
CEKLEK!
Arjuna dan Emilia saling bertatapan. Jantung keduanya berdetak keras.
DEG
DEG
DEG
Arjuna yang sedang membantu Emilia membuat pastel yang isinya hanya tumisan kentang dan wortel saja langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar suara pintu apartemennya yang sudah dibuka seseorang. Demikian juga Emilia. Keduanya mendadak gugup dan merasa overthinking kalo yang datang Papi Arjuna, keduanya ngga bisa bergerak untuk sembunyi, karena sudah ngga ada waktu lagi.
Sudah sangat terlambat.
Keduanya tertegun menatap lurus ke depan pada sepasang suami istri yang juga terkejut melihat ke arah mereka. Sama sama ngga menyangka dengan pandangan di depan mereka.
"Mami, ngga mungkin, Kak Juna di sini," suara Cleo membuyar ketediaman mereka.
"Juna!" seru Om Verdin dan tante Carol bersamaan.
"Kak Emilia," seru si kembar ngga kalah kerasnya.
Tante Carol pun melangkah cepat mendekati Emilia yang masih terdiam dengan tangan masih memegang pastel yang baru saja diisi dengan tumisan wortel dan kentang.
Tanpa bisa dicegah, Tante Carol memeluk erat Emilia yang menerimanya dengan tubuh gemetar.
"Maafkan kami, Emil. Gara gara papi Juna, papi kamu meninggal," ucap Tante Carol dengan mata berkaca kaca. Dirinya begitu terguncang setelah tau yang sebenarnya.
Kakak laki lakinya sangat kejam. Sudah dibutakan oleh dendam yang ngga berkesudahan sampai.menjadi penyebab Papi Emilia meninggal dunia. Bahkan dengan tega menyebarkan foto Emilia di saat keluarganya sedang berduka.
Kakak laki lakinya-Arga Taksaka, sudah menjadi manusia yang ngga punya hati nurani.
"Kak Emil," seru Cila yang juga ikut memeluk Emilia. Cleo pun mendekat dan ikut memeluk. Mereka bertiga sama menahan isak.
Om Verdin menghampiri Arjuna yang masih termangu melihat pemandangan haru di depannya.
Ngga menyangka tantenya dan si kembar begitu menyayangi Emilia. Ada aliran hangat mengalir dalan tubuhnya. Memberinya harapan baru untuk.hubungannya dengan Emilia.
Om Verdin menepuk pundaknya lembut. Di cari kemana mana, ternyata malah berduaan di sini. Padahal kemarin kakak iparnya sudah menyuruh orang orangnya kemari. Tapi apartemen ini kosong. Ngga ada tanda tanda Arjuna pernah manpir. Apalagi menginap.
Bahkan kakak iparnya sudah kelimpungan sekarang karena masih belum menemukan putranya ditambah Arsen yang juga menghilang. Ternyata hari ini Arjuna dan Emilia malah mereka yang temukan akibat rengekan istrinyq-Carol.
Saat melewati apartemen ini, istrinya bersikeras untuk mampir. Padahal sudah diyakinkan olehnya dan dua putri mereka kalo ngga akan ada Arjuna di sini. Tapi ternyata firasat istrinya benar. Arjuna dan bahkan Emilia ada di sini.
"Papimu mencarimu," kata Om Verdin-suami tante Carol perlahan.
Arjuna menganggukkan kepalanya.
Tentu saja dia tau, karena dia sengaja menghindar dari papinya. Terutama dengan rencana pernikahannya. Apalagi Arjuna juga masih sangat marah dengan perbuatam jahat papinya pada keluarga Emilia.
"Tapi Om senang kamu baik baik saja," ucap Om Verdin tulus. Dirinya akan menemui Ravi untuk membahas hubungan keduanya ke jenjang selanjutnya. Istrimya yang sidah jatuh sayang pada Emilia pasti akan langsung setuju.
__ADS_1
Sekarang yang harus Verdin lakukan dengan sangat maksimal adalah membujuk Ravi dan Revo agar mau menerima putra keluarga Arga Taksaka sebagai pendamping Arjuna.
Jika saja Revi masih bernyawa, maka urusan akan lebih mudah. Karena mendiang Revi lebih bijaksana dalam mengambĂ il sikap.
"Kalian sudah lama berhubungan?"
"Belum, Om. Baru baru juga," jawab Arjuna jujur. Baru juga beberapa bulan.
