
"Kita harus jalan ke atas," kata Andra sambil menunjuk ke arah tempat awal mereka berada sebelum jatuh.
Lumayan juga, batin Vania.
"Kita nunggu bantuan aja. Mungkin bentar lagi anak biah papi akan datang mencari," tolak Vania. Dia yakin bakal dicari. Mungkin mereka perlu menunggu sebentar lagi. Begitu pikirnya.
"Mungkin pengawal kamu lagi bawa papi kamu ke rumah sakit," kata Andra yang melangkah menjauhi Vania.
DEG
Papi!
Vania pun ngga tau keadaan papinya sekarang.
"Tunggu! Aduh!" jerit Vania ketika bermaksud mengejar.
Dia baru merasakan sakit pada kakinya.
Vania pun membuka salag satu flatshoesnya.
Matanya sedikit membeliak saat melihat kakinya yang memerah dan agak bengka.
Pantasan sakit, lirihnya membatin.
Dan matanya kembali membesar ketika melihat betis hingga lututnya terdapat lecet dan penuh ceceran tanah.
Mengapa tadi ngga lihat? gerutunya dalam hati. Dia lupa keadaannya sendiri ketika melihat darah di kepala laki laki jahat itu.
Vania pun membuka sebelah sepatunya lagi. Kemudian menghampiri sungai.
Meletakkan sepatunya ke atas bagian tanah yang ngga terkena air. Lalu melepas kemaja laki laki jahat itu da. Menggantungkan dilehernya.
Harum parfum laki laki itu memasuki rongga pernafasannya. Sedetik Vania tercenung, mengingat kejadian malam itu.
Kemudian dia pun membasuk telapak kaki hingga atas lututnya dengan cipratan air sungai itu sampai bersih. Sesekali dia meringis, merasakan perih.
Andra memperhatikan tingkah Vania tanpa berkata kata. Di matanya gadis itu terlihat sangat seksi.
Gila! Pikirannya selalu jadi ngga waras jika melihat Vania.
Andra memaki tanpa henti dalam hati.
Setelah merasa sudah bersih Vania bingung saat mengambil sepatunya.
Gimana ini?
Vania melihat telapak kakinya yang sedikit bengkak, lecet dan kemerahan.
Apa lagi dia harus mendaki jurang. Walaupun tidak terlalu tinggi, tapi tetep aja pasti sulit, kan.....
Vania ingin menunggu saja sampai bantuan datang. taoi keadaan papinya mencemaskannya. Dia takut jika papinya kenapa kenapa.
Lagi pula siapa laki laki yang menyerang mereka? Apa papinya punya salah dengannya hingga laki laki tadi berlaku sangat jahat dengannya.
Banyak pertanyaan yang mengganggu di pikirannya membuatnya jadi pusing.
"Naiklah."
Eh. Vania menoleh ke arah teguran laki laki jahat itu. Lagi lagi dia terkejut melihat apa yang dilakukannya.
Laki laki jahat itu sedang berjongkok membelakanginya.
"Kamu sedang apa?" tanya Vania berlagak bodoh. Padahal tau maksud laki laki itu.
__ADS_1
"Cepatlah. Atau aku tinggal," tukas Andra ngga sabar.
Pegel juga harus berjongkok cukup lama begini.
"Tapi....." Wajah Vania memerah.
Nggak! Dia nggak mau digendong. Enak saja. Dia menang banyak. Padahal aku belum menghukumnya.
"Aku hitung sampai tiga. Satu... Ti..." seru Andra membuat Vania ngga bisa menunda lagi untuk menolaknya.
"Yaaa!" seru Vania kesal dan gugup.
Laki laki ini curang. Harusmya dua dulu baru tiga.
Dia pun mendekat dan mengalungkan kedua tangannya di leher Andra dengan perasaan ngga tenang. Kalo ngga terpaksa Vania mgga akan melakukannya.
Apalagi saat Andra mengangkat tubuhnya dan mengambil sepatu dari tangan Vania.
Vania pun menggelungkan kakinya dipegang Andra. Darahnya seperti lari ke otak semua ketika tangan Andra menahan betisnya.
Vania diam dengan jantung semakin keras berdetak saat Andra sudah melangkahkan kakinya.
"Aku benci sama kamu," kata Vania memecah kesunyian diantara mereka.
"Maaf," ucap Andra pelan.
"Apa?" tanya Vania ngga percaya. Seolah minta di ulang agar dia ngga merasa salah dengar
Dia minta maaf? Ngga salah?
