
Emilia masih terdiam. Bahkan sampai dia masuk ke dalam mobilnya. Sedikitpun Enilia ngga menoleh lagi pada Arjuna.
Dia sudah bersama yang lain, kamu harus move on, Emilia, hatinya terus memberikan support.
Maria meraih tangannya begitu mereka duduk berdampingan di dalam mobil membuat Emilia menoleh dan memberikannya senyum tipisnya.
"Gue ngga pa pa."
Maria menganggukkan kepalanya. Kali ini dia cukup pintar ngga mengomentari apa pun. Maria merasa segala kata ngga akan berguna untuk mengobati sakit hati Emilia.
Zeta yang dibelakangnya menatap jauh ke luar jendela mobil. Tapi dia terus menatap Arjuna yang sama sekali ngga memutuskan pandangannya ke arah sepupumya..Padahal Arjuna sedang dipeluk lengannya oleh gadis lain.
Bahkan yang aneh, Zeta melihat sahabat Arjuna, si Mars yang juga fokus menatap sepupunya Arinka ketika sepupunya masuk ke dalam mobil.
Benak Zeta penuh praduga. Sepertinya Arinka juga mempunyai hubungan dengan Mars.
Tapi sejak kapan?
Zeta menghembuskan nafas panjang untuk mengurangi rasa jengkel yang bertumpuk di dadanya.
Mereka berdua selalu saja maen rahasia, dengusnya kesal dalam hati.
Ternyata Arinka lebih lihai menyembunyikan hatinya dibandingkan Emilia. Baru sekarang terendus olehnya hubungan keduanya. Walaupun sepertinya mereka sudah putus. Karena Mars juga digandeng lengannya denag gadis lain.
Dasar laki laki munafik, umpat Zeta dalam hati.
Apa karena Taksaka dan Sagara juga? batinnya lagi.
Lagi lagi Zeta menghembuskan nafasnya dengan perasaan galau.
Kakek, apa kakek marah kalo mereka berhubungan? Ngga, kan? batinnya bertanya sedih. Mendadak dia merindukan kakeknya. Mata Zeta pun terasa panas.
*
*
*
"Pak Arga Taksaka sedang menunggu di luar, Pak Revi," kata Aina, sekretarisnya setelah masuk ke ruangannya. Gadis itu merasakan aura yang ngga enak akibat kedatangan musuh keluarga bosnya. Apa lagi ini masih sangat pagi.
Revi Sagara sampai mengalihkan kepalanya dari layar laptopnya.
"Ya?" Revi Sagara merasa pendengarannya salah menangkap kata kata sekrerarisnya.
"Pak Arga Taksaka ingin bertemu, Pak Revi" ulang Aina lagi. Wajahnya mengguratkan kecemasan. Apalagi putra dan ponakannya masih di Bali. Sedangkan dua saudara bos besarnya sedang berada di perusahaan di luar kota.
"Suruh masuk," kata Revi Sagara setelah terdiam sejenak.
"Tapi pak?" Aina ingin membantah tapi takut bos besarnya marah.
"Biarkan dia masuk," tegas Revi Sagara tenang.
"Baik pak," ucap Aina kemudian setelah menunduk hormat, dia pun keluar untuk mempersiakan musuh besar keluarga bosnya masuk.
Aura tegang dan permusuhan sangat jelas kerasa begitu Arga Taksaka memasuki ruangannya.
Ruangan menjadi sangat sunyi senyap. Keduanya pun saling bertatapan dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Ehem," batuk Arga Taksaka memecahkan suasana.
Revi Sagara bahkan ngga menyilakannya duduk.
"Aku hanya ingin memberikan ini," kata Arga Taksaka sambil memberikan amplop coklat yang diikat tali.
__ADS_1
Karena Revi Sagara ngga mengambilnya, dengan menahan kesal, Arga Taksaka menaruhnya di atas meja, di dekat laptopnya.
"Bukalah," katanya setengah memerintah.
Alis Revi Sagara terangkat sebelah, beliau memandang remeh pada Arga Taksaka.
"Nanti saja. Aku lagi banyak urusan," jawab Revi Sagara cuek sambil mengalihkan tatapannya pada layar laptopnya.
Wajah Arga Taksaka mengelam. Beliau tau kalo saat ini telah diusir.
"Yang aku mau bicarakan ada di dalam amplop itu," sergah Arga Taksaka dingin.
Revi melirik sekilas amplop coklat di dekat laptopnya. Malas dia membukanya. Baginya ngga penting.
"Apa isinya?" tanya Revi Sagara ngga acuh.
"Foto mesra anakku dan anakmu "
Bagai ada halilintar di depannya, Revi Sagara sangat terkejut.
"Jangan memfitnah!" bentaknya kasar.
Arga Taksaka tersenyun miring.
"Itu buktinya."
