Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Sama sama masih takut


__ADS_3

"Kamu udah bangun?" tanya Emilia ketika melihat Arjuna menghampirinya.


Emili sedang sibuk membuatkan Arjuna bubur ayam dengah rebusan telor Karena hanya itu yang Emilia bisa temukan di kulkasnya. Sedikit beras, paha ayam, tiga butir telor dan beberapa lembar daun bawang. Sepertinya Arjuna sudah lama ngga pulang ke apatemennya.


Emilia sampai mengambil beberapa bumbu yang ada di unitnya yang berada di sebelah kamar Arjuna. Dia pun sudah lama ngga pulang ke unit apartemennya. Untungnya bumbu bumbunya masih dalam keadaan cukup baik.


Arjuna tersenyum lega karena langsung was was karena ngga melihat Emilia.di sisinya saat dia terjaga dari tidurnya.


Seakan de ja vu. Dulu juga pernah seperti ini.


Arjuna menarik stool di depan Emilia dan menatap penuh selera pada semangkok bubur di depannya.


"Habiskan, ya," ucap Emilia sambil menaroh segelas air mineral


"Kamu juga makan bubur?" kekeh Arjuna bertanya karena melihat menu yang sama di depan Emilia.


"Iya," tawa Emilia berderai.


Arjuna selalu senang melihatnya tertawa karena akan tampak dua lesung pipi yang tercetak di sana.


"Ayo, di makan. Biar kamu.cepat sembuh."


"Kamu beli kerupuk?" Arjuna memegang kerupuk dan menunjukkan pada Aruna.


"Ambil di kamarku," ceplos Emilia kemudian menutup mulutnya karena ketahuan bohong.


"Tadi ditanya katanya lupa nomer pinnya," kecam Arjuna mengingatkan.


Emilia makin berderai tawanya. Keduanya pun menikmati bubur ayam dengan obrolan rimgan dan suara tawa yang kerap kali terdengar.


"Kamu.ngga takut ketular sakitku?" tanya Arjuna mau menerima suapan darinya.


"Enggak," jawab Emilia.demgan wajah merona. Setiap Arjuna menunjukkan perhatiannya, jantung selalu ngga tau diri dan dadanya akan terasa hangat.


Arjuna tersenyum melihat wajah yang memerah itu.


"Emil, jangan buat aku gemas, ya. Aku pengen nyium jadinya loh," canda Arjuna tambah membuat warna merah itu semakin terang.


"Ckk," decak Emilia.manyun.


Ganti Arjuna yang terkekeh.


"Bubur ayam kamu enak," pujinya setelah meghabiskan bubur itu di mangkoknya.


"Syukurlah, tadi aku sempat khawatir," balas Emilia cukup lega. Karena bahan bahan yang dipakainya cukup minimalis alias seadanya saja.


"Kenapa? Kamu meragukan keahlian memasak kamu?" Arjuna menatap heran.


"Bahannya nggq komplit. Aku ngga pede," senyum.Emiliq melebar.


Arjuna terkekeh mendengarnya.


"Ngga komplit aja bisa enak gini," pujinya tulus. Pantasam tamtenya sangat merekomendasikan Emilia menjadi istrinya.


Emilia tambah melebarkan senyumnya mendapat pujian itu. Rasamya dia sudah terbang jauh ke awan.

__ADS_1


Emilia pun mencuci mangkok mangkok mereka di tempat cucian piring.


Arjuna memeluknya hangat membuat aktivitas Emilia terhenti sesaat. Jantungnya semakin kencang.berpacu.


"Aku rindu," bisiknya lembut


Aku juga, batin Emilia dalam hati. Kemudian melanjutkan mecuci peralatan makan mereka sampai bersih.


Dengan lembut Arjuna mengelap kedua tangan Emilia yang basah dengan tisu sampai kering


Arjuna tersenyum lagi ketika Emilia menatapnya malu. Setelahnya Arjuna kembali membawa Emilia di sofa yang merek tiduri tadi dan menyalakan tivi.


"Aku ingin manja manja di dekat kamu sebelum.aku memulangkan kamu ke kakak kamu," kata Arjuna menarik Emilia dipelukannya. Terasa nyaman. Arjuna dapat merasakan detak jantung Emilia yang sangat cepat, seperti detak jantungnya.sendiri.


"Besok.kita bisa ketemu lagi," lirih Emilia bergumam.


"Ya, besok aku akan langsung menjemputmu ke rumah," janji Arjuna.


Emilia mendongak, perasaan cemas mendadak melandanya.


"Aku belum ngomong sama mama, juga Om Revo dan Om Revi."


