
Arjuna pun melerai pelukannya ketika dirasa tangisan Emilia sudah berhenti. Dia menatap wajah kuyu yang ngga mau menatapnya. Perhatiannya teralihkan pada pakaian Emilia yang sudah terbuka dan menampilkan tubuh seksinya.
Dengan tangan bergetar, Arjuna merapikan gaun Emilia yang hanya diam saja seakan udah tinggal tubuh tanpa jiwa.
"Aku akan minta maaf ke keluarga kamu," kata Arjuna tegas setelah merapikan penampilan Emilia. Diapun mengusap rambut depan gadis itu dengan sangat lembut.
"Untuk apa?" tanya Emilia dengan suara lemah. Dia menentang tatapan Arjuna.
"Papaku sudah tiada," lanjutnya getir.
"Aku akan menggantikan papamu untuk melindungimu," kata Arjuna kukuh dan ngga ingin dibantah.
Emilia menggelengkan kepalanya. Semua anggota keluarganya membenci keluarga Arjuna sekarang. Walaupun mereka hanya diam dan ngga melakukan apa apa, tapi di hati mereka masih ada luka yang menganga. Sama seperti dirinya.
"Emilia, jangan begini. Aku ngga tau sama sekali dengan tindakan papi. Tapi aku akan bertanggungjawab," kata Arjuna berusaha membujuk.
Emilia mengalihkan tatapannya dari Arjuna.
"Ngga perlu. Kita hanya tinggal saling melupakan," bisiknya lemah tapi terdengar jelas di telinga Arjuna bagai petir yang menggelegar.
Arjuna terdiam. Dia menatap Emilia dalam. Dia tau, luka di hati Emilia akan sulit disembuhkan. Tapi Arjuna yakin Emilia masih mencintainya. Keyakinan itulah yang membuat Arjuna akan berusaha lebih keras lagi.
"Berikan aku kesempatan. Aku mencintaimu."
"Tapi kamu akan menikah," desis Emilia sinis.
"Belum, baru mau bertunangan," bantah Arjuna cepat.
"Sama saja," ngeyel Emilia judes membuat Arjuna tersenyum tipis.
"Aku membuat kesepakatan dengan papi, karena beliau tau hubungan kita. Aku mau tunangan dengan pilihannya, tapi dengan syarat dia ngga boleh mengganggumu dan keluargamu," jelas Arjuna panjang lebar.
Ada binar kaget di mata Emilia sangat mendengarnya. Hatinya menghangat mendengar pengakuan Arjuna yang ngga disangkanya.
"Tapi papi melanggar kesepakatan. Malah melakukan hal yang ngga bisa dimaafkan. Jadi aku bebas sekarang, honey," sambung Arjuna sangat lembut.
"Tapi.....," ucap Emilia mengambang. Dalam hatinya ada rasa bahagia menyelusup di sana. Seakan ada kembang api warna warni yang berletupan.
Tapi rasa bahagianya menyurut karena ngga yakin kakak dan sepupunya, bahkan mama, nenek, tante dan om omnya akan menerima Arjuna.
"Kamu ngga usah memikirkan apa pun. Biar aku yang melakukannya. Kamu cukup menunggu. Kamu mau, kan, sayang," ucap Arjuna sambil meraih dagu Emilia ke arahnya.
Tatapan Arjuna begitu lembut dan dalam. Sementara Emilia menatap Arjuna ngga yakin.
"Terlalu berbahaya," desisnya agak takut. Memikirkan kenekatan papi Arjuna yang bisa saja melakukan hal hal buruk pada dirinya dan keluarganya.
Arjuna paham akan pikiran Emilia. Papinya bisa melakukan apa saja. Termasuk menyakiti gadis yang dia cintai. Mungkin juga keluarganya.
"Memang sangat bahaya. Tapi percayalah, aku akan melindungimu. Aku mencintaimu, Emilia Sagara," tegas Arjuna membuat Jantung Emilia semakin ngga berirama.
"Juna, sebaiknya kita hentikan sebelum.ada korban lagi seperti papa," tolak Emilia. Dia ngga mau lagi orang orang yang dia kasihi meninggal seperti papa.
"Aku janji, ngga akan ada lagi. Percaya sama aku," kata Arjuna ngeyel sambil menatap mata Emilia yang bergerak resah.
__ADS_1
"Tapi...."
Arjuna langsung mengecup bibir Emilia hingga gadis itu terdiam dan tanpa sadar membalas ciuman Arjuna.
*
*
*
"Kenapa Emilia lama sekali ke toiletnya?" tanya Maria sambil melihat ke arah Emilia pergi.
"Harusnya tadi aku menemaninya,," kata Arinka agak menyesal.
"Akan aku susul," sambungnya sambil berdiri.
