
Emilia yang sedang belanja di minimarket dekat rumah neneknya langsung meninggalkan keranjang belanjanya yang hampir penuh begitu saja.
Dia pun langsung memesan taksi online menuju tempat Arjuna berada, karena Emilia ngga membawa mobil.
Emilia hanya sendirian di rumah utama. Neneknya yang minta ditemani tapi malah pergi dengan teman teman seusia dengannya. Mau reuni katanya membuat Emilia tersenyum lebar.
Emilia yang bosan sendirian memutuskan berjalan kaki di sekitaran rumah neneknya hingga sampai ke minimarket yang berada di dekat situ.
Lebih baik membuat makanan ringan, jika mereka semua sudah pulang bisa menikmatinya, pikirnya dalam hati.
Tapi telpon bernada panik Cleo membuat Emilia ikutan panik. Untunglah taksi online pesanannya segera datang. Emilia melihat jam di tangannya, pukul setengah sebelas malam.
Begitu taksi berhenti, Emilia pun memasuki club dengan langkah terburu buru. Dia pun hanya mengenakan flat shoesnya karena ngga kepikiran akan ke club.
Tapi sosok yang dicemaskannya malah terlihat santai meneguk minumannya di meja bar.
"Bos, ada gadis cantik tuh, ngelihat bos terus. Arah jam tujuh," kata sang bartender membuat Arjuna yang baru saja meneguk habis isi gelasnya menoleh ke arah yang dimaksud.
Kedua pasang mata saling beradu pandang. Emilia yang kaget jadi grogi karena ngga menyangka Arjuna berbalik menatapnya dengan mata tajamnya.
Gadis itu, apa yang dia pikirkan, kesal Arjuna dalam hati yang melihat Emilia berdiri tegak dengan flat shoesnya dan dres rumahan tanpa lengan beberaoa senti di atas paha.
Mata Arjuna berkilat ketika ada seorang laki laki yang menyapa Emilia. Dia pun bangkit dengan cepat dan langsung menarik Emilia ke sampingnya.
"She's mine," katanya datar membuat laki laki itu meminta maaf sebelum pergi.
Kini keduanya saling tatap dalam diam.
Ketika musik yang biasa heboh mendadak berubah mengalun lembut, secara spontan Arjuna menariknya ke lantai dansa.
"Juna," kata Emilia kaget tapi tetap menuruti langkahnya.
"Cleo menelponku, katanya kamu mabok," kata Emilia memberitahu alasannya berada di sini, saat mereka sudah berdiri di lantai dansa yang dipenuhi banyak pasangan.
"Kenapa kamu kelihatan khawatir," todong Arjuna dingin membuat Emilia jadi salah tingkah.
"Kamu ngga perlu mempedulikan aku lagi. Kamu bukam siapa siapa."
__ADS_1
Mata Emilia mengerjap. Ngga disangkanya akan mendapat kata kata dingin dan sinis.
"Karena kamu sudah di sini, ayo kita berdansa," katanya memerintah sambil meletakan kedua tangan Emilia di lehernya dan Arjuna tanpa ragu memeluk pinggamg gadis itu sangat erat.
Emilia terkejut. Pelukan ini terlalu kuat, padahal tadinya dia akan melarikan diri.
Arjuna menggerakan pinggul mereka sesuai irama. Mereka bergoyang lembut. Keduanya saling bertatapan. Kalo Emlia menatap dengan resah, Arjuna dengan tatapan yang akan menerkamnya.
Sampai akhirnya musik berubah menghentak.
"Berputar," titahnya sambil mendorong tubuh Emilia dengan satu tangannya tetap menggenggam sebelah tangan Emilia, menuntunnya melakukam beberapa putaran.
Dres Emilia teramgkat sampai menampilkan paha putih halusnya. Arjuna menahan gejolaknya yang membara. Kemudian dia menarik keras Emilia sampai dada mereka berbenturan. Emillia yang merasa pusing akibat berputar beberapa kali pun memeluk Arjuna erat dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang laki laki itu.
Arjuna mengangkat paksa wajah Emilia dan langsung melu*mat bibir merah gadis itu membuat Emilia terkesiap dari rasa pusingnya. Ngga ada yang memperhatikan karena semuanya sibuk dengan aktivitas masing masing.
Kemudian dengan ganas Arjuna mencium dada yang masih terbungkus dres. Menggigitnya kuat sampai terdengar desa*han Emilia.
