
"Apa tadi ada tamu?" tanya Arjuna sambil menusukkan garpu ke pempek lenjernya
"Iya, tetangga sebelah," jawab Cleo membuat Arjuna menghentikan gerak tangannya di depan mulutnya.
"Tetangga sebelah mana?" tanyanya dengan jantung tiba tiba berdebar aneh.
"Kak Emilia. Kak Arjuna ngga kenal? Masa? Cantik banget loh," kata Cleo ngga percaya.
Pantas udah ditikung cowo lain.
"Ya, sayang banget loh Kak Juna. Kok bisa kakak kelewatan. Sebelah unit lagi," Cila ikut mengomel.
Arjuna menatap keduanya takjub. Jadi tadi suara yang dia dengar sayup sayup suara Emilia? Bodoh banget. Tadi dia sempat membuka sedikit pintu kamarnya ketika menyadari pintu unitnya terbuka.
Harusnya dia keluar menemui gadis itu dan melihat keadaan bibirnya. Masih bengkak atau sudah normal lagi, monolog Arjuna dalam hati penuh sesal.
Tapi yang dia herankan, kenapa sepupu kembarnya bisa mengenal Emilia. Dia saja baru tau kalo gadis itu tinggal di sebelahnya. Gadis cabe cabean itu adalah tetangganya.
Benar benar di luar nalar. Gimana kalo Galih sampai tau, seringai tipis muncul di wajahnya.
Arjuna memasukkan pempek yang sudah berada di depan mulutnya dan mengunyahnya pelan.
"Sayangnya kak Emilia sudah punya pacar. Tapi pacarnya nafs*uan. Bibirnya kak Emilia sampai bengkak dicium pacarnya," kesal Cila saat bercerita.
Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk
Arjuna merasa pempeknya nyangkut di pertengahan tenggorokannya.
"Kak Juna kenapa?" seru Cleo panik.
"Cila, ambil minum," perintahnya lagi pada kembarannya.
Cila yang tadinya kesal berganti ikutan panik dan cemas melihat kakak sepupunya terbatuk batuk cukup parah. Apalagi matanya sampai berair dan memerah.
Waduh, mana pedas lagi kuah pempeknya, batin Cila sangat panik.
Arjuna pun meminum pelan pelan gelas yang disodorkan Cila sambil memukul mukul tengkuknya hingga peempek itu bisa ketelan. Cuma perihnya tenggorokan akibat keselek kuah pempek.yang cukup pedas, pempek yang kenyal dan licin jadi seperti menelan biji kedondong yang penuh akar serabut.
Arjuna mengambil gula se sendok dan ditaruh di lidahnya. Rasanya lebih enakan. Perihnya berangsur hilang.
"Maaf ya, kak. Kepedesan yah kuahnya," kata Cila berulang kali karena kasian dan ngga tega sama kakak sepupunya.
"Engga pa pa," kata Arjuna menenangkannya. Tapi dalam hati Arjuna masih kesal, bisa bisanya Emilia menceritakan perihal ciuman mereka pada bocah kembar ini. Untung mereka ngga tau kalo dialah pelakunya yang menyebabkan bengkak di bibir Emilia.
"Kok, kamu bisa kenal sama tetangga kakak?" akhirnya bisa juga dia mengeluarkan pertanyaan yang amat sangat mengganggu pikirannya.
"Kita ketemu di toko bahan kue. Trus nanya, tepung mana yang cocok buat pempek. Eh, ternyata pilihan kakak itu benar. Terbukti pempeknya lumayan, kan, kak," cerita Cila dengan wajah ceria.
__ADS_1
"Ooo."
Kok bisa bisa ya? Apa cabe cabean itu bisa masak? batin Arjuna sangsi.
Nggak mungkin.
"Pas kita mau masuk ke kamar kak Arjuna, kak Emilia mau pergi cari sarapan. Kita ajak makan bareng," lanjut Cila lagi tanpa bisa di rem.
"Tapi Kak Emilia cuma bisa makan dua pempek saja karena bibirnya bengkak dan perih. Pas ditanya kenapa sampai bengkak gitu ngga ngaku, sih," tawa Cila lagi.
"Iya, waktu Cila bilang teman Cila juga bengkak bibirnya karena dicium pacarnya, kakak Emilia ngga bisa bohong lagi," sambung Cleo dengan kekehannya.
Oh, begitu. Kenapa mau aja di begoin anak kecil. Dasar kelinci, batin Arjuna tersenyum geli.
"Waktu Cila nanya enak ngga ciuman bibir sampai bengkak, kak Emilia pamit katanya haris segera pergi," omel Cila yang dibalas tawa Cleo. Arjuna pun menaikkan sedikit sudut bibirnya.
"Pasti malu lah, ya. Dasar kamu Cila," cibir Cleo dalam tawanya yang berderai derai.
"Jadi nurut kamu aku salah?" tanya Cila ngga terima. Padahal dia hanya bersimpati pada nasib bibir bengkak Emilia.