"Kita susul sama sama," kata Bima ikut berdiri.
"Kita ke toilet?" tanya Dewa ketika ikut berdiri.
"Ke tempat lain," kata Bima setelah memeriksa ponselnya. Dia sudah mengaktifkan gps di ponsel adik dan para sepupunya.
Tanpa kata Andra dan Dewa mengikuti Bima.
Arinka, Zeta dan Maria saling pandang.
"Sepertinya bukan ke arah toilet," kata Arinka berbisik.
"Dia bertemu siapa?" bisik Maria khawatir.
"Aku lebih baik Emilia bertemu Juna dari pada ketemu orang jahat," balas Arinka bergegas mengikuti langkah langkah panjang ketiga sepupu laki lakinya.
Keduanya tersadar, dan membenarkan kata kata Arinka.
"Emil," bisik Maria bergetar. Omnya baru saja meninggal dunia. Bagaimana kalo Emilia celaka?
Berbagai pikiran buruk memenuhi pikiran Maria sampai kakinya ngga mampu digerakkan.
"Ayo," tukas Zeta sambil menarik tangan Maria untuk menyusul Arinka dan yang lainnya.
"Semoga Emilia bersama Juna," kata Maria berharap cemas.
Sama bahayanya Maria meracedes. Kak Bima bisa tambah ngamuk, batin Zeta membantah.
Kepergian Bima dan saudara saudaranya yang terkesan terburu buru membuat Galih dan teman temannya yang terus mengawasi saling pandang dengan heran.
"Kita ikuti," kata Mars yang sejak tadi ingin menyusul Arinka.
"Juna juga belum kembali," tahan Arby bingung.
"Juna bisa menyusul kita," sahut Galih dengan firasat aneh. Dia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk pada Arjuna. Dia pun mengikuti langkah Mars.
"Lo bisa lacak Juna sambil kita menyusul mereka," kata Jery yang tanpa menunggu jawaban Arby mengikuti langkah cepat kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Oke," kata Arby sambiil mengaktifkan gps Arjuna. Tapi sesaat kemudian keningnya berkerut setelah melihat gps Arjuna yang sudah aktif.
"Mengapa arahnya sama?" gumamnya bingung.
Merasa Arjuna dalam.bahaya, Arby memutuskan menelpon sahabatnya
Panggilan pertama ngga di jawab. Arby mencoba sekali lagi.
Hatinya bersorak begitu sambungan teponnnya diangkat Arjuna.
"Juna, lo dimana?" tanya Arby langsung nge gas.
"Gue ada keperluan. Bentar lagi selesai," terdengar suara Arjuna memyahut tenang.
"Kita lagi ngikuti keluarga Sagara. Sepertinya mereka mencari Emilia. Apa Emilia dengan lo sekarang?"todong Arby bertubi tubi dengan nada menuduh.
"Ya," sahut Arjuna singkat.
Arby ngga bisa berkata kata. Kalo Bima dan saudara saudaranya menemukan mereka berdua, Arjuna bisa babak belur.
"Sebaikknya lo segera pergi. Bima sedang berjalan ke arah lo," tukas Arby cepat.
Hening.
Merasa heran ngga ada jawaban, Arby melirik ponselnya. Wajahnya langsung dongkol. Ternyata tanpa di sadarinya, Arjuna sudah menutup sambungan telponnya.
"Siaal. Aargh!" geram Arby dalam gumamannya. Dia pun bergegas menyusul ketiga sahabatnya yang sudah menjauh.
Sementara itu Maria heran ketika mereka mengikuti Bima yang memasuki loromg sebelah lift.
"Mengapa kita ke sini, kak?" tanya Maria dengan jantung berdebar keras.
Baik Bima, Andra maupun Dewa ngga ada yang menjawab. Keduanya terus mengikuti langkah Bima sampai ke ujung lorong dan berhenti di pintu sebuah kamar.
DEG DEG DEG
Jantung ketiga perempuan itu mau copot.
Apa Emilia berada *di dalam kamar ini?
Sama siapa*?
Ketiganya saling pandang dengan cemas, berharap Emilia baik baik saja.
Bahkan Maria mencoba menghubungi Emilia. Tapi ngga diangkat.
"Angkat. Emil," lirihnya gundah.
Dia pun mencoba melakukan panggilan lagi. Tapi hasilnya tetap sama. Ngga diangkat. Wajah Maria mulai pucat. Begitu juga Arinka dan Zeta. Pikiran buruk sudah menguasai kepala mereka.
"Kita dobrak?" tanya Andra dengan suara bergetar. Wajah ketiganya diliputi kecemasan walaupun berusaha terlihat tenang.
Bima menggeleng. Dia maju selangkah dan memgetuk pintu cukup keras.
__ADS_1
TOK TOK TOK