
Emilia menatap ponselnya yang ternyata sudah lowbat. Sudah beberapa hari ini dia lupa keberadaan ponselnya. Sejak mengetahui papanya di ICU dan kemudian meninggal, ponselnya ngga pernah berada di tangannya. Bahkan beberapa hari setelah papanya meninggal dunia pun, Emilia ngga menyentuh ponselnya sedetik pun. Dia terlalu bersedih.
Tapi hari ini Kakaknya meminta mereka semua mulai bekerja di perusahaan induk keluarga. Mungkin maksud kakaknya agar mereka segera bisa bangkit dari kesedihan. Karena itulah Emilia jadi mengingat ponselnya.
Setelah menchasnya beberapa menit, batre ponsel itu sudah menunjukkan angka ketersedian lima puluh persen.
Emilia pun mengaktifkannya. Dan matanya memanas melihat wallpaper ponselnya yang merupakan fotonya bersama papa, mama dan Kak Bima saat mereka liburan. Senyum dan tawa ceria tergambar di sana.
Papa, panggilnya dalam hati yang terasa pedih.
Wallpaper itu adalah penguat hatinya, obat kangennya selama kuliah di luar negeri yang jauh dari keluarganya. Tapi sekarang melihat gambar papanya yang sedang tersenyum lebar bersama dirinya dan anggota keluarganya yang lain membuat matanya menganak sungai.
Papa, rintihnya lagi dalam hati.
Maafkan Emil. Maaf Pa.
Rasanya hatinya tersayat sayat karena dialah penyebab papanya kena serangan jantung. Bagaimana dia bisa memaafkan dirinya atas kesalahan yang teramat besar ini.
Emilia rapuh di dalam, tapi dia berusaha menyembunyikan kepedihan hatinya dari keluarganya. Emilia tau mereka senua mengkhawatirkannya. Karena itu Emilia berusaha tampak kuat.
Banyaknya notif pesan dan panggilan ngga terjawab dari teman temannya membuat air matanya menetes. Mereka mengucapkan ikut berduka cita atas meninggalnya papanya dan berusaha menguatkannya.
Emilia menghapus air matanya ketika melihat cukup banyak panggilan tak terjawab dari Tante Carol. Wajahnya menampakkan keheranan.
Kenapa?
Bukannya Tante Carol sudah tau aku putri dari Papa Revi Sagara?
Emilia memejamkan matanya, menahan sakit di hatinya.
Tante Carol selama ini sangat baik padanya, apakah beliau akan berubah setelah tau kenyataan akan dirinya yang sebenarnya?
Walaupun masih menghargai Tante Carol, Emilia sudah ngga peduli lagi. Mereka sudah membuat papanya meninggal. Memang kematian adalah takdir. Tapi Emilia akan melupakan semua tentang Taksaka. Dia ngga ingin mempunyai hubungan apa pun dengan mereka. Apalagi Arjuna.
Mengingat nama itu hatinya serasa remuk. Kenapa perasaan cintanya membuat dia menanggung rasa penyesalan seumur hidup. Air mata Emilia kini makin deras mengalir.
*
*
*
"Katakan cepat. Aku ngga bisa lama lama," ketus Arinka pada laki laki tampan di depannya. Saat ini mereka berada di ruang privat sebuah restoran di dekat perusahaannya.
Agar ngga dikenali. Arinka memggunakan kaca mata hitam dan masker. Bahkan dia memakai hodie yang menutupi kepalanya. Penampilannya sudah seperti kriminal di film film saja.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus berpenampilan begini. Aku menyewa ruang privat. Ngga ada yang bisa melihatmu," kata Mars dengan susah payah menahan tawanya..
Arinkanya yang selalu menggemaskan dan membuatnya rindu. Setelah selalu menolaknya akhirnya Mars bisa memaksa mantan kekasihnya untuk menemuinya. Memang sangat wajar Arinka membencinya. Dia adalah laki laki pengecut yang ngga berani memperjuangkan cintanya. Bahkan memutuskan Arinka tanpa perasaan setelah tau hubungan darah Arinka dengan keluarga Sagara.
Arinka mendengus kesal mendengarnya. Dia membenci alam bawah sadarnya
yang selalu menuruti pernintaan laki laki yang sempat menjadi pacarnya.
"Katamu ada yang penting. Atau aku akan pulang," ancam Arinka dengan sorot marah.
