Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Niat Arjuna dan Mars


__ADS_3

"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Arsen heran melihat nona aneh yang bikin silau matanya ini mengikutinya.


"Aku ingin kenalan denganmu," kata Maria to the point sambil mengulurkan tangannya yang dengan agak ragu di sambut Arsen.


"Maria Ravelia," kata Maria tanpa menyebutkan nama keluarganya yang suka bikin heboh dan ngga nyaman.


Sagara, batin Arsen melanjutkan. Ya, dia tau nona aneh ini bagian dari keturunan Sagara. Karena Arsen sempat memata matai mereka waktu di Pulau Bali atas perintah Om Arga Taksaka.


"Hey, jangan biarkan seorang gadis cantik lama menunggu," tukas Maria sambil menggoyangkan genggaman mereka.


"Arsen," jawab Arsen singkat dan netranya sangat tajam melihat Maria.


"Oke," sahut Maria sambil menarik tangannya dari genggaman Arsen. Ada yang aneh, Maria merasa ada hawa hangat masuk ke dalam aliran darahnya.


Kemudian tanpa mempedulikan Maria, Arsen berbalik pergi. Tanpa setau Arsen, Maria mengkode salah seorang pengawalnya untuk membuntuti Arsen.


Bibirnya tersenyum manis menatap kepergian Arsen.


Bentar lagi aku akan tau dimana kamu tinggal, batinnya senang, kemudian melenggang pergi dengan seorang pengawal yang membawakan belanjaannya.


*


*


*


Mars menoleh saat mendengar suara pintu apartemennya terbuka. Dia tersenyum menatap sahabatnya yang membuka pintu.dengan raut wajah penuh harapan.


"Senang hati lo?" ejek Mars tertawa walau dalam hati merasa miris.


Apa yang akan Arjuna lakukan selanjutnya.


Mungkin sekarang saatnya untuk memberitahukan tentang hubungannya dengan Arinka Sagara pada Arjuna. Mood Arjuna terlihat sangat baik, batin Mars menganalisa.


"Lo masak apa?" tanya Arjuna heran melihat Mars yang sibuk di dapur.


"Mie rebus," kekeh Mars sambill meletakkan semangkok mie rebusnya yang sudah matang di atas meja


"Lo mau?" tawar Mars.


"Thank's. Gue sudah kenyang," tolakmya sambil berjalan ke kamar mandi. Di bibirnya keluar siulan riang.


Tingkah orang jatuh cinta memang sedikit norak, tawanya dalam hati. Karena Arjuna berubah seratus delapan puluh derajat setelah mengenal Emilia.


Jangan jangan dirinya juga begitu, tawanya lagi dalam hati.


Mars menggelengkan kepalanya sambil menikmati mie rebusnya dengan bibir tersenyum.


Ngga lama kemudian Arjuna keluar dari kamar mandi sambil menggosokkan rambutnya dengan handuk. Dia hanya mengenakan kaos oblong dan boxer.

__ADS_1


"Lo nemu di mana apartemen ini? Biar di luar kota, tapi akses kemana mana mudah," puji Arjuna akan kelihaian sahabatnya dalam membeli apartemen.


"Aman dari orang tua kita sementara maksud lo," gelak Mars dibarengi Arjuna yang dalam hatinya setuju dengan sindiran Mars.


Unit apartemen ini baru juga dia beli, tanpa setahu papi dan maminya. Rencananya kalo jadi nikah sama Sita, biar punya alasan lembur, tapi sebenarnya tidur di sini.


Kebetulan juga Arjuna lagi bermasalah dengan papinya, Mars pun menawarkan unit apartemennya agar Arjuna lebih aman bersembunyi. Untungnya Galih, Arbi, Jerry dan dirinya dengan tulus berbohong pada orang tua mereka tentang keberadaan Arjuna.


Kasian juga lihat Arjuna yang bonyok abis dihajar Bima. Bisa jadi masalah besar jika Arjuna berhasil ditemukan papinya dalam keadaan luka parah.


"Besok aku akan menemui papi dan mengatakan terus terang keinginanku," kata Arjuna dengan mimik serius.


Sepanjang perjalanan pulang tadi Arjuna sudah memikirkannya.


"Sudah memikirkan apa yang akan terjadi nanti?" tanya Mars yang sudah menyelesaikan makan mienya


Untung saja. Kalimat Arjuna mencubit jiwa ragu ragunya.


"Tante Carol dan Om Verdin sudah tau hubungan gue dengan Emilia. Besok beliau akan membicarakannya dengan keluarga Emilia."


"Apa mereka ngga takut diusir," canda Mars tertarik.


Arjuna melengkungkan sedikit bibirnya.


"Ternyata On Verdin sudah berteman lama dengan Om Ravi, adik papanya Emilia," jelas Arjuna lagi.