"Aku yang akan langsung bicara. Aku akan memintamu pada mereka," tegas Arjuna.


"Jangan Juna. Belum waktunya."


Arjuna menghela nafas panjang. Emilia benar. Sekarang aja dia belum bisa menyelesaikan urusannya dengan papinya. Masalah baru muncul lagi, tersebarnya foto dan video seronok Vania.


Arjuna merasa kasian pada Vania. Entah siapa yang sudah melakukannya. Tapi dia jadi dapat keuntungan hingga bisa menunda bahkan membatalkan pertunangan mereka.


"Aku mencintaimu. Sangat," kata Arjuna sangat dalam.


Emilia menganggukkan kepala dengan perut yang berisi puluhan kupu kupu yang kini menghambur terbang dengan bebas.


"Aku juga sangat mencintaimu," gumamnya pelan tapi masih bisa di dengar Arjuna yang tersenyum senang karenanya.


*


*


*


Mars mengantarkan Arinka kembali ke perusahaannya setelah mereka memesan makanan dan menikmatinya di apartemen Mars.


Tidak ada yang dia lakukan selain mengecup bibir Arinka. Dia ingin menjaga Arinkanya hingga mereka bisa berdiri di pelaminan nanti.


Padahal saat itu dia ingin melakukan lebih, tapi Arinka.juga menahannya


Mars mengerti, segala masalah mereka yang melilit mereka seperti benang kusut yang belum terurai.


"Aku akan mengatakannya pada papi," kata Mars sebelum Arinka keluar dari mobilnya.


"Apa kamu akan menyebut namaku?" tanya Arinka agak cemas.


Situasi yang sedang memanas bisa tambah panas dan mungkin akan meledak jika Mars melakukannya.

__ADS_1


Arinka masih takut membayangkan efek domino yang terjadi karenanya.


"Kamu ngga mau?" tanya Mars agak kecewa.


"Aku takut," ralat Arinka. Ngga mau Mars salah paham.


"Aku tau. Kamu jangan khawatir. Aku akan melakukannya dengan sangat baik," kata Mars sambil membantu melepaskan seatbelt Arinka.


Dia pun mengecup sebelah pipi Arinka sekilas.


"Aku mencintai kamu," katanya tegas.


"Sangat mencintai kamu," sambungnya lagi dengan suara bergetar.


"Aku juga sangat mencintai kamu," balas Arinka jujur dengan debaran jantung semakin keras. Perasaan takut kehilangan Mars mendominasi pikirannya saat ini.


Mars tersenyum.kemudian mengecup sekilas bibir Arinka. Ingin rasanya melu*mat dan menghi^sa*pnya. Tapi Mars masih menahannya.


Kemudian Mars keluar dari mobilnya dan setengah berlari membukakan pintu mobil Arinka.


"Aku pulang," pamit Mars sambil mengusap wajah Arinka sebelum mencium sebelah pipinya lagi sebelum masuk ke dalam mobil.


Rasanya berat berpisah dengan Arinka setelah Arinka mau menerimanya lagi.


Wajah Arinka memanas. Apalagi ada beberapa karyawan yang melihat kissing dari Mars.


Arinka terus menatapnya sampai mobil Mars menghilang.


"Arinka."


DEG


Jantung Arinka mau copot karena melihat Kak Andra dan kak Dimas yang sudah berdiri di belakangnya.


Keduamya menatapnya tajam dan terlihat frustasi.


"Sudah lama kalian berhubungan?" Dewa langsung menginterogasi.


Dia dan Andra baru saja akan pergi menemui klien dan melihat adegan romantis tadi.


Arinka hanya bisa mengangguk.


"Bukannya dia bentar lagi mau nikah?" tanya Andra sambil tangannya memijat keningnya.


Kenapa para sepupu perempuannya ngga bisa melirik laki laki lain di luar circle Taksaka?


"Iya," sahut Arinka dengan suara lemahnya. Tanpa pembelaan apa pun. Soal Mars yang mau mengatakan akan membatalkan pernikahannya, itu baru wacana dari laki laki itu. Belum terealisasi.


Jadi Arinka belum bisa memberitau kedua kakak sepupu laki lakinya.


"Nanti kita bicarakan lagi. Kakak ada meeting. Ayo, Dewa," ucap Andra sambil menggeret Dewa yang masih mau mengucapkan sepatah du kata.


Arinka menatap keduanya yang kini akan memasuki mobilnya dengan wajah Dewa yang ngga puas pada Andra. Kemudian menatap terus sampai mobil itu menjauh dari perusahaan.


Arinka langsung merasakan kepalanya seolah dijatuhkan beban yang sangat berat.

__ADS_1


__ADS_2