"Iyalah. Kak Emilia pasti malu banget," tukas Cleo masih dengan tawanya sedangkan Cila hanya menatapnya kesal.
"Harusnya kamu bilang kalo aku salah. Tapi kamu malah membiarkannya," omel Cila memprotes.
"Ya mana sempat. Kamu udah ngomong duluan, kan," tawa Cleo tak tertahankan sampai memegang perutnya.
Maaf, kak, batinnya dengan penuh rasa bersalah.
Arjuna sampai membuang wajahnya dari keduanya untuk menyembunyikan senyumnya yang semakin lebar mendengar perdebatan si kembar.
*
*.
*
"Veli marah besar, dia ngamuk sejadi jadinya begitu lo pergi," kata Galih lelah.
"Beli pempek dimana?" tanyanya lagi ketika melihat sahabatnya sedang menikmati pempek dengan santai.
Setelah sepupu kembarnya pergi, Galih datang untuk menjemputnya.
Tanpa ragu Galih mengambil pempek yang masih tersedia di meja dan langaung mengguyurkan kuahnya. Masih tersisa dua pempek lenjer dan satu pempek kapal selam.
"Rasanya lumayan," katanya setelah menelan bagian terkecil.
"Kuahnya mantap pedasnya," komennya lagi. Kemudian menikmatinya dengan menambahkan kuah cukanya hingga menggenang seperti sedang makan bakso.
__ADS_1
Arjuna tersenyum tipis melihat kelakuan sahabatnya.
"Kamu bawa perempuan itu ke kamar ini?" tanya Galih setelah menghabiskan pempeknya. Arjuna sudah duluan selesai.
Setelah sepupunya pergi, Arjuna menambah lagi beberapa porsi pempek bulat yang tersisa.
"Ngga, dia langsung pulang naek taksi," jawab Arjuna datar. Dia pun memakai dasinya sambil mematut dirinya di cermin besar tanpa mempedulikan ekspresi zonk Galih.
"Masa lo lepaskan?" Galih menatapnya ngga percaya.
"Kami kebetulan bertemu. Dia hanya kekasih pura pura."
"Tapi Lo terlihat menikmatinya," sarkas Galih sambil melipat kedua tangannya di dada.
Arjuna hanya tersenyum miring.
"Arbi hampir mengikutimu tapi ditahan Mars. Dia tergila gila pada gadis itu. Sangat wajar, gadis itu sangat cantik dan seksi," kata Galih sambil berusaha meneliti wajah sahabatnya melalui pantulan cermin.
"Lo juga tertarik?"
"Iya," tandas Galih tanpa ragu dan tertawa mendengar dengusan Arjuna.
"Kelihatannya lo tertarik. Sebenarnya gue lebih suka sama sepupu lo yang lugu dan manja itu," kekeh Galih sambil membayangkan Cila.
"Mau mati?!" tanya Arjuna dingin. Dia tentu ngga akan mengijinkan sahabatnya yang doyan perempuan mendekati Cila. Bisa habis Cila ditipunya. Nantinya akan merepotkannya dan Cleo dengan tamgisannya yang tiada henti.
Galih makin keras tawanya.
Kakak yang penyayang, hinanya dalam hati.
Mereka dibesarkan bersama sejak kecil. Cila, gadis kecil bodoh yang selalu saja dikerjain kembarannya Cleo. Tapi itu daya tariknya. Galih memendam perasaannya sejak kecil hingga sekarang. Jika bukan karena Arjuna yang selalu menghalanginya, sejak dulu sudah dipacarinya Cila. Tipe tipe perempuan bodoh yang setia. Itu yang Galih suka.
"Sebenarnya siapa gadis itu? Namanya mungkin?" pancing Galih ketika mereka sudah keluar dari unit Arjuna.
"Namanya Emilia," sahutnya sambil menatap pintu sebelahnya yang tertutup rapat.
Rasanya masih ngga percaya kalo gadis itu sarapan di kamarnya.
"Nama keluarganya?"
"Dia ngga menyebutkan. Sepertinya ngga penting."
Galih terdiam. Ngga mungkin gadis biasa. Pertemuan pertama di bandara kedatangan luar negeri. Yang kedua ketemu di resto mereka dan yang ketika di club hotel bintang lima. Berarti gadis itu berasal dari keluarga berada, analisis Galih dalam hati.
"Kalo.lo ngga tertarik dengannya, Arbi dan Mars mau mendekati. Mereka ngga mau menikung lo," jelas Galih lagi sambil menatap penuh selidik sahabatnya yang kini membalikkan tubuhnya, menghadapnya.
"Berikan gue waktu sebentar untuk bermain main dengannya," kata Arjuna dingin dan melangkah meninggalkan Galih yang tersenyum miring.
__ADS_1
Gue kenal lo dari kecil. Lo ngga bisa bohong. Lo suka kan, hatinya sibuk mentertawakan sahabat sekaligus bosnya.