
"Aku antar kamu. Aku ada meeting," katanya sambil berbalik menatap Sita yang masih setia.dengan salep.di tamgannya.
"Tapi kita belum sarapan," tolak Sita untuk menahan Mars lebih lama. Mereka saat ini nerada di ruang pribadi Mars.
"Kita bisa sarapan dulu," tukas Mara mengalah.
Sita tersenyum senang.
"Kita di sini aja sarapannya, Mars. Biar aku pesankan. Kamu mau sarapan sandwick, kan?" tanya Sita sambil berjalan ke arah pintu.
"Hemm ..." dengus Mars perlahan meng-iyakan.
Dia melihat ponselnya pada file dokumen yang akan dia rapatkan ntar bersama para kliennya.
Sita pun keluar dari ruangan Mars sebentar karena ngga lama kemudian dia masuk kembali.
"Mars, apa benar ngga mau diobati?" tanya Sita masih dengan perasaan khawatir.
"Aku ngga apa apa," sangkal Mars.
Sita menghela nafas berat. Kemudian memasukkan salep itu dalam saku jasnya.
"Kamu bisa ngobatin sendiri," jelas Sita karena tatapan protes Mars.
Mars akhirnya mengangguk. Ngga ingin berdebat dengan Sita.
TOK TOK TOK
"Masuk," kata Sita mempersilakan.
Dua orang pelayan kafe datang membawa pesanan mereka.
Kopi dan sandwick untuk Mars, sedangkan untuk Sita sepiring kecil salad sayuran sebotol air mineral.
Mars dengan cepat menghabiskan sandwickmya.
"Kamu terburu buru?" tanya Sita heran melihat sekarang Mars sedang menghabiskan sandwick keduanya dengan cepat. Sedangkan saladnya masih separuh lebih.
"Aku akan menunggumu," kata Mars lagi lagi mengalahkan egonya yang ingin segera perg.
Setidaknya nunggu dia menghabiskan saladnya, hati Mars menjelaskan pada dirimya sendiri.
Ngga lama kemudian sayuran salad terakhir masuk ke mulut Sita.
Mars.masih serius dengan ponselnya. Dia sudah mempelajari.dokumen ini semalaman. Saat ini dia hanya ingin mengingat kembali apa yang sudah dia pelajari semalam.
Sesekali bayangan sepasang mata terluka Arinka berseliweran di kepalanya.
Tanpa sadar Mars menghembuskan nafasnya perlahan.
'Kita pergi sekarang?" ajak Sita setelah piring saladnya kosong.
"Ayo," sahut Mars yang sudah ngga sabar.
Sita ngga menjawab, hanya mengikuti langkah Mars pergi meninggalkan ruangannya.
*
*
*
__ADS_1
Selesai meeting, dengan terburu buru Mars meninggalkan perusahaannya. Tujuannya jelas. Dia ingin secepatnya menemui Arinka.
Semoga Arinka mau menemuinya, harapnya dalam hati.
Tapi Mars sudah bertekat akan memaksa Arinka menemuinya, walaupun gadis itu ngga mau.
Mars pun memarkirkan monilnya di basemen dan segera berjalan menuju pintu lifr. Untungnya dia mgga menunggu terlalu lama, pintu lift terbuka.
Arinka masih memblokir nomernya. Dia pun segera menuju ke meja reaepsionis.
Dua karyawan cantik itu menatapnya penuh minat. Mara sangat tampan.
"Siang, mba. Saya Mars ingin bertemu Arinka," ktanua to tje point.
"Baik, pak. Sebentar, ya," ucqp salah satunya agak kemayu.
Mars hanya menganggukkan kepalanya.
Ngga lama kemudian karyawan itu menelpon Arinka.
"Maaf nona, ada laki laki yang mau bertemu anda. Dia menunggu anda di lobi."
"Siapa?"
"Namanya Mars, nona."
Ngga ada sahutan.
"Nona?" panggil karyawan itu menyadarkan Arinka
"Oke.Aku ke sana."
Resepsionis itu menatap Mars yang masih berdiri di depannya. Menunggu dengan ngga sabar.
Rasanya ngga percaya Arinka mau menemuiya. Padahal nomer hpnya saja sudah diblokir Arinka.
"Oke. Terimakasih," kata Mars sambil berjalan ke arah sofa. Dia pun menyandarkan punggungnya di sana.
Ngga lama kemudian terdengar suara denting lift.
Mars langsung bangkit dan ketika melihat Arinka berada di.dalam pintu lift yang sudah terbuka itu.
Keduanya berjalan sambil bertatapan penuh arti.
