
"Maaf," lagi lagi Arjuna mengatakan ucapan yang sama. Dadanya terasa dingin oleh air mata yang membasahi kemejanya. Dia masih memeluk Emilia yang masih saja terisak. Hatinya pilu mendengarnya. Dia sudah membuat gadis ini terguncang.
Apa dia sudah sangat menyakiti Emilia? batinnya nyeri.
"Kamu kedinginan?" tanya Arjuna. Lengan yang dipelukmya terasa dingin. Angin malam bertiup cukup kencang.
"Sebentar," kata Arjuna sambil melepaskan pelukannya. Dia pun mengambil sweater miliknya yang tersimpan di dalam koper kecil yang ada di bagasinya.
Arjuna memang mempunyai sebuah koper yang berisi beberapa helai baju, celana panjang, jas, handuk, sampai underwear, yang memudahkannnya bila harus keluar kota sewaktu waktu.
Secepat dia pergi, secepat itu pula dia kembali pada Emilia. Ajuna pun memakaikan sweater yang cukup tebal di tubuh Emilia.
Sweater itu terlihat cukup kebesaran. Untunglah tubuh Emilia cukup tinggi. Emilia hanpir sedagu Arjuna. Jadi masih terlihat cukup pantas dikenakannya.
"Masih dingin?" tanya Arjuna lembut. Dia kembali merengkuh Emilia dalam pelukannya.
Emilia hanya mengangguk tanpa suara. Saat ini perasaan Emilia mulai merasa sangat nyaman setelah tadi mendapat perlakuan buruk dari Arjunanya.
Arjunanya? Emilia tersedak dalam hati. Dia ngga bisa memungkiri hatinya kalo dia telah jatih cinta pada Arjuna, pangeran dingin bermulut pedas dari grup Taksaka.
Apa yang harus dia lakukan? Apakah Arjuna akan semakin membencinya jika tau dia adik dari Bima Setya Sagara.
Hati Emilia tambah sedih. Itu juga yang membuatnya susah untuk berhenti menangis.
Pelukam Arjuna membuatnya takut nantinya akan menghilang, sirna jika semuanya terungkap. Dia sudah terlalu nyaman. Emilia ngga ingin semuanya direngut paksa darinya. Dia ingin bersama Arjuna. Ingin terus berada dalam pelukan hangat dan hasratnya yang panas. Emilia merasa batinnya sudah terikat dengan Arjuna.
Seakan tau kalo Emilia mulai merasa nyaman dengan pelukannya, Arjuna membelai rambut Emilia lembut dan sayang.
Gila kah dia mencintai kekasih musuh besar keluarganya? keluhnya frustasi.
Arjuna masih ngga bisa menggunakan logikanya. Berada di dekat Emilia membuat perasaan egois untuk memilikinya selalu muncul.
"Mau aku antar kamu pulang?" tanya Arjuna menawarkan karena hari sudah semakin malam.
"Mungkin kita bisa makan sesuatu?" lanjutnya lagi agak berharap ngga menerina penolakan.
__ADS_1
Emilia menatap Arjuna dengan tatpan bingung. Dia sudah berhenti menangis. Sebentar lagi sopir nenekmya mau datang menjemput. Dia terpaksa menelpon supir neneknya, karena ngga mungkin dia pesan taksi online dalam keadaan begini. Dan lebih ngga mungkin lagi dia membiarkan Arjuna mengantarmya sampai ke runah nenek. Tapi dia akan menyakiti hati Arjuna kembali karena menolaknya.
"Maaf, aku..." ucap Emilia terbata.
"Ngga pa pa kalo kamu ngga bisa. Aku ngga pa pa," potong Arjuna berusaha biasa saja. Padahal dalam hatinya ada luka yang ngga berdarah yang rasanya sangat sakit.
*S*udah tau akan ditolak, tapi masih saja berharap, batin Arjuna sesak.