Vania memiring wajahnya ke pipi Andra.
Andra reflek melakukan hal yang sama.
"Kita belum kenalan," kata Andra kini mengalihkan perhatiannya pada jalan terjal di depannya.
Dia berusaha mencari jalan termudah untuk.bisa dikewato dengan Vania di punggungnya
"Kamu pasti udah tau siapa aku," semprot Vania sinis.
Andra tersenyum miring. Kemudian tangannya yang memegang betis Vania dialihkan dengan mencekal akar atau batang pohon yang terlihat lebih kuat saat mendaki.
"Tentu saja. Nama kamu Vania, anak Sujatnata pemilik beberapa stasiun tv dan portal online," jawab Andra dengan.nafas agak mengengah. Tinggal beberapa langkah lagi mereka akan meninggalkan jurang dan sampai di pinggir jalan raya.
"Hemm..." dengus Vania sinis.
"Salahku apa sampai kamu tega menyebarkan foto foto dan video malam itu," lanjut Vania dengan kemarahan yang ngga bisa ditahan lagi.
"Kamu ngga salah. Papimu yang salah."
Vania terdiam. Dia teringat laki laki yang menyerang mereka tadi. Dia sempat menodongkan pistol itu ke arah papimya.
"Kamu punya dendam sama papi?" tanya Vania pelan.
Andra ngga menjawab. Ini langkah terakhirnya naik ke jalan besar.
'Kita mau kemana?" tanya Vania panik melihat Andra terus melangkah tanpa menurunkannya. Padahal mereka sudah sampai di jalan.
Awalnya Vania kagum.
Laki laki ini kuat, batinnya takjub.
Vania melihat Andra tanpa kesulitan membawanya sambil berjalan naik ke atas jurang.
__ADS_1
"Ke mobilku."
"Jangan. Bawa aku ke mobil pengawalku saja," tolak Vania trauma, takut diapa apain lagi sama Andra. Sayangnya dia ngga melihat pengawalnya di mobil mereka. Jadi dia ngga bisa teriak minta tolong.
Dimana mereka saat dibutuhkan, umpat Vanoa sewot.
Andra ngga mempedulikan penolakan Vania. Dia terus melangkah mendekati mobilnya.
Andra menurunkan Vania ketika sudah berada di samping mobilnya.
Kemudian mengambil kemejanya yang dikalungkan Vania.
Vania seperti waktu di jurang, terhipnotis dan membiarkan Andra mengikat kemejanya di pinggangnya.
Setelah selesai dirapikan, Andra menatapnya lekat.
"Kamu belum tau namaku, kan."
Oh iya. Vania tersadar belum tau siapa.nama laki laki kurang ajar ini
Mengapa dia sampai lupa.menanyakan nama laki laki ini ?
Seingat Vania, selama mereka bersama pun laki laki kurang ajar ini ngga pernah menyebut namanya.
Padahal dia tau!
Bodoh! Vania ngga akan mau peduli. Karena baginya ini adalah pertemuan mereka yang terakhir.
Vania ngga mau lagi berurusan dengan laki laki jahat ini. Walaupun dia ingin tau namanya, tapi harga dirinya menolak.
"Ngga perlu. Setelah ini kita ngga usah ketemu lagi," tukas Vania datar.
Andra tertegun. Kemudian tersenyum miring. Pantasan juniornya suka setengah mati dengan Vania.
"Tidak, kamu perlu tau namaku. Mungkin kamu bisa melaporkan aku ke kantor polisi," tantang Andra datar.
"Kamu mau aku laporkan?" tanya Vania nge gas kan suaranya.
Andra tersenyum sinis.
"Sure."
Vania menghembuskan nafas dengan kasar saking kesalnya.
"Siapa nama kamu?" tanya Vania mengalah.
Andra memberikan seringai mengejeknya.
"Namaku Amdra. Andra Sagara."
Vania bergeming. Rasanya dia pernah mendengar nama belakang laki laki jahat ini.
**DEG
DEG
DEG**
Wajah Vania memucat. Teringat wanti wanti papi dan Om Arga Taksaka.
"Kamu... dari keluarga Sagara?" tanya Vania dengan bibir bergetar dan degupan jantungnya yang semakin ngga menentu. Sepertinya badai baru mulai menggila.
"Ya," tegas Andra dengan tatapan super tajamnya membuat Vania hampir saja jatuh karena kedua kakinya terasa lemas.
__ADS_1