Om Verdin menatap tajam Arjuna ngga percaya. Karena keduanya terlihat sangat dekat dan akrab.
"Om kira sudah lama," kekeh Om Verdin kemudian menggandeng Arjuna untuk duduk di sofa di dekat situ ketika melihat istri, anak kembarnya dan Emilia kini sudah mengurai pelukan. Bahkan sekarang sibuk dengan pastel pastelnya.
"Mau buat pastel?" kekeh Om Verdin lagi.
Arjuna juga terkekeh melihat kesibukan empat perempuan di depannya.
"Iya, Om. Buat menghabiskan waktu."
Emilia melihat ada sedikit wortel dan kentang di kulkasnya. Karena Emilia masih memiliki sedikit tepung dikamarnya, gadis itu memutuskan membuat pastel untuk cemilan mereka.
"Tantemu dan si kembar sangat suka dengan Emilia," ucapnya lagi masih dalam derai tawanya.
"Iya," sahut Arjuna membenarkan. Tantenya dulu sangat menentang Vania jadi calon istrinya karena sudah memiliki calon yang lebih berkompeten untuk dirinya. Emilia yang jago baking.
"Kamu terlihat ngga baik baik saja," komentar Om Verdin sambil mengamati wajah Verdin yang masih tersisa bekas pukulan.
"Iya, Om."
"Siapa yang memukul kamu?"
Om Verdin menganggukkan kepalanya maklum.
"Kalian berdua sekarang .... apakah sudah dibolehkan Bima? Atau ini tanpa sepengatahuannya?" seldik Om Verdin.
Arjuna tersenyum lebar.
"Bima yang mengantarnya, Om. Tapi sebentar lagi Emil harus aku pulangkan," jelasnya tenang.
Sesaat Om Verdin kelihatan terhenyak. Ngga menyangka jawaban ponakannya.
Bima bisa semudah itu menerima Arjuna? batin Om Verdin susah untuk percaya.
Tapi kemudiian Verdin teringat kalo Bima adalah putranya Revi yang sudah meninggal. Bima pasti mewarisi sifat bijaksana Revi.
"Syukurlah kalo begitu, tugas Om ngga terlalu berat nantinya." Senyum Verdin melebar.
Arjuna menatap Omnya serius.
"Om mau membantuku?" tanya Arjuna berharap.
"Tentu. Ravi teman Om. Om akan bicara padanya tentang kamu," janji Verdin membuat bibir Arjuna pun melengkung sempurna.
__ADS_1
"Terima kasih, Om," ucap Arjuna sungguh sungguh. Kini dia baru tau alasan papinya kurang menyukai Om Verdin. Ternyata Om Verdin berteman dengan adik papimya Emilia
"Kita keluarga, jadi wajib saling membantu," balas Om Verdin lugas.
Kemudian keduanya tertawa lepas.
*
*
*
^^^Mars^^^
^^^Aku minta maaf. Aku ngga bisa sama kamu lagi^^^
Sita
Tapi kenapa? Aku udah buat salah apa?
^^^Mars^^^
^^^Tidak. Kamu sangat baik.^^^
Sita
Lantas kenapa?
^^^Mars^^^
^^^Aku ingin bersama perempuan yang aku cintai. Aku sudah berusaha melupakannya. Tapi ngga bisa.^^^
Sita
Aku bisa jadi seperti dirinya, kalo itu yang kamu mau.
^^^Mars^^^
^^^Maafkan aku, Sita. Aku sudah mengecewakanmu. Maaf.^^^
Mars pun menonaktifkan ponselnya lagi. Mars baru saja mengaktifkannya setelah sekian lama dia offkan
Ternyata banyak sekali panggilan telpon dari Sita, papi, juga maminya.
Karenanya Mars memutuskan untuk mengirim pesan pada Sita. Membatalkan pernikahan mereka.
Memang sangat kejam karena ngga berbicara pada Sita secara langsung. Tapi Mars tau, Sita ngga akan mungkin melepasnya dengan mudah.
Tapi tekad Mars sudah bulat. Dia memilih memperjuangkan Arinka yang bahkan ngga mengirimkan pesan satu pun padanya. Telpon juga ngga.
Mars ngga mau menyesal dengan hanya bisa meratapi kegagalan cintanya tanpa pernah berusaha keras.
__ADS_1
Mars ngga mungkin bisa hanya menatap terus Arinka dari kejauhan di saat mereka telah punya pasangan masing masing.
Pasti akan sangat menyedihkan. Merindu tapi ngga bisa digapai.