Tapi ini mungkin harga yang harus dia bayar karena telah berlaku ngga bermoral pada Emilia tadi.
"Aku tadi ke sini pake taksi online. Cuma sekarang sudah telanjur telpon supir rumah," jelas Emilia yang dapat melihat percikan luka di mata Arjuna.
"Oooh," kata Arjuna sedikit lega. Segaris senyum tergurat di bibirnya.
Kali ini mulai ada progres, batinnya agak terhibur.
"Aku sama Bima ngga pacaran," jelas Emilia membuat Arjuna terpaku. Emilia merasa perlu menjelaskan kesalahpahaman Arjuna agar ngga berlarut larut. Tapi dia tau itu juga ngga akan berguna jika Arjuna nanti tau kalo dia adalah adik Bima.
Arjuna langsung fokus ke mata Emilia, berusaha mencari kejujuran di sana.
Seorang laki laki paruh keluar dan membukakan pintu penumpang untuk Emilia.
"Nona muda," sapa sang supir membuat Arjuna menatap Emilia curiga akan panggilan itu. Panggilan itu umumnya berlaku untuk putra putri konglomerat.
"Pak Umbul, terimakasih."
"Sama sama nona muda."
"Aku duluan. Ini sweaternya.....," ucap Emilia sambil memegang sweater Arjuna, bermaksud akan melepaskannya.
"Jangan. Pake aja dulu biar kamu hangat," cegah Arjuna sambil menahan tangan Emilia. Keduanya saling pandang akibat sentuhan sejenak itu.
"Oke. Nanti aku kembalikan," kata Emilia dengan pipi merona. Arjuna hanya menganggukkan kepalanya.
Emilia tersenyum manis sebelum masuk ke dalam mobil dan Pak Umbul segera menutup pintunya. Sekilas Pak Umbul melirik Arjuna sebelum masuk ke dalam mobil
__ADS_1
Emilia menurunkan kaca mobilnya.
"Aku pulamg dulu," pamitnya lagi ketika mobil akan dijalankan.
"Hati hati," balas Arjuna sambil melambaikan tangannya dengan terus melihat mobil itu melaju pergi meninggalkannya.
"Ya, kok, Kak Arjuna ngga ngantar Kak Emilia pulang, sih," sesal Cila. Dia dan kembarannya masih memperhatikan dari balik mobil.
"Iya. Harusnya Kak Arjuna langsung menyuruh supir Kak Emilia pergi," sambung Cleo juga kesal.
"Tapi mereka romantis, ya," seru Cila senang dengan senyum mengembang lebar.
"Ya," kata Cleo setuju. Ngga nyangka, kakak sepupunya bisa sangat lembut memperlakukan Kak Emilia.
"Pengen punya pacar seperti Kak Arjuna," tukas Cila sambil memejamkan mata.
"Ada, Kak Galih," goda Cleo membuat wajah Cila mermerah karena malu.
"Hiii, kamu apaan, sih," sangkal Cila pura pura kesal padahal dalam hati senang bukan main mengingat sahabat kakak sepupunya yang juga tampan dengan rambut gondrongnya.
"Cieee, maluuu....," ledek Cloe makin menjadi membuat wajah Cila tambah panas.
"CLEO!" seru Cila marah canpur malu sambil memukul sepupunya gemas.
TOK TOK TOK
Keduanya kaget saat menyadari siapa yang mengetuk kaca mobil.
"Kak Juna!" seru keduanya berbarengan. Ngga menyangka akan ketahuan secepat ini.
Sebelumnya, setelah melihat mobil yang membawa Emilia menghilang, Arjuna baru sadar ada mobil mewah yang sangat dia kenal parkir ngga jauh dari tempatnya berada.
Begitu mendekat, terlihatlah si kemnar kepo yang sedang berantem di dalamnya. Arjuna melipat kedua tangannya di dada.
Dia yakin, kedatangan Emilia ke sini dengan dandanan ala kadarnya pasti karena ulah mereka berdua.
__ADS_1