saking seriusnya Emilia melihat catatannya sampai ngga sadar kalo laki laki itu sudah cukup lama berada disampingnya.
"Berapa banyak tepung yang diperlukan?" tanya Arjuna datar.
Emilia melengos. Dia segera mengambil lagi dua kantong tepung terigu berukuran satu kilo di rak depannya.
Arjuna tersenyum miring sambil berdiri santai dengan dua tangannya berada di sakunya.
__ADS_1
Ngga sia sia dia menyuruh anak buahnya membuntuti Emilia dari apartemen sepupunya yang alamatnya sudah lama dia dapatkan.
Begitu anak buahnya menelpon kalo melihat Emilia di toko bahan kue yang sudah terkenal, dia pun bergegas meninggalkan ruangannya.
Walau ada kebencian tapi rasa rindunya terbayar sudah melihat gadis cantik itu yang serius dengan ipad. Sementara tangannya yang lain sudah sibuk memasukkan bahan bahan kue ke dalam.keranjang belanjaannya.
Gila!
"Bisa buatkan pastel untukku. Tenang, pasti aku bayar," katanya sambil mengikuti Emilia. Bahkan kini dia kini mengangkat keranjang belanjaannya.
"Pastel?" gumam Emilia pelan.
Oh iya, dia memberikam si kembar pastel kemarin, hatinya mengingat.
Dia suka? Emilia melirik Arjuna yang ternyata juga meliriknya sambil tersenyum.
Emilia melengos dengan jantung bersebar keras.
Wajahnya pasti memerah, batinnya merutuk .
Arjuna tambah melebarkan sedikit senyum di bibirnya melihat Emilia yang salah tingkah. Terlihat menggemaskan.
Arjuna menggelengkan kepalanya tanpa sadar.
Kenapa diri yang malah tergoda, batinnya kesal.
Baru kali ini hati dan logikanya ngga sinkron. Dia ingin membenci Emilia, tapi hatinya menahannya
"Kita tetangga, kan. Berapa kali kamu mampir ke unitku. Kapan kapan aku juga ingin masuk ke kamar mu," kata Arjuna nakal hingga membuat Emillia tambah ngga tenang.
"Sekarang kamu sudah tau."
Emilia terdiam. Dia menatap Arjuna yang juga menatapnya.
DEG DEG DEG DEG
Jamtungnya berdetak ngga normal.
"Malam.ini kamu akan kembali ke unitmu?"
"Nggak," sahut Emilia sambil.menggelngkan kepalamya
"Kenapa?" mata Arjuna menyorotnya tajam dan dingin membuat Emilia rasanya akan membeku.
"Di kamar ku alat alat untuk membuat kue ngga lengkap," jelasnya sambil.mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Mau aku belikan? Kamu cukup mengantarkan ku sarapan setiap hari.".
Enak saja, decih Emilia yang sudah pasti ngga mau.
Laki laki ini selalu memaksa.
Arjuna mengerutkan alisnya melihat tatapan protes di mata indah Emilia.
__ADS_1
"Bukannya kemarin kamu sengaja mengantar pastel untukku? Kenapa sekarang keberatan."
Orang ini, dia bicara semaunya, kesal Emilia dalam hati.
"Aku mau berterima kasih pada adik kembarmu," bantah Emilia jujur.
Urusannya dengan si kembar. Bukan dengan mu, tuan muda Arjuna, sarkas Mia membatin.
"Begitu?" ucap Arjuna ngga acuh.
"Ya," tegas Emilia.
Arjuna menarik sedikit sudut bibirnya.
"Oke. Mau jadi pacarku? Aku bisa memberikan lebih banyak dari Bima Sagara. Gimana?" bisik Arjuna serius ketika lorong bahan kue yang mereka lalui cukup sepi.
"Kita hanya pacar pura pura," tegas Emilia dengan suara tercekat. Jantungnya tambah ngga sehat karena Arjuna mencondongkan tubuhnya, hingga wajah tampannya sangat dekat dengan wajah Emilia. Nafas hangat Arjuna yang segar berhembus di pipi Emilia.
Dia mengira aku pacar mas Bima? batin Emilia kaget. Ternyata Arjuna salah paham. Apa dia harus senang karena Arjuna belum tau siapa dirinya?
"Dulu. Tapi sekarang pacar beneran. Kamu pacarku sekarang," tandas Arjuna dengan suara sangat tegas dan ngga mau dibantah. Sifat superiornya mendominasi.
"Kenapa?" tanya Emilia ngga ngerti.
"Aku ngga suka milikku disentuh orang lain," bisik Arjuna membuat kulit Emilia meremang.
"Aku bukan milikmu," tolak Emilia tegas
CUP
Wajah Enilia terasa panas sampai ke lehernya saat Arjuna tanpa aba aba mengecup lembut pipi kanannya.
Arjuna sendiri ingin melakukan lebih. Dia ingin melu*mat bibir Emilia yang setengah terbuka di dekatnya.
"Boleh bibirmu aku kecup?" tanya Arjuna demgan suara seraknya. Matanya sudah sayu dan berkabut.
Tanpa sadar Emilia mengangguk sambil memejamkan matanya. Jantungnya semakin cepat berpacu. Dia merasa dikendalikan oleh tatapan tajam di depannya. Emilia lagi lagi merasa takluk. Arjuna Taksaka sangat berbahaya untuknya.
Arjuna tanpa ragu mengecup bibir yang setengah terbuka itu .Melu*matnya sebentar saat menyadari sepinya lorong mereka.
Arjuna menjauhkan wajahnya. Menatap Emilia yang masih memejamkan mata dengan bibirnya dalam keadaan setengah terbuka.
Dia sangat seksi, batin Arjuna tersiksa dengan hasrat yang bergelora dalam aliran darahnya.
Kenapa sangat bersama Emilia, dia begitu ingin membawa gadis itu ke ranjangnya. Memilikinya seutuhnya.
Arjuna pun melepaskan pegamgan pada keranjang Emilia dan langsung berjalan pergi meninggalkannya.
Arjuna kembali merutuki dirinya yang ngga konsisten dengan tujuan awalnya. Niatnya semula adalah memaki gadis itu, mempermalukannya. Tapi begitu di dekat Emilia, segala kata makian yang sudah disusunnya lenyap.
Emilia membuka matanya seperti orang ling lung. Dia membalikkan tubuhnya, dan matanya menangkap punggung Arjuna yang sudah meninggalkan pintu masuk toko.
Apa dia serius menjadikan aku pacarnya? batin Emilia tambah ngga tenang.
__ADS_1
Wajahnya semakin merah ketika mengingat Arjuna lagi lagi mencium bibirnya. Di pipinya pun masih terasa hangat kecupan laki laki itu.