Arjuna melepas ciumannya dan menarik Emilia ke salah satu sofa yang kosong dan letaknya agak tersembunyi.
Dengan kasar dia menjatuhkan tubuh Emilia kemudian menindihnya.
Air mata Emilia mengalir membuat Arjuna tersadar dan langsung bangkit dari tubuh Emilia. Dia menggusar rambutnya kasar, terlihat frustasi.
"Pergilah," usirnya dingin membuat Emilia menghapus air matanya dan segera berlalu pergi. Emilia merapikan dresnya sambil melangkah cepat keluar dari club.
Si kembar yang melihat dari dalam mobil heran melihat Emilia keluar sendiri dengan tangan mengusap wajahnya.
"Kak Emilia kenapa?" tanya Cila panik bermaksud akan keluar, tapi ditahan Cleo.
"Sebentar."
"Kenapa Kak Emilia menangis. Apa ada orang mabok yang mengganggunya?" cemas Cila ngga sabar.
Cleo ngga menjawab, dia melihat Emilia meraih ponselnya.Sepertinya dia sedang memesan taksi online.
"Cle, biar kita antar Kak Emilia pulang. Kak Arjuna biar diurus Kak Galih," rengek Cila ngga tega melihat Emilia menunggu taksinya yang belum datang sambil merapatkan kedua tangannya di dada. Seolah menahan dinginnya tiupan angin malam.
__ADS_1
Baru aja Cleo akan menjawab untuk mengijinkan kembarannya keluar dari mobil, dia terpana melihat kakak sepupunya yang keluar dari club dengan tergesa gesa menghampiri Kak Emilia dan langsung memeluknya dari belakang.
Kedua kembaran itu sampai membuka mulut saking bengong dan kaget melihat adegan di depan mata mereka.
"Itu... sungguhan?" gagap Cila dengan mata yang ngga lepas menatap keduanya. Kakak sepupunya terlihat sedang membujuk Kak Emilia yang berusaha menolak pelukan itu.
"Ya," sahut Cleo masih dengan mata nyalangnya.
Sesaat kemudian dia menggerakkan ponselnya ke arah dua sejoli itu dan mengambil beberapa foto.
Arjuna yang merasa bodoh dan sangat bersalah mengejar dan mencari Emilia yang syukurnya masih berdiri di parkiran club.
Dia pun melangkah pelan sambil mengalungkan kedua tangannya di pinggang Emlia dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis yang masih terisak.
"Maaf," bisiknya lembut.
Emilia yang kaget ada orang yang memeluknya dari belakang reflek berusaha melepaskan diri. Tapi begitu mendengar suara berat yang sangat dia kenal, Emilia tambah terisak. Air matanya semakin deras mengalir
"Maaf," kata Arjuna lagi. Dia memang sudah sangat kelewatan. Hanya karena marah Emilia memilih Bima membuatnya jadi hilang kendali akan akal sehat dan hati nurani.
Arjuna membalikkan tubuh Emilia, menatapnya penuh rasa bersalah.
"Maaf," katanya lagi sambil menghapus air mata Emilia yang masih deras mengalir.
Arjuna menaikkan dagu Emilia agar balas menatapnya. Dia tambah merasa bersalah melihat mata yang begitu basah dan terus mengalirkan air mata.
Arjuna mengecup lama kening Emilia kemudian pindah pada kedua mata yang sudah terpejam, kemudian menariknya dalam pelukannya. Dia mengelus lembut punggung Emilia agar Emilia tenang dan berhenti menangis. Tapi air mata Emilia masih saja turun dan membasahi kemejanya.
Si kembar saling pandang, antara rasa senang dan ngga percaya. Tapi terpancar jelas kebahagiaan di dua pasang mata mereka.
"Kenapa mereka itu, ya," ucap Cila demgan bibir mengembangkan senyum
"Entahlah," sahut Cleo malas menjelaskan. Sedikit banyak dia mengerti, mungkin keduanya habis bertengkar dan sekarang akan berbaikan.
"Ngga nyangka Kak Arjuna bisa selembut itu. Aku iri," gumam Cila pelan tapi masih bisa si dengar Cleo.
"Ya," sahutnya setuju. Setaunya Kak Arjuna sangat dingin dan cuek dengan gadis gadis yang mendekatinya.
__ADS_1
"Nanti akan aku marahin Kak Juna. Rupanya dia yang buat bibir Kak Emilia bengkak. Tapi ngga mau mengaku. Dasar laki laki ganas," umpat Cila kesal membuat Cleo tergelak.