"Semoga selancar jalan tol," harap Arjuna berusaha meyakinkan dirinya semoga bisa berhasil. Walau ada rasa sedikit pesimis karena dominasi papinya cukup kuat.


"Eh, Jun, bisa tolong gue sekalian ngga?" cetus Mars agak ragu. Sekarang dia sedang mencuci mangkok mienya.


"Tolong apa? Ngomong aja," jawab Arjuna masih berusaha mengeringkan rambutnya.


"Lamarin juga Arinka buat gue," kata Mars sambil membalikkan badannya, menghadap Arjuna setelah selesai menaroh mangkok yang udah dicucinya tadi di rak piring.


Arjuna menatap bingung Mars dengan jantung berdetak keras. Sebelah tangannya yang memegang handuk untuk mengeringkannya jadi tertahan.


"Lo becanda?" sentak Arjuna ngga percaya. Dia sangat terkejut dan juga marah mendengar permintaan aneh Mars.


Mars sebentar lagi akan menikah.


Dia lagi nyari masalah baru? batin Arjuna.


"Gue serius," kata Mars sungguh sungguh.


"Lo jangan aneh aneh. Sita gimana? Kalian bentar lagi mau nikah, kan?" Kali ini aktivitas mengeringkan rambut dengan handuk tadi yang sempat terhenti, dimulai lagi. Kekagetannya tadi sudah bisa dia minimalisirkan.


"Gue udah lama kenal dengan Arinka, sebelum lo kenal Emilia. Gue sempat pacaran, tapi kami putus karena dia keturunan Sagara, sedangkan gue sahabatnya Arjuna Taksaka," kata Mars dengan nada getir.


Kedua tangannya bertumpu di tempat cucian piring di belakangnya.

__ADS_1


"Serius?" Arjuna kini merasa bersalah. Tanpa dia tau, dia sudah membuat sahabatnya patah hati.


"Maaf," sambungnya pelan.


"Ngga pa pa," sahut Mars dengan melengkungkan sedikut sudut bibirnya ke atas.


"Gue udah berusaha menerima Sita. Menjalani perjodohan ini. Tapi hati gue tetap saja ke Arinka, ngga bisa berpaling, apalagi kalo sudah ketemu lagi. Pengennya kembali ke dia aja," lanjut Mars apa adanya.


Gue ngerti rasanya, batin Arjuna. Dia juga pernah merasakannya. Dia sudah pernah menahannya, tapi meledak sekarang.


"Saat lihat lo dipukul Bima dan memilih ngga membalas demi Emilia, gue sadar. Gue juga harus begitu. Gue udah bilang ke papi kalo gue batal nikahi Sita," ungkap Mars panjang lebar, masih dengan nada getir.


"Tanggapan papi lo gimana?" tanya Arjuna cepat.


Pasti lo dimarahin, ya, tebak Arjuna dalam hati.


"Papi marah, trus gue langsung pergi dan belum berani bilang Arinka," kekeh Mars. Arjuna juga ikut tergelak.


"Semoga papi lo kuat jantungnya," tukas Arjuna dan teringat kondisi papinya.


"Kalo jantung papi masih kuat gue rasa," tawa Mars lagi.


"Syukurlah. Kalo papi gue, nih, semoga ngga apa apa," harap Arjuna setelah tawanya mereda.


"Mungkin Vania sudah membatalkan lebih dulu," kata Mars bersimpati akan nasib buruk gadis itu.


"Yah, dia pun sebenarnya lagi nyari alasan buat batalin. Ngga nyangka aja ada kejadian begini," sesal Arjuna.


Kalo saja dia tau siapa pelaku penyebar foto foto dan video itu, pasti akan ditonjoknya abis abisan.


"Iya, lakinya cemen banget," maki Mars.


DEG


Arjuna merasa seolah makian Mars tertuju pada papinya dan Om Nata. Kedua orang tua itu pun tega sekali menyebarkan foto foto kebersamaannya dengan Emilia.


Mungkin sekarang Vania mendapat karma dari perbuatan papinya, On Nata? Kasian sekali nasibnya.


Arjuna menghela nafas panjang.


"Papi gue dan papi Vania yang nyebarin foto foto Emilia di Bali waktu sama gue dulu. Tapi wajah gue diblur," curhat Arjuna dengan perasaan sakit hati.


Teganya papinya melakukan itu padanya dan Emilia.


Mars terdiam. Dia baru ingat skandal foto Emilia. Hati Mars merasa ngga enak. Otomatis makiannya tadi juga untuk Om Arga dan Om Nata.


"Maaf," katanya pelan.


"Kenyataannya memang gitu," jawab Arjuna membuat Mars bungkam.

__ADS_1


__ADS_2