Walau enggan tapi karena rasa penasaran yang tinggi membuat Revi Sagara membuka tali tali yang mengikat amplop dan mengeluarkan isinya.
Jantungnya berdebar keras. Seakan ditarik dari tempatnya berada.
Emilia? batinnya ngga percaya.
Beliau berusaha mengambil nafas panjang panjang untuk mengurangi sesak di dadanya.
Semoga jantungmu pecah dan kau menyusul ayahmu, sumpah Arga Takasa kejam dalam hati.
"Apa yang kamu mau," kata Revi Sagara sambil melonggarkan simpul dasinya.
"Sudah jelas aku ngga mau menerima anakmu jadi menantu ku!" tandas Arga Taksaka membuat Revi Sagara menyeringai.
"Lebih baik kau segera pergi!" usiir Revi Sagara kasar
Hanya mendengus, setelah itu Arga Taksaka.melangkah keluar dari kantornya dan membanting pintu ruangannya dengan sangat keras.
Revi Sagara ngga mempedulikan. Dia memegang dadanya dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangannya yang lain menyimpan kembali foto foto mesra putrinya yang sedang bersama Arjuna Taksaka ke dalam amplop.
*Mereka terlihat s*angat cocok..Ayah, apa yang harus aku lakukan, batinnya nyeri.
Setelah memejamkan mata menahan rasa sakit di dadanya, beliau menyimpan amplop itu ke dalam tas kerjanya. Kemudian segera menelpon Aina.
"Panggilkan ambulance segera," setelah itu beliau terduduk di kursinya ngga sadarkan diri.
Aina yang terkejut mendapat perintah itu segera masuk ke ruangan bosnya dan menjadi histeris melihat keadaan bos besarnya.
*
*
*
Bima dan saudara saudaranya baru saja tiba di bandara.
Mereka bergegas untuk boarding. Tapi langkah Bima tertahan karena ponselnya yang ngga berhenti bergetar.
__ADS_1
"Siapa, sih," gumamnya sambil meraih ponsel di sakunya.
"Ada apa?" tanya Andra heran melihat Bima memghentikan langkah kakinya. Padahal mereka sedang terburu buru.
"Pergilah duluan. Gue mau terima telpon dulu," kata Bima sambil berjalan agak menjauh.
"Oke," balas Andra sambil membawa adik adik sepupunya untuk boarding tiket.
Dahi Bima mengernyit dan perasaannya menjadi ngga enak begitu mendengar suara panik mamanya.
"Bimaaa....."
"Ya ma."
"Kamu di mana sekarang?" suara mamanya seperti menahan tangis.
"Di bandara. Bentar lagi kita terbang. Mama kenapa? Ada masalah?" tanya Bima curiga. Sepertinya di samping mamanya juga terdengar suara suara om dan tantenya.
Jantungnya berdegup keras. Firasatnya mengatakan telah tersuatu sesuatu.
Suara mamanya mulai menangis.
"Ma?" panggil Bima mulai panik dan cemas.
"Ini Om Revo, Bima," terdengar suara Om Revo mengambil alih ponsel mamanya.
Perasaan Bima makin ngga tenang.
"Ada apa sebenarnya, Om?" tanya Bima panik.
"Papamu masuk ICU. Serangan jantung."
NYESSS
DEG DEG DEG
"Kok, bisa, Om?" tanya Bima kalut.
Terdengar helaan nafas kesal dari omnya.
"*Tadi Arga Taksaka menenui papamu, kata Aina."
Apaa*! serunya membatin. Bima langsung bisa menduga kalo Arga Taksaka tau hubungan adiknya dengan Arjuna, putra tunggalnya.
"Kamu tau sesuatu?" tanya Om Revo curiga karena keterdiaman Bima.
"Aku malahan mau tanya sama Om. Kenapa orang itu ke kantor," sangkal Bima cepat. Dia belum bisa memberitau omnya saat ini atas dasar prasangkanya. Lagi pula, bisa saja orang itu mencari masalah lain.
"Kita juga belum tau. Begitu Arga sialan itu keluar, papamu pingsan setelah menghubungi Aina," jelas Om Revo sangat kesal dan juga marah.
"Om Ravi sedang ditenangkan istrinya, dia mau menghajar si Arga," sambung Om Revo lagi.
Bisa gawat dan panjang masalahnya, batin Bima mulai mengepalkan kedua tangannya.
"Om, pesawatku sebentar lagi berangkat. Aku titip papa dan mama," kata Bima sambil melirik jam di tangannya.
"Oke, jangan khawatir. Safe Flight," kata Om Revo sambil memutuskan sambungan telponnya.
Papa, bertahanlah. Jangan pergi seperti kakek.
Saat ini Bima ingin rasanya segera terbang dan berada di sisi papanya.
Setelah menghela nafas beberapa kali untuk menenangkankan dirinya, Bima mempercepat langkahnya menyusul saudara saudaranya.
__ADS_1