Ketika selangkah lagi mereka berhadapan, Mars meraih tangannya dan mengajaknya pergi.
Dua orang resepsionis itu menatap mereka iri.
"Mars, kita mau kemana?" tanya Arinka terkejut. Awalnya dia mengira mereka akan ngobrol di lobinya saja, karena itu Arinka ngga membawa tasnya. Hanya ponselnya saja.
"Ke apartemenku. Kamu harus obatin punggungku yang terkena teh panas tadi."
"Haah? Minta diobatin sama calon istri kamu ajalah," debat Arinka sinis. Tapi tetap saja mengikuti langkah Mars ke arah pintu lift yang mulai teebuka.
Mereka berhasil masuk dan hanya berdua saja berada di dalam.lify yang menuju ke basemen.
"Kamu mau ngga jadi istri aku?" Mars menatap Arinka lekat. Tapi gadis itu dengan cepat melengos dengan dada berdebar debar aneh.
Nggak ada lagi komunikasi di antara mereka. Mereka saling diam sampai pintu lift terbuka.
Tangan Arinka masih dalam.genggaman Mars. Dia hanya diam saat Mars terus menarik tangannya ke mobilnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka lalui dengan saling diam.
Mars membawanya ke unit apartemennya .
Begitu sudah menutup pintu, Mars melepaskan genggamannya. Membuka jas, dasi dan kemejanya.
"Kamu mau apa?" kaget Arinka melihat akai Mars.
Mars menatapnya heran saat semua kancing kemejanya sudah terbuka. Bahkan dia mengulurkan salep dari Sita ke arah Arinka.
"Buka baju biar kamu gampang olesin salep ini."
Arinka terdiam tapi mengambil juga salep dari tangan Mars.
Mars pun membuka kemajanya hingga kini dia polos di tubuh bagian atasnya. Wajah Arinka merona karenanya.
"Aku cukup lama.menahannya," kata Mars sambil membalikkan tubuhnya hingga punggungnya yang terlihat.
Arinka dapat melihat warna kemerahan di sana. Seketika perasaan bersalahnya muncul.
"Bentar," katanya sambil melihat berkeliling. Setelah tau arah dapurnya Mars, Arinka berjalan ke arahnya. Tujuannya ingin membasahi saputangan yang untungnya dia bawa.
Pasti punggungnya terasa lengket oleh teh manis itu, batin Arinka.
Mars mengikutinya dengan perasaan bingung.
Tapi kemudian dia tersenyum melihat Arinka membasahi saputangannya, meremasnya sampai kering. Kemudian Arinka membersihkan bekas tumpuhan teh itu dengan perlahan.
"Sakit?"
"Sedikit."
Setelah dirasakan bekas teh manis itu sudah hilang, Arinka mengeringkannyq dengan tissue. Barulah setelahnya memberikan salep di sana.
Tangan Arinka terasa dingin saat mengusap bagian yang kemerahan itu. Mars pun bisa merasakannya.
"Aku akan putuskan perjodohan aku dengan Sita asal kamu mau nikah sama aku," kata Mars memecah kesunyian di antara mereka berdua.
"Buat apa? Banyak yang akan menentang hubungan kita," tolak Arinka pelan.
Laki laki ini mau menikah. Tapi dia masih saja memberikannya harapan kosong.
"Biar saja. Aku hanya ingin menikah dengan kamu," tegas Mars.
Arinka tercekat mendengarnya. Tapi kemudian dia pura pura ngga peduli.
"Pembohong."
Arinka pun memberikan salep itu pada Mars.
"Aku serius." Mata Mars meyorot Arinka sangat dalam.
Mars mengambil salep itu dari tangan Arinka dan melemparkannya ke sembarang arah.
"Lebih baik kamu pake baju dulu," kata Arinka dengan suara bergetar. Jantungnya seakan diajak berlari sangat kencang karena jarak mereka yang sangat dekat, juga tatapan Mars seakan ingin menggali rahasia hatinya.
"Kita saling mencintai Rinka. Aku sungguh mencintai kamu," bisik Mars lembut.
Arinka hanya bisa memejamkan matamya ketika Mars mendekatkan bibir mereka.
"Tunggu aku ya," kata Mars setelah melepaskan Arinka dari kecupannya yang lama.tadi.
__ADS_1
Arinka masih terdiam dengan tubuh yang ngga bisa digerakkan. Matanya yang terpejam kini terbuka perlahan.
Dan Arinka bisa melihat bagaimana wajah Mars semakin mendekat dan mengecupnya lagi.