
"Kamu ngga apa apa, kan?" tanya Maria ketika mereka sudah sampai di mobil. Maria duduk di samping Zeta yang kini sudah menyetir.
"Ngga pa apa," jawabnya serak.
"Kenapa, sih, perempuan perempuan di circle mereka galak galak sama kita," omel Maria sebal. Dia pun teringat Veli yang berkata kasar dengan Emilia waktu di mall dulu.
Zeta melirik Arinka yang ngga menjawab, tapi malah melihat ke kaca jendela di sampingnya. Sengaja memalingkan wajahnya agar ngga terlihat gimana sekarang ekspresinya.
Rinka menangis? batin Zeta mencoba menebak. Tadi dia sempat melihat mata sepupunya yang memerah.
Adalah aneh Arinka yang selalu cuek dengan laki laki bisa jadi melo karena umpatan kasar gadis tadi. Bahkan tadi Arinka sedikitpun ngga membalasnya.
Zeta yakin saat ini perasaan Arinka pasti sangat ngga menentu.
Perlakuan Mars yang melindunginya terlihat sangat jelas sekali. Seperrtinya mereka sudah punya kisah kasih yang lebih dulu dari Emilia.
Sialan. Kenapa dia baru tau, sesalnya dalan hati.
"Tapi Mars romatis sekali, ya. Orang orang pasti mikir kamu pasti ada hubungan dengan Mars, Rin," celoteh Maria lagi. Dia kembali mengenang adegan romantis itu. Kembali hatinya merasa iri.
"Hanya orang bodoh yang berpikir begitu. Mereka ngga tau aja kalo keluarga kita musuhan," kekeh Maria senang.
Zeta meliriknya prihatin.
Selalu aja ngga peka, batin Zeta.
Arinka sudah ngga memperhatikan omongan Maria. Hatinya masih ngga tenang memikirkan Mars.
Apa dia masih sanggup bertahan kalo Mars jadi menikah?
Sekarang aja rasanya Arinka ingin menangis. Tapi dia sedang menahannya.
Kemudian teringat lagi akan punggung Mars yang mungkin akan sedikit kemerahan karena tumpahan teh panas itu.
Harusnya aku yang mengobatinya. Bukan gadis tadi.
*
*
*
"Ngga apa apa kita ke sini?" tanya Emilia malah khawatir, karena Arjuna malah mengajaknya ke apartemennya yang bersebelahan dengan unitnya.
"Tempat berbahaya justru menjadi tempat paling aman, dalam situasi begini," sahutnya santai sambil menggesekkan kartunya.
"Apa kita ke kamarmu saja?" goda Arjuna dengan tatapan nakal.
__ADS_1
"Aku ngga bawa kartunya," tolak Emilia, tapi kemudian dia merasa sudah memberikan jawaban bodoh karena Arjuna melebarkan senyumnya.
"Kan kamu tau nomer pinnya sayang."
Wajah Emilia langsung memanas.
Arjuna menarik tanganmya agar memasuki kamarnya karena gadis itu masih aja terpaku di sana.
Tempat ini sudah di geledah kemarin. Ngga mungkin papinya akan menyuruh orang orangnya ke sini lagi. Kecuali Arsen.
Mengingat nama itu jantung Arjuna berdetak sedikit keras.
Tapi tumben selama ini Arsen belum menemuinya. Ada yang aneh. Apa otaknya sudah tumpul?
Seharus Arsen sudah memberitahukan keberadaannya dengan papinya. Arjuna yakin, pasti sangat mudah sekali buat Arsen tau keberadaannya.
Tapi kenapa papinya malah ngga berhenti menelpon Galih. Begitu juga Om Haykal, Papa Galih. Mereka masih mencari keberadaannya.
Ada yang aneh, tapi Arjuna malas memikirkannya lebih jauh.
Emilia merasa deg degan sangat berdua saja dengan Arjuna di dalam apartemen laki laki itu. Beberapa kali dia memang pernah kemari tapi untuk menemui si kembar. Bukan Arjuna. Bahkan awalnya Emilia pun ngga tau kalo Arjuna tinggal di sebelahnya.
"Akhirnya aku bisa membawa kamu ke apartemenku," ucap Arjuna dengan senyum tipisnya.
"Kamu sudah biasa, kan, ke sini? Jadi santai saja," canda Arjuna masih dengan senyum tipisnya, menggoda Emilia, hingga parasmya kemerah merahan dan sangat menggemaskan. Ingin langsung Arjuna kecup, tapi kondisinya ngga meyakinkan.