Mars tersenyum melihat Arinka yang merajuk. Dadanya berdebar menahan rindu. Kemudian dia menyesap kopinya perlahan.
"Minumlah dulu kopimu. Bukankah itu kopi yang kamu suka," ucapnya lembut berusaha menahan Arinka untuk pergi.
"Aku ngga haus," tolaknya cepat. Dia pun segera berdiri dan bermaksud pergi. Sejujurnya Emilia ngga tahan berlama lama di dekat laki laki pengecut yang masih dicintainya.
"Duduklah sebentar saja," bujuk Mars sambil menahan tangannya.
Keduanya saling pandang saat kulit mereka bersentuhan.
Arinka cepat tersadar dengan menarik paksa lengannya yang berada dalam genggagan Mars. Seakan ada kejutan kejutan listrik jutaan volt menderanya.
"Maaf, duduklah. Kabar yang aku akan katakan sangat penting," bujuk Mars sambl memgangkat kedua tangannya sebatas siku pertanda dia menyerah.
Mars ngga menjawab. Dia hanya menghela nafas berat.
"Arjuna akan bertunangan dan akan segera menikah."
Arinka tersenyum sinis. Nasib Emilia ngga jauh beda dengan dirinya.
"Hanya itu?" sinis Arinka membuat Mars agak tercekat.
"Ya," jawab Mars dengan netra menyorot lekat pada Arinkanya.
Sebenarnya bukan itu saja. Dia ingin melepaskan rasa rindunya pada Arinka setelah sekian lamanya. Dia bersyukur Arinka mau menemuinya walau harus membawa nama Arjuna, sahabatnya.
Pernikahannya dengan Sita sudah ngga bisa dia mundurkan. Mars mulai ketakutan sekarang. Dia masih mencintai Arinka.
"Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir. Aku juga akan menikah," ucap Mars getir.
"Selamat kalo begitu," kata Arinka berusaha tegar, menahan rasa pedih yang menyelusup dalam relung dadanya.
Keduanya kembali saling bertatapan.
"Aku pergi," ucap Arinka sambil berbalik dan meninggalkan ruang privat dengan membawa perasaan lukanya.
__ADS_1
Secepat itu dia bisa melupakan, batin Arinka sesak.
Arinka mempercepat langkahnya karena air mata sudah ngga sabar untuk berlompatan keluar.
Mars terus menatapnya tanpa berani menahannya lagi.
Maaf, batinnya sakit. Matanya pun dipejamkan menahan rasa sakit parah di dalam hatinya.
*
*
*
"Jamgan mengharap Juna lagi. Dia akan segera bertunangaj dan menikah," kata Arinka begitu dia sampai ke ruangan mereka.
Emilia diam ngga bereaksi apa pun. Dia memutar mutar pulpennya dengan resah.
"Kamu tau dari mana?" sergah Maria heran.
Datang datang langsung mengatakan hal yang membuat Emilia bad mood, omel Maria kesal dalam hati.
"Sumber terpercaya," tandas Arinka sambil melangkah ke kursinya.
Zeta dan Maria saling pandang. Mereka melirik Emilia yang wajahnya tetap tenang tapi tangannya terus memutar mutar pulpennya.
Mereka ngga berjodoh, batin Maria sedih.
Keluarga Arjuna sangat jahat, batin Zeta sambil terus menatap Emilia penuh makna.
"Kalian jangan khawatir. Aku ngga apa apa," kata Emilia sambil tersenyum.
Emil, kamu harus kuat, batin Zeta
Kalo jodoh, ngga ada siapa pun yang bisa menghalangi, batin Maria.
"Sudah, lebin baik kita fokus urusan perusahaan," ucap Arinka membuat mereka tersadar.
"Oke. Aku sampai lupa untuk memperbaiki desainnya," tukas Zeta kemudian menyibukkan diri dengan laptopnya.
"Oh iya. Nanti sebelum jam makan siang akan diminta ya, desainnya,"sambar Maria sambil mendekati Zeta.
"Sangat merepotkan," kecam Arinka, kemudian bangkit dari duduknya dan mendekati Zeta. Emilia pun ikut mendekat.
Ngga lama kemudian terdengar perrdebatan mereka tentang desain yang akan ditampilkan dua jam lagi dalam rapat. Mereka kembali serius.
__ADS_1