
BRAAKK!
Papi Arjuna langsung mengebrak meja begitu Arjuna melapotkan kekalahannya di tender hotel Pulau Bali.
"Tenang, pi," kata Mami kaget. Dia takut suaminya akan kumat lagi penyakit jantungnya.
Nafas Arga Taksaka pun tersengal sengal
Dia tau, ini ngga semata mata salah Arjuna, putranya. Putranya sudah menunjukkan desainnya, tapi dia tolak. Hasrat untuk mempermalukan dan membuat sakit hati keluarga Sagara begitu mendominasi pikirannya.
Sudah beberapa kali mereka menang dan sukses besar dengan mencuri ide dan mengembangkan ide Sagara Grup. Resto outdoor adalah yang kesekian kalinya. Tapi kali ini dia yang mendapat malu. Taksaka grup kecolongan.
"Ada yang berkhianat," geramnya dengan suara bergetar. Peluh membanjiri kening dan punggungnya.
"Tenang pi," kata mami mulai menangis melihat suaminya sesak. Dia pun segera memencet tombol pemanggil suster.
Pa, ma, Arga gagal, bisk papi Arjuna sambil memejamkan mata. Rasa sakit di hatinya masih sama. Padahal sudah bertahun lamanya kedua orang tuanya pergi meninggalkannya dalam waktu yang bersamaan.
BRUUGG
"Papiii!" jerit mami histeris begitu suaminya ambruk di lantai. Bersamaan dengan itu beberapa orang suster dan dokter masuk ke ruang rawat inap papi Arjuna.
*
*
*
"Kamu ngga usah merasa bersalah," kata mami dengan suara tersendat saat mengabari situasi papinya lewar sambungan telpon.
Arjuna terdiam dengan tubuh bergetar. Dia terhuyung hampir jatuh jika saja ngga cepat memegang sandaran kursi. Matanya pun terpejam.
Kondisi papinya langsung drop karena kekalahan tendernya. Jika memikirkan kemarahannya pada Grup Sagara, pasti jantungnya langsung bereaksi cepat. Mengingat itu, bagaimana dia bisa mengatakan pada papinya tentang hubungannya dengan Emilia Sagara.
Arjuna membuang nafas kasar.
Setelah mencurigai hubungan Emilia dengan Bima Satya Sagara membuatnya jadi ngga tegas dengan prinsipnya sendiri.
Keinginan memiliki Emilia begitu kuat berbanding lurus dengan ketakutannya akan kondisi kesehatan papinya.
Maminya sudah lama menutup telponnya, tapi Arjuna masih memegang ponselnya. Kata kata mami kalo papi mengalami serangan jantung lagi membuatnya.hatinya mencelos. Apalagi sekarang papinya masuk ICU.
__ADS_1
TOK TOK TOK
Arjuna tersadar, dia lalu melangkah gontai membuka pintu kamarnya.
Galih menatapnya seksama. Tapi wajah sababatnya tetap datar.
Papanya sudah mengabarkannya tentang kondisi om Arga, papa Arjuna. Tapi melihat sahabatnya sepertinya baik baik saja dia pun ngga mengatakan apa apa.
"Si kembar sudah menunggu di depan. Dia ingin bermain ke pantai," ucap Galih memberitahu dengan nada santai.
"Oke." Arjuna pun menutup pintu kamarnya.
Cila yang sudah sembuh dari pusingnya merengek meminta ke pantai. Arjuna terpaksa memgabulkannya. Padahal niatnya untuk segera kembali ke Jakarta. Mungkin juga ke Jerman. Banyak yang harus dia urus. Kekalahan ini ngga menjadi beban buatnya. Malahan dia bersyukur. Jika saja menang, otomatis dia mengerjakan desain Bima, bukan desainnya. Akan samgat menjengkelkan.
Ketika keluar dari lift, matanya menangkap sosok Emilia di lobi hotel. Keduanya bersitatap. Arjuna melengos dan melangkah terus melewatinya tanpa canggung. Seakan ngga kenal.
Berakhir sudah, batinnya sambil mengeraskan rahangnya.
Galih hanya mengangguk kecil pada Emilia yang masih terpaku akan sikap dingin Arjuna. Ketiga sepupunya membalas anggukan Galih kemudan melirik Emiliia yang masih saja terus memandang punggung Arjuna.
Rasanya sakit ngga dipedulikan, Mata Emilia terasa panas. Dadanya pun agak sesak.
"Sabar, Mil," kata Arinka sambil menepuk bahunya lembut. Dia pun pernah merasakannya dulu. Sakit memang.
"Kalian mau kemana?" tanya Bima.Dia bersama Andra dan Dewa baru saja keluar dari lift.
"Ayo, kita ke pura aja," ajak Dewa sambil melangkah keluar dari hotel diikuti keempat adik sepupu perempuannya.
Andra dan Bima menyusul di belakangnya.
"Kak Emil," panggil Cila ceria. Tangannya yang sedang membuka pintu mobil jadi tertahan.
Emilia terkejut melihat Cila ada di sini. Seakan ada yang memaku kakinya untuk menghampiri Cila.
Saat akan melangkah ke tempat Emilia yang berdiri diam memandangnya, Cleo menarik tangannya.
Dia terkejut melihat Emilia bersama pewaris Sagara Grup. Matanya menatap tajam.
"Kenapa?" protes Cila kesal.
"Masuklah ke dalam mobil," perintahnya pada kembarannya yang lemot.
__ADS_1
Arjuna dan teman temannya yang sudah berada di dalam mobil di depan mobilnya. Bahkan kini dia melongokkan kepalanya di jendela mobil yang kacanya sudah diturunkan dan memberikan isyarat dengan tangannya.
"Ayo masuk. Jangan sampai Kak Arjuna marah dan kita batal jalan jalan," kata Cleo setengah mengancam.
"Iya iya," sahut Cila manyun sambil masuk ke dalam mobil.
Sementara Cleo masih menatap tajam Emilia yang menatapnya penuh makna sebelum ikut masuk ke dalam mobil.
"Aku seperti pernah lihat tiga laki laki itu," kata Cila sambil berusaha mengingat.
Cleo menatapnya kesal, karena selalu melupakan hal hal yang penting.
"Oiya, Mereka Kak Bima, Kak Andra, Kak Dewa," seru Cila dengan mata berbinar.
Cleo mendecih.
Sejak kapan mereka jadi kakak kita.
"Mereka kan Sagara. Apa Kak Emilia juga Sagara," ucap Cila terkesiap.
Ngga mungkin, batinnya ngga percaya dan ngga mau percaya.
Cleo menghembuskan nafas kasar melihat wajah pucat Cila.
Pasti bentar lagi nangis.
Baru saja Cleo selesai berguman, Cila oun sudah berurai air mata dan memeluk Cleo.
"Aku ngga bisa terima ini, Cle. Ngga bisa," isaknya
Cleo ngga menyahut. Padahal mereka sudah telanjur menyayangi Emilia. Apa lagi mamanya.
Bagaimana caranya menyampaikan pada mamanya? Juga Om Arga, pasti bisa marah besar.
Cleo langsung memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Clee...." rengek Cila karena Cleo hanya diam saja.
"Ngga tau," ketus Cleo membuat bibir Cila tambah maju ke depan beberapa centi.
Padahal tadi hatinya senang karena melihat adanya Emilia. Tapi sekarang malah bingung sendiri. Kalo Kak Emilia Sagara, otomatis dia harus menghindar.
__ADS_1
Cila membuang nafasnya kesal. Kenapa dalam darah mereka harus ada Taksaka dan Sagara?