"Kamu kenapa?" tanya Emilia cemas melihat keadaan Arjuna.
Laki laki tadi sangat gagah menghadapi kakaknya dan membawanya ke sini. Tapi kenapa sekarang dia tampak lemas. Seakan akan kekuatannya sudah menghilang.
"Kemarilah," panggil Arjuna lemah.
Emilia pun mendekat dan membuka topi dan masker Arjuna.
Keningnya ternyata berkeringat dan terasa panas. Wajahnya juga nampak pucat.
"Kamu demam? Apa sudah minum obat?" tanya Emilia sambil duduk di samping Arjuna.
"Obatku kamu," gumam Arjuna lirih sambil meletakkan kepalanya di ceruk leher Emilia.
Nafas panasnya membuat Emilia merinding dan pikirannya jadi traveling ke mana mana. Jantung Emilia pun sudah berirama disko mendengar kata kata ambigu Arjuna.
"Aku buatkan kamu minuman hangat, ya? Di kulkas kamu ada isinya? Aku akan buatkan kamu sesuatu," kata Emilia dengan satu tarikan nafas karena dia sangat khawatir.
Dia juga ingin menghindar dari situasi yang berbahaya ini.
"Ngga usah, temani aku tidur aja," bisik Arjuna sambil memeluk pinggang Emilia erat dan terus saja menempelkan kepalanya hingga bibirnya menekan bahu Emilia.
__ADS_1
"Juna...." panggil Emilia dengan suara seraknya.
"Aku hanya ingin tidur di dekat kamu," bisik Arjuna lagi.
Hanya Tuhan saja yang tau apa yang dirasakan Emilia saat ini. Sentuhan Arjuna membuatnya lemas karena merasakan sensasi aneh tapi menyenangkan.
Untungnya Arjuna menepati kata katanya.
Nafas teraturnya menyentuh kulit bahu dan lehernya yang semakin meremang saja. Arjuna sudah terlelap.
Emilia pun memejamkan mata. Mencoba untuk tidur juga dalam pelukan Arjuna.
*
*
*
"Mars, ngga pa pa. Buka aja jasnya, ya," desak Sita memaksa. Dia bingung karena Mars tetap mempertahankan jasnyanya yang basah.
Selain itu Sita ingin memeriksa punggung Mars. Mengoleskannya dengan salep. Pasti agak memerah di sana.
Mars menggelengkan kepalanya.
"Ngga usah. Bentar lagi aku ada meeting penting," tolaknya sambil menyesap kopinya.
Pagi ini papinya memintanya mengajak Sita sarapan dan nanti mengantarkan calon istrinya itu ke perusahaannya, setelahnya baru dia akan ke perusahaannya yang letaknya ngga begitu jauh.
Karena kejadian Vania, papinya dan papi Sita memutuskan untuk membatalkan pertunangan. Tapi melanjutkannya dengan langsung mempercepatnya menjadikan pernikahan saja.
Mars bingung, ngga bisa memberikan penolakan karena keputusan yang mendadak ini.
Dia mengira, masih ada waktu meyakinkan dirinya untuk memaksa Arinka.
Sikap Arinka membuat Mars ragu dalam menentukan sikapnya.
Apalagi melihat Arjuna yang babak belur dihajar Bima Sagara.
Mars pasti rela rela saja babak belur asalkan Arinka mau bersamanya.
Tapi saat di kafe tadi, hati Mars sedikit bersorak melihat tatapan kaget dan terguncang Arinka yang mendengar Sita menyebutnya sebagai calon suaminya.
Apa itu artinya Arinka ngga rela dia menikah dengan Sita?
Dia harus segera memastikan. Pernikahannya ngga nyanpe sepuluh hari lagi Jika Arinka mau menerimanya lagi, dia akan memperjuangkannya mati matian. Menentang papinya. Kalo maminya ngga ada masalah. Beliau akan lebih memilih kebahagiannya. Karena dulunya maminya sempat memergokinya beberapa kali sedang menatap foto Arinka dengan wajah galau.
Seperti Arjuna yang berusaha keras untuk bersama Emilia. Mars akan begitu juga demi Arinka yang pernah dia lukai hatinya.
__ADS_1
Mars sudah mencoba untuk menerima keputusan papinya, menerima Sita. Tapi tetap saja hatinya menolak. Jika pun tetap bersama Sita, maka gadis itu pun akan disakiti juga olehnya.